
Hari pertama bekerja sebagai karyawan magang di cabang perusahaan milik Kakek Kenzo berjalan lancar. Aruna, Kenzo dan Ria terlihat senang saat mereka kembali bertemu di loby perusahaan saat jam pulang kantor.
" Ternyata kerja di perusahaan kaya gini tuh seru ya Run...," kata Ria antusias.
" Iya...," sahut Aruna dengan enggan.
" Kok muka Lo bete sih Run...?" tanya Ria tak mengerti.
" Ck, gapapa. Gue cuma capek...," sahut Aruna asal.
" Oh gitu. Kalo Kamu gimana Sayang...?" tanya Ria sambil menatap sang kekasih.
" Alhamdulillah lancar. Walau pun ga bisa istirahat kaya karyawan lain. Tapi its Ok lah...," sahut Kenzo.
" Kok ga istirahat...?" tanya Ria.
" Istirahat juga tapi ga bisa di jam istirahat karena harus ngangkatin barang ke kontainer...," sahut Kenzo.
" Kasian. Pasti Kamu capek banget ya. Andai mereka tau kalo Kamu ini Cucunya pemilik perusahaan, pasti Kamu ga bakal dibikin capek kaya gini...," kata Ria dengan nada khawatir.
" Ssstt..., ga usah bahas itu di sini ya. Aku gapapa kok. Beneran deh...," kata Kenzo sambil menarik tangan Ria agar menjauh dari loby.
\=\=\=\=\=
Malam harinya Aruna dan Kautsar nampak duduk sambil berbincang. Aruna menceritakan kecurigaannya kepada Lian sang sekretaris.
" Emangnya menurut Kamu dia kenapa...?" tanya Kautsar.
" Bu Lian itu lagi ketempelan sesuatu. Aku ga tau dia kena dimana. Yang pasti ada sesuatu yang ngikutin dia dan mempengaruhi moodnya. Kadang dia bersikap lembut dan ramah, tapi ga jarang juga dia bersikap ga bersahabat. Seharian tadi Aku kenyang ngadepin sikapnya yang berubah-ubah itu...," sahut Aruna.
" Kamu belum bisa bantu dia Sayang...?" tanya Kautsar.
" Tergantung...," sahut Aruna cepat hingga membuat Kautsar mengerutkan keningnya bingung.
" Tergantung apa...?" tanya Kautsar.
" Tergantung Bu Liannya mau dibantu atau ga...," sahut Aruna sambil menguap.
__ADS_1
" Udah ngantuk ya. Sebaiknya Kita istirahat sekarang biar Kamu bisa nyiapin energi untuk ngadepin Bu Lian besok...," kata Kautsar.
" Beneran istirahat kan...?" tanya Aruna yang menduga ada màksud lain dari ucapan suaminya itu.
" Iya...," sahut Kautsar sambil mengecup kening Aruna dengan sayang.
Aruna pun mengangguk lalu melangkah menuju ke kamar. Tak lama kemudian Kautsar menyusul sang istri dan tersenyum saat menyaksikan Aruna telah terlelap di atas tempat tidur.
\=\=\=\=\=
Aruna sengaja datang lebih awal karena berniat mencari tahu sosok apa yang mengikuti Lian sang sekretaris.
Setelah meletakkan tas di atas meja kerjanya, Aruna memberanikan diri mendekati meja Lian. Ia mengamati semua benda yang ada di atas meja.
" Ga ada yang mencurigakan. Tapi kenapa di sini hawanya beda banget sama meja Aku ya...," gumam Aruna sambil membalikkan tubuhnya dan bersiap kembali ke meja kerjanya.
Namun langkah Aruna terhenti saat mendengar suara berdetak yang amat kencang dari dalam laci. Aruna kembali lalu mengamati laci meja bagian bawah dimana suara itu berasal. Ada asap putih tipis keluar dari sana dan Aruna tahu jika ada sesuatu di sana.
Aruna mengulurkan tangannya ingin menyentuh laci itu. Namun segera ia urungkan saat mendengar langkah kaki mendekat ke pintu ruangan. Aruna yang tak bisa menghindar itu pura-pura berjongkok di depan meja Lian seolah sedang mencari sesuatu.
" Ngapain Kamu di sana Aruna...?!" tanya Lian dengan lantang.
" Kamu yakin brossnya jatuh di bawah meja Saya...?" tanya Lian tak suka.
" Saya ga tau Bu. Makanya Saya lagi nyariin nih...," sahut Aruna santai.
" Kalo udah ketemu cepet siapin berkas di map hijau ya. Saya mau serahin ke Bos. Udah dicek kan kemarin...?" tanya Lian.
" Udah Bu...," sahut Aruna sambil menyerahkan map berwarna hijau yang dimaksud Lian.
" Ok. Sekarang Kamu pelajari ini, besok ikut Saya mendampingi Bos buat meeting ya...," kata Lian sambil menyerahkan tumpukan map kepada Aruna.
" Apa harus ya Bu. Saya khawatir malah mengacaukan semuanya kalo Saya ikut nanti Bu...," kata Aruna.
" Kamu ga boleh nolak Aruna. Kamu ga harus bicara apa-apa di sana. Saya yang akan presentasi dan Kamu bantuin Saya nyiapin semua yang Saya perlukan. Mengerti...? " tanya Lian dengan tatapan tajam.
" Iya, baik Bu...," sahut Aruna gugup.
__ADS_1
Lian nampak tersenyum puas lalu beranjak keluar ruangan meninggalkan Aruna dengan tumpukan berkas di tangannya.
Aruna meletakkan tumpukan map itu di atas meja lalu mulai mempelajari isinya. Beberapa saat kemudian Aruna nampak menggelengkan kepalanya karena merasa penat.
Saat itu lah ekor mata Aruna menangkap asap berwarna putih keluar dari dalam laci meja milik Lian. Asap putih itu berkumpul lalu mewujud sesuatu yang membuat Aruna tersentak kaget.
Ada bayangan wanita cantik di sana. Ia berdiri sambil menatap Aruna dengan tatapan penuh harap.
" Siapa Kamu...?" tanya Aruna.
" Aku Lian...," sahut hantu wanita itu lirih.
" Jangan mengada-ada, masa namamu sama kaya Bu Lian...," kata Aruna sambil melengos.
" Aku memang Lian. Aku adalah sekretaris Bos di sini...," sahut hantu wanita itu berusaha meyakinkan Aruna.
" Kalo Kamu Bu Lian, terus siapa wanita yang dua hari ini berada di ruangan ini bersamaku...?" tanya Aruna tak mengerti.
Saat hantu wanita itu hendak menjawab, tiba-tiba suara detak sepatu terdengar dan hantu wanita itu pun menghilang. Aruna menoleh dan mendapati Lian tengah berjalan cepat kearah mejanya.
Lian nampak mengambil anak kunci dari dalam tas. Kemudian ia membuka laci meja dimana Aruna melihat hantu wanita itu berasal. Aruna mengamati gerak-gerik Lian tanpa berkedip seolah ingin mengetahui rahasia apa yang disembunyikan Lian di sana.
Lian terlihat santai seolah tak peduli dengan tatapan curiga Aruna padanya. Setelah mengambil sesuatu dari dalam laci, Lian kembali mengunci laci itu. Tapi kali ini anak kuncinya ia masukkan ke dalam saku bajunya.
Sebelum keluar ruangan ia menghampiri meja kerja Aruna.
" Sebaiknya jangan terlalu kepo sama urusan orang lain. Ada kalanya diam itu lebih baik daripada bersuara. Bukan kah Kamu pernah dengar pepatah mengatakan jika diam itu adalah emas...?" tanya Lian sambil menatap Aruna tajam.
" Iya Bu...," sahut Aruna sambil menganggukkan kepalanya.
" Bagus. Sekarang lanjutkan pekerjaanmu, karena Saya harus mendampingi Bos meeting dengan relasi bisnisnya...," kata Lian sambil melambaikan tangannya.
Aruna mematung di tempatnya karena merasa malu. Ia tak menyangka jika Lian memgetahui dirinya sedang diamati oleh Aruna.
" Bod*h banget sih. Masa bisa sampe ketauan kaya gitu. Harusnya kan dia ga tau...," gumam Aruna sambil mengepalkan tangannya.
Aruna menoleh kearah meja Lian untuk mencari hantu wanita yang tadi mengaku sebagai Lian. Aneh, Aruna tak lagi mendapati hantu itu di sana. Aruna berdiri dan berniat menghampiri meja Lian namun ia urungkan saat teringat ucapan Lian tadi.
__ADS_1
bersambung