Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
44. Pergi Juga


__ADS_3

Aruna menyentuh tangan nek Sarti dengan lembut lalu membisikkan kalimat yang menenangkan nek Sarti. Wanita tua itu terlihat menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lalu membelai kepala Aruna dengan lembut.


“ Makasih Cu...,” kata Nek Sarti.


“ Iya Nek. Kita mulai sekarang ya, Nenek inget kan apa yang Saya bilang tadi di mobil...?” tanya Aruna.


“ Iya, Kita harus fokus dan berdzikir supaya ga oleng...,” sahut nek Sarti sambil memiringkan tubuhnya hingga membuat semua tertawa melihat tingkahnya.


“ Nenek pinter...,” kata Aruna sambil mengacungkan jempolnya.


Setelah mengatakan itu Aruna pun menoleh kearah kanannya sambil tersenyum. Rupanya arwah Janson telah datang dan berdiri di sana hingga membuat udara dingin malam itu semakin terasa dingin.


Arwah Janson nampak mematung menatap Herdian. Ia seolah menemukan dirinya dahulu pada sosok Herdian. Ia melayang mendekati Herdian lalu berdiri di depannya beberapa saat.


“ Itu Om Herdian, Cucumu...,” kata Aruna.


“ Cucuku, dia mirip denganku...,” sahut Janson takjub.


“ Iya, cuma berbeda warna kulit...,” kata Aruna sambil tersenyum.


“ Kalo Cucuku sebesar ini, artinya Anakku hidup dan selamat dulu...?” tanya arwah Janson.


“ Betul. Anakmu di sana, namanya Pak Suryadi...,” sahut Aruna sambil menunjuk Suryadi yang berdiri di belakang kursi roda nek Sarti.


Janson pun menoleh lalu melayang mendekati Suryadi. Air matanya tumpah melihat anak yang ia harapkan kelahirannya itu kini telah tumbuh dewasa bahkan telah memiliki keluarga. Wajah Suryadi lebih mirip dengan Sarti tapi memiliki rambut dan warna kulit yang sama dengannya. Tangan Janson terulur menyentuh kepala Suryadi.


Suryadi sedikit terkejut saat merasakan angin yang berhembus lembut di atas kepalanya. Aruna yang mengerti pun menjelaskan kepada Suryadi.


“ Dia lagi ngusap kepala Bapak, keliatannya dia kangen sama Bapak. Dia mengira bayi dalam kandungan Istrinya tak selamat. Peralihan kekuasaan dari Belanda ke Jepang dulu memang mengerikan. Banyak rakyat yang tak berdosa yang menjadi korban dan mati sia-sia. Dia menyesal karena ga ada di samping Kalian saat itu terjadi...,” kata Aruna dengan suara bergetar.


Perlahan tubuh Janson hadir dalam bentuk yang lebih nyata hingga Suryadi dan nek Sarti bisa melihatnya.


“ Papa..., Janson...,” panggil Suryadi dan nek Sarti bersamaan.


 Arwah Janson pun menatap Suryadi dan nek Sarti bergantian. Meski raganya tak bisa menyentuh anak dan istrinya, namun melihat mereka hidup dan selamat membuat arwah Janson bahagia.


“ Sarti..., Kamu kah itu...?” tanya arwah Janson.


“ Iya, ini Aku Mas...,” sahut nek Sarti.


“ Kamu sudah jauh berubah tapi di mataku Kamu tetap terlihat cantik...,” kata arwah Janson sambil tersenyum.


“ Aku udah tua Mas, masa dibilang cantik...,” sahut nek Sarti sambil menangis bahagia.

__ADS_1


“ Maafkan Aku karena ga kembali seperti janjiku dulu Sayang...,” kata arwah Janson dengan mata berkaca-kaca.


“ Aku ngerti, jangan salahin dirimu lagi ya Mas. Anak Kita lahir di tempat persembunyian Mas. Laki-laki, sehat dan ganteng kaya Kamu. Aku namai dia Suryadi. Surya artinya matahari karena lahir saat matahari terbit. Aku berharap dia menjadi penerang hidupku yang gelap setelah kepergianmu Mas...,” sahut nek Sarti sambil terisak.


“ Nama yang bagus, Aku suka. Suryadi Anakku, anak Janson dan Sarti...,” sahut Janson sambil tersenyum kearah Suryadi.


“ Dia anak yang hebat sama kaya Papanya. Ga pernah ngeluh, ga cengeng dan pasti sayang sama Ibunya ini...,” kata nek Sarti.


“ Bagus. Anak Papa memang hebat. Maafkan Papa ya Nak. Terima kasih telah menggantikan tugas Papa untuk menjaga Ibumu. Terima kasih...,” kata arwah Janson.


“ Ga perlu berterima kasih Pa. Aku melakukannya dengan senang hati karena Aku sayang sama Ibu. Aku juga bangga sama Papa yang mau berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Terima kasih. Meski pun orang ga kenal Papa, tapi Papa adalah pahlawan untukku dan keluarga Kita...,” sahut Suryadi sambil berurai air mata.


“ Papa senang melihat Kalian tetap hidup dan selamat. Sekarang Papa bisa pergi dengan tenang...,” kata arwah Janson sambil menatap cahaya yang turun perlahan untuk menjemputnya.


“ Aku ikut Mas...,” pinta nek Sarti tiba-tiba.


“ Tapi ini bukan saatnya Sayang...,” kata arwah Janson.


“ Tugasku sudah selesai. Aku ga punya alasan lagi bertahan di sini Mas...,” sahut nek Sarti sambil berusaha berdiri.


“ Baik lah. Ayo Kita pergi Sarti...,” kata arwah Janson sambil mengulurkan tangannya.


Suryadi yang melihat ibunya menggapai tangan sang ayah pun terkejut dan berusaha menghentikannya namun gagal. Ia nampak menangis sambil memeluk tubuh nek Sarti dari belakang. Sedangkan Herdian dan istrinya melihat nek Sarti berdiri sambil mengulurkan tangannya seolah menggapai sesuatu yang tak terlihat di atas sana. Dengan sigap Herdian menangkap tubuh sang nenek agar tak terjatuh ke tanah.


Aruna pun hanya bisa menatap kepergian arwah kedua orang yang saling mencintai itu dengan tatapan sendu. Ternyata arwah Janson membawa serta arwah nek Sarti pergi bersamanya. Arwah Sarti yang kini tampil dengan wujud Sarti muda nampak menatap arwah Janson yang tengah tersenyum lalu keduanya menoleh kearah Aruna.


“ Sama-sama...,” sahut Aruna lirih sambil tersenyum.


Sesaat kemudian arwah sepasang sejoli itu melesat ke atas bersama cahaya yang menyelimuti lalu hilang di langit malam. Dan saat bersamaan tubuh nek Sarti terkulai di dalam pelukan Suryadi dan Herdian.


“ Ibuuu...!” panggil Suryadi sambil menangis karena tahu ibunya tak lagi bernyawa.


“ Kenapa Nenek Saya Aruna...?” tanya Herdian panik.


“ Nek Sarti meninggal Om...,” sahut Aruna dengan suara serak.


“ Inna Lillahi wainna ilaihi rojiuun. Kenapa Kamu ga bilang kalo mempertemukan mereka akan bikin Nenek Saya meninggal Aruna...?!” tanya Herdian tak terima.


“ Jangan salahin Aruna, Her. Nenek Kamu yang mau pergi...,” kata Suryadi menengahi sambil berusaha menggendong tubuh nek Sarti.


“ Apa maksud Ayah...?” tanya Herdian.


“ Nenek memilih ikut bersama Kakek karena merasa tugasnya di sini telah selesai. Dan Ayah pikir itu yang terbaik untuk Nenek...,” sahut Suryadi sambil menciumi wajah ibunya.

__ADS_1


“ Takdir hidup Nenekmu memang sampe di sini Her. Kita harus bisa menerimanya dengan ikhlas. Sekarang sebaiknya Kita pulang untuk mengurus pemakaman Nenek...,” kata ibu Herdian yang diangguki Herdian.


“ Maafkan Saya karena udah salah sangka sama Kamu ya Aruna. Ternyata Kakek datang untuk menjemput Nenek...,” kata Herdian tak enak hati.


“ Gapapa Om, Saya ngerti kok...,” sahut Aruna.


“ Terima kasih juga karena udah bantuin Nenek ketemu sama cinta sejatinya...,” kata Herdian.


“ Sama-sama Om...,” sahut Aruna sambil tersenyum.


Tak lama kemudian Herdian dan Suryadi memasukkan tubuh nek Sarti ke dalam mobil. Lalu mereka bergegas pulang untuk mengurus pemakaman nek Sarti.


\=====


Aruna menatap bangunan di depannya dengan tatapan kagum. Seulas senyum tipis menghias wajahnya. Perlahan Aruna melangkahkan kakinya memasuki gerbang kampus dimana ia akan mengenyam pendidikan nanti.


Langkah Aruna terhenti saat sekumpulan pemuda menerobos masuk hingga membuatnya terpaksa menepi untuk memberi kesempatan para pemuda itu masuk lebih dulu. Aruna bersiap melontarkan kemarahannya namun ia urungkan karena melihat Kautsar ada diantara pemuda itu. Kemudian Aruna membalikkan tubuhnya kearah lain karena khawatir Kautsar mengenalinya. Aruna pun menghela nafas lega saat para pemuda itu menjauh.


“ Alhamdulillah.., hampir aja...,” kata Aruna lalu bergegas berlari ke lapangan.


Di lapangan terlihat para mahasiswa baru tengah mendapat pengarahan. Aruna segera bergabung dengan mahasiswa yang sefakultas dengannya. Aruna terlihat menyapa mereka sambil memperkenalkan diri. Dan dalam sekejap Aruna telah berhasil mendapat teman baru.


Saat jam istirahat Aruna dan beberapa mahasiswa baru memilih berkeliling untuk mengenali kampus mereka.


“ Kampusnya nyaman ya, keren...,” kata Ria sambil mengedarkan pandangannya ke penjuru kampus.


“ Iya. Mudah-mudahan dosen dan teman-temannya asyik juga...,” sahut Fadil.


“ Emang ngaruh Dil...?” tanya Agung.


“ Ngaruh lah. Kalo kampus bagus tapi dosen dan mahasiswanya nyebelin kan percuma. Belajar juga ga enak...,” sahut Fadil.


“ Ga enak ya dikasih ke kucing aja...,” gurau Kenzo hingga membuat semua tertawa.


Namun tawa mereka terhenti saat sebuah suara menyapa Aruna. Mereka menoleh kearah sumber suara dan melihat seorang mahasiswa melangkah kearah mereka.


“ Aruna. Lo Aruna kan, ngapain di sini...?” tanya Kautsar sambil mendekati Aruna.


“ Siapa Run...?” tanya Ria yang tertarik dengan ketampanan Kautsar.


“ Ga tau, ga kenal...,” sahut Aruna cuek.


Jawaban Aruna membuat Kaustar kesal dan bersiap melontarkan amarahnya. Namun sebelum terlaksana, terdengar panggilan dari pengeras suara untuk semua mahasiwa baru agar kembali ke lapangan guna mengikuti acara selanjutnya.

__ADS_1


Aruna dan teman-temannya pun melangkah cepat menuju lapangan dan meninggalkan Kautsar yang berdiri sambil menatap kesal kearah Aruna.


Bersambung


__ADS_2