
Tiba di rumah Aruna langsung membersihkan diri dan naik ke atas tempat tidur. Tak lama kemudian Aruna pun terlelap. Namun saat dini hari tidur Aruna terusik oleh kedatangan George dan Matilda. Aruna menyambut senang kehadiran mereka karena ia bermaksud membantu Komar, si hantu kepala buntung, sekaligus mengetahui masa lalu Kalisha.
“ Jadi siapa sebenernya Kalisha itu Om...?” tanya Aruna.
“ Kalisha adalah anak manusia serigala juga sama sepertimu Aruna. Komar menikahi ibu Kalisha saat Kalisha masih berada di dalam kandungan...,” sahut George.
“ Jadi Pak Komar itu bukan Ayah kandung Kalisha Om...?” tanya Aruna.
“ Bukan. Tapi Komar sangat menyayangi Kalisha seperti putri kandungnya demikian pula dengan Kalisha. Ibu Kalisha pergi setelah melahirkan Kalisha, itu sebabnya Kalisha hanya punya Komar sebagai Ayah...,” sahut George.
“ Dan Kalisha sangat terpukul saat mengetahui Ayahnya mati di tangannya tanpa ia sadari...,” kata Aruna prihatin.
“ Betul...,” sahut George.
“ Aku ingin membantu Pak Komar dan Kalisha Om. Apa boleh...?” tanya Aruna.
“ Tentu saja. Tapi tetap rahasiakan jati dirimu sebagai keturunan manusia serigala dari Kalisha ya Nak...,” sahut George.
“ Lho, kenapa Om. Bukannya sesama manusia serigala Kami juga punya kepekaan yang sama...?” tanya Aruna tak
mengerti.
George dan Matilda saling menatap sejenak lalu menggelengkan kepalanya.
“ Bersyukur lah karena hingga saat ini Kalisha belum punya kemampuan itu Aruna. Merahasiakan siapa dirimu juga demi keamananmu sendiri, karena Kita belum tau di pihak mana Kalisha berada...,” sahut George yang diangguki Aruna.
Dan di hari yang telah ditentukan Aruna pun datang ke tempat dimana pertama kali ia bertemu hantu Komar. Malam itu Aruna juga meminta Kalisha datang dan gadis itu pun setuju.
“ Maaf Gue terlambat Aruna...,” kata Kalisha saat tiba di halte yang dimaksud.
“ Gapapa. Lo naik apa ke sini...?” tanya Aruna sambil melirik jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul sebelas lewat sepuluh menit.
“ Taxi. Gue ga mau ada yang ngeliat Gue terus ngikutin Gue. Lo kan tau kalo banyak orang yang ga suka sama Gue dan mencoba mencari ‘bahan’ untuk membully Gue di sekolah...,” sahut Kalisha.
“ Ga usah pikirin itu Kalisha. Berubah lah lebih care sama orang lain, insya Allah itu akan membuat kebencian mereka perlahan sirna...,” kata Aruna.
“ Kalo ga berhasil juga gimana. Bukannya itu namanya sia-sia...?” tanya Kalisha dengan enggan.
“ Cuekin aja. Karena orang yang membenci Kita selalu menilai Kita jelek meski pun kebaikan yang Kita lakukan udah setinggi gunung. Tapi jangan lupa kalo Allah itu ga tidur dan Maha Melihat. Jadi Kita berharap pahala dari Allah aja daripada capek mengharap pujian dari orang lain...,” sahut Aruna santai.
__ADS_1
“ Gue ga nyangka kalo Lo sebijak ini Run...,” kata Kalisha kagum.
“ Hush, ga usah muji. Itu juga Gue dapat ga gampang Kal. Gue juga pernah ngalamin apa yang Lo rasain sekarang.
Terintimidasi, ditinggalin, ga dianggap sama teman-teman di SMP dulu. Walau pun Gue udah berusaha baik hasilnya ga sesuai harapan juga. Kata Guru Gue, Gue harus pasrahin semuanya sama Allah dan akhirnya Gue bisa bangkit tanpa capek mikirin penilaian mereka...,” sahut Aruna sambil tersenyum.
“ Ok, Gue bakal ikutin cara Lo deh. Terus Kita di sini mau ngapain Run...?” tanya Kalisha.
“ Ada yang mau ketemu sama Lo Kal...,” sahut Aruna.
“ Siapa...?” tanya Kalisha sambil memandang sekelilingnya dan tak menjumpai siapa pun di sana selain dia dan Aruna.
“ Pak Komar...,” sahut Aruna sambil menunjuk kearah pria yang duduk menunduk di ujung halte.
Kalisha terkejut lalu membulatkan matanya karena yakin tak ada siapa pun di sana tadi. Saat hantu Komar mengangkat kepalanya perlahan dan tatapan mereka bertemu, Kalisha pun menangis.
“ Bapaaak...,” panggil Kalisha sambil melangkah cepat menghampiri Komar.
Saat kedua tangan Kalisha terulur untuk memeluk ayahnya, Kalisha terkejut karena kedua tangannya bisa menembus tubuh Komar. Aruna yang mengerti pun memberi penjelasan kepada Kalisha.
“ Bapak Lo itu hanya arwah Kal. Dia bisa diliat tapi ga bisa disentuh...,” kata Aruna hingga membuat Kalisha tak berdaya.
“ Bapak..., Bapak kemana aja. Bapak tau kan kalo Aku ga bisa hidup tanpa Bapak. Terus kenapa Bapak pergi...?” tanya Kalisha dengan suara bergetar.
“ Bapak ga mau pergi, tapi Bapak harus pergi Nak...,” sahut hantu Komar hingga membuat Kalisha menangis.
“ Aku tau ini pasti gara-gara Aku kan. Andai Aku ga membunuh Bapak, pasti sekarang Bapak masih di sini sama Aku...,” kata Kalisha sambil menangis.
“ Gapapa Nak, jangan nangis lagi ya. Ini bukan salahmu...,” sahut hantu Komar sambil tersenyum pilu.
“ Aku ga tau kalo orang itu Bapak. Semua gelap dan ga terkendali. Kekuatan aneh itu memaksa Aku mengejar Bapak. Maafin Aku Pak, maaf. Pasti Bapak kesakitan ya saat Bapak harus terluka karena ulahku. Sekali lagi maafin Aku ya Pak...,” rintih Kalisha lalu jatuh terduduk.
“ Bapak seneng karena bisa menghilangkan dahagamu itu Kalisha. Bapak hanya ingin melihatmu bahagia, jangan sesali semuanya. Bapak ikhlas Kalisha. Karena itu Bapak mau Kamu juga ikhlasin kepergian Bapak ya. Biar pun jasad Bapak ga bisa dikubur dengan layak, tapi Bapak ingin Kamu mendoakan Bapak supaya Bapak bisa kembali kepada Allah dengan tenang...,” kata hantu Komar dengan suara bergetar.
“ Tapi gimana caranya Pak, Aku ga tau...,” sahut Kalisha.
“ Insya Allah Gue bakal bantuin Lo Kal...,” kata Aruna sambil menyentuh pundak Kalisha.
“ Lo...?” tanya Kalisha tak percaya.
__ADS_1
“ Gue dibantuin sama Guru Gue. Tapi saat ini beliau ga ada di sini. Beliau akan membantu dari rumah dan Kita bisa mengantar Bapak Lo pergi di sini sekarang...,” sahut Aruna.
Kalisha menoleh kearah Komar untuk meminta pendapat sang ayah dan hantu pria itu menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Kemudian Aruna mengajak Kalisha ke tanah kosong di belakang halte. Hantu Komar pun melayang mengikuti keduanya. Setelahnya Aruna membaca beberapa ayat Al Qur’an dan berdoa sedangkan Kalisha membantu dengan cara membaca dzikir sesuai arahan Aruna.
“ Sekarang Bapak bisa pergi...,” kata Aruna sambil menatap hantu Komar.
“ Baik Aruna. Terima kasih telah membantu mempertemukanku dengan Anakku dan menghilangkan kesalah pahaman diantara Kami...,” sahut hantu Komar yang diangguki Aruna.
“ Selamat jalan Bapak, Aku akan baik-baik aja di sini. Sekali lagi maafin Aku ya Pak...,” kata Kalisha di sela isak tangisnya.
“ Iya Nak. Bapak sayang Kamu Kalisha...,” sahut hantu Komar sedih.
" Aku juga sayang Bapak...," kata Kalisha sambil menangis.
“ Sekarang Pak...,” kata Aruna memberi aba-aba.
Tiba-tiba sebuah cahaya terang datang menjemput hantu Komar lalu mengangkatnya perlahan. Tubuh hantu Komar yang semula terlihat penuh luka itu pun kembali utuh. Wajahnya nampak berbinar bahagia. Sebelum melesat ke atas, hantu Komar nampak tersenyum lalu mengucapkan kata terima kasih.
“ Terima kasih Aruna...,” bisik hantu Komar lalu melesat pergi.
“ Sama-sama Pak...,” sahut Aruna dengan mata berkaca-kaca.
Kalisha nampak menatap kepergian ayahnya dengan air mata membasahi wajahnya. Ia nampak terpukul tapi tak berdaya karena takdir hidup sang ayah memang telah selesai.
“ Apa setelah ini Gue ga bisa ketemu lagi sama Bapak Run...?” tanya Kalisha dengan suara serak.
“ Ga bisa langsung kaya gini Kal, mungkin cuma lewat mimpi. Tapi itu lebih baik bukan. Daripada Bapak Lo bertahan di dunia ini tapi dalam keadaan menderita, lebih baik beliau pergi ke tempat seharusnya...,” sahut Aruna.
“ Lo bener Run. Gue pilih Bapak pulang ke tempat seharusnya daripada menderita dan gentayangan di sini...,” kata Kalisha sambil tersenyum kecut.
“ Sekarang Kita pulang Kal. Udah malam...,” ajak Aruna sambil menarik Kalisha menuju motornya.
“ Emangnya Lo baru sadar kalo ini udah malam ya Run...?” tanya Kalisha tak mengerti hingga membuat Aruna tertawa.
Kalisha pun ikut tertawa. Sesaat kemudian Aruna melajukan motornya dengan cepat meninggalkan halte itu. Aruna menawarkan diri mengantar Kalisha pulang. Sedangkan George dan Matilda yang senantiasa mengawal Aruna pun nampak bersiap mengikuti pergerakan Aruna.
Namun George meminta Matilda mengikuti kedua gadis itu karena ia masih ingin menyapa pemilik sepasang mata yang terus mengintai Aruna. George merasa jika pemilik sepasang mata itu sudah melampaui batas dan harus menerima sedikit hukuman.
__ADS_1
Bersambung