Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
234. Jurus Pamungkas


__ADS_3

George dan Matilda tiba di tempat dimana terdengar suara ledakan keras tadi. Rupanya benturan energi antara Aruna dan Kalisha menyebabkan ledakan yang sangat keras. Bisa ditebak siapa akhirnya yang terkapar di lantai.


George dan Matilda nampak menghela nafas lega melihat kondisi Aruna yang baik-baik saja. Sedangkan tak jauh dari Aruna terlihat manusia serigala jelmaan Kalisha nampak meringis sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.


" Karena sudah seperti ini, Aku ga akan segan lagi Aruna...!" kata manusia serigala jelmaan Kalisha sambil melayangkan tendangan kearah Aruna.


Lagi-lagi Aruna hanya menghindar dan itu membuat Kalisha kesal. Ia merasa dipermainkan oleh Aruna. Sedang di lantai Kalisha melihat calon mangsanya sedang tergolek tak berdaya seolah memanggilnya untuk segera dituntaskan.


" Berhenti menghindariku Aruna !. Atau Kau memang hanya bisa menghindar dan mengulur waktu karena sejatinya Kau tak punya kemampuan apa pun...!" ejek Kalisha.


" Aku bukan tak punya kemampuan Kalisha. Tapi Aku merasa tak perlu mengerahkan seluruh kemampuanku untuk menghadapi pecundang sepertimu...!" sahut Aruna santai.


Ucapan Aruna membuat Kalisha meradang. Ia pun mengejar Aruna saat telapak kaki Aruna belum sepenuhnya menjejak lantai.


Aruna terkejut mendapatkan serangan lanjutan dari Kalisha. Ia sedikit oleng dan itu membuat Matilda cemas sedangkan Kalisha nampak tersenyum senang.


Matilda tergerak membantu namun George menahannya.


" Tapi kasian Aruna...," kata Matilda namun George hanya menggelengkan kepalanya.


" Jangan campuri urusan mereka Sayang. Kita liat aja dari sini. Aruna akan menyelesaikan semuanya dengan caranya sendiri. Percaya lah...," sahut George mantap.


Matilda pun mengurungkan niatnya untuk membantu Aruna. Apalagi di depan sana Aruna terlihat mulai mengeluarkan jurus-jurus mematikan untuk menghadapi Kalisha.


Rupanya pertempuran sengit antara Aruna dan Kalisha menyebabkan beberapa furniture mahal di rumah Kalisha tergores bahkan hancur. Ruangan yang semula terkesan mahal itu kini hanya berupa ruangan yang berantakan dengan serpihan furniture di sana-sini. Dan salah satu serpihan furniture mengenai tubuh Ria namun gadis itu tampak tak terusik sama sekali.


Sekali lagi terdengar ledakan yang lumayan keras disertai warna putih keperakan saat terjadi benturan energi Aruna dan Kalisha. Ledakan itu membuat Ria siuman dan perlahan membuka matanya.


Ria nampak terkejut melihat pertempuran dua makhluk di depannya. Ria makin terkejut saat menajamkan penglihatannya. Ternyata ia mengenali salah satu sosok yang tengah bertempur itu.


" Aruna...?!" kata Ria tak percaya sambil beringsut menjauh dari arena pertempuran.


Ria nampak menatap ngeri pertempuran tak seimbang antara manusia dan monster itu. Berkali-kali ia menepuk pipinya sendiri untuk meyakinkan diri jika yang ia saksikan bukan lah mimpi.

__ADS_1


" Aruna berantem sama monster ?. Kenapa bisa. Terus ini tempat apaan, kok Gue bisa ada di sini...," gumam Ria sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.


Saat itu Ria tak bisa melihat keberadaan George dan Matilda karena mereka memang sengaja tak memperlihatkan diri.


Ria pun membulatkan matanya saat Kalisha mengayunkan cakarnya kearah Aruna. Jeritan kecil pun keluar dari bibirnya karena Ria mengira Aruna terluka akibat cakaran Kalisha yang di mata Ria adalah monster itu.


Jeritan Ria membuat Kalisha dan Aruna menoleh. Ekspresi berbeda pun diperlihatkan oleh keduanya. Jika Aruna nampak cemas akan keselamatan Ria, Kalisha justru terlihat senang.


Dan seolah kembali diingatkan akan nikmatnya mangsa yang ada di depan mata, Kalisha pun beralih menyerang Ria. Kalisha melesat cepat menghampiri Ria yang saat itu berdiri merapat di dinding.


Ria nampak ketakutan menyaksikan monster itu melayang mendekatinya. Tubuhnya gemetar, air mata pun perlahan mengalir dari kedua matanya. Namun tak ada suara yang keluar dari bibirnya karena saat itu Ria seakan berada di puncak rasa takut yang membuatnya tak berdaya walau hanya sekedar menjerit.


Aruna nampak berdecak kesal melihat Kalisha mengalihkan serangannya. Khawatir akan keselamatan Ria, Aruna pun melakukan sesuatu untuk membuat Kalisha kembali fokus padanya.


Aruna mengeluarkan sekantung darah yang tadi diberikan George lalu dilemparkannya kearah Kalisha. Lemparan Aruna tepat mengenai lengan Kalisha dan menyebabkan kantong darah itu pecah dan isinya berhamburan di lengan Kalisha. Manusia serigala jelmaan Kalisha nampak menggeram marah namun hanya sesaat. Sedetik kemudian dia nampak menjilati lengannya yang terkena darah.


Rupanya aroma darah manusia dalam kantong itu mengalihkan perhatian Kalisha. Ia yang semula berniat menghabisi Ria nampak dengan rakus menghirup sisa darah dalam kantong darah.


" Diam di sini dan jangan kemana-mana...!" kata Aruna tegas.


Ria mengangguk lalu berjongkok diantara dua pot besar yang ada di halaman rumah Kalisha. Kedua pot itu berisi pohon kaktus besar dan pohon mawar yang dipenuhi duri. Dan itu membuat Ria merasa sedikit aman berada di sana.


Setelah memastikan Ria ada di tempat yang aman, Aruna pun kembali ke dalam rumah. Namun langkah Aruna terhenti saat Ria memanggilnya.


" Aruna...!" panggil Ria lantang.


" Iya...," sahut Aruna sambil menoleh kearah Ria.


" Makhluk apa pun yang ada di dalam sana, tolong hati-hati ya. Janji sama Gue kalo Lo bakal selamat Aruna...," pinta Ria dengan mata berkaca-kaca.


Aruna tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


" Insya Allah Ri. Tolong bantu doa ya. Sekarang Lo tetap di sini dan jangan kemana-mana..., " kata Aruna.

__ADS_1


" Ok...," sahut Ria cepat sambil mengacungkan ibu jarinya kearah Aruna.


Kemudian Aruna kembali masuk ke dalam rumah dan mendapati Kalisha tengah mengamuk. Rupanya Kalisha tersadar saat kehilangan Ria yang merupakan mangsa utamanya. Aruna mengerutkan keningnya karena tak mengerti mengapa Kalisha hanya bisa berputar-putar di dalam ruangan itu.


" Mungkin ini perbuatan Om George..., " batin Aruna sambil menutup pintu.


Manusia serigala jelmaan Kalisha nampak menoleh saat mendengar suara pintu ditutup. Ia menyeringai marah dengan memperlihatkan gigi taringnya yang berwarna merah karena baru saja mengonsumsi darah.


Melihat hal itu membuat perut Aruna bergolak namun Aruna berusaha bertahan agar tak muntah di tempat itu.


" Dimana dia...?!" tanya Kalisha sambil melompat cepat kearah Aruna.


" Pergi...," sahut Aruna singkat.


" Aku menginginkannya, bawa dia padaku...!" jerit Kalisha sambil menggeram marah.


" Jika Kau sanggup melewati Aku, maka dia milikmu Kalisha...," sahut Aruna.


" Breng*ek, sia*an !. Berhenti bermain-main Aruna. Aku muak denganmu...!" kata Kalisha marah lalu kembali menyerang Aruna.


Aruna yang juga merasa lelah pun langsung mengeluarkan jurus pamungkasnya. Dari balik pakaiannya Aruna mengeluarkan pisau kecil yang terbuat dari perak. Menggenggamnya dengan erat lalu menancapkan pisau perak itu tepat di dada kiri Kalisha saat manusia serigala itu melayang kearahnya.


Mata pisau perak sepanjang 5 cm itu menancap tepat di jantung Kalisha dan membuatnya diam tak bergerak. Jeritannya yang tadi menggema di ruangan itu lenyap seketika.


Kemudian tubuh manusia serigala jelmaan Kalisha itu sedikit membungkuk untuk melihat benda apa yang telah melukai dadanya. Kalisha nampak menatap Aruna dan pisau perak yang menancap di dadanya itu bergantian dengan tatapan tak percaya.


" Ke... na... pa A... runa...?" tanya Kalisha dengan suara berat dan bergetar.


" Kau yang memaksaku Kalisha. Aku tak punya pilihan lain karena Aku harus melindungi orang-orang yang Aku sayangi termasuk Kautsar, Ria juga bayi dalam kandunganku...," sahut Aruna.


Kalisha nampak menggeliat kesakitan. Ada air mata yang mengambang di kedua matanya dan itu membuat Aruna sedikit tersentuh. Kemudian Aruna melepaskan genggaman tangannya pada gagang pisau perak itu. Dan sesaat kemudian tubuh besar Kalisha merosot ke lantai dengan suara berdebum yang sangat keras.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2