Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
112. Kabar Duka


__ADS_3

# Dirgahayu RI yang ke 77. Semoga Indonesia Jaya, rakyatnya makmur, bebas dari penindasan di segala lini kehidupan dan Indonesia jadi negara yang bermartabat di mata dunia karena rakyatnya yang Akhlakul karimah. Aamiin yaa Robbal'alamiin...


Merdekaaa... Merdekaaa... Merdekaaa... #


Kedua orangtua Robi sedang berjalan santai menuju ruangan rawat inap Robi. Namun mereka terkejut melihat beberapa perawat berlarian di koridor menandakan ada sesuatu yang buruk yang terjadi pada salah satu pasien.


" Kenapa mereka lari-lari ya Pa...?" tanya Mama Robi.


" Mungkin ada pasien yang kritis Ma...," sahut ayah Robi.


" Kasian ya Pa. Di jam segini, waktunya orang istirahat, eh malah harus ngurusin pasien..., " kata Mama Robi.


" Itu kan udah resiko jadi tenaga medis Ma. Mereka udah terlatih ngadepin situasi kaya gini. Coba Kamu liat, meskipun wajah mereka tegang, tapi mereka tetap profesional lho Ma...," sahut ayah Robi.


" Iya Pa. Eh, tapi sebentar. Itu kan ruangannya Robi. Mereka kok keluar dari sana Pa. Jangan-jangan...," ucapan Mama Robi terputus saat seorang perawat menyapa mereka.


" Keluarga pasien Robi...," panggil sang perawat.


" Iya...," sahut kedua orangtua Robi bersamaan.


" Maaf, dokter ingin bicara penting sekarang...," kata sang perawat.


" Ada apa Suster...?" tanya Mama Robi cemas.


" Silakan ke ruangan aja Pak, Bu...," sahut sang perawat.


Kedua orangtua Robi pun bergegas masuk ke dalam ruangan tempat dimana Robi dirawat. Mereka heran karena tak menjumpai Robi di sana. Hanya ada seorang dokter dan seorang perawat yang nampak sedang mencatat apa yang diucapkan sang dokter.


" Selamat malam dok. Ada apa ini dok, mana Anak Saya...?" tanya Mama Robi panik.


" Maaf Bu. Dengan berat hati harus Kami sampaikan jika pasien atas nama Robi meninggal dunia lima belas menit yang lalu...," sahut sang dokter hati-hati.


Ucapan sang dokter mengejutkan kedua orangtua Robi. Ayah Robi nampak mengusap wajahnya dengan kasar sambil mengucap istirja. Sedang sang istri nampak tak percaya.


" Inna Lillahi wainna ilaihi roji'uun..., " gumam ayah Robi pasrah.


" Apa ?!. Mana mungkin dok. Ini pasti salah. Anak Saya baik-baik aja waktu Saya tinggal sholat tadi...!" kata Mama Robi.


" Ga ada kesalahan Bu...," sahut sang dokter dengan sabar.

__ADS_1


" Ga bisa. Ini pasti salah. Bukannya sebelumnya juga kaya gitu. Kalian bilang Anak Saya meninggal, tapi ternyata masih bernafas. Kalian jangan bohong ya...!" kata Mama Robi dengan suara lantang.


" Mama sabar dong...," sela ayah Robi sambil berusaha menjauhkan istri nya dari dokter dan perawat.


" Ga bisa Pa. Ga mungkin Robi meninggal. Dia baik-baik aja kan waktu Kita tinggalin tadi. Rumah Sakit ini bisa Saya tuntut karena lalai menjaga pasien...!" kata Mama Robi sambil menatap lekat kearah sang dokter.


" Tapi Ibu ga bisa melakukan itu karena Kami punya rekaman CCTV yang merekam semua aktifitas pasien di ruangan ini termasuk siapa saja yang datang dan berinteraksi dengan pasien...," kata sang dokter dengan tegas.


" Tapi kenapa langsung dibawa ke kamar jenazah dok. Kenapa ga nunggu keluarganya...?" tanya Mama Robi tak terima.


" Ini sudah prosedur Rumah Sakit Bu. Lagipula Ibu dan Bapak sudah dihubungi beberapa kali tadi...," sahut sang dokter.


" Maafkan Istri Saya dok...," kata ayah Robi.


" Gapapa Pak, Kami maklum kok. Kejadian seperti ini biasa terjadi. Supaya ga salah paham, mari ikut Saya ke kamar jenazah..., " ajak sang dokter dengan lembut.


" Baik dok...," sahut ayah Robi.


\=\=\=\=\=


Kedua orangtua Robi nampak mematung di sisi jasad Robi. Mereka tak percaya anak sulung kebanggaan mereka kini telah pergi. Padahal sejam yang lalu mereka bertiga masih bicara banyak hal.


Ayah Robi menduga luka yang diderita Robi adalah hukuman atas perbuatan Robi yang bersekutu dengan iblis.


" Yang Papa khawatirkan akhirnya terjadi juga Nak. Kamu meregang nyawa karena ulahmu sendiri. Bukan kah Papa pernah bilang kalo kerjasama dengan iblis itu hanya menguntungkan di awal tapi rugi di akhir. Sekarang liat, Kamu harus membayar semua jasa yang mereka berikan dengan nyawamu...," batin ayah Robi nelangsa.


Sedangkan Mama Robi terlihat masih menangis meratapi kepergian Robi. Ia mengatakan banyak hal dan berharap Robi mendengarnya lalu kembali membuka mata.


Karena kelelahan menangis, Mama Robi pun jatuh pingsan. Perawat yang ada di sana pun sigap membantu Mama Robi. Sedangkan ayah Robi hanya terdiam memandangi dua tubuh orang yang ia sayangi kini ada di hadapannya meski pun dalam kondisi yang berbeda.


Air mata nampak membasahi wajah ayah Robi. Ia berusaha tegar meski pun dengan kecewa yang menggunung.


\=\=\=\=\=


Aruna dan Kautsar baru saja tiba di depan kampus. Mereka melihat Genk Comot sedang berkumpul di depan kampus dan membuat Aruna bingung karena itu di luar kebiasaan mereka.


" Kenapa mereka di luar Sayang...?" tanya Kautsar.


" Ga tau. Kayanya ada yang penting deh...," sahut Aruna sambil turun dari boncengan motor.

__ADS_1


Ria yang pertama kali melihat Aruna nampak tersenyum lalu melambaikan tangannya.


" Ada apaan RI, kok tumben pada ngumpul di sini...?" tanya Aruna.


" Ada kabar duka Run. Robi meninggal dunia dini hari tadi...," sahut Ria.


" Inna Lillahi wainna ilaihi roji'uun..., " sahut Aruna dan Kautsar bersamaan.


" Lo kata siapa...?" tanya Aruna.


" Udah rame di dalam. Makanya temen-temen yang kenal sama almarhum mau ngelayat ke rumahnya siang ini...," sahut Ria.


" Lo mau ikut ga Run...?" tanya Galang.


" Insya Allah ikut. Boleh kan Tsar...?" tanya Aruna sambil menoleh kearah Kautsar.


" Iya. Ntar Aku juga ijin buat ngelayat deh...," sahut Kautsar hingga membuat Aruna dan kelima temannya menghela nafas lega.


" Emangnya jenazahnya udah dibawa ke rumahnya...?" tanya Kenzo.


" Kayanya sih belom...," sahut Fadil.


" Kita nunggu kabar aja sebentar lagi. Kalo emang ga memungkinkan ke rumah duka, Kita langsung ke tempat pemakamannya aja...," kata Agung.


" Oh iya. Kayanya gitu aja deh. Soalnya Kita kan ada kuis, ga tau selesai jam berapa...," sahut Fadil.


" Kalo gitu Kita ke tempat pemakamannya aja ya guys. Selesai kuliah baru jalan. Ga mungkin Robi dimakamin pagi, kan prosedur Rumah Sakit agak ribet dan butuh waktu lama buat ngurus kepulangan jenazah...," kata Galang.


" Ok...," sahut Genk Comot bersamaan.


" Kalo gitu Aku berangkat kerja dulu ya. Yuk semua, Assalamualaikum..., " kata Kautsar setelah mencium kepala Aruna dengan cepat.


" Iya, WA alaikumsalam..., " sahut Genk Comot bersamaan.


" Gue pikir Kautsar ga bakal ngijinin Lo buat ngelayat rivalnya itu Run...," kata Ria.


" Ck. Kautsar udah cukup dewasa buat nyikapin masalah Ri. Dia tau kok gimana harus bersikap sama Robi yang dia tau udah berusaha mendekati Istrinya ini..." sahut Aruna sambil tersenyum.


Ria pun ikut tersenyum lalu ikut melangkah bersama genknya menuju ke dalam kampus.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2