Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
266. Orangtua Alam


__ADS_3

Sang tamu misterius di ruang tamu rumah orangtua Alam nampak masih membisu hingga membuat ruangan itu terasa dingin dan mencekam.


Kedua orangtua Alam yang semula mematung di ambang pintu ruang tengah pun perlahan berhasil menguasai diri. Kemudian keduanya melangkah ke ruang tamu dan duduk di hadapan sang tamu misterius.


" A... apa kabar...?" tanya ayah Alam gugup.


" Hmm...," sahut sang tamu misterius tanpa mengangkat kepala.


Ayah Alam nampak menelan saliva dengan sulit saat mendengar jawaban tanpa kata sang tamu misterius. Ia menoleh kearah istrinya berharap wanita itu mau sedikit membantunya.


Seolah mengerti apa arti tatapan sang suami, ibu Alam pun berdiri lalu mendekati sang tamu misterius.


" Maaf kalo Kami tak memberi sambutan seperti yang seharusnya. Anda datang mendadak dan tanpa pemberitahuan. Jadi Kami belum menyiapkan apa pun. Mohon pengertiannya...," kata ibu Alam selembut mungkin.


Bukannya menjawab permintaan maaf wanita itu, sang tamu misterius nampak mengepalkan kedua tangan yang ia letakkan di atas pahanya. Melihat hal itu membuat ibu Alam cemas. Kemudian dia sedikit mencondongkan tubuhnya untuk bicara lebih dekat dengan sang tamu.


Namun sebelum ibu Alam membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, tangan sang tamu misterius langsung bergerak mengarah ke leher wanita itu. Yang mengejutkan adalah karena sang tamu mencekik leher ibu Alam dengan erat hingga tubuh wanita itu sedikit terangkat ke atas.


Ayah Alam terkejut saat melihat istrinya dianiaya oleh sang tamu. Ia berdiri dari posisi duduknya lalu bergegas menyerang sang tamu. Namun sayang gerakan ayah Alam terhenti begitu saja saat sang tamu melempar tubuh ibu Alam kearahnya. Kedua orangtua Alam pun jatuh terjengkang di lantai ruang tamu.


Sang tamu misterius berdiri tegak sambil menatap kedua orangtua Alam dengan tatapan yang tajam. Kedua orangtua Alam nampak sedikit gemetar karena tahu jika sang tamu sedang marah.


" Dasar manusia tak tahu diri. Setelah mendapatkan apa yang Kalian mau, Kalian pergi dan melupakan perjanjian sakral itu. Apa Kalian pikir Kalian bisa lari dan sembunyi dariku...?!" kata tamu misterius itu dengan lantang.


Ibu Alam nampak beringsut bangun sambil memegangi lehernya yang terasa sakit. Sebelum bicara ia terbatuk-batuk beberapa kali.


" Kami ga lari, sungguh !. Kami juga ga sembunyi. Kami hanya butuh tempat dan suasana baru agar bisa melupakan kenangan saat masih tinggal bersama Anak Kami. Hanya itu. Kami yakin Anda bisa menemukan Kami jadi Kami ga mungkin lari jauh kan...?" kata ibu Alam sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.

__ADS_1


Sang tamu misterius nampak memyeringai mendengar ucapan ibu Alam. Tanpa aba-aba ia kembali mencekal leher wanita itu lebih erat dari yang pertama. Sang tamu juga mengangkat tubuh wanita itu lebih tinggi hingga membuat wanita itu mengejang dengan kaki yang menendang ke sana kemari.


" Wanita licik !. Simpan saja siasat busukmu itu karena rayuanmu tak berlaku untukku...!" kata tamu misterius itu dengan marah.


Ayah Alam yang melihat istrinya lagi-lagi dianiaya oleh sang tamu pun kembali bangkit untuk membantu. Namun ucapan sang tamu membuat ayah Alam menciut.


" Diam di situ !. Atau Aku patahkan leher wanita ini sekarang juga...!" ancam sang tamu misterius dengan lantang.


" Jangaann..., Aku mohon lepaskan Istriku...," pinta ayah Alam dengan suara bergetar.


Sang tamu misterius perlahan menurunkan tubuh ibu Alam lalu melepaskan cekalan nya di leher wanita itu. Ibu Alam pun langsung menjauh dari sang tamu. Tubuhnya nampak gemetar pertanda ia baru saja mengalami kejadian yang menakutkan.


" Baik lah. Aku datang untuk mengingatkan Kalian. Waktu persembahan hampir tiba. Siapkan persembahan atau Kalian yang akan jadi persembahan...," kata sang tamu misterius.


" Bisakah Kami minta waktu. Kami masih berduka karena kehilangan Anak Kami. Ijinkan Kami menyelenggarakan selamatan untuk memperingati seratus hari kematiannya. Setelah itu Kami pasrahkan padamu siapa yang akan jadi persembahan selanjutnya...," kata ayah Alam dengan suara bergetar.


" Kami ga akan kabur. Jika Kau tak percaya, Kau bisa hadir dan melihat sendiri apa yang akan Kami lakukan nanti...," sahut ayah Alam.


Sang tamu nampak berpikir sejenak kemudian menganggukkan kepalanya.


" Kapan acara itu digelar...?" tanya sang tamu misterius.


" Siang ini...," sahut ayah Alam.


" Mendadak sekali. Atau justru Kalian telah mempersiapkannya sejak lama...?" tanya sang tamu misterius curiga.


" Ga mendadak sama sekali. Kami memang sudah memesan beberapa jenis makanan untuk dibagikan kepada warga sekitar. Dan rencananya sebentar lagi makanan itu siap diantar ke rumah lalu dibagikan kepada warga...," sahut ayah Alam.

__ADS_1


" Baik. Lakukan saja tapi dengan syarat...," kata tamu misterius.


" Syarat apa...?" tanya ayah Alam.


" Tanpa diiringi doa, dzikir dan sholawat...," sahut sang tamu misterius dengan tegas.


Kedua orangtua Alam nampak saling menatap sejenak lalu mengangguk setuju. Sang tamu misterius nampak tersenyum puas. Setelahnya ia berjalan keluar rumah meninggalkan kedua orangtua Alam yang tak bisa berbuat apa-apa selain duduk membisu.


\=\=\=\=\=


Orangtua Alam adalah pasangan suami istri yang yang saling mencintai. Selain itu mereka juga rajin dan ulet dalam bekerja hingga bisa mengumpulkan pundi-pundi uang yang banyak. Kehidupan rumah tangga mereka pun harmonis.


Kedua orangtua Alam dikaruniai empat orang anak yang sehat dan manis. Alam merupakan anak bungsu yang lahir setelah dua belas tahun pernikahan mereka.


Memasuki usia sepuluh tahun pernikahan, mereka berkenalan dengan sebuah komunitas yang memperkenalkan ajaran sesat. Keduanya tertarik dan mulai mengikuti ajaran sesat dari komunitas itu. Mereka menganggap dengan mengikuti ajaran sesat itu kehidupan mereka bisa terjamin dan bahagia hingga akhir jaman.


Saat keluarga besar mereka mengetahui sepak terjang mereka, keduanya memilih pindah ke lain kota dan memutuskan komunikasi dengan keluarga.


Kehidupan mereka sebagai warga masyarakat pun berjalan sebagaimana mestinya. Tak ada satu pun yang mencurigai jalan sesat yang mereka anut. Mereka bisa hidup membaur dengan warga sekitar tanpa takut dicurigai atau dijauhi.


Hingga kematian anak-anak mereka yang terjadi secara beruntun dalam kurun waktu dua tahun membuat warga sekitar mulai mencurigai mereka. Apalagi tiap kali anak mereka meninggal, bisnis keluarga mereka pun melonjak drastis. Warga menganggap jika kedua orangtua Alam melakukan persekongkolan dengan iblis hingga bisa kaya raya dalam waktu sekejap.


Hingga saat anak ketiga mereka yang merupakan kakak Alam ditemukan meninggal secara tak wajar, warga pun makin yakin jika mereka melakukan persekongkolan dengan iblis. Apalagi saat itu ibu Alam terlihat tak terlalu sedih akan kepergian anaknya.


Warga yang gusar pun beramai-ramai mendatangi rumah orangtua Alam dan meminta mereka mengakui perbuatannya. Sayangnya orangtua Alam terlanjur melarikan diri ke kota lain dan membeli rumah baru di sana.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2