Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
39. Sebelum Lulus


__ADS_3

Hari itu SMA tempat Aruna bersekolah tengah mengadakan acara perpisahan untuk siswa kelas tiga. Seluruh siswa diminta hadir untuk mengikuti upacara pelepasan peserta didik yang telah menyelesaikan pendidikan di sekolah itu.


Siswa kelas tiga yang lulus dengan nilai terbaik dan ada dalam peringkat lima besar di sekolah diminta maju ke depan untuk menerima penghargaan dari kepala sekolah. Diantara kelima siswa berprestasi itu terdapat Kautsar yang menduduki peringkat pertama.


Saat Kautsar maju ke depan, sorak sorai dari kaum hawa pun terdengar hingga membuat semua orang termasuk guru-guru tertawa.


“ Kautsar..., I love You...!” kata salah seorang siswi sambil melambaikan tangannya.


Ulah sisiwi itu membuat suasana makin heboh dan dipenuhi tawa. Di depan sana Kautsar hanya tersenyum kearah siswi yang menyatakan cintanya tadi. Meski hanya senyum, tapi siswi tadi melompat sambil berteriak histeris karena merasa Kautsar merespon pernyataan cintanya.


“ Ngapain sih kaya gitu. Norak banget...,” gerutu Kalisha.


“ Tau tuh, malu-maluin aja. Ga harus seheboh gitu juga kali...,” sahut Adriana sambil mencibir.


“ Namanya juga cinta. Mungkin dia udah lama memendam perasaan dan baru kali ini bisa diungkapin. Kapan lagi bisa nyatain cinta, kan setelah ini mereka udah cabut dari sini...,” kata Aruna menengahi.


“ Tapi Kautsar itu emang ganteng sih, ga salah juga kalo cewek-cewek tertarik sama dia...,” kata Adriana.


“ Masa sih, kata Gue kok biasa aja ya. Jutek gitu, apanya yang menarik...,” gumam Aruna sambil melengos.


Di depan sana kelima sisiwa berprestasi itu menerima piagam penghargaan. Tepuk tangan pun terdengar dan Kaustar diminta maju untuk memberi sambutan. Dari tempatnya berdiri Kautsar melayangkan tatapannya ke barisan kelas satu dan melihat Aruna di sana.


“ Eh, Kautsar ngeliat ke sini...!” kata Adriana tiba-tiba.


“ Biarin aja sih, kan dia punya mata...,” sahut Kalisha ketus.


“ Maksud Gue, itu artinya ada salah satu cewek di kelas Kita yang menarik perhatiannya...,” kata Adriana salah tingkah.


Ucapan Adriana membuat Aruna menoleh dan tak sengaja menatap Kautsar. Untuk sesaat tatapan keduanya bertemu namun Aruna segera memalingkan wajahnya dengan kesal. Sedangkan Kautsar nampak tersenyum melihat sikap Aruna.


“ Alhamdulillah akhirnya Gue bisa bebas dan ga perlu ngawasin cewek itu lagi. Seneng tapi sedih juga...,” batin Kautsar lalu melangkah kembali ke barisannya usai memberi sambutan singkat.


Dan setelah hari itu Aruna dan Kautsar tak pernah bertemu lagi. Kautsar memilih melanjutkan pendidikan di Malang Jawa Timur sedangkan Aruna disibukkan dengan kegiatan sekolah.


\=====


Dua tahun belakangan hubungan Aruna, Kalisha dan Adriana pun terjalin kian erat. Tiga pribadi yang berbeda membuat ketiganya kerap ribut hanya karena hal sepele. Bagus sang ketua kelas lah yang menjadi penengah.

__ADS_1


Kalisha yang jutek, Adriana yang curigaan dan Aruna yang cuek. Tiga pribadi yang berbeda itu membuat ketiganya kerap ribut hanya karena hal sepele. Bagus sang ketua kelas lah yang menjadi penengah untuk meredakan pertengkaran mereka seperti kali ini.


“ Lo mau lanjut kuliah dimana Run...?” tanya Adriana.


“ Ga tau, masih lama ngapain dibahas sekarang sih...,” sahut Aruna.


“ Eh, Kita udah kelas tiga. Masa iya ga punya ancang-ancang mau lanjut kemana, kerja, kursus atau kuliah. Kalo Gue sih mau kuliah aja...,” kata Adriana.


“ Emang Lo yakin bakal masuk Universitas Negeri, kan nilai Lo jelek semua Dri...,” kata Kalisha.


“ Eh, sia*an Lo. Ga semua ya, masih ada seni dan olah raga yang lumayan bagus...,” sahut Adriana tak terima.


“ Iya, tapi itu bukan mata pelajaran utama yang bakal ditest waktu mau masuk kuliah Dri...,” sela Aruna.


“ Maksud Lo berdua, Gue ga bakal bisa kuliah di kampus Negeri gitu...?!” tanya Adriana sambil berkacak pinggang.


“ Bukan gitu Dri. Gue sama Aruna cuma mau ngingetin Lo supaya ga ketinggian kalo mimpi. Ntar kalo jatoh sakit lho...,” sahut Kalisha santai yang diangguki Aruna.


Ucapan Kalisha membuat Adriana meradang. Bisa ditebak endingnya. Adriana marah dan mulai memaki Aruna dan Kalisha sambil berkacak pinggang. Bagus pun maju untuk melerai.


“ Udah Dri, duduk sana...,” kata Bagus.


“ Tapi yang mereka bilang bener Dri. Test masuk perguruan tinggi tuh jarang yang ada test menyanyi sama tanding volly...,” sahut Bagus yang paham jika Adriana mendapat nilai tinggi di dua bidang yang disebutnya tadi.


“ Oh, jadi Lo juga mau ngebully Gue Gus...?!” tanya Adriana lantang.


“ Ga kok. Ntar aja dilanjutin marahnya ya Dri, Bu Eka udah masuk tuh...,” kata Bagus sambil menunjuk ke depan kelas.


Adriana menoleh lalu bergegas duduk dengan wajah merah padam karena malu. Bu Eka dan seluruh teman sekelas pun tertawa melihat tingkah Adriana. Sedangkan Aruna dan Kalisha tampak adu toast saat melihat Adriana mati kutu.


“ Sudah marahnya Adriana...?” tanya bu Eka sambil tersenyum.


“ Udah Bu...,” sahut Adriana malu-malu.


“ Kebetulan Ibu juga bawa pengumuman penting untuk Kalian. Ada dua kampus swasta yang menawarkan bea siswa bagi siswa sisiwi yang berprestasi dalam bidang apa pun, termasuk seni dan olah raga. Jadi semua bisa mendaftar dan ikut test asal memiliki prestasi di bidang tertentu. Kalo berminat, Kamu juga boleh mendaftar Adriana...,” kata bu Eka.


“ Saya mau Bu. Tapi bea siswa itu sampe Kita lulus atau hanya setahun pertama Bu...?” tanya Adriana.

__ADS_1


“ Untuk setahun pertama dulu, nanti Kalian akan diseleksi lagi saat kenaikan tingkat. Jika nilai akademik Kalian bagus, insya Allah Kalian bisa terus mendapat bea siswa selama kuliah di sana...,” sahut bu Eka hingga membuat suasana dalam kelas menjadi ramai.


“ Wah, Kita ikutan daftar yuk Run...,” kata Kalisha.


“ Emangnya Lo punya prestasi apa Kal...?” tanya Aruna tak mengerti.


“ Gue bisa sulap...,” sahut Kalisha asal hingga membuat Aruna dan Adriana tertawa.


“ Ga usah ngada-ngada Kal, mana bisa gara-gara sulap dapat bea siswa...,” sela Adriana.


“ Kok ketawa sih. Kan tadi Bu Eka bilang semua yang berprestasi dalam bidang apa pun bisa daftar...,” kata Kalisha kesal.


“ Oh iya. Coba aja lah, siapa tau bisa masuk...,” sahut Aruna mencoba menenangkan Kalisha.


Kemudian ketiganya maju ke depan untuk mendaftarkan diri kepada bu Eka seperti teman mereka lainnya.


Di sudut kelas terlihat sosok siswi yang menunduk sedih karena tak bisa sebahagia teman lainnya. Aruna mendekati gadis itu lalu duduk di sampingnya. la mencoba menghibur hantu siswi yang mendiami kelas selama ini.


“ Kenapa sedih, inget jaman dulu ya...?” tanya Aruna setengah berbisik.


“ Iya. Aku juga dulu kaya Kalian, bahagia saat deket lulus-lulusan...,” sahut hantu bernama Mela itu.


" Tapi kebahagiaan itu sirna karena maut keburu datang menjemput...," potong Aruna sedih.


" Iya...," sahut hantu Mela lirih.


“ Terus sampe kapan Kamu mau bertahan di sini...?” tanya Aruna.


“ Sampe dia datang menepati janjinya...,” sahut hantu Mela.


“ Kenapa ga pergi aja sih Mel, insya Allah Aku bisa bantu Kamu kok...,” kata Aruna menawarkan diri.


“ Iya Aruna, Aku mau. Tapi tunggu sebentar lagi ya...,” pinta hantu Mela sambil mendongakkan wajahnya untuk menatap Aruna.


“ Jangan lama-lama ya Mel. Aku ga bakal bisa bantu Kamu kalo udah lulus dari sini...,” kata Aruna.


“ Iya, makasih Aruna...,” sahut hantu Mela sambil tersenyum.

__ADS_1


Aruna mengangguk sambil menatap hantu Mela yang memiliki luka di wajahnya itu dengan tatapan iba. Aruna ingat saat pertama kali bertemu hantu Mela ia menjerit karena terkejut melihat penampilannya yang cukup menyeramkan.


Bersambung


__ADS_2