Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
99. Kakek Arnold ?


__ADS_3

Saat Aruna menggeram dan menyeringai, puluhan sosok lain yang ada di sekelilingnya pun berhenti berlari hingga kelebatan bayangan yang dilihat Aruna sejak tadi pun hilang.


Aruna menatap ke sekelilingnya dengan sikap siaga. Namun saat melihat apa yang kini tengah mengepungnya Aruna pun terpana.


Di hadapannya tampak berkumpul sosok berwujud serigala beraneka warna dengan berbagai ukuran. Ada yang hitam, putih, coklat, abu-abu bahkan memiliki warna campuran. Mereka menempati banyak tempat yang ada di sekitar Aruna.


Para serigala nampak berdiri menyebar. Ada yang berdiri di atas pagar balkon ruangan lain, ada yang berdiri di atas gedung hotel, ada yang juga berdiri di atap gedung tepat di seberang hotel tempat Aruna menginap dan sisanya nampak melayang di udara. Semua serigala itu menatap kearah Aruna dan itu membuat jantung Aruna berdetak cepat.


" Kalian...," ucapan Aruna terputus saat sebuah suara menyapanya.


" Selamat atas pernikahanmu Aruna. Maaf Kami ga bisa hadir di acara besarmu karena Kami harus menyelesaikan sebuah urusan penting. Perjalanan yang jauh ditambah kondisi Kami yang kelelahan membuat Kami harus istirahat berkali-kali...," kata seorang pria berwajah tampan dengan kulit pucatnya.


Jantung Aruna berdesir saat melihat pria yang ia yakini sebagai raja dari pasukan serigala hadir begitu saja di hadapannya. Aruna tak bicara sepatah kata pun dan masih sibuk mengamati pria tampan di depannya.


Pria itu bertubuh tinggi besar dan berkulit pucat. Wajah tampan dan rambut gondrongnya itu mengingatkan Aruna pada sang ayah karena wajah keduanya begitu mirip. Pria itu mengenakan jubah besar yang terbuat dari bulu beruang hitam yang menjuntai menutupi sebagian tubuhnya hingga ke mata kaki. Di kepalanya nampak sebuah mahkota kecil berwarna keemasan. Pria itu juga memegang sebuah tongkat komando berwarna emas yang bagian ujungnya berkepala serigala hitam.


" Kenapa diam Aruna. Apa Kamu tak ingin memeluk Kakekmu ini...?" tanya pria yang tak lain adalah Arnold itu sambil tersenyum ramah.


" Kakek...?" ulang Aruna dengan suara serak.


" Iya. Apa Orion, George atau Matilda tak pernah menceritakan tentang Aku. Kalo itu benar, keterlaluan sekali mereka...," kata Arnold sambil menggelengkan kepalanya.


Tiba-tiba selarik angin besar datang menerpa hingga membuat rambut dan gaun tidur Aruna berkibar. Bersamaan dengan itu tampak Orion, George dan Matilda melompat mendekati Aruna.


" Maaf Kami terlambat. Apa kabar Sayang...?" tanya Orion sambil tersenyum.


" Ayah...!" panggil Aruna lalu menghambur ke pelukan Orion.


Orion pun menyambut Aruna dalam pelukannya sambil mengusap punggungnya dengan lembut. Sesekali Orion nampak mengecup kepala Aruna dengan sayang sambil membelai rambut Aruna yang tergerai.


Melihat kedekatan Aruna dengan sang ayah membuat Arnold, George, Matilda dan pasukan serigala tersenyum senang. Mereka membiarkan Aruna melampiaskan rasa rindunya pada sang ayah untuk beberapa saat.

__ADS_1


" Ehm..., apa Kamu hanya akan menghabiskan malam ini dengan memeluk Orion Nak. Padahal Aku juga merindukanmu...," keluh Matilda sambil mengerucutkan bibirnya.


Aruna tersentak mendengar ucapan Matilda lalu mengurai pelukannya. Kemudian sambil tersenyum Aruna menghambur memeluk Matilda dan George bergantian.


Setelah sesi saling memeluk yang mengharu biru selesai, Arnold pun mengatakan sesuatu yang membuat suasana makin mencekam.


" Aruna sama sekali tak mengenalku. Apa Kalian sengaja menyembunyikan tentang Aku darinya...?!" tanya Arnold dingin.


Orion, George dan Matilda menoleh lalu tersenyum.


" Kau ini pemarah sekali Arnold. Wajar Aruna tak mengenalmu karena baru kali ini Kalian bertemu. Lagipula dia gadis baik-baik, mana mungkin dia memeluk pria asing saat pertama kali bertemu...," kata George sambil mencibir hingga membuat Arnold kesal.


" Kau...," ucapan Arnold terputus saat Orion merengkuh Aruna dan membawanya ke hadapan sang ayah.


" Jangan marah Ayah. Biar Aku kenalkan Ayah dengan Aruna. Nama pria ini Arnold, dia Ayahku dan artinya dia adalah Kakekmu Nak...," kata Orion sambil menatap Aruna.


" Kakek kandungku...?" tanya Aruna ragu sambil mengamati Arnold dari atas kepala hingga ujung kaki dan itu membuat Orion, George dan Matilda tertawa.


" Kau membuatnya takut Arnold...!" kata Matilda mengingatkan.


Arnold nampak menghela nafas panjang kemudian tersenyum. Aruna pun ikut tersenyum lalu menghambur ke dalam pelukan sang Kakek. Keduanya saling memeluk erat dan Aruna merasa menemukan 'rumah' karena nyamannya pelukan Arnold.


Beberapa saat kemudian keduanya saling mengurai pelukan. Arnold mengecup kepala Aruna dengan sayang lalu meletakkan telapak tangannya di atas kepala Aruna sambil mengucapkan beberapa kalimat yang tak dimengerti Aruna.


" Semoga Kau bahagia Aruna. Kautsar, dia suami yang baik. Berjanji lah untuk saling menjaga dan saling setia meski apa pun yang terjadi nanti...," kata Arnold sambil melirik kearah kamar dimana Kautsar tengah terbaring.


" Baik Kakek...," sahut Aruna sambil menganggukkan kepalanya.


" Nah sekarang ijinkan keluargamu mengucapkan salam perkenalan sekaligus ucapan selamat atas pernikahanmu Aruna...," kata Arnold sambil merengkuh bahu Aruna lalu menghadapkan tubuhnya kearah pasukan serigala yang setia mengamati sejak tadi.


" Mereka keluargaku Kek...?" tanya Aruna.

__ADS_1


" Betul. Ini baru sebagian kecil Aruna. Sebagian lainnya Aku tinggalkan di sana karena Aku tak mungkin membiarkan negeriku kosong. Selain itu Aku ga mau membuat tempat ini dipenuhi oleh pasukan serigala Aruna...," sahut Arnold hingga membuat Aruna tersenyum.


" Iya Kakek, Aku mengerti...," sahut Aruna.


" Anak pintar...," puji Arnold sambil mengusak rambut Aruna dengan lembut.


Kemudian Orion maju dan berdiri di samping Aruna. Sedangkan George dan Matilda nampak berdiri di samping Arnold. Kelimanya menatap kearah pasukan serigala.


" Perkenalkan Cucuku Aruna, putri kandung Orion. Dia adalah pewaris kerajaan serigala. Amati dan kenali dia. Jaga dia dengan sungguh-sungguh meski pun nyawa Kalian taruhannya...!" kata Arnold lantang.


" Siap Tuanku...!" sahut pasukan serigala bersamaan dengan suara yang khas dan itu membuat bulu kuduk Aruna meremang.


" Sapa mereka Nak...," bisik Orion di telinga Aruna yang diangguki sang anak.


" Ha... hai. Apa kabar, Aku Aruna. Salam kenal ya. Semoga Kita bisa jadi teman yang baik. Dan tolong bantu ingatkan Aku jika Aku salah jalan nanti...," kata Aruna sambil meletakkan telapak tangannya di atas dada dan kepala sedikit menunduk.


Ucapan Aruna disambut lolongan pasukan serigala yang saling bersahutan. Aruna terkejut hingga tanpa sadar mencengkeram lengan Orion dengan kuat. Orion nampak menoleh kearah Aruna sambil tersenyum lalu menepuk jemari Aruna yang mencengkeram erat lengannya itu dengan lembut.


" Jangan takut Aruna. Itu jawaban mereka atas permintaan kecilmu tadi...," kata Orion sambil tersenyum.


" Aku ga minta apa-apa Ayah. Aku hanya menyapa mereka sebagai bentuk kesopanan...," sahut Aruna sambil menatap nanar pasukan serigala di hadapannya.


" Kamu minta mereka mengingatkanmu saat Kamu salah jalan Aruna. Itu artinya secara ga langsung Kamu minta mereka menjagamu. Dan mereka menyanggupi itu Nak...," kata Orion menjelaskan.


" Jadi begitu...," gumam Aruna sambil tersenyum.


Pasukan serigala masih melolong bersahutan dan menciptakan irama tersendiri. Aruna nampak mulai bisa menikmati suara lolongan pasukan serigala itu walau dengan sedikit rasa takut.


Lolongan pasukan serigala di malam yang sepi dan mencekam itu bak lagu kematian yang mengalun. Namun bagi Arnold, Orion, George dan Matilda itu adalah ungkapan janji setia pasukan serigala untuk Aruna.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2