
Setelah menunggu dalam ketegangan, akhirnya Aruna mengeluarkan suara.
" Kayanya mereka udah mulai ritualnya. Kita bisa mulai sekarang, ayo dobrak pintunya guys...," pinta Aruna.
" Ok...," sahut Agung dan Galang bersamaan sambil bersiap mendobrak pintu.
Namun saat Galang menyentuh pintu, tiba-tiba pintu itu terbuka dengan sendirinya. Aruna dan keempat temannya saling menatap bingung.
" Pintunya ga dikunci Run, gimana nih...?" tanya Galang.
" Itu bagus, Kita ga perlu ngeluarin tenaga buat ngedobrak pintu itu...," sahut Aruna.
" Tapi ini mencurigakan Run. Bisa aja ini jebakan...," kata Agung.
" Percaya deh sama Gue. Sekarang Kita keluar dari sini. Ayo cepetan...," ajak Aruna sambil mengendap-endap keluar dari dalam ruangan diikuti keempat temannya.
" Terus Kenzo gimana Run...?" tanya Ria sambil menoleh ke belakang.
" Itu urusan Gue. Yang penting Kita keluar dulu sekarang...," sahut Aruna.
Aruna dan keempat temannya berjalan cepat menyusuri lorong. Seperti dugaan Aruna, saat itu tak ada seorang pun terlihat di dalam bangunan itu. Nampaknya semua karyawan sibuk memenuhi perintah Yusi.
" Itu pintunya...!" kata Fadil setengah berteriak.
" Iya...," sahut Aruna dan ketiga temannya.
" Alhamdulillah Kita sampe juga...," kata Ria dengan nafas terengah-engah.
" Kalian langsung lari jauh dari sini dan jangan nengok lagi ke belakang ya...," kata Aruna sambil mendorong keempat temannya keluar pintu lalu mengunci pintu dari dalam.
Fadil, Galang, Agung dan Ria terkejut dengan tindakan Aruna. Mereka tak menyangka jika Aruna akan berbuat nekad. Agung yang sejatinya masih mencintai Aruna pun nampak marah dan kembali hendak mengejar Aruna namun dihalangi oleh Fadil dan Galang.
" Jangan nambah masalah baru Gung. Kita ikutin aja permintaan Aruna...," kata Galang.
" Kalian nih pengecut banget sih. Ga malu ya ngebiarin Aruna berjuang sendirian. Dia tuh cewek bukan cowok kaya Kita...!" kata Agung marah.
" Tapi Aruna bukan cewek biasa Gung...," sahut Fadil cepat hingga membuat Agung tersadar.
" Kalo Kita emang mau bantuin Aruna, sekarang Kita keluar dari sini. Jangan jadi beban baru buat dia. Biarkan Aruna fokus membantu Kenzo...," kata Galang sambil menatap Agung lekat.
" Ayo dong guys, udahan belom ributnya. Gue takut banget nih...," kata Ria tiba-tiba.
__ADS_1
Fadil, Agung dan Galang menoleh kearah Ria. Mereka sadar jika masih punya tanggung jawab membawa Ria keluar dari tempat itu hidup-hidup.
" Ayo Ri...," kata Fadil sambil menggamit tangan Ria dan membawanya berlari keluar dari area penginapan itu diikuti Galang dan Agung.
\=\=\=\=\=
Kautsar sedang menatap layar lap topnya saat ia teringat Aruna. Untuk sesaat Kautsar memejamkan mata karena harus menepi sebentar dari rasa rindunya kepada Aruna.
" Baru dua hari ga bareng Aruna rasanya gini amat sih...," batin Kautsar sambil meraih gelas berisi air.
Setelah meneguk isinya, Kautsar pun kembali berniat meneruskan pekerjaannya. Namun entah mengapa gelas yang ada di mejanya itu terjatuh ke lantai hingga hancur berkeping-keping.
Kautsar nampak mematung sejenak lalu segera meraih ponselnya karena mendadak rasa cemas menghantui dirinya. Ia mendial nama Aruna di ponselnya itu. Setelah menunggu beberapa saat tapi tak ada respon dari Aruna hingga membuat Kautsar cemas.
Kemudian Kautsar mencoba menghubungi Agung dan tersambung.
" Assalamualaikum Gung. Aruna sama Lo ga ?. Kok Gue telphon ga diangkat yaa...?" tanya Kautsar.
" Wa alaikumsalam. Aruna ga sama Gue Tsar. Dia ada di dalam penginapan...," sahut Agung.
" Kalian misah...?" tanya Kautsar tak mengerti.
" Maksud Lo apaan Gung. Apa ada masalah di sana...?!" tanya Kautsar sambil berdiri dari posisi duduknya.
Galang yang mendengar Agung keceplosan bicara langsung meraih ponsel Agung.
" Hallo Tsar, Galang nih...," kata Galang.
" Tolong jujur sama Gue Lang. Mana Aruna, kenapa Kalian ninggalin dia di dalam sana sendirian...?" tanya Kautsar.
" Aruna ga sendirian Tsar. Dia sama Kenzo...," sahut Galang.
" Kenzo, bukannya dia seharusnya sama Ria...?" tanya Kautsar tak mengerti.
" Ada sedikit masalah, tapi Lo tau kan gimana keras kepalanya Istri Lo itu. Sekarang Gue harus cabut. Please jangan telephon dulu, ntar biar Aruna jelasin semuanya sama Lo langsung ya...," pinta Galang lalu mengakhiri pembicaraan mereka.
" Gimana Lang. Kautsar pasti marah banget ya...?" tanya Agung.
" Wajar lah Gung. Aruna kan istrinya. Sebaiknya jangan cerita apa pun dulu sama Kautsar. Tunggu semua kondusif baru ceritain...," kata Galang sambil mengembalikan ponsel milik Agung.
" Terus sekarang Kita mau kemana...?" tanya Ria.
__ADS_1
" Kita lapor Polisi...," sahut Galang dan Agung bersamaan.
" Setuju...!" sahut Fadil dan Ria.
" Kalo gitu Kita cabut sekarang. Jangan berpencar lagi biar ga susah nanti...," kata Galang yang diangguki ketiga temannya.
Kemudian keempat teman Aruna itu pun bergegas meninggalkan penginapan menuju kantor Polisi terdekat. Mereka langsung membuat laporan yang kemudian segera ditindak lanjuti oleh pihak kepolisian.
\=\=\=\=\=
Waktu terasa cepat untuk Aruna dan Kenzo yang terperangkap di dalam penginapan itu.
Setelah mengantar keempat temannya keluar, Aruna kembali ke tempat dimana Kenzo terjebak.
Aruna mengira para karyawan Yusi tengah sibuk menemani 'tuannya'. Namun sayangnya dugaan Aruna salah.
Setelah memastikan Yusi baik-baik saja, dua karyawan pria bertubuh besar dan berwajah sangar nampak berpatroli di dalam penginapan yang sengaja ditutup sementara waktu itu.
Mereka bermaksud melihat aksi Zaldi dan Amar dalam melakukan 'pembersihan' tawanan. Saat mereka hendak masuk ke ruang makan mereka berpapasan dengan Aruna dan itu membuat mereka terkejut.
" Eh, kok cewek ini bebas berkeliaran di sini Bro. Bukannya dia ada di dalam kamar di samping kamar rahasia ya...?" tanya salah seorang karyawan bernama Ferdi.
" Iya. Jangan-jangan dia kabur nih. Ayo Kita tangkap sebelum Bos marah sama Kita...," ajak Coleng yang merupakan ajudan utama Yusi.
" Ok...," sahut Ferdi.
Lalu keduanya mulai mengejar Aruna yang lari ke bagian dalam penginapan. Aruna berlari tak tentu arah. Baginya yang penting adalah bisa selamat dari kejaran Ferdi dan Coleng.
Pelarian Aruna berakhir di sebuah tempat yang terletak di sudut taman belakang penginapan. Aruna melihat sebuah bangunan kecil yang memilik pintu dan jendela. Bentuknya menyerupai gudang dan Aruna bergegas masuk ke dalamnya.
Aruna menahan nafas saat melihat bagian dalam bangunan. Banyak tulang belulang berserakan di lantai dan Aruna yakin jika itu adalah tulang belulang manusia yang telah menjadi korban ilmu sesat yang dianut Yusi dan anak buahnya.
Aruna terpaksa sembunyi di dalam bangunan itu karena Coleng dan Ferdi terus mengejarnya. Dari balik gorden jendela Aruna bisa melihat Coleng dan Ferdi kebingungan mencarinya.
" Kita cari di dalam Bro, siapa tau cewek itu di sana...," kata Ferdi sambil melangkah mendekati bangunan dimana Aruna sembunyi.
" Ga usah Fer. Kita aja mikir seribu kali kalo mau masuk ke sana, apalagi dia. Gue jamin dia ga bakal berani ngumpet di sana...," kata Coleng.
Ferdi nampak berpikir sejenak kemudian mengangguk. Ia pun urung mengecek ke dalam bangunan dan memilih pergi mengikuti Coleng.
\=\=\=\=\=
__ADS_1