Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
138. Takdir Aruna


__ADS_3

Keesokan harinya Kautsar dan rombongan pun kembali ke kota Malang. Kakek Aldi dan keluarga melepas kepergian mereka dengan berat hati. Bagaimana pun mereka tahu bahwa Aruna telah berjasa pada keluarga mereka.


" Jangan sungkan untuk datang ke sini. Pintu rumah ini selalu terbuka untuk Kalian. Anggap lah Aku Kakek Kalian yang bisa Kalian kunjungi kapan pun...," kata Kakek Aldi sambil tersenyum.


" Betul. Kita keluarga sekarang, jadi tolong jangan putuskan silaturrahim diantara Kita ya...," pinta ayah Aldi.


" Insya Allah, terima kasih...," sahut Kautsar mewakili istri dan kedua temannya.


" Jangan bilang terima kasih. Kami yang harusnya mengucapkan itu. Dan Aku minta maaf jika Moa pernah menyakitimu ya Aruna...," kata ibu Moa sambil merengkuh bahu Aruna.


" Gapapa Bu. Saya tau itu pasti di luar kemauannya...," sahut Aruna sambil tersenyum.


Setelah saling berjabat tangan, Kautsar dan rombongan pun masuk ke dalam mobil yang sesaat kemudian bergerak melaju meninggalkan kediaman keluarga Kakek Aldi.


\=\=\=\=\=


Kautsar dan Aruna kembali ke rutinitas semula. Namun kali ini sedikit berbeda karena Kautsar harus melakukan pekerjaan di luar kota hingga meninggalkan Aruna sendiri di rumah.


" Berapa lama perginya...?" tanya Aruna sambil menatap Kautsar yang tengah memasukkan pakaian ke dalam tas.


" Dua atau tiga harian lah...," sahut Kautsar.


" Yang pasti dong jawabnya. Kantor kan punya jadwal baku yang tertulis dan ga tertulis. Tapi tugas keluar kota kaya gini kan juga ada rentang waktunya...," protes Aruna hingga membuat Kautsar tersenyum.


" Iya iya. Maaf ya Sayang. Rencananya sih dua hari. Bisa lebih atau malah lebih cepat...," kata Kautsar sambil menangkup wajah Aruna dengan kedua telapak tangannya.


" Ck, emang harus ya...?" tanya Aruna sambil berdecak sebal.


" Iya. Ini tugas Aku karena Aku yang menghandle proyek ini...," sahut Kautsar sambil mengecup Aruna cepat.


" Ya udah lah. Aku ga bisa ngelarang kan...?" tanya Aruna sambil membenamkan diri dalam pelukan Kautsar.


" Insya Allah Aku bakal langsung pulang kalo urusannya udah selesai...," sahut Kautsar sambil balas memeluk Aruna dan menciumi kepala sang istri dengan sayang.


Aruna pun mengangguk dalam pelukan Kautsar.


" Kamu boleh ajak Ria nginep di sini nemenin Kamu. Cuma Ria ya, minus yang lain...," kata Kautsar mengingatkan.

__ADS_1


" Liat gimana nanti deh...," sahut Aruna.


" Ok. Kita sarapan dulu terus Aku anter Kamu ke kampus. Abis itu Aku baru ke kantor ketemuan sama teamku yang bakal berangkat ke sana juga...," kata Kautsar sambil menggamit tangan Aruna lalu membawanya ke meja makan.


Setelah menyelesaikan sarapan, Kautsar dan Aruna pun pergi meninggalkan rumah.


\=\=\=\=\=


Ini malam kedua Aruna tidur sendiri di rumah. Aruna tak meminta Ria untuk menginap karena merasa tak perlu ditemani.


Setelah menunaikan sholat Isya Aruna duduk di depan televisi yang saat itu sedang menayangkan sinetron favorit kaum hawa. Meski pun tatapannya mengarah ke televisi, tapi pikiran Aruna melayang entah kemana.


Jam mendekati pukul dua belas malam tapi Aruna masih menonton televisi dan beberapa kali ke dapur untuk mengambil minum atau makanan ringan.


Malam kian larut dan suasana kian mencekam. Sayup-sayup terdengar lolongan serigala di kejauhan. Aruna tersentak lalu melangkah perlahan mendekati jendela. Ia menatap ke langit dan melihat bulan purnama penuh tengah menghias langit malam.


Tiba-tiba Aruna menyeringai dan kedua bola matanya perlahan berubah menjadi merah. Aruna menggelengkan kepalanya seolah berusaha melawan takdirnya. Aruna tak ingin berubah menjadi manusia serigala malam ini. Ia merasa tak siap untuk berubah. Namun lolongan serigala di kejauhan seolah memanggil Aruna dan memaksanya untuk menjalani takdirnya.


Aruna bergeser menjauh dari jendela dengan nafas berat dan sekujur tubuh bermandi keringat. Ia melangkah menuju sofa dengan tangan yang berpegangan pada dinding. Saat itu lah Aruna tak sengaja menekan saklar lampu hingga lampu pun padam seketika.


Saat lampu padam itu lah perubahan mulai terjadi pada Aruna. Kulit tubuh dan wajahnya yang basah dengan keringat nampak menebal lalu ditumbuhi bulu-bulu halus yang jumlahnya perlahan kian banyak. Mulut Aruna serasa penuh karena gigi-giginya pun ikut berubah dan memenuhi rongga mulutnya.


Perlahan namun pasti tubuh Aruna pun membesar hingga dua kali lipat dan itu membuat pakaian yang ia kenakan sobek dengan sendirinya.


Aruna menggeram sekali lagi sambil menatap kearah bulan dengan kedua mata merah menyala.


Di saat bersamaan Kautsar sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Wajahnya nampak tersenyum bahagia karena sebentar lagi akan bertemu dengan istri tercinta. Kautsar sengaja tak memberitahu Aruna akan kepulangannya ini karena ingin memberi kejutan.


Sebelum pulang Kautsar menyempatkan diri mampir ke kios mpek-mpek Palembang langganan Aruna. Ia memesan dua porsi besar makanan khas Palembang itu dan berencana menghabiskannya berdua dengan Aruna nanti.


Sambil menunggu pesanannya disiapkan, Kautsar nampak mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan. Ia melihat tempat duduk yang menjadi tempat favorit Aruna saat berkunjung ke sana. Ia tersenyum saat teringat di sana lah ia pertama kali melihat Aruna gugup saat duduk berdampingan dengannya.


Kala itu hubungannya dan Aruna sedang memasuki proses saling memahami. Sebagai pasangan yang menikah karena dijodohkan membuat Kautsar harus berjuang extra untuk mendapatkan hati Aruna. Dan Kautsar ingat Aruna mengajaknya makan ke tempat itu untuk mengisi waktu luang yang mereka miliki.


Kautsar juga ingat bagaimana wajah Aruna yang cantik itu merona merah, bukan karena kehadiran dirinya tapi karena kepedasan. Mengingat itu membuat Kautsar tertawa kecil sambil menggigit bibir gemas.


" Aku kangen banget sama Kamu Aruna...," gumam Kautsar sambil menatap kearah langit.

__ADS_1


Saat itulah kedua mata Kautsar membola. Ia baru sadar jika langit malam itu sedang dihiasi bulan purnama penuh. Dan itu artinya kemungkinan Aruna berubah menjadi manusia serigala sangat besar.


Kautsar menoleh kearah pelayan kios rumah makan itu lalu bertanya.


" Masih lama ga Mbak...?" tanya Kautsar tak sabar.


" Udah Mas. Ini mpek-mpeknya...," sahut sang pelayan sambil menyodorkan kantong plastik berisi dua kotak mpek-mpek.


Kautsar menerima kantong plastik itu dan menyodorkan lembaran uang berwarna merah lalu bergegas membalikkan tubuhnya.


Sang pelayan mengambil uang kembalian dari dalam laci lalu mengejar Kautsar yang sudah menaiki motornya.


" Kembaliannya Mas...!" panggil sang pelayan.


" Ambil aja Mbak...!" sahut Kautsar sambil melajukan motornya meninggalkan parkiran kios mpek-mpek.


" Makasih Mas...!" kata sang pelayan sambil tersenyum senang.


Kautsar tak menjawab, ia hanya melambaikan tangannya lalu melesat pergi dengan motornya.


Kautsar memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Ia khawatir pada Aruna. Ia berharap malam ini Aruna tak menderita saat menjalani takdirnya.


" Sabar ya Sayang. Tunggu Aku sebentar lagi.. ," batin Kautsar cemas.


Akhirnya Kautsar tiba di depan rumah. Ia mengerutkan keningnya saat melihat kondisi rumah yang gelap gulita berbeda dengan rumah lainnya yang lampunya menyala terang. Suasana di sekitar rumah pun terlihat sunyi mencekam seolah tak ada kehidupan di sana.


Kautsar bergegas turun dari motor dan mengetuk pintu dengan keras sambil memanggil Aruna.


" Aruna..., Aruna..., Sayang...!" panggil Kautsar berulang kali.


Tak ada sahutan dan itu membuat Kautsar panik.


Di kejauhan Kautsar mendengar lolongan serigala. Terdengar sedikit berbeda dan itu membuat bulu kuduk Kautsar meremang. Lalu Kautsar menatap ke sekelilingnya dengan waspada. Ia tak mau mati konyol karena menjadi korban kebuasan manusia serigala seperti di film yang pernah ditontonnya.


Setelah memastikan tak ada siapa pun di sekitar rumahnya, Kautsar kembali mengetuk pintu dan memanggil Aruna. Kali ini ketukan pintu dilakukan Kautsar lebih keras. Kautsar makin panik saat mendengar suara lolongan serigala di kejauhan itu terdengar kian mendekat dan saling bersahutan. Apalagi saat samar-samar ia mendengar suara geraman binatang buas di dalam rumah.


" Aruna...," gumam Kautsar.

__ADS_1


Tak sabar Kautsar mendobrak pintu dengan sekali tendangan hingga pintu itu hancur. Kemudian Kautsar menerobos masuk ke dalam rumah yang saat itu gelap gulita dan hanya diterangi cahaya televisi yang menyala di ruang tengah.


bersambung


__ADS_2