
Hubungan Rasyid dengan dokter Sheina semakin dekat. Bahkan Rasyid berniat menikahi dokter Sheina. Namun dokter Sheina nampaknya masih enggan menjalin hubungan serius dengan Rasyid karena masih trauma dengan pernikahan.
" Aku pernah gagal dalam pernikahan dulu. Dan Aku belum ingin menikah lagi...," kata Sheina saat Rasyid mendesak untuk memberinya alasan.
" Sudah kuduga...," gumam Rasyid sambil menghela nafas panjang.
" Menduga apa ?. Menduga kalo Aku ini janda yang gagal menikah...?" tanya dokter Sheina tak suka.
" Bukan itu maksudku. Sejak awal Aku tak mempermasalahkan statusmu kok. Aku hanya menduga kalo Kamu trauma dengan pernikahan..., " sahut Rasyid.
" Aku memang trauma. Aku khawatir Kamu sama kaya mantan Suamiku...," kata dokter Sheina lirih namun masih bisa didengar oleh Rasyid.
" Aku ga sama kaya dia Sheina...!" kata Rasyid tak suka.
Keduanya terdiam dan saling menatap dalam beberapa saat. Akhirnya Rasyid mengalah. Ia menggenggam jemari tangan dokter Sheina dengan erat untuk menenangkannya.
" Maaf Sayang. Tapi tolong jangan bandingkan Aku dengan mantan Suamimu yang pasti pernah menyakitimu itu. Aku dan dia orang yang berbeda. Tolong katakan padaku apa yang pernah dia lakukan hingga membuatmu terluka seperti ini...," pinta Rasyid hati-hati.
Dokter Sheina nampak menunduk lalu jatuh lah air mata yang ditahannya sejak tadi.
" Dia mengkhianati Aku...," kata dokter Sheina lirih.
" Mengkhianati Kamu. Gimana bisa...?" tanya Rasyid tak percaya.
" Kamu ga percaya, apa Kamu pikir Aku berbohong...?" tanya dokter Sheina dengan wajah bersimbah air mata.
" Maaf Sayang. Aku hanya ga abis pikir kok bisa mantan Suamimu itu mengkhianati Kamu...," sahut Rasyid sambil merengkuh bahu dokter Sheina dengan lembut.
Rasyid mengatakan itu bukan tanpa alasan. Bagi Rasyid wanita di hadapannya itu nyaris sempurna. Sungguh bodoh pria yang telah menyakitinya dan menyia-nyiakan wanita sehebat dokter Sheina.
" Dia bermain dengan banyak perempuan di luar sana. Alasannya dia bosan denganku dan mencari kepuasan dengan perempuan lain. Itu menyakitkan untukku. Aku berusaha memperbaiki diri tapi semua sia-sia. Dia justru makin mengg*la dengan membawa perempuan selingkuhannya ke rumah. Itu terjadi saat Aku dinas keluar kota. Saat pulang ke rumah Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri dia tengah bercinta dengan selingkuhannya itu. Saat itu Aku sadar kalo dia ga menghargai pernikahan Kami sama sekali apalagi menghargai Aku sebagai istrinya...," kata dokter Sheina sambil mengepalkan kedua tangannya.
" Terus...?" tanya Rasyid.
" Aku pergi...," sahut dokter Sheina sambil membuang tatapannya kearah lain.
" Kenapa pergi ?. Harusnya Kamu meminta penjelasan kenapa dia melakukan itu...," kata Rasyid kesal.
" Aku muak dengannya. Aku jijik !. Kalo Aku meminta penjelasan artinya Aku masih berharap dia kembali. Karena Aku udah ga mau kembali sama dia makanya Aku pergi...," sahut dokter Sheina cepat.
__ADS_1
Rasyid mengangguk tanda mengerti.
" Sekarang dia dimana...?" tanya Rasyid.
" Mati...," sahut dokter Sheina cepat.
" Mati...?" ulang Rasyid.
" Aku dapat kabar dari salah satu rekanku di kota lain kalo dia mati karena penyakit kelam*n kronis...," sahut dokter Sheina sambil menghapus air matanya.
" Oh begitu. Aku kira...," ucapan Rasyid terputus karena dokter Sheina memotong dengan cepat.
" Kamu kira Aku membunuhnya ?. Aku ga akan mengotori tanganku untuk melakukan itu kecuali Aku terdesak dan dalam keadaan ga sadar...," kata dokter Sheina ketus.
" Ups sorry. Jangan marah lagi dong Sayang. Cukup dan ini terakhir kali Kita ngebahas dia ya. Kan dia juga udah ga ada. Sekarang tenangkan dirimu. Aku janji ga akan tanya lagi tentang mantan Suamimu itu...," bujuk Rasyid.
Dokter Sheina nampak mengangguk. Dalam hati ia menyesal karena tak bisa jujur pada pria di hadapannya itu.
Sedangkan Rasyid hanya diam sambil menatap ke langit. Instingnya sebagai seorang polisi mengendus ada gelagat aneh pada diri sang kekasih saat bercerita tadi. Namun Rasyid mencoba bersabar dan diam-diam berniat menyelidikinya nanti.
\=\=\=\=\=
" Dokter tugas jam berapa sih, kok masih bisa ketemuan sama Aku di sini...?" tanya Aruna setelah dokter Sheina selesai menjawab telepon.
" Aku shift sore hari ini. Rencananya abis dari sini Aku langsung ke Rumah Sakit...," sahut dokter Sheina cepat.
" Oh gitu. Terus kenapa dokter ngajak Aku ketemuan...?" tanya Aruna.
" Ada hal serius yang mau Aku bicarain sama Kamu Aruna...," sahut dokter Sheina sambil menatap Aruna dalam-dalam.
" Oh ya, tentang apa. Jangan-jangan tentang Mas Rasyid ya...?" tanya Aruna dengan mimik wajah lucu.
Dokter Sheina menghela nafas panjang lalu mengangguk.
" Kamu ini ternyata bukan hanya kepo ya Aruna. Tapi sayangnya tebakanmu benar...," kata dokter Sheina sambil mengerucutkan bibirnya .
Aruna pun tertawa mendengar ucapan dokter Sheina. Tak lama kemudian seorang pelayan kafe datang membawakan pesanan mereka.
" Silakan Bu...," kata pelayan kafe dengan santun.
__ADS_1
" Makasih Mbak...," sahut Aruna dan dokter Sheina bersamaan.
" Sama-sama Bu...," sahut sang pelayan sambil tersenyum lalu segera berlalu.
" Jadi dokter mau cerita apa...?" tanya Aruna tak sabar.
" Rasyid mengajakku menikah...," sahut dokter Sheina datar namun berhasil membuat Aruna terlonjak kaget.
" Wah, selamat ya dok...!" kata Aruna antusias sambil mengulurkan tangannya.
" Kenapa memberiku selamat ?. Aku belum terima lamarannya lho Aruna...," sahut dokter Sheina sambil melirik tangan Aruna yang masih menggantung di udara.
" Lho kenapa dok ?. Apa dokter ga cinta sama Mas Rasyid...?" tanya Aruna tak mengerti.
" Bukan itu Aruna. Aku cinta kok sama dia, walau pun usianya memang jauh di bawah ku tapi ga masalah untukku...," sahut dokter Sheina.
" Kalo gitu apa dong. Atau jangan-jangan karena dokter merasa ini terlalu cepat...?" tanya Aruna.
" Salah satunya iya...," sahut dokter Sheina.
" Salah satu, berarti masih ada hal lain dong. Apaan sih dok...?" tanya Aruna penasaran.
Dokter Sheina tak langsung menjawab pertanyaan Aruna. Ia nampak mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan seolah khawatir ada yang mendengar pembicaraannya nanti.
" Kenapa dok...?" tanya Aruna sambil mengikuti apa yang dilakukan dokter Sheina.
" Aku ga mau ada yang denger pembicaraan Kita Aruna...," sahut dokter Sheina.
" Ck, ayo lah dok. Jangan bertele-tele dan bikin Aku penasaran bisa ga sih...," kata Aruna sambil berdecak sebal.
Sikap Aruna membuat dokter Sheina tertawa kecil. Lalu ia kembali memasang wajah serius. Sedikit membungkukkan tubuhnya kearah Aruna lalu berbisik.
" Aku ga siap kalo seandainya Rasyid tahu siapa Aku sesungguhnya Aruna...," kata dokter Sheina sambil berbisik.
" Bukannya Mas Rasyid tau kalo dokter pernah menikah dan apa profesi dokter sekarang...?" tanya Aruna tak mengerti.
" Ck, bukan itu Aruna !. Tapi tentang siapa Kita saat bulan purnama bersinar penuh...," kata dokter Sheina kesal.
Aruna pun membulatkan bibirnya tanda mengerti kemana arah pembicaraan dokter cantik yang duduk di hadapannya itu.
__ADS_1
\=\=\=\=\=