Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
185. Alasan ?


__ADS_3

Di malam yang sama, saat Kalisha mengalami perubahan dari manusia menjadi serigala, Aruna justru tak mengalami perubahan apa pun. Ia bahkan tidur nyenyak setelah Kautsar mengoleskan minyak pereda nyeri di punggungnya tepat di bagian yang memar tadi.


Saat malam makin meninggi Aruna terbangun karena merasa ada suara yang memanggilnya. Aruna membuka mata dan melihat Kautsar yang terbaring nyenyak di sampingnya.


" Aruna...," sebuah suara kembali terdengar dan Aruna pun turun dari tempat tidur.


Sebelum keluar dari kamar Aruna menyempatkan diri menyelimuti tubuh Kautsar dengan selimut. Setelahnya ia bergegas keluar dari kamar untuk menghampiri suara yang ia yakini sebagai suara Matilda.


Kedua mata Aruna berbinar saat melihat Matilda dan George tengah berdiri di dekat sofa ruang tengah. Ia menghambur memeluk Matilda dan George bergantian.


" Apa kabar Nak...?" tanya George sambil tersenyum.


" Kurang baik Om...," sahut Aruna cepat hingga membuat George dan Matilda saling menatap bingung.


" Apa ada sesuatu yang buruk...?" tanya Matilda.


" Bisa iya bisa ga. Aku juga ga tau pasti Tante...," sahut Aruna.


" Oh ya. Apa itu...?" tanya Matilda penasaran.


" Ada memar di punggungku...," sahut Aruna sambil memperlihatkan punggungnya kepada Matilda.


Kemudian Matilda menyibak kaos Aruna dan melihat memar kebiruan di punggung Aruna. Meski hanya melihat tanpa menyentuh, Matilda tahu jika ada seseorang yang telah menyakiti Aruna.


" Ini..., bukan memar biasa. Apakah ada seseorang yang telah menyentuhmu hari ini...?" tanya Matilda setelah mengamati sejenak memar di punggung Aruna.


" Ada. Namanya Bianca. Dia sekretaris senior yang dikirim kantor pusat untuk membantuku menyelesaikan pekerjaanku sekaligus mengajari Aku...," sahut Aruna.


" Keliatannya dia sedang mengujimu...," kata George.


" Untuk apa mengujiku, Aku bukan siapa-siapa..., " kata Aruna kesal namun membuat George dan Matilda tersenyum.


" Apa Kamu merasakan sesuatu saat pertama kali bertemu dengannya...?" tanya George.


" Iya Om. Saat bersalaman tadi Aku ngerasa kesetrum gitu. Aku kaget, tapi Kuliat dia lebih kaget lagi. Terus pas mau pulang dia menepuk punggungku pelan. Tapi efeknya beberapa menit kemudian terasa sakit dan nyeri saat disentuh...," sahut Aruna.


" Berhati-hati lah Aruna. Keliatannya dia berniat buruk padamu...," kata George.


" Tapi Aku ga kenal sama dia sebelumnya Om. Untuk apa dia bikin tanda kaya gini. Dari awal aja udah ga bersahabat apalagi ke depannya...," sahut Aruna kesal.


" Tak perlu alasan untuk membenci seseorang Aruna. Sama halnya dengan tak perlu alasan untuk mencintai seseorang. Mungkin saat ini dia tak punya alasan, tapi perlahan dia akan memperlihatkan alasannya membencimu...," kata George sambil tersenyum tipis.


" Tak usah terlalu khawatir Nak. Biar Tante obati lukamu itu...," kata Matilda sambil memasukkan telapak tangannya ke balik kaos Aruna untuk menyentuh punggungnya.


Aruna nampak berjingkat saat merasakan hawa dingin menerpa kulitnya. Tapi perlahan rasa sakit di punggungnya akibat luka memar itu pun menghilang. Aruna tersenyum senang sambil mengucapkan terima kasih berulang kali.

__ADS_1


" Makasih Tante, sekarang udah ga sakit lagi...," kata Aruna.


" Sama-sama...," sahut Matilda sambil tersenyum.


" Tapi Kamu harus pura-pura memperlihatkan rasa tak nyaman di punggungmu biar Bianca ga curiga ya Sayang. Kalo dia tau Kamu sembuh dengan cepat justru Om khawatir dia bakal melakukan sesuatu yang lebih buruk nanti...," kata George mengingatkan.


" Gitu ya. Ok, terpaksa Aku pura-pura besok...," sahut Aruna.


" Anak pintar...," puji George sambil tertawa.


Aruna mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan George sedangkan Matilda tertawa keras.


" Kami harus pergi sekarang. Sampaikan salam Kami untuk Suamimu ya Nak...," kata George.


" Iya Om...," sahut Aruna cepat.


Matilda dan George bersiap pergi saat Aruna teringat sesuatu.


" Sebentar Om, Tante...!" panggil Aruna.


Matilda dan George saling menatap sambil tersenyum karena merasa Aruna menyadari sesuatu.


" Keliatannya dia mulai menyadari sesuatu Sayang...," bisik George.


" Iya...," sahut Matilda lalu menoleh kearah Aruna.


" Mmm..., belakangan ini Aku mengendus aroma manusia serigala di sekitar ku. Apa Om dan Tante tau sesuatu...? " tanya Aruna.


" Oh ya. Sejak kapan...?" tanya Matilda.


" Aku lupa sejak kapan. Tapi hari ini Aku juga merasakan kehadirannya. Sangat dekat dan rasanya Aku pernah mengenal aromanya...," sahut Aruna ragu.


" Menurutmu siapa dia...?" tanya Matilda lagi.


" Mmm..., Kalisha. Aku yakin itu dia karena Kautsar pernah cerita kalo Kalisha juga ada di kota ini...," sahut Aruna gusar.


" Kamu cemburu Aruna...? " goda Matilda sambil menahan tawa.


" Aku ga cemburu Tante. Aku cuma ga suka Kautsar dideketin cewek lain...," sahut Aruna malu-malu.


" Bukannya itu kata lain dari cemburu Sayang...?" sela George sambil memeluk pinggang Matilda erat.


Pertanyaan George seolah memastikan bahwa ucapan Aruna mengungkapkan rasa cemburu yang dimiliki istri kepada suaminya. Matilda tertawa mendengar ucapan George sedangkan Aruna nampak menggaruk kepalanya yang tak gatal.


" Om George...! " rengek Aruna dengan wajah merona.

__ADS_1


" Iya iya. Dia memang Kalisha. Aku pikir Kamu ga menyadari kehadirannya...," sahut George.


" Apa Kalisha me...," pertanyaan Aruna menggantung di udara saat mendengar Kautsar memanggil namanya.


" Sayang...!" panggil Kautsar dari dalam kamar.


" Suamimu memanggil, pergi lah. Kita bahas ini lain kali...," kata George lalu segera meraih pinggang Matilda dan membawanya pergi.


" Sayang...!" ulang Kautsar.


Aruna menoleh dan mendapati suaminya berdiri di ambang pintu kamar. Aruna tersenyum lalu menghampiri suaminya.


" Kamu ngapain di situ...?" tanya Kautsar.


" Abis ngobrol sama Om George dan Tante Matilda..., " sahut Aruna.


" Oh ya, selarut ini...?" tanya Kautsar tak mengerti.


" Iya, kan emang biasanya kaya gini. Oh iya, mereka titip salam buat Kamu...," kata Aruna.


" Wa alaikumsalam. Aku terima salamnya. Sekarang mereka dimana...?" tanya Kautsar sambil menatap ke seluruh penjuru ruangan.


" Udah pergi. Yuk, balik lagi ke kamar...," ajak Aruna yang diangguki Kautsar.


Kemudian Aruna dan Kautsar kembali berbaring di atas tempat tidur. Kautsar mengamati wajah Aruna dengan seksama hingga membuat Aruna tak nyaman.


" Kenapa ngeliatin Aku kaya gitu sih...?" protes Aruna.


" Apa Kamu cerita sama mereka tentang memar di punggungmu...?" tanya Kautsar.


" Iya. Alhamdulillah langsung diobatin dan sekarang ga sakit lagi...," sahut Aruna.


" Alhamdulillah...," kata Kautsar sambil tersenyum.


" Tapi Aku hatus pura-pura tetap sakit supaya Bianca ga curiga sama Aku...," lanjut Aruna.


" Kok gitu...?" tanya Kautsar tak mengerti.


" Kata Om George, Bianca itu lagi menguji Aku. Entah apa tujuannya, yang pasti dia punya niat ga baik sama Aku. Nah, kalo dia tau Aku sembuh mendadak, dia pasti tambah curiga dan bakal terus ngejar Aku kan...?" kata Aruna.


Kautsar nampak merenung sejenak lalu mengangguk.


" Masuk akal. Sebaiknya Kamu turutin aja apa yang Om George bilang. Mungkin sambil jalan Kita bisa tau apa motif Bianca itu nyakitin Kamu...," kata Kautsar.


" Iya...," sahut Aruna sambil mulai memejamkan matanya.

__ADS_1


Kautsar tersenyum lalu menarik Aruna ke dalam pelukannya. Sesaat kemudian keduanya telah terbang ke alam mimpi.


\=\=\=\=\=


__ADS_2