
Dito ditemukan terkapar di lantai kamar oleh istrinya.
Sang istri yang masih kesal dengan ulah Dito memang sengaja tidur terpisah dengan Dito dan memilih tidur di ruangan lain. Dan saat itu ia bermaksud mengambil pakaian ganti dari lemari di kamar tidur mereka.
Saat pintu terbuka, istri Dito melihat sang suami terkapar di lantai dengan tubuh dikelilingi peluh dan air seni.
Khawatir terjadi sesuatu dengan Dito, istri Dito pun bergegas menghubungi Ambulans untuk membawa sang suami ke Rumah Sakit.
\=\=\=\=\=
Nasib Amanda usai melakukan 'malam pertama' dengan Hambali kian memprihatinkan.
Di hari kedua pernikahan mereka Hambali sengaja mengajak Amanda pulang ke rumahnya. Saat itu Dito dan sang istri tak kuasa mencegah karena Hambali mengatakan jika membawa Amanda pulang ke rumahnya adalah haknya.
" Amanda Istriku sekarang. Jadi Aku berhak membawanya kemana pun Aku mau termasuk jika itu ke lubang semut sekali pun...!" kata Hambali lantang.
Dito dan istrinya tak berkutik mendengar ucapan Hambali. Dengan berat hati mereka merelakan Amanda dibawa paksa oleh Hambali. Keduanya hanya bisa menatap kepergian Amanda yang tampak masih sakit itu dengan tatapan yang sulit dibaca.
Amanda nampak mematung di sepanjang perjalanan menuju ke rumah Hambali. Ia hanya menatap keluar jendela mobil dengan tatapan kosong. Ada gurat kesedihan di sana dan Hambali pura-pura tak peduli.
" Kita sampai...," kata Hambali lalu bergegas turun dari mobil.
Supir pribadi Hambali nampak membantu membukakan pintu mobil untuk Amanda. Dengan perlahan Amanda turun dari mobil sambil berpegangan erat di lengan sang supir. Melihat hal itu Hambali cemburu lalu meminta sang supir meninggalkan mereka berdua.
" Masuk !. Jangan lupa bawa tas itu ke kamarku...!" kata Hambali ketus.
" Baik Tuan...," sahut sang supir lalu bergegas menjalankan perintah tuannya.
Kemudian Hambali mendekati Amanda yang nampak berdiri ketakutan.
" Apa Kau belum puas juga dengan pelayananku Amanda. Kenapa Kamu masih mau menggoda nya...," kata Hambali di telinga Amanda.
" Aku ga punya niat begitu Om. Itu tadi ga sengaja...," sahut Amanda dengan suara bergetar.
Hambali nampak tersenyum. Kemudian dia menarik rambut Amanda dengan kasar lalu menyeretnya masuk ke dalam rumah. Amanda hanya bisa menjerit dan menangis mendapatkan perlakuan seperti itu.
__ADS_1
Wanita paruh baya yang merupakan asisten rumah tangga Halim pun nampak mengelus dada menyaksikan cara Hambali memperlakukan istrinya.
Jeritan Amanda lenyap bersamaan dengan pintu kamar yang dibanting keras. Sang asisten rumah tangga bernama Neng dan supir pribadi Hambali yang bernama Rian nampak saling menatap lalu menggelengkan kepala. Keduanya bergegas ke dapur dan bicara banyak di sana.
" Sadis banget sih. Siapa perempuan muda itu sebenernya...? " tanya Neng.
" Istri barunya Tuan Hambali...," sahut Rian.
" Istri baru ?. Bukannya anak perempuan itu lebih pantes jadi anaknya...?!" tanya sang asisten rumah tangga tak percaya.
" Ssstt..., jangan kenceng-kenceng Mpok. Orang kaya kan emang gitu. Punya kesukaan yang aneh dan ga masuk akal kaya Tuan Hambali. Masa nikah sama anak ABG yang konon katanya baru aja melahirkan...," kata Rian sambil berbisik.
" Astaghfirullah aladziim. Edan bener sih. Udah tua tapi masih suka daun muda. Ga malu ya sama umur dan uban...," gerutu Neng sambil berlalu.
Selama tinggal di rumah Hambali, Amanda selalu mendapat kekerasan. Tidak hanya fisik tapi juga verbal.
Semula Amanda tak sanggup mengangkat kepalanya karena malu mendengar makian Hambali untuknya. Amanda malu karena Hambali memakinya tanpa kenal tempat dan waktu. Dan seringkali itu dilakukan di hadapan supir pribadi dan asisten rumah tangganya.
" Perempuan murahan kaya Kamu ga usah banyak keinginan. Lakukan saja tugasmu dengan baik. Toh selain Aku, ga akan ada laki-laki lain yang mau menikahi perempuan bekas pakai sepertimu...," kata Hambali dengan ketus sambil melangkah keluar rumah dan meninggalkan Amanda di ruang makan.
Rian dan Neng yang berada di dapur nampak saling menatap. Mereka merasa iba dengan apa yang dialami Amanda.
" Rian...!" panggil Hambali lantang.
" I... iya Tuan...!" sahut Rian sambil bergegas meletakkan gelas kopi di atas meja.
" Udah sana. Biar Saya yang bersihin...," kata Neng saat dilihatnya Rian mengambil lap untuk membersihkan meja.
" Makasih ya Mpok...!" kata Rian sambil berlari menuju halaman depan.
" Iya...," sahut Neng.
Di halaman Hambali nampak berdiri sambil berkacak pinggang. Wajahnya nampak merah karena kesal. Namun kemarahannya lenyap saat melihat Rian membukakan pintu mobil untuknya.
" Silakan Tuan..., " kata Rian.
__ADS_1
" Makasih. Kita langsung liat proyek ya...," kata Hambali lalu duduk di dalam mobil.
" Baik Tuan...," sahut Rian lalu segera melajukan mobil meninggalkan rumah.
Sementara itu di dalam rumah terlihat Neng tengah berusaha menghibur Amanda.
" Jangan diambil hati ya Nyonya. Tuan emang kaya gitu...," kata Neng sambil mengusap punggung Amanda dengan lembut.
Mendengar ucapan Neng yang seusia sang Mama membuat air mata Amanda meluncur deras. Ia menangis sejadi-jadinya.
" Apa salah Saya Bu. Saya emang masih sakit. Jadi Saya ga bisa maksimal bergerak atau melakukan sesuatu. Om itu juga tau kok kalo Saya baru aja melahirkan dan masih nyeri di bagian itu. Tapi dia malah memaksa Saya melayaninya...," kata Amanda di sela tangisnya.
" Ya Allah. Kejam banget sih. Kenapa Nyonya mau nikah sama Tuan. Nyonya kan masih muda, masa iya ga bisa cari pasangan yang sepadan...?" tanya Neng sambil memeluk Amanda.
" Saya dijodohin Bu. Papa Saya yang maksa Saya nikah sama Om Hambali. Sebenarnya pacar Saya yang menghamili Saya mau bertanggung jawab, tapi Papa menolak. Papa justru menjodohkan Saya dengan orang lain. Saya udah bilang kalo Saya masih nifas dan ga mungkin melayani Suami Saya nanti. Tapi Papa Saya ga peduli. Ternyata apa yang Saya takutkan terjadi. Om Hambali selalu minta Saya melayaninya hingga Saya pingsan saking sakitnya...," cerita Amanda sambil terisak-isak.
" Sabar ya Nyonya. Berdoa dan minta petunjuk sama Allah. Mudah-mudahan segera ada jalan keluar. Saya juga ga suka sama cara Tuan memperlakukan Nyonya, tapi Saya ga bisa apa-apa karena Tuan itu orang yang kejam. Saya khawatir keluarga Saya yang terkena imbasnya jika Saya membantu Nyonya...," kata Neng dengan mata berkaca-kaca.
" Saya mau mati aja Bu. Saya ga kuat menghadapi semuanya...," rintih Amanda.
Mendengar ucapan Amanda membuat Neng terkejut. Ia khawatir Amanda akan nekad dan mewujudkan keinginannya itu.
" Jangan bilang kaya gitu Nyonya. Saya janji akan bantu cari jalan keluar. Tapi tolong Nyonya bersabar ya...," janji Neng pada akhirnya.
Amanda mendongakkan kepalanya lalu menatap Neng. Wajah pucatnya nampak tersenyum mendengar janji yang diucapkan Neng.
" Makasih Bu. Saya akan berusaha bersabar...," kata Amanda.
" Kalo gitu sekarang Nyonya makan dulu ya. Nyonya harus punya tenaga yang cukup untuk bisa kabur dari tempat ini..., " kata Neng sambil menyodorkan piring berisi nasi dan lauk Pauk kearah Amanda.
" Ini terlalu banyak Bu...," protes Amanda.
" Habiskan pelan-pelan. Selama tinggal di sini Nyonya ga makan dengan baik. Dan itu bikin Saya berpikir kalo masakan Saya ga enak sama sekali...," gurau Neng.
" Masakan Ibu enak kok. Ok, Saya makan sekarang...," kata Amanda sambil mulai menyuap makanan ke dalam mulutnya.
__ADS_1
Neng nampak tersenyum lega. Ia berharap bisa membantu Amanda keluar dari rumah terkutuk itu secepatnya. Dan rupanya Neng sudah menemukan cara menyelamatkan Amanda.
\=\=\=\=\=