Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
288. Pocong Merah


__ADS_3

Gladys masih berusaha mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Nampak kekesalan di wajahnya saat bicara tadi.


Meski sedikit kesal dengan sikap Gladys namun Reyhan berusaha bersabar.


" Terus kenapa Lo bikin undangan pernikahan palsu itu...?" tanya Reyhan setelah terdiam beberapa saat.


" Siapa bilang itu undangan pernikahan palsu. Itu asli kok...," sahut Gladys cepat.


" Jangan ngaco deh Dys. Mana mungkin Lo menikah sama orang yang udah meninggal dunia. Kecuali Mukhlis yang Lo maksud itu emang orang lain dan bukan Mukhlis yang Gue kenal...!" kata Reyhan ketus.


" Undangan pernikahan itu Aku buat untuk menjawab pernyataan cinta Mas Mukhlis. Aku memang berencana menerima lamaran Mas Mukhlis di hari dimana dia ditemukan meninggal dunia. Soal tanggal dan tempat pernikahan yang tertera di kartu undangan itu adalah impianku. Tanggal itu juga adalah waktu dimana masa iddahku berakhir setelah bercerai dengan mantan Suamiku. Mas Mukhlis memberi Aku kesempatan untuk menentukan tanggal dan tempat pernikahan Kami seandainya Aku mau menerima lamarannya itu...," kata Gladys menjelaskan.


Tentu saja jawaban Gladys mengejutkan ketiga tamunya. Lagi-lagi mereka saling menatap untuk sejenak dan berusaha memahami ucapan Gladys.


" Kenapa Lo ga simpen aja itu untuk diri Lo sendiri. Apa Lo ga malu kalo orang tau semua ini...?" tanya Reyhan.


" Sudah Aku bilang undangan itu Aku siapkqn untuk menjawab pernyataan cinta Mas Mukhlis. Aku juga hanya bikin sepuluh lembar aja kok. Sengaja Aku kirim sebagai umpan supaya Kalian mau datang. Aku bingung gimana cara minta bantuan sama Kalian. Aku khawatir Kalian ga percaya dan malah nyuruh Aku lapor Polisi seperti yang Kamu bilang tadi Mas Reyhan...," sahut Gladys.


" Baik lah. Jadi siapa orang yang Lo curigai Dys...?" tanya Reyhan.


" Dita...," sahut Gladys.


" Dita. Bukannya itu perempuan yang tadi ngobrol sama Kamu Sayang...?" tanya Kautsar sambil menoleh kearah Aruna.


" Iya...," sahut Aruna.


" Mbak ngobrol apa sama si Dita ?. Dia pasti ngomong jelek tentang Aku kan...?" tanya Gladys.


" Begitu lah. Tapi Kamu ga usah khawatir. Aku bukan jenis orang yang ngeliat sesuatu cuma dari satu sisi. Jadi apa yang Dita bilang tadi Aku anggap sebagai informasi tambahan...," sahut Aruna menenangkan Gladys.


" Jadi kenapa Kamu mencurigai Dita...?" tanya Kautsar.

__ADS_1


" Karena Dita ngelabrak Aku dan bilang kalo Aku ga berhak menempati rumah ini. Dia juga bilang kalo dia lah yang berhak nempatin rumah ini karena Mas Mukhlis mendiskusikan semuanya sama dia saat membangun rumah ini...," sahut Gladys.


" Terus kenapa Kamu menempati rumah ini kalo Kalian aja belum menikah ?. Bukankah itu artinya Kalian ga punya hubungan waris mewarisi. Kecuali ada hitam di atas putih yang membuktikan kalo Mukhlis menghibahkan rumah ini untuk Kamu saat dia masih hidup...," kata Kautsar.


" Aku hanya mengamankannya sebentar supaya ga diambil sama Dita...," sahut Gladys.


Reyhan nampak memutar matanya karena kesal dengan 'permasalahan sepele' yang melibatkan Gladys, Dita dan almarhum Mukhlis.


" Ini bisa diselesaikan baik-baik secara musyawarah. Ternyata ini ga sepenting yang Gue kira. Kita cabut yuk guys. Capek Gue, udah malam juga...," kata Reyhan sambil bangkit dari sofa yang ia duduki.


Gladys berusaha mencegah kepergian Reyhan karena merasa belum selesai mengatakan semuanya. Namun Reyhan tampak tak peduli dan terus melangkah keluar rumah.


Di saat bersamaan Aruna melihat arwah Mukhlis nampak ketakutan seolah melihat sesuatu. Aruna mengikuti arah pandangan arwah Mukhlis dan terkejut saat melihat sosok pocong berwarna merah tengah berdiri di balik jendela.


Pocong merah itu menatap lekat kearah Gladys yang sedang bicara dengan tatapan tajam seolah menantinya keluar dari rumah.


" Berhenti di sana, jangan keluar...!" kata Aruna lantang hingga mengejutkan Gladys dan Reyhan yang sedang berdebat.


" Kenapa Run...?" tanya Reyhan bingung.


" Ada sesuatu di luar rumah. Keliatannya dia berniat jahat sama Gladys. Tapi karena Kak Reyhan ada di dekat Gladys, Aku khawatir Kamu bakal terkena imbasnya juga nanti...," sahut Aruna.


" Sesuatu apaan sih Run ?. Sebahaya apa sampe Lo bersikap lebay kaya gini...?" tanya Reyhan sambil berusaha membuka pintu.


Melihat sikap Reyhan yang meragukan kemampuan istrinya membuat Kautsar maju dan menarik Aruna agar menjauh.


" Ga usah dicegah kalo dia ga mau Sayang. Kita liat aja apa yang bakal dia temuin nanti...," kata Kautsar setengah berbisik.


Aruna mengangguk dan membiarkan Reyhan membuka pintu. Sedangkan Gladys nampak bergeser menjauh dari pintu karena mengerti apa yang dimaksud Aruna.


Reyhan hanya menggelengkan kepala kemudian membuka daun pintu. Tepat di saat dia membuka pintu sosok pocong merah itu berdiri di hadapannya. Reyhan menjerit karena terkejut, apalagi wajah pocong itu terlihat hancur dipenuhi lendir berbau busuk. Dan sialnya wajah pocong itu tepat berada di depan wajahnya hingga Reyhan bisa mencium aroma tak sedap yang menguar dari pocong merah itu dari jarak yang sangat dekat.

__ADS_1


Setelah menjerit refleks Reyhan menutup pintu. Aruna dan Kautsar terlihat melengos seolah mengejek tindakan bod*h Reyhan tadi. Sedangkan Gladys langsung berlari dan memeluk adik laki-lakinya yang sedang menonton televisi.


" Apaan tuh Run. Pocong ya...?!" tanya Reyhan dengan suara bergetar.


" Menurut Kak Reyhan apa...?" tanya Aruna cuek.


" Pocong. Tapi kenapa warnanya merah ya Run...?" tanya Reyhan sambil mengusap wajahnya.


" Mana Aku tau. Gimana, kok ga jadi keluar...?" tanya Aruna.


" Lo g*la ya Run. Mana mungkin Gue keluar kalo ada setan di depan pintu. Yang ada Gue pingsan sebelum sampe pintu...," kata Reyhan kesal.


" Makanya jangan sok tau. Kan tadi Aruna udah bilang jangan keluar, eh Lo maksa. Sekarang rasain, enak kan bisa ciuman sama pocong...," kata Kautsar sambil mencibir.


" Sia*an Lo. Gara-gara ngikut ajakan Lo Gue jadi ketiban sial nih. Bukan ciuman sama cewek bohay, eh malah nyium pocong. Hiiiiyy...," kata Reyhan sambil bergidik.


Kautsar dan Aruna saling menatap kemudian tertawa kecil. Tentu saja hal itu membuat Reyhan sangat kesal.


" Bisa-bisanya Lo berdua ketawa di saat genting kaya gini. Bikin sesuatu dong Tsar...," kata Reyhan gusar.


" Iya iya. Udah sini jangan di situ aja. Lo ga tau kan kalo pocong itu lagi menghirup aroma badan Lo dari balik pintu...," sahut Kautsar hingga membuat Reyhan terkejut.


" Yang bener Tsar...?!" tanya Reyhan sambil bergegas menjauh dari pintu lalu melangkah ke samping Kautsar.


Sesekali Reyhan nampak mengusap punggungnya untuk mengusir rasa dingin yang menyerap di punggungnya. Entah mengapa ia percaya akan ucapan Kautsar kali ini.


" Duh kenapa rasanya ga enak banget sih Run. Apa pocong itu nempel sama Gue ya...?" tanya Reyhan cemas.


Aruna mengangguk tanpa bicara namun itu cukup membuat Reyhan takut bukan kepalang.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2