Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
114. Di Luar Dugaan


__ADS_3

Giliran Wenni untuk menyapa kedua orangtua Robi pun tiba. Ia tersenyum lalu mencium punggung tangan kedua orangtua Robi dengan takzim. Sikap Wenni membuat kedua orangtua Robi saling menatap bingung.


" Kamu siapa...?" tanya Mama Robi.


" Saya Wenni Tante...," sahut Wenni.


" Kamu kenal sama Robi atau justru Kalian punya hubungan yang lebih dari sekedar teman...?" tanya mama Robi sambil mengamati Wenni dari atas kepala hingga ujung kaki.


Mendengar pertanyaan Mama Robi membuat Wenni tersenyum kecut. Ia pun meraih amplop coklat dari dalam tas lalu mengulurkan nya kearah Mama Robi.


Kedua orangtua Robi nampak bersabar menghadapi sikap Wenni yang sedikit tak tahu tempat itu. Mama Robi membuka amplop coklat itu dan membelalakkan matanya saat melihat foto-foto bayi mungil di sana. Apalagi bayi mungil itu mirip dengan Robi saat masih bayi.


" Ini foto siapa...?" tanya Mama Robi dengan suara bergetar.


" Anak Saya dan Robi...," sahut Wenni lirih sambil menundukkan kepalanya seolah khawatir orang lain akan mencemoohnya nanti.


Jawaban Wenni mengejutkan kedua orangtua Robi. Namun ada sejumput kebahagiaan dalam sinar mata mereka dan itu membuat Wenni terharu.


" Dimana dia sekarang, siapa namanya...?" tanya Mama Robi sambil menggenggam erat jemari Wenni.


" Namanya Rio Tante...," sahut Wenni dengan mata berkaca-kaca.


" Rio. Nama yang bagus, Iya kan Pa...?" tanya Mama Robi sambil menoleh kearah suaminya.


" Iya Ma...," sahut ayah Robi cepat.


" Apa Om sama Tante ga marah...?" tanya Wenni sambil menatap kedua orangtua Robi bergantian.


" Ga Nak. Bawa Rio ke rumah ya. Kami pasti akan menyambutnya dengan gembira...," sahut Mama Robi antusias.


" Apa Om sama Tante percaya kalo itu anak Robi...? " tanya Wenni.


" Tentu saja. Wajah Rio sama persis kaya wajah Robi saat bayi. Sekali melihatnya aja Kami yakin kalo Rio itu emang Cucu Kami...," sahut ayah Robi.


Wenni pun terharu lalu menangis. Mama Robi langsung memeluknya dengan erat.


" Maafin Robi ya. Tolong jangan benci dia. Kami yang akan bertanggung jawab akan kehidupan Rio nanti...," janji Mama Robi.


" Makasih Tante...," kata Wenni di sela Isak tangisnya.


" Sama-sama. Jangan lupa bawa Rio ke rumah nanti ya...," pinta ayah Robi.


" Iya Om...," sahut Wenni.

__ADS_1


" Satu lagi. Jangan panggil Om sama Tante. Tapi panggil Papa sama Mama aja. Kita kan keluarga..., " pinta Mama Robi sambil mengusap pipi Wenni dengan lembut.


" Iya...," sahut Wenni cepat dengan air mata berderai di wajahnya.


Aruna dan Kautsar nampak tersenyum di kejauhan. Mereka terharu karena akhirnya Wenni menemukan kebahagiaan. Anak yang selama ini ia sembunyikan sebentar lagi akan mendapat pengakuan dan status dari kedua orangtua Robi.


" Alhamdulillah, akhirnya anak Wenni sebentar lagi bakal punya tempat di keluarga Ayahnya...," kata Aruna.


" Iya. Semua di luar dugaan. Ga kaya di film yang penuh drama, justru Wenni dengan mudahnya mendapat tempat di hati orangtua Robi..., " sahut Kautsar sambil tersenyum.


" Mungkin buat orangtua Robi kehadiran anak itu adalah obat dari rasa sakit akibat kehilangan Robi...," kata Aruna.


" Betul. Apalagi kalo wajah anak itu mirip sama almarhum Robi. Bisa dijamin bakal jadi Cucu kesayangan nanti...," sahut Kautsar.


" Sekarang Kita pulang...?" tanya Aruna.


" Terserah. Mau mampir ke rumah makan dulu juga boleh. Kan temenmu udah pulang semua...," sahut Kautsar sambil menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Genk Comot.


" Kenapa, khawatir digangguin ya...?" tebak Aruna sambil menahan tawa.


" Iya...," sahut Kautsar sambil tertawa.


" Dasar pelit...!" kata Aruna hingga membuat tawa Kautsar makin keras.


Saat motor mulai bergerak menuju gerbang pemakaman, tatapan Aruna terpaku pada makam Robi yang baru saja ditinggalkan pelayat. Di atas nisan almarhum Robi terlihat sosok jin bayi merah tengah duduk sambil menatap lekat kearah gundukan tanah.


" Bangun...!" kata jin berwujud bayi merah itu dengan lantang.


Perlahan namun pasti dari dalam gundukan tanah keluar lah Robi dalam wujud bayangan. Wajahnya yang pucat nampak menunduk lesu.


" Sekarang ikut Aku...!" kata jin berwujud bayi merah itu sambil membalikkan tubuhnya.


Robi nampak menggelengkan kepalanya lalu menoleh kearah Aruna. Ia nampak menatap Aruna yang duduk di boncengan Kautsar seolah memohon pertolongan Aruna.


" Maaf, Aku ga bisa bantu...," kata Aruna lirih sambil menggelengkan kepalanya hingga membuat Robi menangis.


Sesaat kemudian terlihat dua makhluk berwarna hitam, bertubuh besar dan berwajah menyeramkan nampak mendekati Robi. Tampaknya Robi sangat ketakutan. Berkali-kali ia menggeleng dan berusaha berkelit dari jangkauan tangan kedua makhluk hitam itu.


Namun sayangnya Robi kalah kuat. Dengan kedua tangan yang besar dan kuat, kedua makhluk menyeramkan itu menangkap Robi lalu menyeretnya pergi entah kemana. Jeritan Robi terdengar memilukan dan itu membuat Aruna bergidik ngeri. Ia pun menutup kedua telinganya dan memejamkan matanya agar tak harus mendengar dan melihat cara makhluk sembahan Robi itu menjemput arwah Robi.


\=\=\=\=\=


Keesokan harinya Wenni datang menepati janjinya. Ia membawa serta anak kandungnya yang merupakan buah cintanya dengan Robi ke rumah orangtua Robi. Saat itu tengah dilakukan persiapan acara pengiriman doa khusus untuk almarhum Robi.

__ADS_1


Wajah kedua orangtua Robi yang semula terlihat sedih pun terlihat sumringah saat adik Robi memberitahukan kedatangan Wenni.


" Ma, di depan ada tamu Kakak, katanya sih namanya Wenni...," kata adik perempuan Robi bernama Rindu.


" Wenni. Akhirnya dia datang juga. Apa dia membawa anak kecil Rin...?" tanya Mama Robi.


" Iya Ma, tapi wajah anak itu...," ucapan Rindu terputus saat sang Mama bergegas berlari untuk menyambut tamunya.


" Ayo Kita ke depan. Keponakanmu sudah datang...," kata ayah Robi sambil tersenyum.


" Keponakanku. Apa maksud Papa, anak itu anaknya Kak Robi...?!" tanya Rindu setengah menjerit.


" Iya...," sahut ayah Robi.


" Pantesan wajahnya mirip banget sama Kakak...," kata Rindu dengan mata berkaca-kaca.


" Ntar aja nangisnya. Sekarang Kita sambut Rio dulu...," ajak ayah Robi sambil menggamit tangan Rindu dan membawanya ke ruang tamu.


Rindu pun mengangguk lalu bergegas mengikuti langkah ayahnya. Tiba di ruang tamu terlihat Mama Robi sedang menggendong bayi laki-laki yang wajahnya sangat mirip dengan Robi. Di sampingnya terlihat Wenni yang berdiri sambil tersenyum melihat kebahagiaan sang anak dalam pelukan neneknya.


" Mama...," panggil Rindu hingga membuat Mama Robi menoleh dan tersenyum.


" Nah itu namanya Tante Rindu. Sini Tante, kenalin dong. Namaku Rio. Aku anaknya Papa Robi kakaknya Tante lho...," kata Mama Robi dengan suara anak kecil untuk mewakili Rio bicara.


" Ini serius Ma...?" tanya Rindu sambil mengulurkan tangannya untuk menyentuh jemari mungil Rio.


" Iya...," sahut Mama Robi mantap.


Rio nampak mengerjapkan matanya dengan lucu hingga membuat Rindu dan sang papa tertawa gemas.


" Gantian Ma, Papa juga mau gendong Rio...," pinta ayah Robi sambil berusaha mengambil alih Rio dari gendongan istrinya.


Dalam sekejap Rio pun berpindah tangan. Ayah Robi langsung membawa Rio menjauh seolah ingin memberi kesempatan pada anak dan istrinya untuk bicara dengan Wenni.


Setelah berbincang hampir satu jam lamanya, Mama Robi pun mempersilakan Wenni untuk menempati kamar Robi, namun Wenni menolak.


" Ga perlu Ma. Saya ga nginep kok...," kata Wenni dengan santun.


" Ayo lah Wen. Apa Kamu ga mau ijinin Rio berdoa untuk Papanya. Biar dia masih bayi tapi dia pasti ngerti kalo Kita semua mau ngirim doa untuk almarhum Papanya...," kata Mama Robi sedih dan bersamaan dengan itu Rio menangis keras.


" Betul Kak. Rio juga udah ngantuk dan haus. Kakak bisa menyusui Rio di kamar Kak Robi. Atau kalo Kakak ga nyaman bisa pake kamar Aku...," kata Rindu menambahkan.


Wenni nampak terharu dengan kebaikan keluarga Robi. Ia tak menduga jika kehadiran Rio yang sempat ditolaknya dulu, justru menjadi jalan untuknya bertemu dengan keluarga Robi. Perlahan Wenni menganggukkan kepalanya dan itu membuat Rindu dan sang Mama tersenyum bahagia.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2