Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
206. Kuyang Itu Ternyata...


__ADS_3

Hari itu merupakan hari ulang tahun perusahaan. Semua karyawan diminta hadir untuk merayakan hari jadi perusahaan milik Kakek Kenzo yang akan digelar malam harinya. Aruna, Ria dan Kenzo pun turut ambil bagian. Sayangnya Kautsar tak bisa hadir karena sedang dinas keluar kota.


" Ga seru ya Run kalo ga ada Kautsar...," goda Kenzo saat melihat Aruna yang tampil cantik tapi tampak kurang bahagia.


" Ya gitu deh. Ga tau nih bawaannya kangen terus sama dia. Pengennya deket tapi pas dideketin malah kesel...," sahut Aruna sambil nyengir kuda.


" Bawaan orok tuh namanya. Eh, apa jangan-jangan Lo hamil Run...?" tanya Ria sambil mengamati Aruna dari atas kepala hingga ujung kaki.


" Hush, jangan ngaco Lo ya. Kautsar juga sering ngomong kaya gitu tapi Gue ga percaya...," kata Aruna.


" Kok ga percaya sih. Beli test pack dong terus tes aja sendiri...," saran Ria yang diangguki Kenzo.


" Ga perlu. Lagian kan ini badan Gue. Yang tau persis apa yang terjadi sama badan Gue ya pasti Gue lah...," kata Aruna cuek.


" Tapi kan banyak orang hamil yang ga tau kalo dirinya hamil Run...," kata Ria mengingatkan.


" Iya sih. Tapi yang jelas itu bukan Gue...," kata Aruna lagi.


" Dasar keras kepala...," gerutu Ria sambil menggelengkan kepala.


Aruna hanya tersenyum mendengar gerutuan Ria.


Tak lama kemudian Kakek Kenzo sebagai komisaris utama sekaligus pemilik perusahaan nampak naik ke atas panggung untuk memberi kata sambutan. Ditemani kedua orangtua Kenzo sang kakek nampak tersenyum bahagia.


Kenzo nampak terharu melihat sang Kakek dan kedua orangtuanya hadir dalam pesta kali ini.


" Sebenarnya Saya ingin menyampaikan sebuah berita gembira tentang niat Cucu Saya bergabung dalam perusahaan ini. Tapi berhubung Cucu Saya belum ingin dipublikasikan, maka Saya terpaksa menunda pengumuman ini...," kata Kakek Kenzo sambil mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan seolah sedang mencari sang cucu.


Sedangkan Kenzo nampak berdiri kaku di tempatnya. Sebelumnya ia memang telah berhasil mengirim pesan pada ayahnya agar tak bicara apa pun tentang dirinya malam ini. Dan nampaknya Erlan memahami itu lalu memberitahu sang ayah tentang permintaan Kenzo tadi.


Pesta pun berlanjut dan semua karyawan tampak gembira.


Aruna yang merasa jika udara dalam ruangan sedikit pengap pun memilih mencari udara segar. Saat Ria dan Kenzo menawarkan diri untuk menemani, Aruna menolak.


" Gue mau telephon Kautsar. Emang Lo berdua yakin mau ngintilin Gue...?" tanya Aruna sambil memperlihatkan ponselnya.


" Ya udah Kita di sini aja daripada jadi nyamuk. Iya kan Yang...," kata Ria sambil menggelayut manja di lengan Kenzo.

__ADS_1


" Setuju...," sahut Kenzo cepat.


Jawaban dua sejoli itu membuat Aruna tertawa. Setelahnya Aruna membalikkan tubuhnya lalu berjalan perlahan menuju halaman samping aula dimana pesta itu digelar.


Aruna memang menghubungi Kautsar. Tapi sayang tak tersambung akibat kendala cuaca. Aruna nampak sedikit kesal tapi hanya sebentar karena Aruna menemukan sesuatu yang menarik hatinya.


Tanpa sengaja Aruna melihat Hasby yang keluar dari pintu lain sambil menelepon seseorang. Saat itu Hasby terlihat kacau karena beberapa kali mengacak rambutnya. Pandangannya sekali tertuju ke dalam ruangan yang memang memiliki jendela kaca besar.


Saat itu beberapa kali terlihat Hasby mengendurkan dasinya seolah merasa sesak nafas. Di sisi lain Aruna juga melihat Bianca yang nampak berdiri tak jauh dari seorang karyawati yang hamil besar. Bianca nampak mengamati wanita itu dengan lekat seolah sedang mengawal wanita itu.


" Emangnya ada yang aneh sama karyawati itu ya. Kenapa Pak Hasby dan Bu Bianca sama-sama ngeliat kearah wanita itu. Mereka juga keliatan gelisah pas ngeliat dia. Jangan-jangan itu simpanannya Pak Hasby. Dia panik karena ketauan istrinya dan minta Bu Bianca buat ngawasin istri simpanannya itu. Hmmm..., sebuah hubungan yang rumit...," gumam Aruna sambil menggelengkan kepala.


Saat Aruna menoleh kearah Hasby, ia tak mendapati Hasby lagi di tempat semula. Dengan langkah pelan Aruna pun mencoba mencari Hasby namun gagal. Akhirnya Aruna pun melangkah menuju toilet karena ingin buang air kecil.


\=\=\=\=\=


Setelah menyelesaikan hajatnya, Aruna pun mematut diri di depan cermin sebentar. Namun Aruna dibuat terkejut saat melihat pantulan di cermin. Aruna melihat kelebatan bayangan berwujud kepala berwarna hitam melayang cepat di dekat bilik toilet yang ada di tempat itu. Aruna menoleh dan menunggu apa yang akan terjadi.


Setelah menunggu beberapa saat namun tak ada pergerakan, Aruna memberanikan diri mengecek ke tempat itu. Sebelumnya Aruna meraih alat pengepel lantai yang bersandar di dinding.


" Maaf, ada orang ga di dalam...?" tanya Aruna sambil terus mengetuk.


Karena tak ada jawaban Aruna pun mendorong perlahan pintu yang ternyata tak terkunci itu. Saat pintu berhasil dibuka, Aruna melihat pemandangan yang mengerikan.


Di lantai terlihat wanita hamil yang tadi dilihatnya di ruang pesta, tampak tengah mengejang sekarat dengan darah yang mengalir dari bagian bawah tubuhnya. Posisinya terlentang di lantai dengan kedua kaki mengang*ang. Yang menyeramkan lagi ada sosok kepala tanpa tubuh yang tengah bergerak di antara kedua paha wanita itu.


" Kurang ajar. Rupanya sampe juga makhluk ini ke sini ya...," gumam Aruna kesal.


Dengan kekuatan penuh Aruna memukul kepala tanpa tubuh alias kuyang itu dengan gagang alat pel yang terbuat dari besi. Nampaknya kuyang itu tak terusik sama sekali dan itu membuat Aruna geram. Ia kembali menusuk kepala itu dengan ujung alat pel berkali-kali hingga kuyang itu menghentikan aksinya karena merasa terganggu.


Perlahan kuyang itu melayang lalu bersiap membalikkan kepalanya. Aruna pun mundur selangkah sambil bersiap menyambut dengan alat pel di tangannya.


Namun di saat genting itu tiba-tiba pintu terbuka dan terlihat Bianca masuk sambil berteriak lantang.


" Mundur Aruna. Dia bukan lawanmu...!" kata Bianca.


Aruna terkejut dan menoleh kearah Bianca. Kepala tanpa tubuh alias kuyang itu pun sama terkejutnya dengan Aruna. Merasa aksinya diketahui orang lain, kuyang itu mencoba melarikan diri. Namun dengan sigap Bianca menghalangi sambil melempar beberapa jarum perak kearah kuyang itu.

__ADS_1


Kuyang itu terdengar mendesis marah lalu berbalik menyerang Bianca. Saat itu lah Aruna bisa melihat wajah asli kuyang itu. Ia kembali dibuat terkejut karena mengenali kepala siapa yang menjelma jadi kuyang itu.


" Pak Hasby...?!" kata Aruna tak percaya.


Kuyang itu nampak menyeringai lalu membuka mulutnya lebar-lebar. Aruna bergidik ngeri melihat isi dalam mulut kuyang itu yang berupa gigi taring tajam berwarna merah karena baru saja menghisap darah korbannya. Tatapan mata kuyang itu nampak nyalang dan buas.


Lalu dengan kecepatan tinggi ia berbalik melesat kearah Aruna yang dengan sigap menyambutnya dengan pukulan alat pel di tangannya.


Bianca menjerit karena mengira Aruna akan kalah dan menjadi korban berikutnya. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Kepala kuyang itu lah yang terkena pukulan telak Aruna. Saat alat pel itu mengenai kepala kuyang itu, terdengar bunyi berdetak yang kencang dan kepala kuyang itu pun melayang membentur dinding lalu jatuh ke lantai. Ada darah di dinding yang menandakan jika kepala kuyang itu terluka saat membentur dinding.


Sesaat kemudian kepala kuyang itu tampak bergerak lalu melayang perlahan. Tanpa menoleh lagi kepala kuyang itu melesat pergi meninggalkan Aruna dan Bianca begitu saja.


Untuk sejenak suasana di dalam toilet wanita itu tampak hening. Hanya des*h nafas Aruna dan Bianca yang terdengar menggema di ruangan itu.


" Sekarang Kita urus wanita ini Aruna...," kata Bianca memecah keheningan.


Aruna yang masih shock karena mengetahui jati diri kuyang itu pun hanya menatap Bianca tanpa suara. Aruna bisa menyaksikan Bianca mengecek kondisi wanita itu lalu mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi security.


" Jangan lupa hubungi Ambulans ya Pak. Makasih...," kata Bianca di akhir kalimatnya.


Tak lama kemudian dua orang security datang bersama petugas Rumah Sakit. Dengan sigap mereka memindahkan tubuh wanita itu ke atas tandu lalu membawanya keluar dari toilet. Petugas kebersihan pun datang dan segera membersihkan ceceran darah di lantai dengan sikat dan sabun pembersih lantai. Sedangkan Aruna dan Bianca nampak berdiri di depan toilet sambil berdiam diri.


" Jadi dari awal Ibu tau tentang ini...?" tanya Aruna tak percaya.


" Iya...," sahut Bianca.


" Termasuk tentang siapa kuyang itu sesungguhnya...? " tanya Aruna.


" Betul. Tapi semua ini belum selesai Aruna. Dan Saya harap Kamu juga berhati-hati karena kuyang jelmaan Pak Hasby juga mengincar Kamu dan bayimu...," kata Bianca sambil berjalan pelan meninggalkan Aruna.


Aruna nampak terkejut lalu menyentuh perutnya. Ia merasa sedih sekaligus terharu saat mendengar kabar membahagiakan itu. Sayangnya kabar itu harus Aruna dengar di situasi yang tak menyenangkan.


Aruna tersentak saat menyadari jika Bianca adalah orang yang baik. Karena orang jahat tak akan mengingatkannya agar berhati-hati bukan ?.


Aruna menatap punggung Bianca yang telah jauh melangkah. Dengan langkah cepat Aruna pun menyusul Bianca. Ia ingin minta maaf karena telah bersikap tak bersahabat pada Bianca. Ternyata selama ini ia salah duga. Karena sesungguhnya yang Bianca awasi adalah Hasby dan bukan dirinya.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2