Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
147. Terkejut


__ADS_3

Setelah pertemuan dengan kedua mertuanya Nina terlihat makin semangat menjalani kehamilannya. Ia merasa kehadirannya dan calon anaknya diterima dengan tangan terbuka dan itu membuatnya bahagia.


Semula Nina mengira Elan sengaja tak mau mempertemukan mereka. Nina menganggap dirinya tak sebanding dengan istri pertama suaminya itu hingga membuat Elan malu mempertemukan dia dengan kedua orangtuanya.


Tapi kegundahan Nina sirna dan kini ia bersiap menyambut kehadiran anak pertamanya.


Anak pertama Elan dan Nina lahir dengan selamat. Mereka memberi nama Kenzo, karena nama itulah yang telah disepakati Elan denga almarhumah istrinya dulu. Nina tak keberatan karena menurutnya nama itu bagus dan enak didengar.


" Kapan Kita ngabarin Ayah sama Mama...?" tanya Nina.


" Nanti setelah Kenzo berusia empat puluh hari...," sahut Elan sambil menimang buah hatinya.


" Kenapa lama banget sih. Kasian kan, mereka juga pasti mau menggendong cucu pertamanya ini...," kata Nina tak mengerti.


" Sayang, Kamu janji ga akan membantah kan...," sahut Elan mengingatkan sang istri.


" Iya iya. Terserah Kamu deh...," kata Nina sambil memalingkan wajahnya kearah lain.


Melihat istrinya merajuk membuat Elan tersenyum. Ia maju lalu mengecup kepala istrinya dengan sayang.


" Makasih Sayang. Aku lakukan ini demi Kamu dan anak Kita...," bisik Elan yang diangguki Nina.


\=\=\=\=\=


Edi mulai mencium gelagat aneh kedua orangtuanya. Dia sering memergoki kedua orangtuanya bicara sembunyi-sembunyi melalui telephon. Karena penasaran akhirnya Edi mencuri dengar percakapan mamanya yang ia yakini sedang bicara dengan kakaknya.


Namun saat mendengar sang mama menyebut nama Nina, Edi nampak menghela nafas lega.


" Iya Nin. Tolong jaga Kenzo baik-baik ya. Mama juga sayang sama Kalian...," kata mama Elan di akhir kalimatnya.


" Siapa yang telephon Ma...?" tanya Edi sambil keluar dari persembunyiannya.


" Astaghfirullah aladziim, Kamu ngagetin aja sih Ed...," kata sang mama sambil memegangi dadanya namun Edi nampak tak peduli.


" Mama ngomong sama siapa di telephon...?" tanya Edi lagi.


" Nina...," sahut mama Elan.


" Nina siapa...?" tanya Edi sambil mengerutkan keningnya.


" Anaknya temen Mama...," sahut sang mama sambil berlalu.


" Terus Kenzo siapa...?" tanya Edi penasaran.

__ADS_1


Mama Elan nampak menghentikan langkahnya karena terkejut dengan pertanyaan anaknya.


" Kamu nguping Ed ?. Sejak kapan Kamu jadi pengen tau urusan Mama...?" tanya sang mama tak suka.


" Mama kan tinggal jawab aja kenapa malah marah sih. Atau jangan-jangan ada yang Mama sembunyiin dari Aku...?" tanya Edi kesal.


" Terserah Kamu. Tapi Mama ga suka Kamu memata-matai Mama Ed. Mama bukan penjahat...!" kata sang mama sambil membanting pintu kamar.


Edi mengepalkan tangannya menahan amarah. Ia berniat mencari tahu siapa Nina dan Kenzo sebenarnya dan apa hubungan mereka dengan sang mama.


Kemudian secara diam-diam Edi mulai menguntit kedua orangtuanya kemana pun mereka pergi. Hal itu membuat Puri marah karena Edi jadi terlihat kacau.


" Tanya aja baik-baik kemana mereka pergi biar Kamu ga curiga Bang. Apa Kamu ga capek ngikutin mereka diam-diam. Kamu terlalu negatif thinking sampe ke mini market aja Kamu curiga...," kata Puri kesal.


" Diem bisa ga sih. Aku tau kalo Mama sama Ayah punya rahasia yang ga boleh Aku tau. Aku ga terima kalo mereka punya anak lain yang otomatis bakal mempersempit peluangku untuk mendapatkan dua per tiga kekayaan mereka...!" sahut Edi lantang.


" Selalu aja soal itu. Aku bosan Bang. Bisa kan Kita hidup normal kaya pasangan lain...," kata Puri.


" Bosan ?. Apa Aku ga salah denger. Kan dulu Kamu juga sama matrenya kaya Aku...," sahut Edi sinis hingga membuat Puri terdiam.


Mobil Edi pun melaju cepat mengekori mobil milik ayahnya yang ada di depan. Puri memilih diam sambil mengamati jalan di depannya karena lelah berdebat dengan suaminya.


Edi mengerutkan keningnya saat menyadari mereka memasuki sebuah tempat wisata yang dipenuhi wahana permainan anak.


Puri pun sigap mengikuti suaminya karena sama penasarannya dengan Edi.


Dari kejauhan Edi dan Puri bisa melihat ayah Elan sedang tertawa bahagia sambil menggendong batita berusia dua tahun. Di samping sang ayah terlihat sang mama sedang memeluk seorang wanita yang diyakini sebagai Nina.


" Itu mereka. Itu pasti Nina dan bayi itu Kenzo...," kata Edi geram.


" Siapa mereka Bang...?" tanya Puri.


" Itu lah yang bikin Aku penasaran. Siapa sih mereka sebenarnya...," sahut Edi.


" Eh, liat Bang. Itu bukannya Bang Elan...," kata Puri sambil menunjuk kearah seorang pria yang baru saja tiba sambil membawa beberapa helai tiket.


Mata Edi membulat saat melihat Elan datang sambil tertawa. Ia menggeram marah saat Elan memeluk Nina tanpa sungkan di depan kedua orangtua mereka.


" Jadi itu istrinya dan bayi itu pasti anaknya. Sia*an. Kita kalah Puri...!" kata Edi lantang.


Puri membisu. Bukan karena kecewa telah kalah bersaing dengan Elan dalam hal anak, tapi ia takut akan kemarahan suaminya yang di luar kendali itu.


Edi bersiap melangkah menghampiri keluarganya namun Puri mencegahnya.

__ADS_1


" Kenapa...?" tanya Edi.


" Jangan bikin ribut Bang. Malu. Banyak orang di sini...," kata Puri dengan wajah memelas.


" Aku cuma mau menyapa, kenapa harus malu...?" tanya Edi sinis lalu kembali melangkah.


Puri berlari kecil mengikuti langkah Edi. Saat tiba di belakang keluarganya yang tengah berbahagia itu Edi menghentikan langkahnya. Ia mencoba mengatur nafas agar suara yang keluar tak terdengar menakutkan.


" Oh, Kalian di sini juga...?" sapa Edi ramah.


Suara Edi yang ramah tak mampu menutupi kemarahannya hingga membuat Elan dan kedua orangtuanya terkejut. Mereka menoleh dan langsung membeku melihat kehadiran Edi dan Puri di sana.


" Apa kabar Bang...?" tanya Edi sambil mengulurkan tangannya.


" Alhamdulillah baik...," sahut Elan dengan enggan sambil menyambut uluran tangan Edi.


" Mereka siapa...?" tanya Edi sambil menatap Nina dan Kenzo yang berada di gendongan sang ayah.


" Kenalin ini Nina, istriku. Dan itu Kenzo, anakku...," sahut Elan sambil tersenyum bangga.


" Oh, hai Nina. Aku Edi, adiknya Bang Elan. Dan ini istriku Puri...," sapa Edi ramah sambil menjabat tangan Nina diikuti Puri.


" Salam kenal. Aku Nina...," sahut Nina dengan canggung.


Kemudian Puri mendekati ayah mertuanya yang sedang menggendong Kenzo.


" Berapa umur Kenzo sekarang Nin...?" tanya Puri sambil menyentuh jari mungil Kenzo.


" Dua tahun...," sahut Nina cepat hingga membuat Edi dan Puri terkejut lalu saling menatap penuh makna.


Melihat sikap Edi dan Puri membuat semua orang tak nyaman tapi Edi nampak tak peduli. Kemudian ia melirik kearah Kenzo yang saat itu juga tengah menatapnya.


" Hallo ganteng. Sini gendong sama Om yuk...," kata Edi sambil tersenyum ramah lalu meraih Kenzo dari gendongan sang ayah yang tak bisa berbuat apa-apa karena tak ingin membuat kekacauan.


Diam-diam Elan mengepalkan tangannya karena tak rela anaknya 'disentuh' oleh Edi. Nina yang menyadari sikap suaminya pun berusaha menenangkan sang suami dengan memeluk lengannya.


" Aku juga mau gendong Kenzo dong Bang...," rengek Puri tiba-tiba dan Edi pun langsung menyerahkan Kenzo tanpa mempedulikan tatapan tak suka Elan.


" Iya. Nih gendong, biar Kita juga bisa punya anak yang ganteng dan lucu kaya Kenzo...," sahut Edi sambil mencium pipi Kenzo dengan gemas.


Untuk sesaat suasana gembira yang mewarnai keluarga Elan berubah menjadi penuh ketegangan.


Elan merasa sesuatu yang buruk akan terjadi pada keluarganya setelah pertemuan tak terduga kali ini. Dalam hati Elan berdoa, berharap jika keluarganya selalu dilindungi oleh Allah dimana pun mereka berada.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2