Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
129. Melihat Kakek


__ADS_3

Setelah menunggu hampir satu jam, tiba lah giliran Reymond untuk masuk melihat jenasah pria tak dikenal itu. Reyhan pun ikut mendampingi karena Reymond memintanya untuk masuk.


" Ini jenazahnya, apa Mas siap...?" tanya petugas kamar jenasah.


" Siap Pak...," sahut Reymond mantap.


Perlahan petugas kamar jenasah membuka kain penutup jasad itu. Reymond dan Reyhan menahan nafas sambil berdoa dalam hati. Mereka berharap jika jenasah di depannya bukan lah Aldi.


Namun harapan tinggal harapan. Reymond dan Reyhan dibuat mematung saat wajah yang terpampang di depan mereka mirip wajah Aldi. Apalagi pakaian yang dikenakan jasad itu sama persis dengan yang terakhir dikenakan Aldi.


" Gimana Mas, apa Kalian kenal sama jasad ini...?" tanya petugas kamar jenasah.


" Iya Pak...," sahut Reyhan dan Reymond bersamaan.


" Alhamdulillah akhirnya. Kalo gitu Mas berdua bisa bantu Polisi mengusut kasus ini sekaligus mencari keluarga jenasah ini...," kata petugas kamar jenasah antusias.


" Iya Pak...," sahut Reymond lesu.


Kemudian petugas kamar jenasah memanggil Polisi yang berjaga di luar kamar jenasah. Setelahnya Reymond dan Reyhan pun dimintai keterangan seputar Aldi. Reymond nampak terpukul saat mengingat kebersamaannya dan Aldi selama beberapa hari ini. Sedangkan Reyhan hanya duduk membisu karena bingung harus berbuat apa.


\=\=\=\=\=


Setelah jasad Aldi dikenali, polisi pun. menghubungi keluarga Aldi. Sang Kakek yang datang langsung dari kota B untuk menjemput jasad Aldi ditemani sepupu Aldi yang bernama Hafiz.


Saat itu Kautsar dan Aruna juga ada di Rumah Sakit untuk mengantar kepergian jasad Aldi yang belum lama mereka kenal. Mereka berpapasan dengan Kakek Aldi dan Hafiz.


Reymond yang telah mengenal Kakek Aldi pun berdiri menyambut sambil menjabat tangan Kakek Aldi.


" Maafin Saya ya Kek. Ini sungguh di luar dugaan. Aldi pergi keluar rumah tanpa pamit. Saya ga tau kenapa. Saya udah nyari dia kemana-mana tapi ga ketemu juga. Maaf ya Kek, kalo Saya ga nerima dia untuk ikut Saya ke sini, mungkin Aldi masih hidup...," kata Reymond dengan nada menyesal.


" Jangan ngomong gitu Reymond. Takdir hidup manusia ga ada yang tau. Mungkin memang usia Aldi ga panjang dan harus berakhir di sini...," sahut kakek Aldi bijak.


" Iya Kek...," kata Reymond lirih.


" Kakek ga nyalahin Kamu Reymond. Kakek senang, walau pun terlambat tapi akhirnya Kakek tau keberadaan Aldi...," kata Kakek Aldi lagi.


" Betul. Kami atas nama keluarga menyampaikan rasa terima kasih atas bantuan Kamu Mond...," kata Hafiz sambil tersenyum.


" Sama-sama. Maaf karena membawa kabar duka untuk keluarga Kalian...," sahut Reymond tak enak hati.


" Ga masalah...," sahut Hafiz.


" Oh iya Fiz. Kenalin ini sepupu Gue Reyhan, itu Kautsar dan istrinya Aruna...," kata Reymond.


" Saya Hafiz. Senang ketemu Kalian. Sayang Kita ketemu dalam suasana duka ya...," kata Hafiz ramah sambil menjabat tangan Reyhan, Kautsar dan Aruna bergantian.

__ADS_1


" Mungkin ini yang dibilang takdir, sama yang kaya Kakek bilang tadi...," sahut Reyhan hingga membuat semua tersenyum.


" Iya juga. Kakek kaget banget denger berita ini. Kakek langsung nekad mau ke sini sendiri. Karena Gue yang lagi senggang, makanya Gue yang nemenin Kakek ke sini. Sebenernya saat ini Kakek juga lagi pusing karena kehilangan Cucunya yang lain...," kata Hafiz setengah berbisik.


" Cucu yang mana lagi...?" tanya Reymond karena ia lumayan mengenal keluarga Aldi.


" Bang Moa...," sahut Hafiz sambil berbisik.


" Bang Moa ilang...?" tanya Reymond tak percaya dan nyaris tertawa.


" Lucu ya. Gue juga gitu kok waktu Kakek bilang Bang Moa ga pulang-pulang...," sahut Hafiz.


" Ga pulang bukan berarti ilang dong Fiz...," kata Reymond.


" Iya sih. Eh sebentar, Gue ke sana dulu ya...," kata Hafiz sambil melangkah mendampingi Kakeknya yang harus menandatangani beberapa dokumen penting.


" Bang Moa yang dimaksud Hafiz pasti cowok jahat yang udah memper*osa Aldi ya Mond...," bisik Aruna sambil menatap Reymond.


" Iya Run...," sahut Reymond gusar.


" Kalo boleh nyaranin sih lebih baik ga usah dicari...," kata Aruna sambil berlalu.


" Lho kenapa Run. Emangnya Bang Moa juga udah meninggal kaya Aldi...?" tanya Reymond.


Aruna hanya menggedikkan bahunya. Kautsar nampak menggelengkan kepalanya.


Reymond dan Reyhan saling menatap bingung.


" Omongannya Kautsar ada benarnya juga. Tapi kalo mau lapor orang hilang ya tetep harus ke kantor Polisi bukan di sini. Andai ditanggapi juga ujungnya tetep harus buat laporan resmi di kantor Polisi..., " kata Reyhan yang diangguki Reymond.


\=\=\=\=\=


Aruna sedang duduk manis di kantin Rumah Sakit bersama Kautsar. Saat itulah arwah Aldi melintas di depannya. Aruna pun mengejar bayangan Aldi, sedangkan Kautsar nampak mengamati dari jauh.


" Aldi...!" panggil Aruna sambil menatap kearah taman.


Arwah Aldi menghentikan langkahnya lalu menoleh kearah Aruna.


" Lo manggil Gue ?. Emangnya Lo bisa ngeliat Gue...?" tanya arwah Aldi sambil menatap Aruna.


" Iya...," sahut Aruna sambil melirik ke kanan dan ke kiri karena khawatir dicurigai sedang bicara sendiri.


Arwah Aldi nampak tersenyum senang lalu melayang mendekati Aruna.


" Apa Lo bisa bantu Gue...?" tanya arwah Aldi.

__ADS_1


" Bantu apa...?" tanya Aruna.


" Gue mau pulang. Tapi Gue bingung karena Gue terus balik lagi ke sini...," sahut arwah Aldi.


" Mungkin karena jasad Lo ada di sini, makanya arwah Lo ketarik ke sini terus. Lagi dan lagi...," kata Aruna hati-hati.


" Jasad Gue di sini ?. Kok bisa. Seinget Gue, Gue meninggal di kota B. Kenapa jasad Gue bisa ada di Rumah Sakit ini...?" tanya arwah Aldi tak mengerti.


" Panjang ceritanya. Tapi intinya jasad Lo dipake sama arwah jahat terus digunain untuk melakukan sesuatu yang di luar kewajaran...," sahut Aruna.


" Kejahatan apa. Terus siapa yang udah make jasad Gue...?" tanya arwah Aldi.


" Sepupu Lo sendiri. Namanya Moa. Dia juga meninggal di malam yang sama kaya Lo. Bukannya Lo yang udah bunuh dia malam itu...?" tanya Aruna penuh selidik.


" Kok Lo bisa tau. Tapi jujur Gue ngelakuinnya karena terpaksa. Bang Moa udah nyakitin Gue dan terus menerus nerror Gue. Gue capek dan sakit, tapi dia terus maksa Gue buat melayani na*su bejatnya itu...," sahut arwah Aldi sambil menunduk.


" Sabar ya. Lo lakuin itu kan karena ingin membela diri. Dan Gue rasa dia layak dapat hukuman itu...," kata Aruna sambil tersenyum.


" Cuma Lo yang paham kenapa Gue ngelakuin itu. Makasih ya...," kata arwah Aldi.


" Sama-sama. Sekarang Kita bisa temuin jasad Lo. Setelah itu Gue bantu Lo buat nyeberang. Gimana...?" tanya Aruna.


" Iya, Gue setuju...," sahut arwah Aldi antusias.


" Tapi Lo janji ga bakal menuntut balas sama mereka yang udah nyakitin Lo. Setuju ga...?" tantang Aruna.


" Ok. Lagian Gue udah selesai menuntut balas sama mereka yang udah pernah nyakitin Gue...," sahut Aldi sambil tersenyum penuh makna.


Aruna tersentak kaget mendengar jawaban arwah Aldi. Apalagi ia melihat kilasan peristiwa dimana arwah Aldi menuntut balas. Aruna tak menyangka jika arwah Aldi telah menyelesaikan misinya.


Tak ingin membahas lebih jauh, Aruna pun meminta arwah Aldi datang ke suatu tempat siang ini. Namun di saat bersamaan arwah Aldi melihat Kakeknya melintas di koridor Rumah Sakit.


" Kakek, Hafiz...," gumam arwah Aldi dengan mata berkaca-kaca.


" Mereka ke sini buat jemput jasad Lo Al. Setelahnya jasad Lo akan dibawa pulang ke kota B dan disemayamkan di rumah Kakek Lo itu. Tapi Ngomong-ngomong, gimana sikap Hafiz selama ini sama Lo Al...?" tanya Aruna penasaran.


" Hafiz baik. Dia jadi kebanggan Kakek karena pinter dan soleh. Hafiz juga sering ngajarin Gue ngaji termasuk ngajarin semua sepupu Gue yang tinggal di rumah Kakek...," sahut arwah Aldi sambil tersenyum.


" Gitu ya...," kata Aruna ikut tersenyum.


" Iya...," sahut arwah Aldi.


" Setelah ini Kita bakal bisa nganter Lo pergi ya Al. Bersiap lah...," kata Aruna yang diangguki arwah Aldi.


Aruna tersenyum saat melihat kilasan peristiwa dimana arwah Aldi membalaskan dendam terakhirnya pada salah satu pria di kota B.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2