Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
264. Ke Rumah Alam


__ADS_3

Aruna, Kautsar dan dokter Sheina memutuskan pergi ke rumah almarhum Alam keesokan harinya. Tepat setelah dokter Sheina selesai tugas.


" Apa dokter gapapa kalo langsung jalan. Kan dokter capek abis dinas malam...?" tanya Aruna saat ia dan Kautsar bertemu di parkiran Rumah Sakit.


" Insya Allah Aku gapapa Aruna. Aku malah ga bisa istirahat sejak semalam karena terus memikirkan Alam. Mungkin setelah ini Aku bisa istirahat dan tidur nyenyak...," sahut dokter Sheina sambil tersenyum.


" Baik lah. Kalo gitu tolong tunjukkan jalannya ya Alam...," pinta Aruna sambil menatap kearah arwah Alam yang berdiri di samping dokter Sheina.


" Sebentar Aruna. Apa Alam bisa pergi keluar dari sini ?. Bukannya Kamu bilang dia tertahan di sini...?" tanya dokter Sheina tak mengerti.


" Dia berusaha untuk pergi karena Anda dokter...," sahut Aruna.


" Karena Aku, maksudnya apa Aruna...?" tanya dokter Sheina bingung.


" Dimana dokter Sheina berada di sana lah Alam ada. Dia menyukai Anda, mungkin lebih. Dan rasa itu lah yang membuatnya bangkit melawan belenggu yang mengikatnya selama ini...," sahut Aruna.


" Ga masuk akal, tapi Aku mencoba mengerti. Makasih Alam...," kata dokter Sheina sambil menatap tempat kosong yang ia yakini ada Alam di sana.


" Sama-sama..., " sahut arwah Alam sambil tersenyum manis.


" Ehm, Alam bilang sama-sama dok...," kata Sheina hingga membuat dokter Sheina terharu lalu ikut tersenyum.


" Sekarang ayo Kita ungkap penyebab penderitaanmu ini biar Kamu bisa pergi dengan tenang Alam...," kata dokter Sheina.


Arwah Alam menganggukkan kepalanya mendengar ucapan dokter Sheina. Sesaat kemudian ia nampak melayang keluar dari area Rumah Sakit. Kautsar dan dokter Sheina pun segera melajukan kendaraan mereka masing-masing mengikuti arwah Alam sesuai arahan Aruna.


\=\=\=\=\=


Aruna, Kautsar dan dokter Sheina tiba di depan sebuah rumah besar yang nampaknya kosong tak berpenghuni.


Aruna turun dari motor lalu menekan bel di depan pintu pagar berkali-kali namun tak seorang pun keluar menemui mereka.


" Kosong Lam...?" tanya Aruna.


" Harusnya ada orang, ini kan masih pagi banget...," sahut arwah Alam.

__ADS_1


" Tolong Kamu cek ke dalam rumah, mungkin ada orang tapi ga denger suara bel...," pinta Aruna.


" Ga ada siapa-siapa di dalam sana Aruna. Aku udah ngecek tadi...," kata arwah Alam.


" Terus gimana caranya Kita masuk ke dalam kalo ga ada yang bukain pintu...?" tanya Aruna.


Tiba-tiba dua orang pria menghampiri mereka sambil menyapa.


" Cari siapa Mbak...?" tanya pria yang merupakan tetangga Alam bernama Sulaiman.


" Cari Alam Pak...," sahut Aruna cepat.


Kautsar dan dokter Sheina tampak terkejut mendengar jawaban Aruna. Keduanya nampak menatap Aruna lekat karena tak mengerti mengapa Aruna menjawab seperti itu. Namun Aruna terlihat cuek dan keduanya pun hanya menunggu bagaimana reaksi pria di hadapan mereka itu.


" Mas Alam kan udah ga ada Mbak...," sahut Sulaiman dengan mimik wajah sedih.


" Ga ada gimana ya Pak...?" tanya Aruna pura-pura tak tahu.


" Mas Alam sudah meninggal Mbak. Ini udah masuk seratus hari kalo Saya ga salah hitung...," sahut pria yang kemudian diketahui sebagai ketua RT di lingkungan tempat tinggal Alam itu.


" Alam meninggal...?!" tanya Aruna pura-pura terkejut.


" Saya saudara sepupu jauhnya Alam Pak. Empat bulan yang lalu Saya pernah main dan nginep beberapa hari di sini sebelum Saya pergi keluar negeri. Saya ga tau apa-apa soal meninggalnya Alam karena ga ada yang ngabarin...," sahut Aruna.


" Artinya Mbak tau dong kalo Alam sakit waktu itu...?" tanya Sulaiman.


" Iya Pak. Waktu itu Saya ke sini mau pamitan karena bakal kerja di luar negeri. Pantesan belakangan Saya sering mimpi aneh tentang Alam. Rupanya itu pertanda kalo Alam udah pergi ya...," kata Aruna sedih.


" Bisa jadi artinya dia pamitan sama Mbak lewat mimpi. Apa udah nyoba telephon ke rumahnya Mbak...?" tanya Sulaiman lagi.


" Udah Pak. Tapi ga pernah ada yang jawab. Waktu ponselnya Saya hubungi juga ga bisa....," sahut Aruna cepat hingga membuat arwah Alam tersenyum melihat kepiawaian Aruna berbohong.


" Yah gimana lagi Mbak. Saya aja tetangganya bingung ngeliat keluarganya Alam. Keluarganya sih baik, tapi agak tertutup gitu...," kata ketua RT dengan suara pelan.


" Gitu ya. Emangnya sebab Alam meninggal apa Pak...?" tanya Aruna.

__ADS_1


" Saya ga tau pasti karena keluarganya ga ngomong apa-apa saat ditanya. Waktu jenasah Alam sampe di rumah, Saya liat keluarganya juga ga banyak yang hadir. Pas pemakaman juga kaya buru-buru ga tau kenapa. Makanya sempet jadi omongan warga di sini Mbak. Apalagi seminggu setelahnya keluarga Alam pindah meninggalkan rumah ini begitu saja...," sahut ketua RT.


Tiba-tiba pintu pagar rumah Alam terbuka dengan sendirinya. Kautsar, dokter Sheina dan dua pria itu terkejut bukan kepalang melihat pintu pagar terbuka perlahan dengan suara yang bising. Sedangkan Aruna nampak santai karena tahu Alam lah yang telah membuka pintu pagar.


" Wah, kok bisa terbuka sendiri. Jangan-jangan kedatangan Mbak memang sudah ditunggu sama almarhum Alam. Kan Mbak bilang tadi kalo Mbak sempet nginep di sini dan pamitan sebelum pergi keluar negeri..., " kata Sulaiman sambil menatap ke halaman rumah Alam.


" Jadi apa Saya boleh masuk ke dalam Pak...?" tanya Aruna hati-hati.


" Memangnya ada perlu apa Mbak masuk ke dalam...?" tanya ketua RT.


" Ada barang Saya yang ketinggalan Pak. Saya harap Saya masih bisa nemuin barang itu. Kan Sayang kalo hancur. Lebih baik Saya simpan dan siapa tau bermanfaat nanti...," sahut Aruna.


" Baik lah. Saya tetap di sini mengawasi ya Mbak. Ini sebagai bentuk tanggung jawab Saya sebagai pengurus lingkungan...," kata ketua RT.


" Iya Pak, makasih. Ini Suami Saya dan sepupu Saya. Mereka juga akan masuk bersama Saya ke dalam rumah. Jika Bapak akan mengutus seseorang untuk mengawasi Kami, Kami ga keberatan kok...," kata Aruna.


" Pak Sulaiman mau kan ikut mereka masuk ke dalam rumah ?. Saya tunggu di sini biar ga ada warga lain yang mencoba menerobos nanti...," kata ketua RT.


" Baik Pak, Saya bakal ikut masuk ke dalam...," sahut Sulaiman mantap.


Kemudian keempat orang itu masuk ke halaman rumah Alam. Mereka nampak menggelengkan kepala melihat kondisi rumah dan halaman yang tak terawat itu. Meski baru ditinggalkan beberapa bulan saja, namun kondisi rumah Alam seperti rumah yang telah ditinggalkan bertahun-tahun. Terlihat kotor dan hancur di beberapa bagian.


Arwah Alam menunjukkan jalan dan terus melayang menuju ke bagian samping rumah dimana kamarnya dulu berada.


Namun langkah Aruna terhenti karena saat itu melihat patung batu berukuran kecil di samping rumah. Di sekitar patung batu terlihat bunga kering berserakan. Jika dilihat dari bentuk dan warnanya bisa dipastikan jika ada seseorang yang sengaja meletakkan bunga-bunga itu di sana.


" Ini Keliatannya masih baru Sayang...," bisik Kautsar sambil menyentuh bunga kering yang berserakan di tanah.


" Betul. Jangan-jangan ada seseorang yang datang dan melakukan sesuatu di sini...," sahut Aruna.


" Sesuatu apa maksudmu Aruna...?" tanya dokter Sheina tak mengerti.


" Semacam ritual sesat dok, karena ada sisa sajen dan bunga di sekitar patung batu ini. Dan ini bisa dipastikan diletakkan belum lama, mungkin sekitar satu atau dua hari yang lalu...," sahut Aruna.


" Ya Allah. Aku jadi takut nih Run. Jangan-jangan kematian Alam ga sesederhana yang terlihat. Aku mikir kalo ini ada sangkut pautnya sama hal mistis. Apa Aku benar Run...?" tanya dokter Sheina dengan gusar.

__ADS_1


Belum sempat Aruna menjawab pertanyaan dokter Sheina, arwah Alam terlihat kesakitan hingga mengejutkan Aruna.


\=\=\=\=\=


__ADS_2