Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
304. Doble Berita


__ADS_3

Jika dokter Sheina dan Rasyid tengah bahagia karena akhirnya bisa menentukan arah hubungan mereka. Maka Aruna dan Kautsar pun tak kalah bahagia. Setelah mengalami keguguran beberapa waktu lalu, Aruna kini dinyatakan positif hamil. Terbilang cepat tapi Aruna dan Kautsar berjanji akan berhati-hati menjaga calon bayi mereka.


Orang pertama yang mengetahui kehamilan Aruna tentu saja dokter Sheina selaku dokter kandungan.


Hari itu Aruna berkunjung ke Rumah Sakit karena rindu ingin bertemu dengan sang kakak angkat. Setelah pulang bekerja Aruna menuju ke Rumah Sakit tempat dokter Sheina bertugas.


" Darimana Kamu Run, kok keliatan cantik banget...?" tanya dokter Sheina.


" Masa sih Kak. Kayanya biasa aja. Style Aku kalo mau ke kantor ya emang kaya gini...," sahut Aruna sambil mengamati penampilannya sendiri.


" Kamu ngantor lagi ?. Sejak kapan...?" tanya dokter Sheina.


" Udah jalan tiga bulan Kak. Emangnya Kakak baru tau...?" tanya Aruna.


" Iya. Kamu kan baru bilang sama Aku sekarang...," sahut dokter Sheina.


" Oh iya, Aku lupa. Sebenernya Kautsar ga setuju Aku kerja lagi. Tapi Kenzo yang maksa Aku buat bantuin dia sampe Ria selesai cuti melahirkan. Karena ga enak, ya terpaksa Aku bantuin. Niatnya sih cuma sebulan, eh malah keterusan sampe sekarang...," kata Aruna sambil tertawa.


" Gitu ya. Apa cuma perasaanku aja kali...," kata dokter Sheina.


" Gitu ya apa sih Kak, yang jelas dong...," pinta Aruna.


" Kamu keliatan glowing Run. Beda dari biasanya. Jangan-jangan pake kosmetik baru ya...," kata dokter Sheina.


" Ga kok. Aku pake yang biasanya. Udah cocok sama kosmetik itu sejak lama jadi malas kalo harus ganti merk kosmetik...," sahut Aruna.


" Terus Kamu ada keluhan ga belakangan ini...?" tanya dokter Sheina.


" Keluhan apa maksud Kakak...?" tanya Aruna tak mengerti.


" Keluhan apa aja. Misalnya tidur malam yang terganggu, sering pipis, mual atau ngantuk di jam yang ga seharusnya...," sahut dokter Sheina memberi contoh.


" Ga ada sih Kak. Tapi kalo ngantuk sih iya. Bahkan Aku pernah ketiduran di kantor saking ngantuknya. Untung Bos Aku si Kenzo. Coba kalo orang lain, mungkin Aku bisa dipecat tanpa pesangon ya Kak...," kata Aruna sambil tertawa.


Dokter Sheina pun ikut tertawa lalu berjalan mendekati Aruna.


" Ngantuknya kaya gimana Run...?" tanya dokter Sheina.


" Ngantuk kok kaya gimana sih Kak. Ngantuk banget yang pengen tidur gitu lho. Tidur ga lama sih, sebentar aja yang penting bisa merem. Kalo udah, Aku bisa kuat lagi buat ngerjain semuanya...," sahut Aruna.


" Gitu ya...," kata dokter Sheina sambil mengecek urat nadi di pergelangan tangan Aruna.


" Aku ga sakit Kak, kenapa dicek segala sih...," protes Aruna saat dokter Sheina mulai menempelkan stetoskop di dadanya.


" Sssttt..., jangan berisik Run...," kata dokter Sheina sambil menyilangkan jari telunjuk di depan bibirnya.


Aruna pun diam dan pasrah saat dokter Sheina melakukan serangkaian pemeriksaan pada tubuhnya. Setelahnya dokter Sheina menghela nafas panjang.

__ADS_1


" Ini belum akurat sih, karena pemeriksaannya belum lengkap. Tapi Aku yakin kalo dugaanku benar...," kata dokter Sheina.


" Aku kenapa Kak...?" tanya Aruna cemas.


" Keliatannya Kamu hamil Run. Mungkin usianya masih muda, sekitar dua atau tiga minggu gitu lah...," sahut dokter Sheina santai namun cukup membuat Aruna terkejut bukan kepalang.


" Kakak serius...?!" tanya Aruna dengan mata berkaca-kaca.


" Insya Allah...," sahut dokter Sheina sambil tersenyum.


Aruna pun terdiam sambil menitikkan air mata. Ada kebahagiaan yang terpancar di wajahnya hingga membuat dokter Sheina terharu lalu memeluknya erat.


Tak lama kemudian dokter Sheina mengurai pelukannya karena mendengar suara ponsel Aruna yang berdering.


" Suara ponsel Kamu tuh Run...," kata dokter Sheina mengingatkan.


Aruna bergegas meraih ponselnya dan melihat nama Suamiku di layar ponselnya. Namun bukan menerima panggilan itu, Aruna justru menyerahkan ponselnya kepada dokter Sheina.


" Eh, kok dikasih ke Aku sih Run. Jawab dong. Ini Kautsar lho...!" kata dokter Sheina sambil berusaha menepis ponsel Aruna.


" Tolong dijawab aja Kak...," sahut Aruna sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan.


" Ck, Kamu kenapa sih Run. Jangan bilang lagi musuhan ya. Aku ga mau jadi penengah diantara Kamu dan Kautsar..., " kata dokter Sheina sambil mengetuk tombol hijau di layar ponsel Aruna.


Dari seberang telephon terdengar suara khas Kautsar menyapa sang istri. Dokter Sheina nampak memutar bola matanya dengan enggan.


" Ini Aku Tsar. Istrimu ada di ruangan kerjaku sekarang...," kata dokter Sheina memotong ucapan Kautsar.


" Gapapa. Kamu jemput ke sini ya Tsar, Keliatannya Aruna ga bakal kuat pulang sendiri. Aku ga bisa nganterin karena masih banyak pasien...," kata dokter Sheina.


" Ok Kak. Aku meluncur sekarang...," sahut Kautsar lalu mengakhiri pembicaraan.


Dokter Sheina menghela nafas panjang mengetahui respon Kautsar yang cepat itu.


" Kamu istirahat aja di sini sambil nunggu Kautsar. Aku harus ngecek pasienku di ruang rawat inap...," kata dokter Sheina.


" Ok, makasih Kak...," sahut Aruna sambil mengusap ekor matanya yang basah.


Dokter Sheina mengangguk lalu keluar dari ruangannya diikuti dua orang perawat di belakangnya.


Setengah jam kemudian Kautsar pun tiba di Rumah Sakit. Ia bergegas ke ruangan dokter Sheina untuk menjemput istrinya. Ia terkejut saat melihat Aruna berbaring di atas sofa.


" Assalamualaikum..., " sapa Kautsar sambil membuka pintu.


" Wa alaikumsalam, masuk Sayang...," sahut Aruna sambil menoleh kearah suaminya.


" Kak Sheina bilang Kamu di sini. Apa Kamu sakit Sayang...?" tanya Kautsar sambil bergevas mendekati Aruna.

__ADS_1


Aruna menggeleng sambil kembali menangis hingga membuat Kautsar khawatir.


" Kalo ga ada yang sakit terus Kamu kenapa dong Sayang...?" tanya Kautsar dengan sabar.


" Istrimu ga sakit tapi dia sedang hamil Tsar...!" kata dokter Sheina tiba-tiba hingga membuat Kautsar terkejut.


Kautsar menoleh kearah dokter Sheina yang sedang berdiri di ambang pintu.


" Apa Kakak ga bohong...?" tanya Kautsar tak percaya.


" Ck, apa Kamu lupa apa profesiku Tsar. Meski pun pemeriksaan yang Aku lakukan belum menyeluruh, tapi Aku yakin kalo Aruna hamil. Kehamilannya masih sangat muda, baru sekitar dua atau tiga minggu. Dan untuk kepastian Kalian bisa cek lab nanti...," sahut dokter Sheina sambil melangkah menuju meja kerjanya.


Kautsar menoleh kearah Aruna yang tengah terisak itu. Perlahan ia menarik Aruna ke dalam pelukannya agar sang istri bisa lebih tenang.


" Masya Allah, Kita bakal punya bayi lagi Sayang. Kenapa Kamu menangis...?" tanya Kautsar sambil berbisik.


" Aku menangis bukan karena Aku sedih tapi karena bahagia...," sahut Aruna lirih dan membuat Kautsar tersenyum.


" Alhamdulillah. Aku pikir Kamu ga mau bayi ini karena belum siap menerima kehadirannya...," kata Kautsar.


" Aku siap kok. Aku mau dia Tsar...," kata Aruna sambil menempelkan telapak tangan suaminya di permukaan perutnya.


" Iya. Aku juga mau dia. Tapi kali ini Kamu harus dengerin Aku ya. Jangan membantah dan turutin semua yang Aku bilang. Toh Aku bikin aturan itu juga setelah konsultasi sama dokter kok...," kata Kautsar sambil menatap Aruna dengan tatapan tajam.


" Insya Allah Aku bakal nurut sama Kamu...," sahut Aruna sambil tersenyum.


" Bagus...!" kata Kautsar sambil mengacungkan ibu jarinya.


Sikap Kautsar dan Aruna membuat dokter Sheina tertawa. Ia bahagia karena akhirnya Aruna bisa kembali diberi kesempatan untuk memiliki bayi.


" Selamat ya Run, Tsar...," kata dokter Sheina sambil menepuk bahu Kautsar dan Aruna.


" Makasih Kak...," sahut Aruna dan Kautsar bersamaan.


" Aku juga punya kabar baik untuk Kalian...," kata dokter Sheina.


" Oh ya. Apa itu Kak...?" tanya Aruna.


" Mmm..., Aku udah nerima lamaran Rasyid. Kami berencana menikah setelah dia selesai bertugas di Papua nanti...," sahut dokter Sheina malu-malu.


" Masya Allah, Alhamdulillah, akhirnya...," kata Aruna lalu memeluk dokter Sheina erat.


" Wah ternyata hari ini ada doble berita menggembirakan ya Kak. Satu tentang kehamilan Aruna, satu lagi tentang pernikahan Kakak...," kata Kautsar sambil tersenyum bahagia.


" Alhamdulillah, Iya Tsar. Semoga semua berjalan lancar hingga akhir..., " kata dokter Sheina penuh harap.


" Aamiin...," kata Aruna dan Kautsar bersamaan.

__ADS_1


Ketiganya pun kembali terlibat pembicaraan yang lumayan panjang. Banyak harapan yang mereka ungkapkan dan itu membuat siapa pun yang mendengarnya ikut merasa bahagia.


\=\=\=\=\=


__ADS_2