Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
314. Sisi Bahagia


__ADS_3

Rasyid dan Sheina menjalani pernikahan yang bahagia. Keduanya saling menyayangi dan menghormati satu sama lain. Hal itu membuat Bi Mey ikut bahagia menyaksikannya.


Meski pun Sheina lebih sukses dalam karir dan penghasilan, namun ia sangat menghormati suaminya. Rasyid pun berusaha tak egois dan mengekang sang istri dengan berbagai aturan karena sadar istrinya adalah seorang dokter yang punya kesibukan luar biasa. Rasyid paham itu dan siap dengan segala konsekuensinya saat ia memilih Sheina menjadi istrinya.


" Aku berangkat lebih pagi besok Sayang...," kata Rasyid.


" Oh ya, kenapa...?" tanya Sheina sambil mengenakan krim malam di depan cermin.


" Ada razia gabungan TNI - POLRI yang turun langsung ke jalan dan tempat-tempat yang dicurigai mempunyai tindak kriminal yang lumayan meresahkan masyarakat...," sahut Rasyid sambil membaringkan tubuhnya di atas kasur.


Sheina pun tersenyum lalu mendekati Rasyid.


" Kalo gitu pasang alarm aja ya biar ga kesiangan...," kata Sheina sambil menyetel alarm pada jam di atas nakas.


" Maaf ya, gara-gara Aku waktu tidurmu jadi keganggu...," kata Rasyid sambil memeluk sang istri dengan erat.


" Jangan ngomong gitu dong Sayang. Aku juga punya jam kerja yang ga teratur. Apalagi kalo pasienku mendadak harus operasi. Bisa seharian lho Aku di Rumah Sakit...," sahut Sheina sambil membalas pelukan sang suami.


Ucapan Sheina membuat Rasyid tersenyum lalu mendaratkan ciuman di kening sang istri.


" Kalo gitu boleh kan Aku ganggu Kamu lagi...?" tanya Rasyid dengan tatapan penuh hasrat.


" Bukannya Kamu bilang harus bangun pagi ?. Ntar kalo kecapean gimana...?" tanya Sheina yang mengerti kemana arah pembicaraan suaminya.


" Kalo untuk itu Aku ga capek kok...," sahut Rasyid sambil mulai mencumbu Sheina.


Sheina menjerit kecil karena Rasyid menerkamnya tanpa ampun. Hingga malam panas pun berhasil mereka lewati dan berakhir dengan peluh yang membasahi keduanya.


" Makasih Sayang, Aku tidur duluan ya...," kata Rasyid sambil mencium bibir Sheina sekali lagi.


" Iya. Tidur lah...," sahut Sheina sambil tersenyum.


Rasyid pun membawa Sheina ke dalam pelukannya dan sesaat kemudian ia pun telah terlelap. Sheina masih menatap Rasyid dengan senyum di wajahnya. Kali ini ia benar-benar bahagia karena merasa beruntung menikahi Rasyid.


Rasyid berbeda dengan mantan suaminya. Rasyid selalu menjaga perasaannya dalam segala hal hingga Sheina merasa dihargai sebagai seorang wanita sekaligus istri. Hal yang tak pernah ia dapatkan dari mantan suaminya dulu.


Di pernikahan pertamanya Sheina harus bersikap layaknya wanita yang tak punya hak bicara.


Sheina adalah wanita karir. Namun demi suami ia rela mengesampingkan semua egonya hanya agar sang suami bisa nyaman bersamanya. Tak ada kompromi seperti pernikahannya dengan Rasyid sekarang. Semua hal mutlak atas persetujuan suami, termasuk tentang jadwal kerjanya sebagai dokter kandungan pun diatur oleh mantan suami.

__ADS_1


Karena Sheina adalah dokter kandungan yang handal maka pihak Rumah Sakit memberi 'kelonggaran' padanya dalam menentukan jam kerja.


Namun toh pengorbanan Sheina tak berarti apa-apa untuk mantan suaminya. Sheina justru dikhianati dan disakiti. Hingga akhirnya malam naas itu terjadi dan Sheina memilih pergi jauh dari kota tempat ia tinggal bersama mantan suaminya dulu.


Sheina menghela nafas panjang sambil mengusap titik air mata di ujung matanya. Ia benci jika mengingat kebodohannya dulu. Namun rasa kesalnya sirna saat menatap wajah Rasyid. Perlahan Sheina mengusap wajah Rasyid dengan lembut lalu berbisik.


" Aku janji akan menemanimu hingga akhir Sayang...," kata Sheina lirih.


Kemudian Sheina mengecup kening dan bibir sang suami lalu ia memejamkan matanya dan terlelap dalam pelukan Rasyid.


\=\=\=\=\=


Rasyid berangkat lebih awal seperti ucapannya semalam. Saat Rasyid tengah bersiap dengan pakaian seragamnya, Sheina pun terbangun. Sheina terkejut dan langsung bangkit hingga selimut yang menutupi tubuhnya terbuka. Rasyid yang melihatnya pun nampak merengut kesal.


Mengira Rasyid marah padanya, Sheina pun meminta maaf.


" Maaf Sayang, Aku kesiangan ya...," kata Sheina sambil mengikat rambutnya dengan asal.


" Ini masih pagi Sayang, belum Subuh juga...," sahut Rasyid sambil melangkah mendekati Sheina.


" Kalo gitu alarmnya belum bunyi dong. Tapi kenapa Kamu keliatan kesel gitu, ini kan belum terlambat...," protes Sheina.


" Aku kesel karena ngeliat ini. Apa Kamu sengaja memancingku lagi Sayang ?. Kamu tau kan kalo Suamimu ga bisa ngeliat ini...," kata Rasyid sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh polos istrinya.


" Udah cukup Sayang. Aku harus berangkat sekarang...," kata Rasyid sambil mengurai pelukan Sheina.


" Ok, hati-hati di jalan. Jangan ngebut ya...," kata Sheina.


" Siap Bu...!" sahut Rasyid dan keduanya kembali tertawa.


" Aku pake baju dulu, abis itu Aku anter Kamu ke depan...," kata Sheina.


" Ga usah. Kamu lanjutin aja tidurnya. Biar Bi Mey yang ngunci pintu. Aku liat Bi Mey udah mondar-mandir di ruang tengah tadi...," sahut Rasyid sambil mencium bibir Sheina dengan cepat.


" Ok, makasih Sayang...," kata Sheina lalu kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur.


" Sama-sama, Aku pergi ya. Assalamualaikum...," Pamit Rasyid lalu bergegas keluar dari kamar dan menutup pintu.


" Wa alaikumsalam...," sahut Sheina lalu merapatkan selimutnya dan kembali memejamkan mata.

__ADS_1


Di luar rumah tampak Bi Mey yang sedang menutup pintu pagar setelah Rasyid keluar tadi.


" Pasti Mbak Sheina disuruh tidur lagi deh sama Mas Rasyid...," gumam Bi Mey sambil tersenyum melepas kepergian Rasyid.


Bi Mey senang melihat Rasyid menyayangi majikannya dengan tulus dan tak menuntut banyak hal pada istrinya itu.


\=\=\=\=\=


Memiliki bayi kembar ternyata sangat menguras energi. Begitu lah yang dirasakan Aruna. Namun beruntung Aruna mendapat dukungan dari orang-orang terdekat yang membuatnya dengan mudah mengatasi semuanya.


Kehadiran orangtua dan mertua di sisinya membuat Aruna nyaman dan bahagia. Ia dan Kautsar hanya akan menjadi penonton setia di saat mereka berebut menggendong Khai dan Kanaya.


" Aku dulu dong Pa. Khai itu maunya sama Aku...," kata Diana saat Arka berusaha meraih Khaizuran dari gendongan Kautsar.


" Papa mau gendong sebentar aja kok Ma. Setelah ini Kamu deh yang nidurin Khai. Boleh kan...," pinta Arka penuh harap.


" Janji cuma sebentar ya...," kata Diana sambil membulatkan matanya dan diangguki Arka.


Kemudian Arka meraih Khai dari gendongan Kautsar lalu membawanya ke ruang tengah. Diana nampak mengikuti Arka karena ingin segera menggendong Khai.


Sedangkan Ahmad dan istrinya justru sibuk dengan Kanaya. Mereka terlihat menggoda Kanaya yang saat itu ada dalam gendongan ibu Kautsar. Bayi itu tertawa keras hingga membuat Kakek neneknya ikut tertawa bahagia.


Aruna menoleh kearah Kautsar yang tampak melamun. Kemudian ia menyandarkan kepalanya di bahu sang suami hingga membuat Kautsar terkejut lalu menoleh kearahnya.


" Kenapa Sayang...?" tanya Kautsar.


" Aku yang melahirkan mereka, tapi rasanya kok Aku jarang gendong mereka ya Yah...," sahut Aruna hingga membuat Kautsar tersenyum.


" Gapapa Bund. Liat dari sisi positifnya aja ya. Karena si kembar diasuh sama Kakek dan Neneknya, Kamu jadi punya banyak kesempatan untuk istirahat. Iya kan...?" tanya Kautsar sambil merengkuh bahu Aruna dengan sayang.


" Oh iya ya. Aku juga bisa spa dulu biar rileks. Gimana Yah, Kamu mau kan nganterin Aku...?" tanya Aruna.


" Emang boleh...?" tanya Kautsar.


" Anak-anak udah dua bulan Yah. Dan selama itu Aku belum pernah dipijit. Gapapa kan kalo Aku memanjakan diri. Lagipula Aku udah stok ASI, Kupikir cukup kok sampe besok...," sahut Aruna.


" Ok Sayang. Kamu siap-siap dulu ya. Biar Aku yang ngomong sama Kakek Neneknya si kembar...," kata Kautsar sambil mengusak rambut sang istri dengan gemas.


Aruna mengangguk lalu bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

__ADS_1


Tak lama kemudian Kautsar dan Aruna telah meluncur di jalan raya sambil berboncengan di atas motor.


\=\=\=\=\=


__ADS_2