Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
179. Kemana Pun


__ADS_3

Setelah kepergian ruh Lian suasana di ruangan terasa hening. Aruna dan Kautsar mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan dan mendapati sang dukun tengah sekarat.


Saat keduanya menoleh kearah lain terlihat dua jasad wanita yang berbeda kondisi tampak terbujur kaku di atas meja kayu. Jasad yang tak lain milik Lian dan Dian nampak sangat mengenaskan.


Jasad Lian terlihat mulai membusuk. Ada cairan berwarna kekuningan mengalir dari tiap lubang di tubuhnya dan menimbulkan bau menyengat. Aruna dan Kautsar pun harus menahan nafas setiap kali angin membawa aroma tak sedap itu kearah mereka.


Sedangkan jasad Dian terlihat lebih baik walau pun dalam kondisi yang tak sedap dipandang. Selain tubuhnya tanpa busana, jasad Dian pun terlihat mengenaskan usai mengalami pelecehan dari sang dukun tadi.


" Kita harus apa sekarang Sayang...?" tanya Kautsar.


" Kita harus membawa jasad Lian dari sini...," sahut Aruna.


" Bagaimana caranya...?" tanya Kautsar.


" Mungkin Om George atau Tante Matilda bisa membantu Kita nanti...," sahut Aruna cepat.


" Ok. Sekarang Kita bisa pergi dari sini kan...?" tanya Kautsar.


Namun belum sempat Aruna menjawab, ruh Dian melesat cepat kearah Kautsar. Aruna yang melihat aksi ruh Lian pun dengan sigap menghadang ruh Dian.


" Jangan ganggu dia. Lawanmu Aku bukan dia...!" kata Aruna tegas.


Kautsar nampak tersenyum diam-diam saat menyadari Aruna sedang berusaha melindunginya.


" Jangan khawatir Sayang, Aku bisa menjaga diri kok...," bisik Kautsar hingga membuat Aruna mengangguk.


" Aku tau Sayang. Aku hanya mengecoh dia...," sahut Aruna sambil tersenyum.


Di depan sana ruh Dian nampak menatap marah kearah Aruna. Nampaknya ia masih ingin Aruna membantunya agar ia bisa tetap menikmati kehidupannya.


" Aku hanya memintamu membantuku Aruna tapi Kau menolak. Sekarang akan Kumanfaatkan kelemahanmu. Dia kan kelemahanmu...?" tanya ruh Dian sambil melirik kearah Kautsar.

__ADS_1


Aruna tak menggubris ucapan ruh Dian. Dia terlihat santai karena dia yakin Kautsar mampu menjaga diri. Aruna bergerak cepat menangkap ruh Dian dengan mudah lalu memutar tangannya ke belakang dan menahannya agar tetap berada di punggung. Ruh Dian menjerit marah dan mencoba melepaskan diri.


" Brengs*k, sia*an !. Lepaskan Aku Aruna...!" kata ruh Dian lantang.


" Aku akan melepaskanmu jika Kau mau mendengar apa yang akan Aku katakan Dian...!" kata Aruna tak kalah lantang.


Menyadari kemampuan Aruna berada jauh di atasnya membuat ruh Dian terdiam dan mengangguk. Setelah melihat anggukan kepala ruh Dian, Aruna mulai menjelaskan apa yang terjadi.


" Kamu terlalu lama meninggalkan ragamu Dian. Itu ga baik. Biasanya seseorang meninggalkan raganya paling lama dua atau tiga hari. Tapi nampaknya Kau meninggalkannya terlalu lama hingga Kau sulit untuk kembali bersatu dengan ragamu. Apalagi ragamu telah dikotori oleh dukun itu. Hingga ruhmu tak mengenali jasadmu lagi Dian...," kata Aruna.


" Aku kenal jasadku Aruna !. Karena itu Aku mau kembali...!" bantah ruh Dian dan itu membuat Aruna menggelengkan kepala.


" Ga bisa Dian. Ragamu kotor dan ga sama seperti saat Kamu tinggalkan dulu. Kau liat bagaimana dukun itu melecehkanmu kan ?. Itu lah salah satu sebab mengapa ruhmu ga bisa kembali. Ada ikatan khusus antara ruh dan jasad. Ikatan itu hilang karena Kau terlalu lama meninggalkannya dan ragamu juga berbeda kondisinya...," kata Aruna.


" Berbeda kondisi bagaimana Aruna. Aku melihatnya sama saja seperti saat Aku tinggalkan dulu...?" tanya ruh Dian gusar.


"Maaf jika Aku harus jujur. Ragamu saat Kau tinggalkan masih suci Dian. Tapi Kau lihat kondisinya sekarang. Entah sudah berapa kali dukun itu menikmati tubuhmu. Dia melakukannya berulang kali dan sisa cairan itu di tubuhmu menghalangimu untuk masuk karena ruhmu kehilangan ikatan itu Dian...!" sahut Aruna gusar.


Ruh Dian nampak terkejut. Ia mundur ke belakang sambil menatap nanar kearah jasadnya. Kini ia mengerti mengapa ia tak bisa kembali.


" Iya. Bagi Kami, Kamu sudah pergi Dian...," sahut Aruna sambil menatap prihatin kearah ruh Dian.


" Lalu kemana Aku harus pergi Aruna...?" tanya ruh Dian.


" Kamu bebas pergi kemana pun yang Kamu mau Dian...," sahut Aruna.


Mendengar jawaban Aruna membuat ruh Dian menangis. Karena itu artinya dia hanya ruh tanpa raga yang berkeliaran tanpa tujuan di dunia ini. Ruh Dian pun menyesali perbuatannya namun semua sia-sia sekarang. Aruna tak bisa berbuat apa-apa karena itu di luar kemampuannya.


Kautsar yang mendengar semua ucapan Aruna pun ikut prihatin. Ia merengkuh bahu Aruna dan mengusapnya lembut. Aruna menoleh lalu menyandarkan kepalanya ke bahu sang suami. Sejenak Aruna merasa iba pada ruh Dian dan mengerti bagaimana perasaannya.


" Bisa Kita pergi sekarang Sayang...?" tanya Kautsar menyadarkan Aruna.

__ADS_1


" Iya...," sahut Aruna cepat.


" Tinggalkan saja semuanya, biar Aku yang urus nanti...!" kata sebuah suara yang dikenali Aruna.


" Om George...! " panggil Aruna dengan wajah berbinar.


" Iya Nak. Sekarang pergi lah. Kita bicara lagi nanti...!" kata George.


" Baik Om. Makasih ya. Ayo Sayang...," kata Aruna sambil menggamit lengan Kautsar dan mengajaknya pergi.


" Kami duluan Om...," pamit Kautsar sambil melambaikan tangannya kearah George yang berdiri di tengah ruangan.


" Iya Nak. Tolong jaga Aruna baik-baik...!" kata George.


" Siap Om...!" sahut Kautsar sambil menutup pintu.


Interaksi Aruna, Kautsar dan George tak lepas dari pengamatan ruh Dian. Ia mengerutkan keningnya saat menatap sosok pria bule yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka tadi. Setelah Aruna dan Kautsar pergi pun ruh Dian masih di sana mengamati George.


Menyadari ada sesuatu yang tengah mengamatinya, George pun mengatakan sesuatu yang membuat ruh Dian takut.


" Simpan apa yang Kau lihat ini untuk dirimu sendiri. Kau tak akan pernah bisa membayangkan bagaimana rasa sakit yang harus Kau tanggung saat maut itu datang kedua kalinya...," kata George dengan datar.


Ruh Dian nampak gemetar ketakutan. Ia mengira George bisa melihatnya bahkan membunuhnya jika mau. Tak ingin menjadi korban keganasan pria bule itu, ruh Dian pun melesat cepat mencari jalan keluar dan pergi entah kemana.


George nampak tersenyum tipis saat mengetahui ruh Dian pergi meninggalkan tempat itu.


Kemudian George menatap ke sekelilingnya dan mendapati tubuh sang dukun yang tadi sekarat kini telah diam tak bergerak. George nampak menghela nafas panjang melihat kondisi mayat sang dukun.


" Satu lagi manusia beraliran sesat mati sia-sia...," gumam George sambil menghentakkan kakinya hingga membuat jasad sang dukun terpental ke sudut ruangan.


Setelahnya George menghampiri jasad Lian dan Dian. George meraih jasad Lian dan meninggalkan jasad Dian begitu saja. Kemudian George melesat keluar sambil menggendong jasad Lian.

__ADS_1


Tak lama kemudian terdengar ledakan dari dalam rumah sang dukun disusul api yang menjalar cepat dan melahap rumah beserta isinya termasuk jasad Dian dan sang dukun. Dari kejauhan George nampak tersenyum puas saat melihat warga mulai berdatangan ke rumah sang dukun yang terpencil itu.


\=\=\=\=\=


__ADS_2