
Di sebuah rumah terlihat seorang wanita tengah mematut diri di depan cermin. Wanita yang diketahui bernama Lian itu nampak tersenyum mengamati pantulan dirinya di cermin.
" Cantik dan nyaris sempurna. Wanita ini memang cocok menjadi wadah untuk jiwaku yang cantik...," gumam Lian sambil terus mematut diri.
Sesekali ia menarik kulit wajahnya seolah sedang mengetes kekenyalan kulitnya.
" Masih bagus dan kencang...," puji Lian lalu berniat membalikkan tubuhnya.
Namun gerakan Lian terhenti saat ia melihat pantulan lainnya di cermin. Lian bergegas menoleh kearah cermin dan tersenyum senang. Seringaian jahat nampak terlukis di wajah Lian.
" Kembalikan ragaku...," kata suara pantulan wanita di dalam cermin itu dengan lirih.
Lian tertawa keras usai mendengar permintaan pantulan wanita dalam cermin itu.
" Tak usah mimpi !. Nikmati saja harimu di sana. Ragamu biar jadi milikku. Aku menyukainya dan Aku akan memanfaatkannya sebaik mungkin...!" kata Lian sambil tertawa.
" Dasar wanita iblis !. Kau akan menerima karmamu sebentar lagi...!" kata pantulan wanita dalam cermin itu sambil memukul cermin dengan kedua tangannya.
Lian tampak tak peduli. Ia memadamkan lampu di ruangan itu lalu membanting pintu dengan keras dan keluar dari ruangan itu.
" Meminta kembali ?. Huh, mimpi sana...!" gumam Lian kesal.
Lian pun melangkah menuju kamar lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Untuk sesaat Lian mengedarkan pandangannya ke penjuru kamar seolah sedang menikmati seluruh fasilitas yang ada di rumah itu. Lian sadar jika semua benda yang ada di kamar itu bahkan yang ada di rumah itu bukan miliknya. Namun Lian terlanjur menyukainya dan tak ingin mengembalikan semuanya kepada pemilik sesungguhnya.
Lian menghela nafas panjang saat ingatannya kembali ke masa lalu.
Lian adalah gadis desa yang datang merantau ke kota itu bersama beberapa temannya. Nama aslinya adalah Dian, nama yang diberikan oleh mendiang ayahnya.
Dian tinggal bersama neneknya. Dan saat ia merantau ke kota Malang, nenek Dian sudah wafat. Itu lah sebabnya Dian memutuskan hijrah dari desa dan mencari peruntungan di kota.
Bersama empat temannya Dian berkelana di kota itu. Singgah dari satu tempat ke tempat lainnya hanya untuk mencari pekerjaan. Berbekal ijasah SMA tak membuat Dian dan keempat temannya mudah mendapatkan pekerjaan.
Hingga suatu hari Dian terpisah dari keempat temannya. Dian kebingungan dan tak tahu harus kemana. Selain bekal uangnya menipis, Dian juga tak mengenal seluk beluk kota Malang dengan baik. Dian pun terlunta-lunta di jalan.
Beruntung ia bertemu seorang gadis baik hati yang menolongnya dari sergapan preman jalanan. Saat itu Dian hampir dilecehkan oleh seorang preman yang mabuk. Dian yang lemah tak kuasa melawan. Ia hanya menjerit meminta tolong dengan suara yang lama kelamaan hilang ditelan kegelapan malam.
__ADS_1
Saat preman itu hampir berhasil menoda*nya, Lian datang dan memukul tengkuk preman itu dengan sepotong besi yang entah didapat darimana. Setelahnya Lian menarik tangan Dian dan membawanya lari menjauhi preman itu.
" Terima kasih...," kata Dian dengan nafas terengah-engah.
" Sama-sama. Kamu ngapain di sana ?. Emang Kamu ga tau kalo di sana tuh sarangnya preman. Lewat sana jangan harap bisa selamat...," kata Lian.
" Aku ga tau kalo ga boleh lewat sana. Aku kan bukan orang sini...," sahut Dian.
" Emangnya Kamu darimana dan mau apa di sini...?" tanya Lian sambil menoleh ke belakang beberapa kali.
Setelah mereka berlari cukup jauh dan yakin preman itu tak mengejar mereka, Lian pun berhenti berlari.
" Aku dari desa F. Datang ke sini mau cari kerja. Tapi tasku dirampas sama preman itu dan semua dokumen penting ku ada di sana. Kalo ga pake dokumen mana bisa Aku dapet kerjaan...," keluh Dian sedih.
Lian nampak terkejut dan sedikit merasa bersalah. Karena ulahnya Dian kehilangan dokumen penting. Untuk menebus rasa bersalahnya Lian pun menawarkan tempat tinggal untuk Dian.
" Tempat tinggalku ga besar tapi lumayan nyaman untuk ditempati. Kamu mau ga tinggal sama Aku untuk sementara waktu...?" tanya Lian kala itu.
" Mau sih, tapi gimana sama dokumen Aku yang hilang itu...?" tanya Dian.
" Ok, Aku setuju. Makasih ya...," sahut Dian.
" Sama-sama. Oh iya, kenalin namaku Lian. Nama Kamu siapa...?" tanya Lian sambil mengulurkan tangannya.
" Mirip sama namamu. Namaku Dian...," sahut Dian sambil menyambut uluran tangan Lian.
Keduanya pun tertawa bersama lalu mulai melangkah menuju ke rumah Lian. Saat pertama kali menginjakkan kakinya di rumah Lian, Dian nampak terpana. Ia kagum dengan rumah mungil milik Lian yang apik dan bersih. Dekorasi ruangan yang minimalis membuat rumah itu terasa nyaman untuk ditempati.
" Ini rumah Kamu Lian...?" tanya Dian.
" Iya...," sahut Lian cepat.
" Bagus banget, Aku suka lho...," kata Dian.
" Alhamdulillah kalo Kamu suka, anggep aja rumah sendiri ga usah sungkan ya...," kata Lian sambil beranjak ke kamar lalu keluar dengan membawa pakaian ganti untuk Dian.
__ADS_1
Sejak malam itu Dian tinggal di rumah Lian. Mereka bagai sepasang saudari kembar yang lama tak bersua. Keduanya terlihat sangat akrab dan saling menyayangi.
Lian juga menepati janjinya untuk mengantar Dian membuat laporan ke kantor polisi perihal kehilangan dokumen penting miliknya. Setelahnya mereka berbelanja segala keperluan Dian dan Lian lah yang mengeluarkan uang untuk membeli semuanya.
Jika Lian bekerja, Dian tinggal di rumah sambil membereskan rumah. Hal itu berlangsung selama beberapa hari. Karena jenuh, Dian pun meminta Lian mengajaknya ke kantor.
Lian yang tak menaruh curiga pun menuruti kemauan Dian. Mereka datang lebih awal agar Lian lebih leluasa memperlihatkan ruang kerjanya kepada Dian. Setelahnya Dian kembali ke rumah dan akan datang lagi saat jam makan siang. Rutinitas seperti itu berjalan selama sebulan.
Memasuki bulan kedua Dian mulai menunjukkan rasa iri pada apa yang dimiliki Lian. Dian merasa dirinya lebih layak memiliki semuanya daripada Lian.
Saat Lian mengatakan jika kantornya tengah membuka lowongan pekerjaan, Dian pun memaksa ikut mengajukan lamaran pekerjaan walau tanpa dokumen lengkap.
" Tapi Kamu ga punya bukti dokumen yang menyatakan Kamu lulus SMA Dian. Sedangkan salah satu syaratnya adalah melampirkan foto kopi ijasah terakhir...," kata Lian mengingatkan.
" Itu kan salahmu Lian. Andai malam itu Kamu ga narik Aku dari cengkraman preman itu, mungkin sekarang Aku udah dapat kerjaan yang layak...," sahut Dian.
" Aku minta maaf. Tapi Kamu bisa urus semuanya kok Dian...," kata Lian.
" Bisa sih. Tapi pas Aku kembali ke sini lowongan pekerjaan itu udah tutup. Jadi percuma kan. Pokoknya Aku ga mau tau. Kamu kan sekretaris di sana, masa ga bisa ngusahain biar Aku bisa masuk ke sana sih...," sahut Dian.
Lian yang tak enak hati pun akhirnya mengijinkan Dian ikut serta walau pun tanpa dokumen lengkap.
Sayangnya setelah menjalani test awal penerimaan calon karyawan baru, Dian dinyatakan gagal seleksi. Dian marah besar dan pergi dari rumah Lian tanpa pamit. Lian yang merasa telah membantu semaksimal mungkin hanya bisa memendam kecewa saat mengetahui kepergian Dian.
Seminggu kemudian Dian kembali ke rumah Lian. Penampilan Dian sangat berbeda dan itu sempat membuat Lian takut. Tapi Lian berusaha bersikap wajar dan mempersilakan Dian masuk ke dalam rumahnya.
" Kamu darimana aja Dian. Aku bingung nyariin Kamu...," kata Lian kala itu.
" Aku pergi untuk menjemput masa depan Lian...," sahut Dian.
" Masa depan yang kaya gimana Dian...?" tanya Lian penasaran.
" Masa depan yang kaya gini Lian...," sahut Dian lalu membekap mulut dan hidung Lian dengan sapu tangan yang telah dibubuhi sesuatu.
Tak butuh waktu lama Lian pun jatuh pingsan.
__ADS_1
bersambung