Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
257. Siapa Dong ?


__ADS_3

Malam itu suster Erma nampak gelisah. Ia tak ingin percaya jika yang didengarnya tadi adalah suara makhluk halus. Tapi ia sendiri yakin jika yang bicara dengannya adalah makhluk halus karena bukan kali ini saja ia memergoki dokter Sheina bicara seorang diri di dalam ruangan.


Awalnya suster Erma yang memang mengagumi dokter Sheina itu selalu memperhatikan gerak-gerik sang dokter cantik. Ia juga mulai mencari tahu tentang kehidupan pribadi dokter Sheina. Maklum lah ia mempunyai keingin Tahuan yang besar karena suster Erma adalah perawat baru di Rumah Sakit itu.


Tapi suster Erma bingung, karena dari semua perawat yang membantu dokter Sheina tak seorang pun yang tahu tentang kehidupan pribadi dokter Sheina. Dan itu sangat aneh menurut suster Erma.


" Masa sih ga ada yang tau rumahnya dokter Sheina dimana...?" tanya suster Erma pada rekan sejawatnya.


" Bukan ga ada yang tau, tapi untuk apa harus tau rumahnya dokter Sheina. Hubungan Kita kan cuma hubungan profesional kerja, ga ada yang lain. Jadi ga perlu melibatkan perasaan di sini apalagi sampe harus tau kehidupan pribadi dokter Sheina segala...," sahut rekan suster Erma dengan cuek.


" Lagian juga belum tentu dokter Sheina suka kalo Kita tau rumahnya...," kata perawat lain.


" Betul. Yang ada dia malah kesel terus mindahin Kita ke bagian lain yang ga Kita suka kaya di bagian dapur misalnya...," sahut rekan sesama perawat sambil meringis.


" Lho, dokter Sheina kan dokter kandungan bukan personalia. Emang dia bisa mindahin tugas para perawat yang ga cocok sama dia ?. Aneh...," kata Erma kala itu.


" Bukan gitu juga Erma. Maksudnya saking tertutupnya dokter Sheina, makanya Kita semua segan. Dokter Sheina emang baik dan ramah, tapi justru itu yang bikin Kita ga berani neko-neko. Ga enak kalo nanya-nanya. Khawatir dibilang kepo...," kata perawat lain.


Erma nampak mengangguk lalu kembali mengerjakan tugasnya. Dalam hati ia berniat mencari tahu sendiri apa yang membuatnya penasaran.


Hingga suatu hari tiba giliran suster Erma bertugas mendampingi dokter Sheina mengunjungi salah satu pasien. Suster Erma sangat senang karena akhirnya bisa mendampingi dokter idolanya itu. Dari dekat suster Erma bisa melihat kinerja dokter Sheina. Dan itu membuat kekagumannya bertambah.


" Paham kan apa yang Saya maksud Sus...?" tanya dokter Sheina setelah ia menjelaskan beberapa hal kepada suster Erma.


" Oh, eh i... iya dok...," sahut suster Erma gugup.


" Kamu kenapa, sakit ya...?" tanya dokter Sheina sambil menyentuh dahi suster Erma dengan punggung tangannya.


" Sa... Saya gapapa kok dok...," sahut suster Erma cepat.


" Kalo gapapa kenapa gugup...?" tanya dokter Sheina sambil mengerutkan keningnya.


" Maklum dok, suster Erma ini ngefans banget sama dokter Sheina. Makanya pas dijadwalkan ngedampingin dokter hari ini, dia seneng banget..., " kata suster Hani sambil tersenyum.


" Ish, apaan sih Han...," sahut suster Erma sambil mencubit lengan suster Hani.

__ADS_1


" Aduh, sakit tau...," kata suster Hani sambil mendelik kan matanya karena tak suka dengan sikap suster Erma.


Melihat sikap kedua perawat di hadapannya membuat dokter Sheina tertawa. Kemudian dia menepuk bahu suster Erma sambil mengatakan sesuatu yang membuat suster Erma salah tingkah.


" Saya bukan artis lho Sus, kok bisa-bisanya ngefans sama Saya. Tapi gapapa. Suster Erma boleh ngefans sama Saya tapi jangan lalai dalam tugas yaaa...," kata dokter Sheina kemudian melangkah meninggalkan suster Erma.


" Baik dok, makasih. Saya janji bakal kerja sebaik mungkin...!" sahut suster Erma lantang.


Sang dokter cantik nampak melambaikan tangannya sambil terus melangkah. Sedangkan suster Hani nampak menggelengkan kepalanya melihat tingkah suster Erma yang 'ajaib' itu.


" Kamu nih ya, kaya belum pernah liat orang cantik aja sih...," kata suster Hani sambil mencibir.


" Aku emang belum pernah liat perempuan cantik plus pinter kaya dokter Sheina, Han. Di kampungku dulu biasanya kalo perempuan cantik itu ya bod*h karena ga boleh sekolah tinggi. Biasanya juga mereka langsung dinikahkan saat usia belia karena udah banyak yang ngantri mau ngelamar. Kalo ada perempuan pinter, biasanya wajahnya ga cantik. Terus mereka pinternya juga ga sepintar dokter Sheina yang bisa menghandle semuanya dengan baik dan tepat. Makanya pas ngeliat dokter Sheina yang cantik plus pinter gitu, Aku kagum Han. Kok ada ya orang cantik plus pinter kaya di sinetron...," sahut suster Erma sambil meringis.


Jawaban suster Erma tentu saja membuat suster Hani tertawa geli. Kini ia mengerti mengapa suster Erma begitu memuja dokter Sheina.


" Terserah Kamu lah Er. Yang penting inget pesennya dokter Sheina tadi. Kamu boleh ngefans sama dia tapi jangan melalaikan pekerjaan Kamu...," kata suster Hani sambil berlalu.


" Tenang aja Han. Aku pasti ga bakal main-main sama kerjaanku...," sahut suster Erma mantap.


Setelahnya suster Erma makin sering mengamati dokter Sheina. Jika biasanya ia lakukan secara sembunyi-sembunyi, maka kini ia lakukan secara terang-terangan. Dan dokter Sheina nampaknya tak terganggu dengan ulah bawahannya itu. Justru sang dokter seolah memberi akses kepada suster Erma untuk mengetahui kehidupan pribadinya. Kadang kala dokter Sheina membiarkan pintu ruangannya sedikit terbuka hingga suster Erma bisa terus mengamati gerak-geriknya.


Hingga suatu saat suster Erma terkejut saat melihat dokter Sheina duduk sambil menatap ke seberang mejanya. Saat itu sang dokter terdengar bicara sesuatu dengan seseorang.


" Ada tamu di ruangan dokter Sheina ya Han...?" tanya suster Erma saat baru saja tiba di ruangan para perawat.


" Kayanya ga ada tamu kok Er...," sahut suster Hani.


" Masa sih. Terus yang ngobrol sama dokter Sheina siapa dong...?" tanya suster Erma penasaran.


" Mana Aku tau. Emangnya Kamu mau ngapain sih...?" tanya suster Hani.


" Mau ngasih hasil lab yang baru aja Aku ambil di lab...," sahut suster Erma sambil mengacungkan amplop coklat di tangannya.


" Oh gitu. Coba aja tunggu sebentar lagi...," saran suster Hani sambil kembali fokus mengecek tugasnya.

__ADS_1


" Ok deh...," sahut suster Erma.


Suster Erma pun memutuskan duduk sambil menunggu tamu dokter Sheina keluar dari ruangannya. Tiba-tiba suara dokter Sheina terdengar memanggil suster Hani yang bergegas menghampirinya.


" Ada apa dok...?" tanya suster Hani.


" Apa Suster Erma sudah kembali dari lab...?" tanya dokter Sheina.


" Udah dok, kenapa...?" tanya suster Hani.


" Tolong suruh dia ke sini ya Sus. Saya tungguin kok ga dateng juga daritadi...," kata dokter Sheina.


" Baik dok...," sahut suster Hani lalu bergegas menghampiri suster Erma.


Suster Erma nampak kebingungan karena tak menyangka jika dokter Sheina menunggu kedatangannya sejak tadi. Karena tak enak hati, suster Erma pun bergegas menemui dokter Sheina di ruangannya.


" Kamu darimana aja sih Suster Erma ?. Saya nungguin Kamu lho daritadi...," tegur dokter Sheina.


" Maaf dok. Saya Kirain dokter lagi ada tamu penting, makanya Saya nunggu di luar aja tadi...," kata suster Erma.


" Ga ada siapa-siapa di sini Sus. Jangan ngigo Kamu ya...," sahut dokter Sheina.


" Tapi Saya denger dokter lagi ngobrol sama seorang pria dok...," kata suster Erma tak mau kalah hingga membuat dokter Sheina terdiam.


" Ehm, mungkin hanya halusinasi Kamu aja Suster Erma. Oh iya, mana hasil lab yang Saya minta tadi...?" tanya dokter Sheina mencoba mengalihkan pembicaraan.


" Ini dok...," sahut suster Erma sambil menyerahkan amplop berwarna coklat.


" Ok, Kamu bisa kembali ke ruanganmu. Makasih ya Suster Erma...," kata dokter Sheina sambil tersenyum.


" Baik, sama-sama dok...," sahut suster Erma sambil menutup pintu.


Di balik pintu suster Erma nampak berdiri sambil mengerutkan keningnya. Ia yakin telah mendengar suara seorang pria yang berbincang dengan dokter cantik itu tadi. Namun ia tak menjumpai siapa pun di dalam ruangan sang dokter.


Dan kini peristiwa itu terulang kembali hingga membuat suster Erma merasa takut.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2