
Saat turun dari motor Kautsar melihat suasana di dalam rumahnya terlihat tenang. Terlalu tenang seolah tak pernah terjadi apa pun di sana. Namun suasana tenang itu justru membuat Kautsar khawatir. Ia bergegas melangkah lalu membuka pintu.
Langkah Kautsar terhenti sejenak saat ia mencapai ruang tamu rumahnya. Sayup-sayup ia mendengar suara tawa Aruna. Kautsar memberanikan diri melangkah lebih jauh dan berhenti di ambang pintu ruang tengah. Ia melihat Aruna tengah berbaring di atas sofa dengan kepala berada di pangkuan Matilda. Di bawah sofa tampak Orion dan George duduk santai sambil menikmati secangkir kopi.
Semua orang menoleh kearah Kautsar dan tersenyum menyambut kehadirannya. Bahkan Aruna sigap bangkit dari posisinya semula lalu melangkah cepat kearah Kautsar. Tiba di hadapan Kautsar ia menghambur ke dalam pelukan sang suami sambil merengek manja.
" Kemana aja sih Kamu. Kenapa baru pulang...?" tanya Aruna.
Kautsar terpaku sesaat namun sedetik kemudian ia membalas pelukan Aruna dengan erat. Ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh sang istri seolah lama tak berjumpa.
Rupanya Kautsar terharu mendapati istrinya baik-baik saja. Ia juga melihat perut Aruna masih membuncit dan itu artinya bayinya aman. Perlahan Kautsar mengurai pelukannya lalu membungkuk di depan tubuh sang istri. Ia mencium perut Aruna sambil menyapa sang bayi.
" Assalamualaikum jagoan Ayah. Makasih udah bertahan di sana ya. Anak Ayah memang kuat, Ayah bangga sama Kamu...," bisik Kautsar sambil mengecup perut Aruna berkali-kali seolah sedang mengecup bayinya.
" Wa alaikumsalam, siap Ayah. Aku kan udah janji ga nakal di perut Bunda...," kata Aruna dengan suara anak kecil seolah mewakili bayinya bicara.
Semua orang tertawa mendengar ucapan Aruna. Kemudian Kautsar merengkuh bahu Aruna lalu membawanya kembali bergabung dengan Orion, George dan Matilda.
" Darimana Kamu Nak...?" tanya Matilda.
" Abis jalan-jalan aja Tante...," sahut Kautsar sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
" Oh ya, jalan-jalan kemana...?" tanya Matilda dengan tatapan menyelidik.
Kautsar menyadari semua mata terarah padanya. Sadar tak bisa berbohong, Kautsar pun menceritakan pengalamannya.
" Itu masjid di dimensi lain Nak...," kata Orion setelah Kautsar mengakhiri ceritanya.
" Kalo itu emang masjid di dimensi lain, terus yang ngobrol sama Aku siapa Yah...?" tanya Kautsar.
" Bisa jadi itu jin muslim. Kan Allah memang menciptakan semua yang ghaib dan yang nyata. Di alam ghaib atau dimensi lain itu kehidupan mereka sama seperti Kita. Sebagian dari mereka beragama layaknya manusia. Dan mereka juga punya tempat ibadah termasuk masjid yang Kamu singgahi tadi...," kata Orion.
" Gitu ya. Terus gimana sama ketiga pocong itu Yah...?" tanya Kautsar.
" Kalo mereka anggap aja makhluk nyasar yang penasaran ngeliat Kamu dan ingin menyapa Kamu...," sahut George cepat hingga membuat semua orang tertawa.
Sedangkan Kautsar nampak bergidik saat mengingat wujud asli tiga orang berpakaian security yang menyapanya tadi.
__ADS_1
" Sebaiknya Kalian istirahat, ini udah larut bahkan hampir pagi. Kami harus pergi sekarang...," kata George sambil menggamit tangan Matilda.
" Apa harus sekarang ?. Bisa kan Kalian pergi setelah Kita sarapan bareng di sini nanti...?" pinta Aruna.
" Maaf ga bisa Nak. Kami harus pergi secepatnya sebelum fajar...," sahut George.
Aruna pun mengerucutkan bibirnya karena kecewa mendengar jawaban George. Namun ia pun tak bisa berbuat apa-apa dan terpaksa merelakan tiga orang penting di hidupnya itu melesat pergi setelah memeluknya.
\=\=\=\=\=
Dokter Sheina baru saja membuka matanya. Rupanya ia tertidur karena kelelahan usai membantu salah satu pasiennya melahirkan beberapa jam yang lalu. Pasien yang merupakan istri Yoga, salah satu rekan Rasyid itu berhasil melahirkan anak keduanya secara normal.
Dokter Sheina meregangkan tubuhnya sebelum salah satu perawat mengetuk pintu. Ia tersenyum melihat perawat yang membantunya menyelesaikan tugasnya itu.
" Pagi dok...," sapa suster Ina.
" Pagi Sus...," sahut dokter Sheina sambil tersenyum.
" Saya bawakan kopi kesukaan dokter. Silakan diminum dok...," kata suster Ina sambil meletakkan segelas kopi di atas meja.
" Wah Kamu emang paling bisa nyenengin hati Saya. Makasih ya Suster Ina...," sahut dokter Sheina antusias sambil menghirup dalam-dalam aroma kopi favoritnya itu.
Ucapan suster Ina membuat sang dokter mengerutkan keningnya karena bingung.
" Insya Allah Saya ga akan berubah kok. Kenapa pagi-pagi Kamu ngomong kaya gini sih. Ada apa Sus...?" tanya dokter Sheina penuh selidik.
" Gapapa dok. Eh, lima menit lagi waktunya dokter ngecek pasien kan...?" kata suster Ina mengalihkan pembicaraan.
" Iya. Kalo gitu Saya cuci muka dulu sebentar...," sahut dokter Ina sambil melangkah menuju toilet.
Suster Ina mengangguk sambil menatap punggung sang dokter yang menjauh. Tak lama kemudian dokter Sheina keluar dari toilet dan bergegas menjalankan tugasnya diikuti suster Ina.
Lagi-lagi dokter Sheina bertemu dengan Raka di ruang rawat inap istri Yoga. Kali ini Raka terlihat santai meski pun kedua matanya tak lepas mengamati dokter Sheina saat mengecek kondisi pasiennya.
" Semuanya bagus. Kalo kondisi Ibu tetap stabil seperti ini, insya Allah besok sore Ibu boleh pulang bersama bayinya...," kata dokter Sheina.
" Alhamdulillah, makasih ya dok. Jujur Saya emang ga betah lama-lama di Rumah Sakit...," sahut istri Yoga.
__ADS_1
" Sama-sama Bu. Kalo gitu lanjutkan istirahatnya. Saya harus mengecek pasien lainnya...," kata dokter Sheina.
" Iya dok...," sahut istri Yoga lalu kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Raka mengejar dokter Sheina yang berjalan cepat seolah menghindar darinya.
" Aku dengar Rasyid udah dipindah ke kota Shei...!" kata Raka.
Dokter Sheina berhenti melangkah lalu menoleh kearah Raka.
" Kamu dapat kabar darimana...?" tanya dokter Sheina.
" Kamu ga lupa kan apa profesiku...?" tanya Raka sambil menepuk dadanya dengan bangga hingga membuat dokter Sheina memutar bola matanya dengan kesal.
" Iya, Aku tau. Rasyid juga bilang begitu sama Aku kemarin...," sahut dokter Sheina.
" Jadi Kalian udah saling nelephon. Tapi kenapa Rasyid nanyain kabar Kamu sama Aku ya...?" tanya Raka tak mengerti.
" Mana Aku tau...," sahut dokter Sheina cuek.
" Sebenernya Rasyid cemas karena khawatir Kamu terluka...," kata Raka.
" Terluka gimana maksudmu...?" tanya dokter Sheina.
" Semalam di sekitar Rumah Sakit ditemukan korban pembunuhan. Kondisinya mengenaskan. Lehernya terluka dan tubuhnya pucat membiru karena kehabisan darah. Kondisinya mirip lah sama kondisi mayat anak perempuan yang ditemukan di belakang toilet dulu. Sekarang PR Polisi bertambah karena harus menyelidiki penyebab kematian mereka...," kata Raka hingga membuat dokter Sheina terkejut.
Diam-diam dokter Sheina mengepalkan kedua tangannya karena tak nyaman dengan ucapan Raka.
" Terus Rasyid tau darimana tentang penemuan mayat itu...?" tanya dokter Sheina.
" Aku ga sengaja cerita itu sama Rasyid dan dia langsung khawatir sama Kamu. Kamu kan calon Istrinya Rasyid, jadi Aku punya kewajiban ngingetin supaya Kamu berhati-hati karena di luar sana ada pembunuh berdarah dingin yang sedang berkeliaran mencari mangsa...," kata Raka.
" Makasih udah ngingetin. Aku janji bakal berhati-hati. Sekarang boleh kan Aku melanjutkan tugasku...?" tanya dokter Sheina.
" Oh tentu, silakan...," sahut Raka sambil menepi.
Dokter Sheina tersenyum lalu melangkah cepat menuju ruang rawat inap pasiennya.
__ADS_1
Raka nampak melepas kepergian sang dokter sambil tersenyum penuh makna. Rupanya Raka tahu jika saat ini Rasyid sedang dalam perjalanan kembali dari tugasnya. Rasyid sengaja ingin memberi kejutan pada sang kekasih dengan pulang tanpa pemberitahuan.
bersambung