Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
180. Wafat


__ADS_3

Kautsar nampak melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Di belakang Kautsar terlihat Aruna nampak meyandarkan kepala di punggung sang suami sambil memejamkan mata. Ada kegelisahan di wajahnya dan Kautsar tahu itu.


" Apa Kamu baik-baik aja Sayang...? " tanya Kautsar sambil menoleh kearah Aruna.


" Mmm..., iya...," sahut Aruna ragu.


" Kita mampir sebentar buat makan malam ya...," kata Kautsar.


" Ok. Terserah Kamu mau mampir dimana, Aku ikut aja...," sahut Aruna.


Kautsar tersenyum sambil menepuk lembut punggung tangan Aruna yang melingkar di perutnya. Tak lama kemudian Kautsar menghentikan motornya di depan sebuah rumah makan dan Aruna pun membuka matanya.


" Udah sampe...?" tanya Aruna.


" Iya. Kamu keliatan ga sehat. Sebaiknya Kita makan dulu baru lanjutin perjalanan...," sahut Kautsar.


" Iya...," sahut Aruna sambil melepaskan pelukannya di pinggang Kautsar


" Kuat jalan ga ?. Atau mau digendong...?" tanya Kautsar.


" Apaan sih Kamu. Aku kuat kok. Ayo masuk, udah lapar nih...," kata Aruna dengan wajah bersemu merah.


Melihat Aruna tersipu malu membuat Kautsar tertawa sedangkan Aruna bergegas masuk ke dalam rumah makan itu.


Mereka memilih duduk di sudut ruangan agar lebih leluasa bicara. Sambil menunggu pesanan Aruna pun membuka pesan yang masuk di ponselnya.


" Om George bertindak cepat...," gumam Aruna sambil tersenyum.


" Oh ya. Emang ada kabar apa...?" tanya Kautsar.


" Ada kabar duka. Bu Lian ditemukan meninggal di ruang sekretaris dua puluh menit yabg lalu...," sahut Aruna sambil memperlihatkan layar ponselnya.


" Oh ya. Siapa yang nemuin...?" tanya Kautsar sambil membaca pesan grup WA di ponsel Aruna.


" OB kantor yang kebetulan bersihin ruangan...," sahut Aruna sambil mengusap wajahnya.


Kautsar pun mengangguk. Tak lama kemudian pelayan rumah makan datang sambil meletakkan pesanan mereka di atas meja.


" Silakan Pak, Bu...," kata pelayan rumah makan itu dengan santun.

__ADS_1


" Makasih Mbak...," sahut Aruna dan Kautsar bersamaan.


Sang pelayan mengangguk sambil tersenyum lalu meninggalkan meja.


" Kalo Lian ditemukan meninggal, itu artinya Dian ga bisa memanfaatkan raganya lagi. Terus gimana nasib si Dian...?" tanya Kautsar.


" Aku ga tau...," sahut Aruna dengan enggan.


" Kok ga tau. Bukannya selama ini Kamu selalu tau...?" tanya Kautsar tak mengerti.


Aruna nampak menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan ŝang suami.


" Ruh Dian akan terus berkelana di muka bumi...," kata Aruna.


" Berkelana di bumi maksud Kamu mirip ruh yang gentayangan gitu...?" tanya Kautsar.


" Iya...," sahut Aruna sambil mengunyah makanannya.


" Kasian ya. Jadi ini yang bikin Kamu sedih daritadi...?" tanya Kautsar prihatin.


" Iya. Aku merasa bersalah karena ga bisa bantuin Dian. Aku juga sengaja ga kasih tau Dian kalo dia bisa aja masuk ke raga orang lain seperti yang dia lakuin ke Lian...," kata Aruna.


" Aku ga mau dia bikin dosa lain. Kalo suatu saat dia tau dari orang lain ya gapapa. Yang penting bukan Aku yang ngasih tau...," sahut Aruna lirih.


Kautsar tersenyum lalu memeluk Aruna dan mengecup kepala sang istri dengan sayang.


" Yang Kamu lakuin udah bener Sayang. Aku setuju Kamu ga ngasih tau dia karena andai Dian melakukan kejahatan dengan raga yang dia pinjam nanti, artinya Kamu juga turut andil menanggung dosanya...," kata Kautsar.


Mendengar ucapan bijak Kautsar membuat Aruna tersadar. Aruna yang semula nampak diliputi rasa bersalah itu kini tersenyum sambil mendongakkan wajahnya untuk menatap Kautsar.


" Kamu tau ga apa yang ingin Aku lakukan sekarang...?" tanya Aruna sambil mengamati wajah suaminya.


" Ga tau. Emang Kamu mau ngapain...?" tanya Kautsar sambil balas menatap Aruna.


" Aku mau cium Kamu sampe puas sambil bilang terima kasih Suamiku. Tapi sayangnya Aku ga mungkin ngelakuin itu di sini kan...," sahut Aruna gemas.


Kautsar tertawa keras mendengar jawaban Aruna. Kemudian ia kembali memeluk Aruna dan mencium keningnya.


" Biar Aku aja. Sama-sama Istriku Sayang...," kata Kautsar sambil tersenyum.

__ADS_1


Aruna pun tersenyum lalu sesaat kemudian ia mendorong tubuh Kautsar agar sedikit menjauh.


" Abisin makannya biar bisa lebih cepat sampe rumah...," bisik Aruna.


" Siap Bos...!" sahut Kautsar lantang karena mengerti apa yang dimaksud Aruna.


Aruna tertawa melihat sikap Kautsar. Dalam hati ia bersyukur karena memiliki suami sehebat Kautsar. Saat memikirkan itu Aruna teringat pesan Lian tadi.


" Aku lupa bilang kalo Lian titip salam terima kasih buat Kamu. Katanya Kamu itu Suami yang hebat..., " kata Aruna sambil menatap Kautsar.


" Alhamdulillah. Aku terima salamnya ya dan makasih pujiannya...," sahut Kautsar dengan mimik lucu hingga membuat Aruna kembali tertawa.


\=\=\=\=\=


Perusahaan tempat Aruna, Kenzo dan Ria magang pun terlihat berduka. Mereka merasa kehilangan sosok Lian yang ramah dan baik hati. Lian terkenal sebagai sekretaris yang hebat, tegas dan serius dalam bekerja.


Karenanya perusahaan mengadakan acara kirim doa bersama sebagai ungkapan duka atas kepergian Lian. Sesaat setelah jam bekerja dimulai semua karyawan berkumpul di lapangan untuk mendengarkan pengarahan dari pimpinan perusahaan. Dalam acara itu OB kantor juga dipersilakan memberi klarifikasi tentang penemuan jasad Lian di kantor.


OB kantor bernama Surip itu pun mulai menceritakan semuanya dari awal hingga akhir.


" Sekitar jam setengah enam sore Saya dan teman-teman mulai membersihkan semua ruangan. Saya sendiri kebagian di lantai paling atas. Saya mulai dari tempat menerima tamu yang ada di depan meja receptionist. Saya sempet berhenti sebentar untuk sholat Maghrib di ruangan itu. Setelahnya Saya lanjut bersih-bersih lagi. Pas Saya buka ruangan sekretaris, Saya ngeliat Bu Lian terbujur di dekat meja dalam posisi tengkurap. Saat itu Saya tau kalo udah terjadi sesuatu yang buruk sama Bu Lian. Karena khawatir disalahkan, Saya nelephon security. Dua orang security datang dan langsung ngecek kondisi Bu Lian. Ternyata saat itu Bu Lian udah meninggal dunia. Pas Ambulans datang, katanya Bu Lian udah meninggal dunia lebih dari satu jam yang lalu...," kata Surip sambil menundukkan wajahnya.


Suara kasak kusuk seluruh karyawan terdengar menggema di lapangan. Sebagian tak percaya jika Lian meninggal dunia karena sebelumnya mereka masih bertegur sapa. Sebagian lain membicarakan sikap Lian yang dirasa cukup berbeda belakangan ini dan mereka menganggapnya sebagai 'pertanda' menjelang kematiannya.


Kenzo, Ria dan Aruna nampak terdiam sambil saling menatap. Ria dan Kenzo menyadari ada sesuatu namun mereka tak ingin membahasnya saat itu.


Aruna terdiam karena merasa acara kirim doa yang dilakukan perusahaan adalah sebuah tindakan yang tepat karena saat ini doa lah dibutuhkan Lian. Aruna menoleh saat seorang karyawati mengacungkan jarinya untuk bertanya.


" Maaf Pak. Terus Bu Lian dimakamin dimana Pak...?" tanya salah seorang karyawati.


" Karena Bu Lian ga punya keluarga. Maka perusahaan akan mengurus pemakamannya. Semua biaya yang diperlukan dalam acara pemakamannya nanti juga akan ditanggung perusahaan...," sahut sang pimpinan bernama Hasby itu.


Jawaban sang pimpinan perusahaan membuat para karyawan merespon dengan cepat. Sebagian besar mendukung kebijakan perusahaan.


Di saat lapangan dipenuhi suara menggema, Aruna melihat ruh Dian sedang berdiri di belakang Hasby. Tatapannya terpaku pada sosok pria yang diam-diam telah menarik hatinya itu dengan tatapan sedih.


Aruna mengalihkan tatapannya kearah lain karena tak ingin kembali sedih. Aruna tahu jika Dian telah jatuh hati pada sang pimpinan perusahaan jauh sebelum ia mengambil alih raga Lian.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2