
Kautsar masih mengamati Aruna yang tengah mengendus kartu undangan itu. Aruna juga beberapa kali terlihat menyipitkan matanya seolah sedang mencoba mendalami sesuatu.
" Kenapa Sayang ?. Apa ada yang aneh sama undangan ini...?" tanya Kautsar.
" Sedikit. Tapi Aku ga tau apa itu...," sahut Aruna.
" Gitu ya...," kata Kautsar sedikit kecewa hingga membuat Aruna menatapnya dengan intens.
" Kamu ngarep Aku nemuin sesuatu ya. Kenapa emangnya ?. Eh, ngomong-ngomong yang ngundang Kamu mempelai pria atau wanitanya...?" tanya Aruna.
" Mempelai wanita. Tapi kata dia calon suaminya yang mempelai pria itu yang minta supaya ngundang Aku sama Reyhan...," sahut Kautsar.
" Tapi Kalian kenal kan sama calon mempelai prianya...,?" tanya Aruna.
" Mmm..., kalo Mukhlis yang dia maksud itu teman sekantor, ya Kami kenal. Tapi kalo Mukhlis yang lain Kami ga kenal...," sahut Kautsar hingga membuat Aruna bingung.
" Maksudnya gimana sih Sayang...?" tanya Aruna tak mengerti.
" Mukhlis teman sekantor Kami itu udah meninggal dunia beberapa bulan yang lalu Sayang. Aku, Reyhan dan teman-teman juga hadir saat pemakamannya. Gladys bilang, Mukhlis yang minta dia untuk mengundang Aku dan Reyhan. Kalo Mukhlis yang dia maksud itu udah meninggal dunia, terus Mukhlis yang mana lagi yang ngundang Aku sama Reyhan...," sahut Kautsar gusar.
" Ngundang Kalian berdua aja...?" tanya Aruna.
" Di kantor Iya. Tapi ga tau kalo di luar sana...," sahut Kautsar.
" Keliatannya ada sesuatu yang disembunyikan sama Gladys. Tapi Aku belum tau apa. Maaf Aku belum bisa bantu Kamu karena saat ini kondisiku lagi ga fit. Mungkin dua atau tiga hari lagi Aku baru bisa bantu Kamu...," kata Aruna tak enak hati.
Kautsar tersenyum lalu memeluk istrinya dengan erat.
" Aku ngerti Sayang. Jangan paksa untuk mengorek semuanya kalo ga bisa. Aku sama Reyhan gapapa kok. Yang penting sekarang Kamu mau pulang dan tinggal sama Aku lagi. Itu udah lebih dari cukup buat Aku. Karena ga ngeliat Kamu selama seminggu udah bikin Aku sterss lho Sayang...," kata Kautsar sungguh-sungguh.
" Masa...?" tanya Aruna sambil tersenyum usil.
" Kamu ga percaya...?" tanya Kautsar.
" Ga...," sahut Aruna cepat sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
" Kalo ga percaya Kamu boleh tanya sama Reyhan gimana kondisiku saat Kamu ga ada di sini. Kasian dia karena harus jadi tempat pelampiasan ku seminggu kemarin...," kata Reyhan sambil tersenyum kecut.
Aruna tersenyum karena terharu mendengar betapa kalutnya Kautsar saat ia menghilang selama seminggu. Aruna mendekatkan wajahnya ke wajah suaminya. Lalu ia mengecup bibir Kautsar dengan cepat hingga membuat Kautsar terkejut.
" Maaf yaa...," bisik Aruna.
" Iya. Aku juga minta maaf karena bikin Kamu ga nyaman...," sahut Kautsar sambil menyentuh wajah Aruna dengan lembut.
Saat Aruna mengangguk, Kautsar menarik sang istri ke dalam pelukannya lalu menciumnya dengan lembut. Aruna pun membalas ciuman Kautsar dengan senang hati. Sesaat kemudian keduanya tampak saling mencumbu.
Tiba-tiba Kautsar teringat jika istrinya belum lama mengalami keguguran. Kautsar yang sejak awal memang hati-hati menyentuh sang istri segera menghentikan aksinya. Sedangkan Aruna yang ada di bawah tubuh Kautsar tampak menghela nafas lega saat Kautsar mengurungkan niat untuk menggaulinya.
Sebelumnya Kautsar melihat Aruna yang kacau saat akan melakukan hubungan int*m. Nampaknya Aruna ingin menolak Kautsar tapi ia juga tak ingin menyinggung perasaan suaminya. Sedangkan di saat bersamaan Aruna masih khawatir akan kondisinya pasca keguguran.
" Kita lakukan lain kali aja ya. Aku ga tega ngeliat Kamu kaya gini...," kata Kautsar lirih.
Kemudian Kautsar menjauhkan tubuhnya dari Aruna. Ia juga berusaha mengatur nafasnya yang memburu itu.
" Apa Kamu ga marah...?" tanya Aruna sambil menatap Kautsar dengan tatapan sendu.
" Ga dong. Aku gapapa kok. Maaf kebawa suasana jadi lupa kalo Kamu masih dalam masa pemulihan...," kata Kautsar sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh polos Aruna.
" Sama-sama...," sahut Kautsar sambil tersenyum.
Kini Kautsar dan Aruna hanya saling memeluk tanpa melakukan apa-apa. Nafas keduanya yang semula memburu pun perlahan mulai teratur.
" Ada baiknya Kita temuin dokter Sheina untuk ngecek kondisi Kamu ya Sayang. Aku ga mau salah langkah dan membahayakan Kamu nanti...," kata Kautsar tiba-tiba.
" Aku setuju. Kita bisa tanya banyak hal sama dokter Sheina nanti, termasuk kapan tepatnya melakukan itu. Udah boleh atau belum, durasi maksimalnya berapa lama, terus berapa kali seminggu. Gitu kan...?" tanya Aruna sambil melirik suaminya.
" Ck, kenapa Kamu bisa tau sih apa yang ada di kepalaku...," gumam Kautsar sambil berdecak sebal.
Ucapan Kautsar membuat Aruna tertawa. Sedangkan Kautsar nampak menyembunyikan wajahnya yang merona itu dengan selimut.
" Kenapa ditutupin sih, Aku kan kangen pengen liat wajah Kamu lho Sayang...," kata Aruna sambil berusaha menarik selimut yang menutupi wajah suaminya.
__ADS_1
" Aku malu Sayang...," sahut Kautsar.
" Malu kenapa...?" tanya Aruna pura-pura tak tahu.
" Tebak aja sendiri...," sahut Kautsar sambil tetap mempertahankan selimut yang menutupi wajahnya.
" Malu karena ketauan niat sebenernya ketemu sama dokter Sheina...?" tanya Aruna sambil menahan tawa.
" Iya. Puas Kamu...?!" tanya Kautsar sambil menyibak selimut.
Aruna kembali tertawa dan sesaat kemudian Kautsar pun ikut tertawa. Dalam hati Kautsar berharap jika ia dan Aruna bisa selalu tertawa gembira seperti ini.
\=\=\=\=\=
Pagi itu Kautsar dan Reyhan kembali bicara tentang undangan pernikahan Gladys dan Mukhlis. Saat bicara Kautsar terlihat antusias dan itu membuat Reyhan curiga.
" Jadi ceritanya Aruna udah pulang nih...," sindir Reyhan sambil tersenyum penuh makna.
" Iya. Gue jemput ke sana seperti saran Lo...," sahut Kautsar.
" Lo jemput ke Jakarta ?. Secepat itu bisa balik ke rumah, emangnya Lo naik apaan, pesawat. Tapi ga mungkin sepagi ini Lo udah di kantor kan...?" tanya Reyhan tak percaya.
Kautsar tersentak karena sadar telah salah bicara. Sebelumnya ia mengatakan jika Aruna sedang pulang ke rumah orangtuanya di Jakarta. Padahal kemarin ia dan Reyhan harus pulang telat karena lembur. Jadi tak masuk akal jika ia menjemput sang istri dalam waktu singkat kan ?.
" Gue lupa bilang kalo Aruna lagi nginep di rumah Omnya setelah balik dari Jakarta. Semalam Gue jemput dia ke rumah Omnya itu karena khawatir ngerepotin...," sahut Kautsar.
" Khawatir ngerepotin atau emang kangen...?" tanya Reyhan sambil mendelik kesal.
" Iya iya. Gue emang kangen sama dia makanya Gue ajak pulang...," sahut Kautsar sambil menggaruk tengkuknya.
Melihat Kautsar yang salah tingkah membuat Reyhan tertawa keras.
" Pantesan beda banget, rupanya udah dapat jatah Lo...," kata Reyhan di sela tawanya.
" Yah gitu deh...," sahut Kautsar asal namun kembali membuat Reyhan tertawa.
__ADS_1
Kautsar tak bisa berbuat apa-apa saat Reyhan menertawainya. Namun tatapan Kautsar terpaku saat melihat sosok almarhum Mukhlis melintas di belakang Reyhan.
\=\=\=\=\=