Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
183. Salam Perkenalan


__ADS_3

Aruna dan Hasby tiba di sebuah tempat dimana mereka akan mengadakan meeting dengan salah satu rekan bisnis perusahaan.


Hasby turun dari mobil lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru. Ia tersenyum saat netranya menangkap sosok wanita yang berlari kecil kearahnya.


" Selamat siang Pak, maaf kalo Saya kurang sopan karena ga menemui Bapak lebih dulu di kantor...," sapa seorang wanita yang tak lain adalah Bianca.


" Selamat siang juga Bu Bianca. Gapapa, Saya maklum kok...," sahut Hasby.


" Terima kasih Pak...," kata Bianca sambil melirik Aruna yang berdiri di belakang Hasby.


Untuk sesaat udara di sekitar mereka terasa dingin dan suasana menjadi hening. Aruna sedikit mengerutkan keningnya karena merasakan sesuatu yang berbeda dari Bianca.


Di tempatnya berdiri Bianca juga memindai Aruna dengan cepat.


" Masih muda, energik, cantik, berpakaian simple, celana panjang dan blazer yang melekat pas di tubuh dengan riasan wajah tipis. Hmmm..., menarik...," gumam Bianca sambil tersenyum tipis.


Seolah tersadar jika dua wanita di depannya menunggu untuk diperkenalkan, Hasby pun langsung memanggil Aruna.


" Aruna...," panggil Hasby sambil menoleh ke belakang.


" Iya Pak...," sahut Aruna sambil mendekat kearah Hasby.


" Mari Saya kenalkan dengan Bu Bianca. Beliau ini sekretaris senior yang datang jauh-jauh dari Jakarta khusus untuk mengajari Kamu banyak hal. Bu Bianca, kenalkan ini Aruna yang pernah Saya ceritakan itu...," kata Hasby.


" Selamat siang Bu, Saya Aruna. Mohon bimbingan Ibu supaya Saya bisa menjalankan tugas Saya dengan baik ke depannya...," kata Aruna santun sambil mengulurkan tangannya.


" Selamat siang Aruna. Senang berkenalan denganmu. Saya harap Kamu bisa mengikuti alur yang Saya buat nanti karena Saya ga mentolerir kesalahan sekecil apa pun...," sahut Bianca sambil tersenyum lalu menyambut uluran tangan Aruna.


Saat tangan Aruna dan Bianca bersentuhan, ada getaran kecil seperti sengatan listrik yang membuat keduanya terkejut. Untuk sejenak keduanya saling menatap dengan tatapan yang tak biasa.


" Ehm, kalo gitu Kita bisa masuk sekarang kan. Dimana Kita duduk Bu Bianca...?" tanya Hasby yang tak menyadari sikap berbeda dari dua wanita yang bersamanya itu.


Mendengar ucapan Hasby membuat Aruna dan Bianca tersentak kaget lalu bergegas melepaskan tautan tangan mereka dengan gugup.


" Di sebelah sana Pak. Mari Saya tunjukkan...," kata Bianca sambil melangkah mendahului Hasby dan Aruna.

__ADS_1


Hasby melirik Aruna yang menurutnya sedikit tegang. Kemudian ia mencoba mengingatkan Aruna.


" Bagaimana Aruna. Bisa kan Kamu kerja sama dengan Bu Bianca selama sebulan ini ?. Hanya sebulan Aruna. Dan ingat, jangan ambil hati sikap atau kata-katanya yang sedikit menyinggung perasaan ya...," pesan Hasby dengan suara lirih.


" Baik Pak...," sahut Aruna dengan patuh walau dalam hati ia menolak keras kehadiran Bianca.


Kemudian mereka duduk di tempat yang telah dibooking Bianca sebelumnya. Hasby duduk diapit Bianca dan Aruna. Sesaat kemudian ketiganya terlibat pembicaraan serius tentang materi meeting kali ini.


Rekan bisnis yang ditunggu datang dan ketiganya pun berdiri untuk menyambut. Setelah saling berjabat tangan dan sedikit basa basi, mereka mulai masuk ke dalam inti acara pertemuan itu.


Saat meeting berlangsung Aruna lebih banyak menjadi pendengar dan mengamati cara kerja Bianca. Harus Aruna akui kinerja Bianca memang patut diacungi jempol. Dengan mudah dan gamblang Bianca mempresentasikan materi meeting kali ini hingga membuat mereka yang hadir terkesima. Hasby nampak bangga melihat kinerja Bianca. Apalagi tak butuh waktu lama para rekan bisnis menandatangani kesepakatan kerja sama yang ditawarkan oleh perusahaan mereka.


" Alhamdulillah, akhirnya meeting selesai dengan pencapaian yang gemilang. Terima kasih Bu Bianca...," kata Hasby sambil tersenyum lebar saat para relasi bisnis telah meninggalkan tempat itu.


" Sama-sama Pak. Ini juga berkat Aruna yang menyiapkan berkas materi dengan lengkap sehingga memudahkan Saya untuk menyampaikannya pada mereka tadi...," sahut Bianca merendah.


" Ya ya, Saya tau itu. Aruna memang bisa diandalkan untuk menyiapkan semuanya. Gimana Aruna, Kamu liat cara Bu Bianca bekerja tadi. Kamu bisa mencontoh Bu Bianca lho...," kata Hasby sambil menoleh kearah Aruna.


" Mmm..., Saya merasa Bu Bianca terlalu hebat Pak. Tapi Saya akan berusaha bekerja sebaik mungkin untuk kemajuan perusahaan Pak...," sahut Aruna.


" Bagus. Saya suka liat semangat Kamu Aruna. Bukan kah begitu Bu Bianca...?" tanya Hasby sambil menoleh kearah Bianca yang saat itu tengah menatap Aruna.


" Kalo gitu selesaikan makan Kalian. Saya mau ke toilet sebentar ya. Setelah itu Kita bisa balik ke kantor...," kata Hasby sambil berdiri dari posisi duduknya.


" Baik Pak...," sahut Bianca dan Aruna bersamaan.


Hasby tersenyum lalu bergegas melangkah meninggalkan Aruna dan Bianca.


Ketegangan terasa menyelimuti Aruna dan Bianca. Keduanya melanjutkan makan siang mereka dalam diam. Dari tempat duduknya Bianca bisa melihat Aruna yang tampak asyik menyantap makanannya seolah tak menghiraukan keberadaannya. Bianca tahu jika saat itu Aruna sedang berusaha bersikap tenang.


" Apa Kamu punya pacar Aruna...?" tanya Bianca tiba-tiba hingga sedikit mengejutkan Aruna.


" Ehm, ga punya Bu. Tapi Saya punya Suami...," sahut Aruna sambil tersenyum.


" Suami ?. Semuda ini Kamu sudah menikah...?" tanya Bianca tak percaya.

__ADS_1


" Iya Bu. Apa ada yang salah...?" tanya Aruna bingung.


" Ga ada. Apa Pak Hasby dan perusahaan tau kalo Kamu sudah menikah...?" tanya Bianca.


" Mmm, mungkin hanya pihak personalia dan Pak Hasby yang tau status Saya Bu...," sahut Aruna ragu.


" Oh ya. Jadi sebagian besar karyawan perusahaan ga ada yang tau ?. Atau Kamu sengaja menyembunyikan status Kamu Aruna...?" tanya Bianca sambil menatap Aruna lekat.


" Saya ga niat menyembunyikan pernikahan Saya Bu. Ga ada yang bertanya jadi Saya ga perlu menjelaskan apa pun bukan ?. Lagipula mereka juga beberapa kali ngeliat Saya diantar Suami Saya, jadi Saya pikir itu cukup menjelaskan jika Saya bukan wanita single...," sahut Aruna dengan tenang.


Jawaban Aruna membuat wajah Bianca membesi. Tangan Bianca nampak terkepal pertanda ia tengah menahan marah. Aruna yang tak menyadari jika ucapannya menyinggung perasaan Bianca pun kembali melanjutkan makannya.


Suasana di meja itu kembali hening hingga Hasby kembali.


" Apa Kalian sudah selesai...?" tanya Hasby.


" Sudah Pak...," sahut Bianca dan Aruna bersamaan.


" Bagus. Sekarang udah jam pulang kantor jadi Kita bisa langsung pulang ke rumah masing-masing dan ga perlu balik ke kantor..., " kata Hasby.


" Baik Pak. Saya bisa pulang sendiri dan pesan Taxi on line dari sini. Terus bagaimana dengan Bu Bianca Pak. Apa perlu diantar...?" tanya Aruna.


" Oh iya, Saya lupa. Sebenernya perusahaan sudah menyediakan tempat tinggal untuk Bu Bianca. Biar Bu Bianca Saya antar karena tempatnya searah dengan rumah Saya...," sahut Hasby.


" Baik Pak...," sahut Aruna.


Kemudian Hasby mengajak Bianca ikut bersamanya.


" Saya duluan ya Aruna...," pamit Bianca sambil menepuk punggung Aruna dengan lembut.


" Silakan Bu...," sahut Aruna sambil mencoba mengendalikan diri.


Orang lain akan melihat tepukan itu sebagai tepukan halus tapi tidak yang dirasakan Aruna. Ia merasa tepukan Bianca di punggungnya layaknya sebuah hentakan kekuatan tak kasat mata yang membuatnya sedikit limbung.


Mobil Hasby melaju perlahan meninggalkan Aruna yang masih berusaha melawan dorongan tak kasat mata itu. Setelah mobil berbelok ke jalan raya, Aruna pun menepis dorongan tak kasat mata itu sambil berteriak kencang. Setelahnya Aruna meraba punggungnya yang terasa sakit.

__ADS_1


" Ck, kenapa pake salam perkenalan kaya gini sih...," gerutu Aruna sambil melangkah meninggalkan tempat itu.


\=\=\=\=\=


__ADS_2