Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
218. Mimpi Atau Nyata ?


__ADS_3

Selama sehari penuh berada di perusahaan, Erlan harus menahan diri untuk tak bicara dengan Kenzo. Tapi naluri kebapakannya memanggil hingga ia tak kuasa mengendalikan diri.


Saat jam menunjukkan pukul dua siang, Erlan memanggil Kenzo ke ruangannya.


" Tapi Pa...," ucapan Kenzo terputus.


" Sekarang Nak...!" perintah Erlan lalu memutuskan sambungan telepon secara sepihak.


Kenzo nampak menghela nafas panjang. Sesaat kemudian ia tersenyum dan bergegas menemui sang kepala gudang.


" Mau kemana Kamu. Emangnya kerjaanmu udah beres...?" tanya kepala gudang bernama Drajat.


" Saya mau ijin ke...," ucapan Kenzo terputus karena Drajat memotong cepat.


" Toilet ?. Bisa kreatif sedikit ga sih Ken. Alasan yang sama udah dipake sama teman-temanmu tadi. Kalian ini selalu punya alasan kalo disuruh ngangkutin barang. Padahal kan ini...," ucapan Drajat terputus saat melihat nomor asing menghubungi ponselnya.


Kenzo tersenyum diam-diam karena tahu itu adalah nomor sang papa.


" Baik Pak. Iya, udah ada di depan Saya lagi mau jalan...," kata Drajat dengan wajah memucat sambil melambaikan tangannya meminta Kenzo segera pergi.


" Rasain...," gumam Kenzo sambil berlari cepat menuju lift agar segera tiba di ruangan sang papa.


Tiba di lantai atas Kenzo berpapasan dengan Aruna yang baru keluar dari toilet.


" Papa di dalem ya Run...?" tanya Kenzo.


" Iya buruan gih. Eh tunggu Ken...!" panggil Aruna.


" Apalagi Run...?" tanya Kenzo.


" Rapiin dulu lah penampilan Lo. Masa ketemu Bokap kucel kaya gini...," sahut Aruna sambil menyerahkan tissu basah kepada Kenzo.


Kenzo tersenyum lalu meraih beberapa lembar tissu basah untuk mengelap wajahnya. Setelahnya ia menyerahkan bekas tissu basah yang dipakainya kepada Aruna hingga membuat Aruna kesal.


" Kenzo, rese Lo...!" kata Aruna lantang.

__ADS_1


" Ssstt..., bumil ga boleh marah-marah. Ntar bayinya jadi suka marah-marah lho...," ledek Kenzo sambil menyilangkan jari telunjuk di depan bibirnya.


Aruna menghentakkan kaki kesal mendengar ucapan Kenzo. Sementara Bianca nampak terkejut melihat Kenzo yang menerobos masuk ke dalam ruangan direktur.


Hingga beberapa saat kemudian tak terdengar suara Erlan menandakan jika Kenzo adalah tamu yang sedang ia tunggu.


" Jadi dia anaknya Pak Erlan kan Run...?" tanya Bianca.


" Iya Bu...," sahut Aruna sambil duduk di kursi dan mulai melanjutkan pekerjaannya.


Bianca nampak mengangguk lega karena dugaannya ternyata tepat. Saat Erlan memintanya merekam kegiatan orang gudang Bianca sempat curiga. Apalagi saat melihat Erlan mengacungkan ibu jarinya sambil tersenyum kearah Kenzo. Sepintas Bianca melihat kemiripan antara Erlan dan Kenzo hingga akhirnya ia pun mengerti hubungan antara Erlan dan Kenzo.


\=\=\=\=\=


Setelah lima hari terus mengawasi kinerja perusahaan akhirnya Erlan pun memutuskan menyerahkan tampuk pimpinan sementara kepada Kenzo.


" Papa juga harus balik ke Jakarta Ken. Papa ini juga karyawan lho sama kaya Kamu...," kata Erlan.


" Papa Kamu benar Nak. Udah saatnya Kamu memimpin perusahaan itu. Kakekmu udah sepuh, Papa juga ga mungkin ninggalin pekerjaannya...," kata Mama Kenzo sambil mengusap kepala Kenzo.


Kenzo nampak berpikir sejenak kemudian menganggukkan kepalanya.


" Kamu tenang aja Nak. Papa sama Mama pasti ngawasin Kamu dari jauh kok. Dan satu lagi, Papa ngeliat beberapa tindakan arogan super visor pada anak buahnya. Tolong Kamu urus itu ya Ken...," kata Erlan.


" Siap. Apa kepala gudang juga termasuk diantaranya Pa...?" tanya Kenzo.


" Kamu yang paling tau itu Nak. Tapi Papa ga keberatan untuk merekomendasikan dia sebagai salah satu orang yang harus digeser dari jabatannya itu...," sahut Erlan sambil tersenyum.


Kenzo pun ikut tersenyum senang. Selama beberapa hari Kenzo merasa terganggu dengan sikap kepala gudang yang 'Bossy' itu. Sikapnya tak sebanding Dito saat memperlakukan bawahannya. Bahkan untuk ijin ke toilet pun susah.


" Sebentar lagi kena dia...," gumam Kenzo sambil mengepalkan tangannya.


\=\=\=\=\=


Hari mulai senja dan perlahan matahari pun terbenam. Aruna nampak menggelengkan kepalanya dengan gelisah karena menyadari sesuatu akan terjadi pada dirinya.

__ADS_1


Aruna juga merasakan perutnya berdenyut kencang seolah janin dalam rahimnya tengah menggeliat dengan gelisah. Aruna pun mengusap perutnya dari balik pakaian yang dikenakannya. Ada sedikit kelegaan karena Aruna berhasil menenangkan bayinya yang meronta seolah ingin keluar.


Saat itu Aruna sedang berada di rumah seorang diri karena Kautsar sedang mengikuti latihan sepak bola bersama teman-temannya. Hal seperti itu biasa dilakukan Kautsar untuk mengurai ketegangan setelah lelah bekerja.


Aruna memilih tinggal dan berdiam di rumah karena sejak pagi ia merasakan perutnya tak nyaman. Awalnya Kautsar juga ingin membatalkan kepergiannya. Tapi karena Aruna mengatakan jika dirinya baik-baik saja dan memaksa Kautsar pergi, akhirnya Kautsar pun keluar dari rumah dengan meninggalkan beberapa pesan yang harus diingat Aruna.


Setelah kepergian Kautsar, Aruna pun masuk ke dalam kamar tidur. Ia membaringkan tubuhnya di sana untuk sekedar mengurai penat. Namun desakan dari dalam perutnya memaksa Aruna bangkit dan berjalan cepat menuju toilet.


Aruna kembali membaringkan tubuhnya setelah muntah hebat di toilet tadi. Perlahan Aruna memejamkan matanya dan terlelap.


Dalam tidurnya Aruna bermimpi bertemu dengan seorang wanita cantik yang menanyakan keberadaan anaknya. Wanita itu berkulit putih, sangat putih hingga Aruna bisa melihat tali urat berwarna kebiruan menyembul di balik kulitnya.


Untuk sejenak Aruna mengagumi sosok wanita cantik yang terlihat sombong dan arogan itu.


" Dimana dia...?" tanya wanita itu sambil berdiri membelakangi Aruna.


" Dia siapa maksudmu...?" tanya Aruna dengan berani sambil menatap wanita cantik itu dengan lekat.


Wanita cantik itu tersenyum lalu menoleh kearah Aruna sambil menyeringai. Namun anehnya Aruna tetap melihat kecantikan dalam seringainya yang menyeramkan itu.


" Tentu saja bayimu Aruna. Dimana dia, Aku ingin bertemu dengannya...," kata Wanita itu sambil mendelik kesal.


" Maaf, untuk apa Kamu bertemu dengannya...?" tanya Aruna.


" Tentu saja berkenalan Aruna. Kita ini kan keluarga, bagaimana pun juga dia harus mengenal semua keluarga dalam klan Kita Aruna...," sahut wanita cantik itu sambil tersenyum penuh misteri.


Aruna menggelengkan kepala lalu mundur beberapa langkah sambil berusaha menutupi perutnya dengan kedua lengannya.


" Dia tak perlu mengenal siapa pun, apalagi Kamu...!" sahut Aruna tegas hingga membuat wanita cantik itu kesal lalu mendesis.


Saat itu lah Aruna melihat kilatan aneh di kedua bola mata wanita cantik itu. Aruna juga melihat bibir wanita cantik itu menyeringai. Lalu perlahan seringaian itu berubah menjadi dengusan disertai hawa panas. Aruna nampak tersenyum mengejek seolah sedang menertawai wujud lain dari wanita cantik yang ada di hadapannya itu.


Tiba-tiba wanita cantik itu membalikkan tubuhnya dengan cepat. Kemudian wanita cantik itu melesat cepat kearah Aruna dengan telapak tangan membentuk cakar seolah siap mengoyak apa pun yang ada di hadapannya termasuk Aruna.


Aruna menjerit lalu terbangun. Ia duduk sambil memegangi perutnya seolah takut sesuatu yang buruk terjadi pada bayinya.

__ADS_1


Aruna nampak menghela nafas panjang karena baru saja mengalami mimpi yang seolah nyata itu. Kemudian Aruna berdzikir panjang sambil terus mengusap perutnya.


bersambung


__ADS_2