Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
159. Lepas


__ADS_3

Rama nampak menyemprotkan cairan pembasmi serangga itu kearah gerombolan lintah. Para lintah tampak menggeliat saat terkena cairan itu lalu diam tak bergerak. Sesaat kemudian Rama mendapati ratusan lintah itu mati mengering.


Setelah Rama menyemprotkan cairan pembasmi serangga kearah gerombolan lintah yang memenuhi dapur, tiba-tiba terdengar suara letusan dari arah kamar ritual Edi.


Rama dan bi Ijah nampak saling menatap sebelum akhirnya keduanya bergerak menuju kamar ritual Edi. Namun sebelum menuju ke sana bi Ijah masih sempat menoleh kearah gerombolan lintah yang tadi disemprot Rama. Bi Ijah nampak terkejut karena tak mendapati seekor lintah pun di dapur, padahal sebelumnya terlihat gerombolan lintah memenuhi dapur hingga ke bagian dinding.


Menyadari jika yang dilihatnya di luar nalar manusia, bi Ijah nampak mengepalkan tangannya sambil mengucap istighfar.


" Astaghfirullah aladziim, apalagi ini. Kemana ratusan lintah yang tadi menuhin dapur ?. Kok bisa raib tanpa bekas...?" tanya bi Ijah dalam hati.


Suara lantang Rama menyadarkan bi Ijah dan membuatnya menoleh.


" Ayo Bi buruan ke sini...!" ajak Rama.


" Iya Mas...," sahut bi Ijah lalu bergegas mengekori Rama.


Rama dan bi Ijah berhenti tepat di depan pintu kamar ritual Edi. Tak ada suara apa pun si sana hingga membuat Rama curiga. Ia menempelkan telinganya ke daun pintu untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam sana.


" Gimana Mas...?" tanya bi Ijah.


" Sepi Bi...," sahut Rama.


" Kalo gitu ngapain Kita berdiri di sini. Ntar kalo Bapak tau bisa kena semprot lho Mas...," kata bi Ijah mengingatkan.


" Tapi Saya penasaran sama suara ledakan tadi Bi...," sahut Rama.


" Saya juga. Terus gimana dong...?" tanya bi Ijah bingung.


Rama nampak memutar otak agar bisa mengetahui kondisi sang majikan di dalam sana. Saat itu lah tak sengaja Rama melihat ke bagian bawah pintu. Rama nampak mengerutkan keningnya karena melihat ada genangan darah persis di bawah daun pintu.


" Darah...," gumam Rama tapi masih bisa didengar oleh bi Ijah.


Rama terlihat mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu namun dicegah oleh bi Ijah.


" Jangan Mas, bahaya. Bisa-bisa Kita disalahin dan jadi tersangka lho. Lebih baik Mas Rama panggil pengurus RT dan security biar jadi saksi saat Kita mendobrak pintu...," kata bi Ijah.


" Baik Bi...," sahut Rama lalu bergegas keluar untuk memanggil pengurus RT dan security.


Tak lama kemudian Rama kembali dengan beberapa orang yang berkepentingan di bidangnya masing-masing.

__ADS_1


Setelah berkoordinasi satu sama lain dan direkam sebagai alat bukti jika diperlukan, Rama dan seorang security pun mendobrak pintu kamar Edi.


Saat pintu berhasil dibuka mereka dibuat tercengang. Ternyata saat itu Edi tengah berbaring di lantai kamar dalam kondisi mengenaskan dan tanpa busana.


" Astaghfirullah aladziim...!" kata semua orang bersamaan.


Rama langsung sigap menutupi tubuh majikannya itu dengan sehelai kain yang ia temukan di lantai kamar. Setelahnya ia mencoba mengecek denyut nadi di pergelangan tangan Edi.


" Gimana Mas...?" tanya ketua RT.


" Alhamdulillah masih berdenyut Pak...," sahut Rama.


" Alhamdulillah. Kalo gitu Kita bawa ke Rumah Sakit secepatnya...," kata ketua RT.


" Iya Pak. Tapi karena lukanya parah, lebih baik panggil Ambulans aja ya Pak...," saran Rama.


" Boleh Mas. Cepet hubungi Rumah Sakit, biar bisa kirim Ambulans ke sini...," sahut ketua RT.


Lima belas menit kemudian sebuah Ambulans nampak memasuki wilayah perumahan itu. Petugas Rumah Sakit langsung turun dan masuk ke dalam rumah Edi yang telah dipadati warga.


Salah satu petugas Rumah Sakit menghubungi pihak kepolisian karena merasa ada kejanggalan pada kasus penemuan tubuh Edi yang terluka dan tanpa busana itu.


Karena Edi yang dalam kondisi kritis tak bisa ditanyai tentang sebab musabab luka-luka di tubuhnya itu, akhirnya Edi pun dilarikan ke Rumah Sakit.


" Ga mungkin Bu Puri yang melukai Pak Edi. Bu Puri itu terlalu sibuk ngurusin ketiga anaknya...," kata salah seorang warga.


" Tapi bisa aja Bu Puri khilaf dan gelap mata. Karena selama ini Kita juga tau kalo Bu Puri dan Pak Edi itu sering bertengkar karena masalah anak. Udah jadi rahasia umum kan kalo Pak Edi ga suka sama anak-anaknya itu...," sahut seorang ibu.


" Masuk akal sih. Tapi Pak Edi juga keterlaluan. Masa sama anak kandung ga ada sayangnya sama sekali. Mentang-mentang mereka cacat. Padahal kan bukan keinginan mereka terlahir cacat...," kata seorang warga.


Warga yang memadati rumah Edi pun membubarkan diri saat polisi mendatangi rumah Edi.


Polisi bergerak cepat dengan menyita beberapa barang bukti yang mereka temukan di rumah Edi. Rama dan bi Ijah pun harus menjawab beberapa pertanyaan polisi.


Saat polisi bertanya dimana Puri, Rama dan bi Ijah tak bisa menjawab. Karena dibutuhkan untuk penyelidikan dan tak mau dirinya terseret dalam masalah, akhirnya Rama mengatakan jika dia lah yang mengantar Puri ke terminal sebelum pergi keluar kota.


Setelah mendengar cerita Rama, polisi pun berkoordinasi untuk mencari jejak Puri dan ketiga anaknya.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Sementara itu di ruangan Rumah Sakit terlihat Edi terbaring lemah dalam kondisi yang mengenaskan. Para perawat yang membantu dokter membalut luka di tubuhnya nampak menahan ngeri. Bagaimana tidak, daging di tubuh Edi nampak tanggal dari tulangnya dan jatuh begitu saja. Belum lagi kulit yang mengelupas mirip seperti luka bakar itu mengundang iba siapa pun yang melihatnya.


Salah seorang perawat memberanikan diri bertanya pada dokter yang ada di ruangan itu.


" Maaf dok, pasien ini kira-kira kenapa ya dok...?" tanya salah seorang perawat.


" Sepertinya dia terkena cairan kimia yang membuat luka bakar parah Sus...," sahut sang dokter.


" Bahkan dagingnya juga terlepas dari tulangnya lho dok...," kata perawat lain.


" Itu yang masih jadi pertanyaan. Makanya Kita balut dulu supaya daging yang terlepas itu bisa kembali melekat sama tulangnya. Setelahnya baru bisa diadakan observasi tentang apa sih sesungguhnya yang terjadi sama pasien ini. Dan zat kimia apa yang udah menyebabkan luka separah ini...," sahut sang dokter.


Para perawat nampak menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


Di luar ruangan terlihat Elan, Nina dan kedua orangtua Elan yang baru saja tiba. Mereka datang untuk menjenguk Edi. Rupanya mereka dihubungi pihak kepolisian yang memberi tahu kondisi Edi sekarang.


Saat melihat dokter dan perawat keluar dari ruangan, mama Elan langsung bertanya.


" Selamat siang dok. Bagaimana keadaan Anak Saya...?" tanya mama Elan cemas.


Dokter pun tersenyum tipis lalu memberi tahu bagaimana kondisi Edi saat ini. Ketegangan nampak membayang di wajah kedua orangtua Elan. Sedangkan Elan dan Nina terlihat lebih tenang.


Elan nampak menyimak apa yang diucapkan dokter. Dari sana ia bisa menarik kesimpulan jika luka-luka di tubuh Edi disebabkan oleh sesuatu yang tak kasat mata alias ghaib. Apalagi sebelumnya dia juga sempat bertanya pada Rama dan bi Ijah tentang bagaimana kondisi Edi saat ditemukan di kamarnya.


" Rupanya karma itu benar-benar ada. Edi yang gemar main ilmu hitam sekarang terkena dampaknya. Ilmu hitam yang selalu menjadi solusi dalam hidupnya kini malah berbalik menyerangnya...," batin Elan sambil membuang pandangannya kearah lain.


Setelah bertanya banyak hal, Elan dan keluarganya diperbolehkan masuk untuk menjenguk Edi. Mama Elan langsung histeris melihat Edi yang dibalut seperti mummi itu. Papa Elan hanya bisa menenangkan sang istri sedangkan Elan dan Nina nampak mematung di tempat karena tak tahu harus bicara apa.


Sementara itu di kota Malang, dua hari setelah 'pertempuran sengit' melawan siluman lintah.


Kenzo terlihat jauh lebih sehat. Dokter Nurul yang mengecek kondisi Kenzo sebelum pelaksanaan operasi pun dibuat terkejut.


" Masya Allah, ini benar-benar di luar logika. Penyakitmu hilang dan Kamu ga perlu menjalani operasi Ken...!" kata dokter Nurul antusias.


" Alhamdulilah, yang bener Kak...?" tanya Kenzo ragu.


" Iya Ken. Masa Aku bohong. Ini kan menyangkut nyawa dan masa depan Kamu Ken...," sahut dokter Nurul cepat.


Kenzo nampak menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya lalu menangis bahagia. Melihat hal itu dokter Nurul pun maju lalu memeluk Kenzo erat. Keduanya menangis bersama.

__ADS_1


Dalam hati keduanya bersyukur karena Kenzo akhirnya lepas dari ancaman penyakit yang menakutkan itu. Meski pun begitu dokter Nurul juga bertanya-tanya bagaimana Kenzo bisa sembuh begitu saja dalam waktu singkat.


bersambung


__ADS_2