Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
52. Bertemu Orion


__ADS_3

Setelah melewati masa ujian kenaikan tingkat kini anggota genk Comot sedang merencanakan kegiatan bersama untuk mengisi liburan mereka.


“ Gue ga enak kalo harus liburan sama Kalian...,” kata Galang.


“ Lho kenapa emangnya...?” tanya Fadil tak mengerti.


“ Ya ga enak lah. Kan Gue belum bayar uang yang Gue pinjem dari Kalian. Ntar apa kata orang, ikut liburan, jalan-jalan eh tapi utang belum bayar...,” sahut Galang tak enak hati.


“ Ya ampun Galang. Kenapa Lo berpikiran sempit kaya gitu sih. Kita nih bersahabat, jadi udah wajar kalo saling membantu. Susah senang ditanggung bersama itu kan emang inti dari sebuah persahabatan...,” kata Aruna.


“ Tau nih Galang. Ngapain Lo mikirin kaya gitu sih...?” tanya Ria kesal.


“ Tapi itu emang bener kan...?” tanya Galang.


“ Gini Lang. Kita kan abis ujian nih, pusing dan butuh refreshing. Kita sengaja mau liburan supaya bisa relaks sejenak dari rutinitas Kita yang seabrek itu. Ga perlu jauh-jauh kok, yang penting jalan aja. Dan Kita semua maunya Lo tetep ikut biar seru. Soal biaya Lo ga usah pikirin. Insya Allah uang Kita cukup kok buat Kita berenam. Iya kan guys...?” tanya Agung sambil menatap keempat temannya bergantian.


“ Iya...,” sahut Aruna, Ria, Kenzo dan Fadil.


“ Tapi...,” ucapan Galang dipotong cepat oleh Agung.


“ Soal uang yang kemaren Lo pinjem, ga usah balikin juga gapapa Lang. Kita berlima udah sepakat tentang itu. Tapi kalo Lo maksa mau balikin, ya dicicil aja biar ga berat...,” kata Agung menengahi.


“ Gue balikin aja, tapi nyicil ya. Misalnya bulan ini Ria dulu, bulan depan Aruna, dan seterusnya. Pokoknya Gue usahain buat balikin karena Gue ga mau uang itu jadi ganjelan nanti...,” sahut Galang.


“ Ok deal ya...,” kata Agung sambil menjabat tangan Galang diikuti keempat temannya.


Setelah menjabat tangan kelima temannya Galang pun bisa bernafas lega. Senyum pun nampak menghias wajahnya.


“ Jadi Kita mau liburan kemana nih...?” tanya Galang sambil menaik turunkan alisnya hingga membuat kelima temannya tertawa.


“ Wah nantangin ni anak...,” sahut Kenzo sambil mendorong Galang hingga jatuh tersungkur.


“ Sia*an Lo Ken...,” gerutu Galang sambil membersihkan lututnya yang terkena tanah hingga membuat keempat anggota genk Comot tertawa lebih keras.


\=====


Kini genk Comot tengah berada di gerbang sebuah desa yang letaknya tak jauh dari kota Malang. Suasana desa yang sejuk, membuat keenam anggota genk Comot merasa nyaman. Lingkungan yang hijau dan dikelilingi perbukitan membuat keenam anggota genk Comot terkagum-kagum.


“ Cakep nih tempatnya, kayanya Gue kerasan deh di sini...,” puji Fadil sambil menatap ke sekelilingnya.


“ Iya. Bagus, masih asri lagi...,” kata Ria.


“ Lo dapat info darimana tempat ini Lang...?” tanya Kenzo.


“ Dari anak teknik juga. Katanya di sini bagus dan ga nguras kantong. Pas banget sama mahasiswa perantauan kaya Kita gini...,” sahut Galang.


“ Emang bagus tapi agak misterius ya...,” kata Aruna sambil mengedarkan pandangan ke penjuru desa.

__ADS_1


“ Iya, pantesan ga ada di goo*le map...,” sahut Fadil.


“ Walau pun ga ada di goo*le map tapi tempatnya recomended banget kok. Iya kan guys...,” kata Agung sambil mulai melangkah memasuki jalan desa.


“ Iya...!” sahut lima anggota genk Comot bersamaan lalu mulai melangkah mengikuti Fadil.


Desa itu ternyata sudah sering dikunjungi wisatawan lokal dan asing yang memang tertarik dengan keaslian alamnya. Karena itu genk Comot tak kesulitan mendapat tempat untuk menginap selama mereka berkunjung ke sana.


Sebuah rumah milik salah satu warga bernama Hasim sengaja disewakan kepada para pengunjung. Harga yang ditawarkan  untuk sewa rumah berukuran sedang dengan tiga kamar tidur itu membuat anggota genk Comot terkejut.


“ Kenapa Mas, kemahalan ya...?” tanya Hasim hati-hati.


“ Eh, ga Pak. Justru Kami bingung. Kok Pak Hasim ngasih harga murah banget, padahal rumah ini bagus dan layak huni. Apalagi perabotannya lengkap...,” sahut Agung cepat.


“ Saya memang ga pernah pasang harga mahal Mas. Apalagi Saya tau Kalian ini mahasiswa yang merantau dan masih mengandalkan tranferan dari orangtua untuk kebutuhan Kalian...,” kata Hasim sambil tersenyum hingga membuat keenam anggota genk Comot tertawa.


“ Terus kalo makanannya gimana Pak, berapa Kami harus bayar untuk makan tiga kali sehari...?” tanya Aruna.


“ Wah kalo itu Kalian bisa tanya sama Istri Saya langsung karena Saya ga paham urusan dapur. Biar nanti sore Istri Saya ke sini ya. Atau Kalian aja yang ke rumah dan ngobrol sama Istri Saya. Rumah Saya ada di samping rumah ini kok...,” sahut Hasim.


“ Baik Pak, makasih...,” kata enam anggota genk comot bersamaan.


\=====


Malam itu setelah makan malam. Genk Comot bermaksud keluar untuk melihat suasana desa saat malam hari. Istri Hasim yang bernama Menur pun mengingatkan agar mereka kembali sebelum jam sepuluh malam.


“ Boleh. Tapi sebelum jam sepuluh malam harus udah di rumah ya Mas...,” sahut Menur.


“ Kenapa Bu...?” tanya Fadil.


“ Itu aturan di sini Mas Fadil. Warga ga boleh berkeliaran di jalan desa di atas jam sepuluh malam. Tapi kalo duduk di teras rumah aja sih gapapa...,” sahut Menur.


“ Oh gitu. Ntar Saya sampein sama teman-teman supaya ga pulang larut ya Bu. Kalo gitu Saya pamit Bu, Assalamualaikum...,” kata Fadil sambil bergegas mengejar kelima temannya yang berjalan jauh di depannya.


“ Wa alaikumsalam, hati-hati Mas...,” sahut Menur lalu bergegas menutup pintu rumah.


Fadil yang berhasil menyamakan langkah dengan kelima temannya menyampaikan apa yang diucapkan Menur tadi.


“ Oh, masih ada jam malam rupanya...,” kata Kenzo.


“ Wajar lah. Desa kan beda sama kota yang makin malam justru makin rame...,” sahut Galang.


“ Tapi kata Bu Menur, kalo Kita ngobrol di teras sampe malam sih gapapa asal bukan di jalan desa...,” kata Fadil lagi.


“ Ok deh...,” sahut lima anggota genk Comot sambil mengacungkan jempol hingga membuat Fadil tersenyum.


Keenam anggota genk Comot menyapa beberapa warga desa yang kebetulan berpapasan dengan mereka. Kehadiran mereka dengan cepat menyebar di desa itu hingga membuat warga desa tak terkejut melihat mereka karena rupanya Hasim sudah lebih dulu mengabarkan kehadiran genk Comot kepada pengurus desa.

__ADS_1


Keenam anggota genk Comot terus berbincang sambil berjalan di pinggir jalan. Hingga tiba-tiba tatapan Aruna mengarah ke bukit yang terlihat di kejauhan.


“ Kenapa Run...?” tanya Agung.


“ Gapapa. Itu apaan sih...?” tanya Aruna yang menunjuk kearah bukit yang menjulang tinggi.


“ Itu bukit Run...,” sahut Galang cepat.


“ Bukit, yang hijau itu apaan...?” tanya Aruna.


“ Hutan...,” sahut Galang lagi.


“ Kok Gue merasa familiar ya, kayanya Gue pernah ke sana...,” kata Aruna.


“ Mimpi Lo ya. Lo kan dari Jakarta Run, mana pernah Lo ke sini dan masuk ke hutan di atas bukit itu...,” kata Ria sambil menarik lengan Aruna agar kembali melangkah.


“ Iya ya...,” sahut Aruna lalu mengikuti tarikan Ria sambil sesekali menatap kearah bukit karena merasa terpanggil untuk datang ke sana.


\=====


Malam itu Aruna sulit memejamkan mata. Meski pun sudah berkali-kali berusaha, namun gagal. Kemudian Aruna memilih keluar dari kamar dan duduk di ruang tamu seorang diri. Aruna melamun sambil memikirkan perasaan aneh yang menerpanya.


“ Aneh. Kenapa rasanya Aku kenal sama tempat ini ya. Terus kemana Om George dan Tante Matilda. Sejak Aku masuk ke desa ini mereka ga keliatan. Atau jangan-jangan mereka tau sesuatu tentang desa ini...,” gumam Aruna sambil menoleh ke jendela rumah yang berhadapan dengan jalan desa.


Melalui gorden jendela yang tersingkap, Aruna bisa melihat penampakan sosok manusia serigala tengah melintas di depan rumah. Aruna menatap langit dan tak melihat bulan purnama penuh di sana. Hanya ada bulan sabit yang menghiasi langit malam itu.


Aruna kembali menatap jalan desa dan melihat sosok manusia serigala itu berhenti lalu menatap kearah rumah yang disewanya itu. Entah mengapa Aruna merasa jika sorot mata mahluk itu terarah tepat kepadanya dan itu membuat Aruna panik.


“ Dia ngeliat ke sini, ga mungkin kan. Jangan-jangan dia tau kalo ada makhluk yang sejenis sama dia di sini...,” batin Aruna lalu bergegas keluar dari rumah karena tak ingin kelima temannya tahu siapa dirinya.


Setelah menutup pintu rumah Aruna masih berdiri sejenak sambil menatap manusia serigala di hadapannya dengan perasaan berkecamuk. Perlahan Aruna melangkah menghampiri manusia serigala itu. Kini Aruna dan manusia serigala itu berdiri berhadapan dalam jarak yang sangat dekat dan hanya dipisahkan oleh pagar bambu setinggi satu meter.


“ Kamu siapa, apa maumu...?” tanya Aruna dengan suara bergetar.


Sapaan Aruna membuat manusia serigala itu tersenyum. Dengan mata berkaca-kaca seolah memendam rasa rindu di hatinya manusia serigala itu balik menyapa Aruna hingga membuat gadis itu terkejut.


“ Apa kabar Aruna Sayang...?” tanya manusia serigala itu dengan suara lembut.


Aruna merasa aliran darah dalam tubuhnya berhenti sejenak ketika suara manusia serigala itu masuk ke indera pendengarannya. Aruna mematung sambil menatap manusia serigala di hadapannya karena ia merasa pernah mendengar suara itu entah kapan. Suara yang membuatnya rindu dan ingin menangis.


“ Siapa Ka... mu...?” tanya Aruna lagi dengan gugup.


“ Orion. Namaku Orion Sayang...,” sahut manusia serigala itu sambil mendekat kearah Aruna.


“ Orion...?” ulang Aruna diangguki Orion.


Aruna menggelengkan kepalanya dan berusaha memutar otak untuk mengetahui apa hubungannya dengan Orion.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2