Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
27. Ketemu Hantu Deon


__ADS_3

# FYI : untuk bisa triple up melalui proses yang lumayan berat\, jadi author mohon kpd para readers supaya bersabar yaa. Insya Allah akan triple up jika semua syarat terpenuhi. makasih... #


George dan Matilda masih menatap Aruna dari ambang jendela. Mereka nampak iba saat melihat Aruna kesakitan.


Gadis itu mengerang sambil menggeliat. Rasa panas dan sakit yang menderanya telah membuat Aruna hampir tak bisa menguasai diri.


“ Kita harus melakukan sesuatu Sayang, kasian Aruna...,” kata Matilda cemas.


“ Jangan lakukan apa pun sekarang Sayang. Kita liat dulu sampe mana Aruna bisa bertahan. Itu bagus untuknya agar dia bisa mengendalikan dirinya di luar sana saat Kita ga ada di sisinya nanti...,” sahut George sambil menatap lekat kearah Aruna.


Di dalam kamar Aruna terlihat menggeliat lalu jatuh berlutut di lantai. Kemudian Aruna menekan dadanya sedemikian rupa seolah berusaha meredam rasa sakit di dadanya itu. Air mata nampak membasahi wajah gadis itu pertanda jika sakit yang dideritanya sangat luar biasa.


“ Jangan ditahan Aruna, lepasin aja...,” kata Matilda berusaha memandu Aruna melewati rasa sakitnya itu.


“ Ya Allah..., Aku ga kuat Tante. Ini sakit sekali...,” sahut Aruna sambil memejamkan matanya.


Sesaat kemudian Aruna membuka matanya saat merasakan otot di seluruh tubuhnya meregang. Kali ini Aruna tak kuasa menanggung rasa sakitnya hingga ia menjerit lalu jatuh tak sadarkan diri.


“ Aruna...!” panggil Matilda lalu bergegas menghampiri Aruna yang terkapar di lantai.


George nampak menghela nafas panjang lalu masuk ke dalam kamar. Ia membantu Matilda yang terlihat kesulitan memindahkan tubuh aruna dari lantai ke atas tempat tidur setelah sebelumnya ia merubah wujudnya dari serigala menjadi manusia.


“ Aku ga nyangka kalo fisik Aruna ternyata lemah sekali...,” kata George.


“ Dia ga lemah, dia cuma belum terbiasa aja...,” sanggah Matilda.


“ Iya iya...,” sahut George mengalah sambil mengusak rambut Matilda dengan sayang.


Tiba-tiba Georga dan Matilda tersentak kaget saat mendengar suara mobil Arka menepi di depan rumah.


“ Gimana nih Sayang, mereka udah pulang...,” kata Matilda cemas.


“ Kita harus pergi sekarang...,” sahut George lalu merubah wujudnya kembali menjadi serigala.


Matilda menatap Aruna sejenak lalu mengikuti George yang telah keluar lebih dulu melalui jendela kamar Aruna dan menunggu di luar.


Sedangkan Arka dan Diana nampak heran karena Aruna tak juga keluar untuk membuka pintu pagar meski mereka telah membunyikan klakson berkali-kali. Saat menoleh kearah kamar Aruna, tak sengaja Arka melihat sekelebat bayangan seekor anjing yang melintas di dekat kamar Aruna.


“ Kok ada anjing di rumah Ma...,” kata arka.


“ Anjing apaan sih Pa. Ga ada yang miara anjing di sekitar sini. Papa salah liat kali...,” sahut Diana.


“ Gitu ya. Mama tunggu di sini biar Papa aja yang buka pintu pagar. Mungkin Aruna udah tidur jadi ga denger klakson mobil Kita...,” kata Arka.


“ Ok...,” sahut Diana cepat.


Arka pun turun dari mobil lalu bergegas membuka pintu. Setelah memasukkan mobil ke dalam bagasi rumah, Arka lagi-lagi melihat seekor anjing berukuran besar yang tadi dilihatnya kini tengah berdiri di seberang jalan. Anjing itu nampak menatap lekat kearah rumah Arka hingga membuatnya tak nyaman.


“ Kenapa lagi Pa...?” tanya Diana.


“ Gapapa Ma. Ayo Kita masuk...,” ajak Arka sambil tersenyum lalu bergegas menutup pintu rumah.


\=====


Aruna terbangun saat adzan Subuh berkumandang. Sambil meringis Aruna berusaha bangkit dari tidurnya. Aruna


nampak mengamati seluruh tubuh, wajah dan kedua tangannya.

__ADS_1


“ Kenapa Aku semalam, rasanya aneh. Panas dan sakit banget. Apa itu mimpi ya...,” gumam Aruna sambil turun dari tempat tidur lalu menghampiri cermin.


Di depan cermin Aruna mengamati wajah dan seluruh tubuhnya. Setelah yakin jika dirinya baik-baik saja, Aruna bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu lalu menunaikan sholat subuh.


Siang harinya George dan Matilda menghentikan Aruna yang sedang mengayuh sepedanya saat pulang sekolah.


“ Apa yang terjadi sebenarnya Tante ?. Kenapa Aku merasa sakit dan panas banget semalam. Terus Kalian kemana, kok ga bungunin Aku atau nungguin Aku sampe siuman...?” tanya Aruna beruntun hingga membuat George dan Matilda tersenyum.


“ Kami pergi karena orangtuamu pulang Aruna. Kami ga bisa menampakkan diri di depan mereka karena akan membuat mereka takut. Sedangkan apa yang Kamu rasakan itu adalah salah satu proses perubahan yang akan Kamu alami lagi ke depannya...,” sahut Matilda.


“ Maksud Tante, rasa sakit dan panas itu bakal terulang lagi...?” tanya Aruna cemas.


“ Iya...,” sahut Matilda cepat.


“ Tapi kenapa Tante...?” tanya Aruna.


“ Itu lah yang akan terjadi pada semua keturunan klan Kita Aruna. Tapi hanya keturunan yang terpilih yang bisa merasakan sakit sehebat itu, selebihnya hanya merasakan panas dan haus saja tanpa ada perubahan fisik apa pun...,” sahut George.


“ Perubahan fisik. Emangnya Kita jadi apa setelah berubah...?” tanya Aruna.


“ Manusia serigala, seperti Aku...,” sahut George lalu menunjukkan wujud aslinya hingga membuat Aruna


mundur ketakutan.


Tubuh George yang semula berwujud serigala itu perlahan berubah menjadi sosok pria tampan, berkulit pucat, berambut pirang khas ‘orang bule’ yang sempat membuat Aruna terpana. Namun sesaat kemudian tubuh George berubah menjadi sosok setengah manusia setengah serigala yang lebih menakutkan dari seekor serigala sungguhan. Itu lah sosok yang membuat Aruna mundur ketakutan.


“ Ini lah wujud Kita saat berubah Aruna...,” kata George sambil mendekat kearah Aruna.


“ Ja... jangan mendekat. Di situ aja... Om...,” pinta Aruna sambil mengembangkan telapak tangannya ke depan George.


“ Aku ga mau jadi monster kaya gitu Tante...,” kata Aruna dengan suara bergetar.


“ Tapi garis tanganmu memang memilihmu untuk menjadi seperti Kami Sayang...,” sahut Matilda sambil mengusap punggung Aruna dengan lembut.


“ Apa Aku bisa menolak...?” tanya Aruna lirih.


“ Maaf, Kamu hanya bisa menerima takdirmu ini Aruna...,” sahut Matilda sambil merapikan anak rambut Aruna dengan jemarinya yang lentik.


“ Ini informasi pertama yang bisa Kami berikan untukmu Aruna. Kamu ga perlu khawatir, karena perubahan seperti ini ga akan terjadi setiap saat. Kita berubah hanya di waktu tertentu aja...,” kata George.


“ Hanya di saat bulan purnama penuh...,” potong Aruna yang pernah membaca kisah manusia serigala sebelumnya karena didorong oleh rasa penasaran yang entah darimana datangnya.


“ Betul. Kamu butuh waktu lama supaya bisa berubah sempurna seperti Kami. Dan sampai saat itu tiba, Kami akan terus mengawasi Kamu dan membimbingmu agar bisa mengendalikan dirimu saat berubah nanti...,” kata George sambil tersenyum.


“ Memang apa yang terjadi saat Aku berubah...?” tanya Aruna.


“ Kamu bisa membunuh orang-orang yang Kamu cintai. Itu terjadi karena naluri membunuh yang ada saat Kamu dalam kondisi setengah manusia setengah serigala Aruna. Pikiranmu yang tak terlatih akan membawamu menuruti keinginanmu itu dan membunuh mereka lalu menghisap darah mereka tanpa Kamu sadari. Saat Kamu kembali ke kondisi normal, rasa penyesalan dan sakit hati akan mengiringi hidupmu selamanya...,” sahut George sedih.


“ Makanya Aku dan George ada di sini untuk membantumu mengendalikah hasrat liar itu supaya Kamu ga menyesal nanti. Jika Kamu telah berhasil menguasainya, Kamu bisa hidup dengan tenang layaknya manusia biasa di keseharianmu Aruna Sayang...,” kata Matilda menambahkan.


“ Apa Aku harus berterima kasih untuk ini...?” tanya Aruna dengan mata berkaca-kaca.


George dan Matilda terdiam sejenak lalu perlahan mereka melesat pergi. Mereka sengaja  meninggalkan Aruna yang mematung sambil menangis untuk memberi kesempatan pada gadis itu memahami takdirnya.


Setelah puas menangis, perlahan Aruna bangkit lalu kembali mengayuh sepedanya menuju arah pulang. Dalam hati Aruna berjanji untuk terus berguru pada George dan Matilda agar bisa mengendalikan naluri pembunuh yang menguasainya saat ia berubah menjadi manusia serigala nanti. Aruna tak ingin Arka dan Diana terluka dan menjadi korban dari ketak berdayaannya itu.


\=====

__ADS_1


Kini Aruna duduk di bangku SMA. Ia tumbuh menjadi gadis cantik dan tangguh. Kehidupan Aruna berjalan normal sama seperti gadis seusianya. Aruna bisa menjalani hari-harinya dengan santai meski pun kerap melihat sesuatu yang tak kasat mata di sekitarnya. Jika itu terjadi, Aruna memilih tutup mulut atau menjauh dari keramaian karena tak ingin menjadi bahan bullyan seperti saat masih duduk di bangku SMP dulu.


Dan saat ini Aruna tengah melangkah cepat kearah perpustakaan sambil mendekap erat buku-buku di pelukannya. Jika diamati dengan seksama ternyata Aruna sedang bicara dengan sesuatu yang terus mengikutinya dari belakang.


“ Berhenti mengikutiku. Kau bikin temanku takut nanti...,” kata Aruna setengah berbisik.


“ Aku hanya ingin berteman denganmu Aruna...,” sahut makhluk tak kasat mata itu hingga membuat Aruna sedikit kesal.


Aruna menghela nafas panjang lalu masuk ke dalam perpustakaan. Ia memilih duduk di sudut ruangan yang jarang


diduduki siswa karena terasa lembab dan dingin. Kemudian Aruna mulai membuka buku dan menulis sesuatu. Aruna sengaja menjadikan buku itu sebagai alat untuk berkomunikasi dengan makhluk halus itu.


“ Katakan siapa Kamu dan apa maumu...,” tulis Aruna.


“ Namaku Deon. Aku meninggal karena kecelakaan di jalan dekat sekolahmu...,” kata hantu itu.


“ Ok, tapi Kita ga bisa bicara di sini Deon...,” tulis Aruna.


“ Kenapa...?” tanya Deon kecewa.


“ Aku ga mau dicap gila karena ngomong sendiri. Dulu Aku juga sering berkomunikasi dengan hantu sejenis Kamu,


dan gara-gara itu Aku dicap aneh dan dijauhi teman-temanku. Aku ga mau kaya gitu lagi. Kalo Kamu memang mau jadi temanku dan mau Aku membantumu, ikuti caraku. Kalo ga mau, cari aja orang lain yang bisa membantumu...!” tulis Aruna dengan tanda seru untuk mempertegas kalimatnya.


“ Baik lah. Dimana Kita bisa bicara...?” tanya hantu Deon.


“ Dimana pun asal ga di sekolah...,” tulis Aruna lagi dan diangguki hantu Deon.


Saat jam pulang sekolah Aruna terlihat kesulitan menstarter motornya. Tiba-tiba hantu Deon mendekati Aruna dan berniat membantunya. Saking terkejutnya Aruna mengucap istighfar sambilmelempar kamus bahasa Inggris di tangannya kearah hantu Deon. Karena tak kasat mata, kamus itu melayang di udara hingga mengenai tubuh seorang siswa yang kebetulan melintas di dekat Aruna.


“ Sia*an, ngapain Lo nimpuk Gue pake buku. Waras ga sih Lo...?!” tanya siswa laki-laki itu dengan lantang sambil menatap tajam kearah Aruna.


“ Eh, maaf Kak. Ga sengaja...,” sahut Aruna tak enak hati lalu bergegas mengambil kamus yang terjatuh di dekat kaki siswa itu.


“ Ga sengaja, emangnya Lo ga ngeliat Gue lewat...?” tanya siswa itu dengan kesal.


“ Ga liat Kak, maaf...,” sahut Aruna sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.


“ Dia sengaja ngelempar buku itu buat narik perhatian Lo Tsar...!” kata suara seorang remaja wanita yang merupakan teman sekelas siswa itu.


“ Betul Nes. Dia tau kalo Kautsar ini cowok populer di sekolah Kita. Selain ganteng, Kautsar ini pinter, jago basket lagi. Pasti bikin semua cewek tertarik termasuk anak baru ini...,” kata Linda dengan sinis.


“ Eh, tapi Saya beneran ga sengaja Kak. Lagian Saya juga ga tau kalo Kakak ini populer di sekolah...,” sahut Aruna dengan tenang.


“ Hello..., Lo anak kelas satu kan. Masih baru tapi udah pinter drama. Semua siswa di sekolah ini tau siapa Kautsar, masa Lo ga. Bohong banget sih...,” kata Nessa galak.


“ Iya. Emangnya Lo ga ikut orientasi kemaren sampe ga kenal sama senior Lo yang hebat ini...,” kata Linda sambil mencibir.


Melihat Aruna dimarahi oleh kedua teman sekelasnya membuat Kautsar iba. Ia tahu jika Nessa menyukainya dan selalu mencoba menarik perhatiannya. Sedangkan Linda adalah teman Nessa yang setia mendukung Nessa untuk mendapatkan hati Kautsar.


“ Udah ga usah dilanjutin. Gue maafin kali ini ya. Udah sana pulang...,” kata Kautsar.


“ Iya, makasih Kak...,” sahut Aruna sambil mendorong motornya yang mendadak ngadat itu ke gerbang sekolah.


Kautsar pun menghampiri motornya. Namun tiba-tiba Nessa dan Linda menjerit saat kotoran burung mengenai kepala mereka. Kautsar yang terkejut menoleh dan tertawa melihat kedua gadis itu berlari ke toilet sekolah. Sedangkan Aruna hanya tersenyum karena tahu itu ulah hantu Deon yang tak suka melihat Aruna disakiti oleh Linda dan Nessa tadi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2