
Saat Aruna hendak beranjak meninggalkan tempat itu, tiba-tiba Aruna melihat sosok makhluk astral berwujud ular besar berkepala manusia hadir di depan Yusi dan pak Tuo.
Ular berkepala manusia berambut gondrong itu nampak bergerak ke sana kemari. Sebagian wajahnya ditumbuhi rambut yang menandakan jika dia adalah laki-laki. Ada mahkota berwarna hitam yang bertengger di atas kepalanya menunjukkan posisinya sebagai raja. Kedua matanya nampak menatap tajam kearah dua abdi setianya yaitu Yusi dan pak Tuo.
Dengan sekali hembusan nafas, ular besar itu berhasil memadamkan api yang melahap tubuh Yusi dan pak Tuo.
Tubuh Yusi dan pak Tuo nampak terkapar di tanah dalam kondisi mengenaskan dan itu membuat Aruna bergidik ngeri. Pakaian yang mereka kenakan hanya tinggal sobekan kain yang melekat begitu saja di kulit tubuh mereka karena sebagian telah terbakar tadi.
" Bangun Kalian...!" kata raja ular itu marah.
" Am... ampun Tuanku...," sahut Yusi sambil berusaha bangkit dari posisi berbaringnya diikuti pak Tuo.
Kemudian keduanya nampak duduk dengan tubuh bergetar. Ada rasa iba menyeruak di dalam hati Aruna menyaksikan kondisi kedua manusia di hadapannya itu. Namun saat ia teringat kejahatan yang mereka lakukan, Aruna pun menjadi marah.
" Kalian tau kesalahan Kalian kan...?" tanya raja ular itu.
" Iya Tuanku...," sahut Yusi dan pak Tuo bersamaan.
" Jadi Kalian harus siap menanggung resikonya bukan...?" tanya raja ular itu lagi.
" Tolong beri Saya kesempatan sekali lagi Tuanku. Saya janji akan memberikan yang terbaik...," pinta Yusi sambil menundukkan wajahnya.
" Kesempatan sekali lagi ?. Hmm, nampaknya Kamu belum paham Yusi. Kamu adalah kesempatan kedua yang Aku berikan pada si Tuo. Dan itu artinya tak ada kesempatan lagi untuk Kalian berdua...!" kata raja ular itu lantang.
" Apa maksudnya Tuanku...?" tanya Yusi tak mengerti.
" Tuo sudah pernah melanggar janji dan Aku hampir menghukumnya. Lalu ia meminta kesempatan kedua dan Aku memberikannya kesempatan itu. Dan di kesempatan kedua itu lah Tuo membawamu serta menjadi abdi setiaku. Kini Tuo lagi-lagi membuat kesalahan, apakah Aku terlihat masih akan memberinya kesempatan...?" tanya raja ular itu dengan sinis hingga membuat Yusi terkejut bukan kepalang.
Yusi menoleh kearah pak Tuo lalu mulai menyerangnya hingga kembali terjadi pertempuran sengit diantara keduanya. Ular besar itu nampak tersenyum melihat dua abdi setianya saling menyakiti.
Beberapa saat kemudian Yusi dan pak Tuo terkapar di tanah dengan kondisi tubuh lebih mengenaskan dari sebelumnya.
Kedua mata Yusi dan pak Tuo nampak membelalak dan wajah mereka mengelam saat mereka menyadari kehadiran pasukan ular di sekitar mereka. Sebagian berwujud ular, sebagian lainnya berwujud mirip raja mereka yaitu bertubuh ular dan berkepala manusia.
__ADS_1
Suara desisan ular dalam jumlah banyak itu seolah menjadi lagu pengantar untuk Yusi dan pak Tuo menghadapi maut.
" Hukuman untuk orang yang melanggar kesepakatan sudah ditetapkan. Sekarang habisi mereka...!" titah raja ular lantang.
Yusi dan pak Tuo terlihat ketakutan saat pasukan ular mendekat kearah mereka. Keduanya berusaha melarikan diri walau hasilnya sia-sia.
Dua ekor ular berkepala manusia menghadang langkah Yusi dan pak Tuo lalu melilit tubuh mereka. Setelahnya kedua ular itu melemparkan tubuh Yusi dan pak Tuo ke udara. Jeritan terdengar bersamaan dengan mendaratnya tubuh Yusi dan pak Tuo ke tengah kumpulan pasukan ular.
Dari tempatnya berdiri Aruna bisa menyaksikan bagaimana tubuh Yusi dan pak Tuo menjadi bulan-bulanan pasukan ular.
Jika tubuh pak Tuo langsung dicabik oleh sabetan ekor ular dan gigitan ular, maka hal yang lebih mengenaskan terjadi pada Yusi. Ia dipaksa 'melayani' ular berkepala pria secara bergantian. Yusi menjerit hingga suaranya tak lagi terdengar.
Saat itu lah Yusi kembali teringat bagaimana ia dengan kejamnya menumbalkan Kemala, anak kandungnya sendiri, kepada iblis sembahannya itu.
Yusi juga teringat saat ia mengkhianati suaminya dan memilih pak Tuo sebagai selingkuhannya. Malam-malam panas yang dilaluinya bersama pak Tuo yang kadang dirasuki makhluk lain itu membuat air mata Yusi mengalir deras. Ia tersadar betapa rendahnya dia karena rela menyerahkan tubuhnya kepada pak Tuo dan iblis sembahannya itu.
Rasa sakit bukan kepalang dirasakan Yusi saat pasukan ular 'menyetu*uhinya secara bergantian dan terus menerus tanpa jeda. Dari area int*mnya mengalir darah segar namun para ular itu tak mau berhenti dan justru tambah beringas. Akhirnya Yusi meregang nyawa dalam kondisi tubuh dan area int*m penuh luka dan darah.
Arun nampak memalingkan wajahnya dan bersiap pergi dari tempat itu. Namun langkahnya terhenti saat raja ular bermahkota hitam itu berdiri menghadang langkahnya.
" Iya...," sahut Aruna tanpa takut.
" Selama ini Aku tak pernah membiarkan orang lain tau sesuatu tentang Kami. Tapi entah mengapa, melihatmu berdiri menyaksikan semuanya tak membuatku merasa terganggu. Siapa Kau sebenarnya...?" tanya raja ular itu.
" Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya kebetulan lewat di sini...," sahut Aruna berbohong hingga membuat sang raja ular tersenyum.
" Begitu kah, apa Kau pikir Aku akan percaya...?" tanya sang raja ular.
" Kau mau percaya atau ga itu bukan urusanku...," sahut Aruna hingga membuat raja ular tergelak.
" Aku suka caramu menghadapi orang asing. Baik lah. Kali ini Aku akan membiarkanmu pergi karena Kau tak terlibat dengan semua kekacauan ini...," kata raja ular.
" Apa Aku harus berterima kasih...?" tanya Aruna.
__ADS_1
" Ga perlu. Melihatmu menghormati proses hukum yang berjalan membuatku yakin jika Kau adalah orang baik. Pergi lah. Anak buahku akan mengantarmu turun...," kata raja ular sambil tersenyum.
" Baik. Terima kasih...," sahut Aruna sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di drpan dada.
" Sama-sama...," sahut raja ular lalu segera menepi seolah memberi Aruna jalan untuk lewat.
Aruna pun bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Dua ekor ular berkepala manusia yang merupakan pengawal sang raja ular nampak mengawal Aruna keluar dari tempat itu dengan hati-hati.
Selama perjalanan tak ada pembicaraan yang terjadi. Aruna tetap fokus dalam dzikirnya sambil tetap memasang sikap waspada. Sebab ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana dua makhluk jadi-jadian itu ikut menyetu*uhi Yusi dengan brutal tadi.
" Kami melakukannya bukan tanpa alasan Nona. Itu adalah karma yang harus dia terima sebagai bayaran atas apa yang telah ia lakukan. Jadi Kau tak perlu takut Kami akan memangsamu juga...," kata salah satu ular itu seolah bisa membaca pikiran Aruna.
" Aku tau...," sahut Aruna cepat hingga membuat dua ular jadi-jadian itu saling menatap dan tersenyum.
" Baik lah, Kita sudah sampai...," kata salah satu ular kepada Aruna.
Aruna menoleh dan melihat jika kini ia telah kembali berada di area penginapan yang dipenuhi petugas polisi yang berlalu lalang. Meski pun begitu tak satu pun dari mereka menyadari kehadirannya.
" Tetima kasih...," kata Aruna sambil tersenyum tulus.
" Sama-sama. Kami pergi sekarang...," sahut dua ular jadi-jadian itu bersamaan.
Aruna menganggukkan kepalanya. Sesaat kemudian dua ular itu pun menghilang begitu saja tanpa bekas. Aruna nampak mengusap wajahnya sekali lalu membalikkan tubuhnya kearah lain dan melangkah mendekati kerumunan polisi yang sedang berjaga.
" Selamat siang Pak...," sapa Aruna.
" Selamat siang. Apa Anda menginap di sini juga...?" tanya salah seorang polisi keheranan melihat Aruna.
" Iya Pak. Saat keluar kamar Saya melihat banyak polisi di sini. Ada apa sebenernya Pak...?" tanya Aruna pura-pura tak tahu.
" Mari ikut Kami, di sini terlalu berbahaya untukmu...," kata salah seorang polisi.
" Baik Pak...," sahut Aruna lalu ikut melangkah keluar dari dalam penginapan.
__ADS_1
Dan di sana lah ia bertemu dengan Fadil, Agung dan Galang yang kemudian mengajaknya ke Rumah Sakit.
\=\=\=\=\=