
Aruna mempercepat langkahnya menjauhi ruangan misterius itu. Nafasnya tersengal- sengal. Beberapa kali ia mengusap wajahnya saat kembali mengingat sosok makhluk penghuni ruangan misterius itu.
Akhirnya Aruna tiba di depan kelas. Ia berusaha mengatur nafasnya sedemikian rupa dan setelahnya ia masuk ke dalam kelas. Kebetulan dosen pengajar kali ini adalah dosen yang ramah hingga mempersilakan Aruna masuk ke dalam kelas tanpa banyak pertanyaan.
Kemudian Aruna duduk di belakang Kenzo dan Ria yang menatapnya dengan penuh tanya. Aruna hanya menyilangkan telunjuknya di depan bibir menandakan jika dirinya tak ingin diganggu sekarang. Kenzo dan Ria pun mengalah dan kembali menatap ke arah dosen yang berdiri di depan kelas.
\=====
Saat jam istiahat Aruna menceritakan apa yang dilakukannya tadi hingga menyebabkan terlambat masuk kelas.
“ Gue lewat di dean ruangan misterius itu...,” kata Aruna.
“ Ngapain Lo ke sana sendirian. Kok ga ngajak Gue...?” tanya Kenzo.
“ Gue ga sengaja lewat sana Ken. Tadi Gue nyasar, abis bawain bukunya dosen Teknik eh Gue malah bingung mau
jalan kemana. Mau nanya ga enak, ntar ketauan dong kalo Gue bukan anak Teknik...,” sahut Aruna asal.
“ Jawaban Lo tuh ngaco Run. Ga usah ngomong juga mereka tau kalo Lo bukan anak Teknik. Kan jumlah cewek di sana bisa diitung pake jari...,” kata Ria gemas.
“ Oh iya, Gue lupa...,” sahut Aruna sambil nyengir.
“ Terus Lo masuk dong ke ruang misterius itu...,” kata Kenzo penasaran.
“ Ga lah, ngapain. Serem tau...,” sahut Aruna.
“ Denger sesuatu ga...?” tanya Ria.
“ Mmm..., denger suara aneh kaya barang jatoh tapi pas Gue intip lewat jendela, ruangan itu kosong kok...,” sahut Aruna.
“ Kalo kosong terus suara itu asalnya darimana dong...?” tanya Ria.
“ Mana Gue tau...,” sahut Aruna sambil menggedikkan bahunya.
Kenzo masih ingin bertanya namun ia urungkan saat melihat Fadil, Agung dan Galang yang mendekat kearah mereka. Yah, kini Galang bergabung menjadi anggota genk yang mereka sebut ‘genk comot’. Genk comot didirikan karena mereka berasal dari lima wilayah berbeda di Indonesia.
“ Jadi dicomotin satu-satu dari berbagai wilayah di Indonesia gitu maksudnya Lang...,” kata Fadil saat Galang bertanya mengapa harus memakai nama itu.
“ Dicomotin tuh apa maksudnya...?” tanya Galang yang berasal dari Lombok, Nusa Tenggara Barat.
“ Dicomot artinya diambil Galang...,” kata Ria gemas hingga membuat semua tertawa.
“ Ok deh, Gue ngerti sekarang Riaaa...,” sahut Galang dengan mimik lucu.
“ Eh sebenernya Kalian lagi ngomongin apaan tadi...?” tanya Agung.
“ Ruangan misterius...,” sahut Ria cepat.
“ Ngapain masih ngebahas itu sih...,” kata Agung sambil menampilkan mimik wajah tak suka.
“ Kan Aruna ga sengaja lewat sana tadi, sempet ngintip juga malah...,” sahut Kenzo.
“ Emang iya Run...?” tanya Fadil yang diangguki Aruna.
__ADS_1
“ Pokoknya ga usah ngebahas itu lagi ya, masih banyak hal yang bisa Kita kerjain daripada kepo sama ruanagan itu lho...,” kata Agung mengingatkan teman-temannya.
“ Siap Bos...!” sahut Aruna dan keempat teman lainnya bersamaan hingga membuat Agung kesal.
Tapi hanya sesaat, sedetik kemudian Agung pun ikut tertawa.
\=====
Jika di kampus Agung lah yang meminta untuk tak lagi menyelidiki ruangan misterius itu, di rumah Aruna justru mendapat peringatan keras dari George dan Matilda. Keduanya masuk ke dalam kamar Aruna melalui jendela. Beruntung Aruna menghuni kamar kost itu seorang diri.
“ Ga seharusnya Kamu masuk ke sana Aruna, itu terlalu bahaya untukmu...!” kata George tiba-tiba dengan lantang hingga mengejutkan Aruna yang baru saja hendak membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
“ Astaghfirullah aladziim..., Om ngagetin Aku tau ga...,” sahut Aruna sambil mengusap dadanya saking terkejutnya.
George nampak tak peduli. Sedangkan Matilda yang berdiri di belakang George nampak memberi kode pada Aruna agar diam dan mendengarkan saja apa yang akan diucapkan oleh George nanti. Tapi Aruna yang tak mengerti justru mengatakan sesuatu yang membuat George makin meradang.
“ Aku ga sengaja masuk ke sana Om. Lagian Om kan ga jelasin kenapa Aku ga boleh masuk ke sana, jadi saat ada kesempatan ya Aku masuk deh. Emangnya Om sama Tante liat juga ya...?” tanya Aruna pura-pura tak tahu.
“ Kamu ga lupa kalo Kami ini seperti bayanganmu kan Aruna...?!” tanya George dengan nada suara tinggi hingga membuat Matilda menyentuh lengan George untuk menenangkannya.
“ Aku ingat Om, ga usah teriak juga Aku denger kok...,” sahut Aruna sambil melengos padahal jantungnya saat itu berdebar lebih cepat karena tak menyangka George akan memarahinya. Ini adalah kali pertama George marah dan itu sedikit mengejutkan Aruna.
“ Sabar dong Sayang, ga usah marah-marah kaya gitu. Kasih tau aja pelan-pelan, Aruna pasti ngerti kok...,” kata Matilda dengan lembut.
George menghela nafas panjang seolah sadar jika ia telah membentak Aruna tadi. Tapi itu di luar keinginannya. Ia kesal karena Aruna mengabaikan ucapannya.
“ Maafin Aku Om, Tante...,” kata Aruna tiba-tiba sambil menggenggam tangan George dan Matilda dengan erat.
George dan Matilda saling menatap sejenak kemudian menganggukkan kepalanya.
“ Kita bicara sambil duduk yuk...,” ajak Matilda yang diangguki George dan Aruna.
Kemudian Aruna dan Matilda duduk di atas tempat tidur sedangkan George duduk di kursi dekat meja belajar.
“ Sekarang ceritain apa yang Kamu liat di ruangan itu...,” kata George dan Aruna pun menceritakan apa yang
dilihatnya tadi pagi.
“ Kenapa Kamu lari...?” tanya Matilda.
“ Aku takut lah Tante...,” sahut Aruna sambil melengos hingga membuat Matilda tertawa.
“ Jadi Kamu punya rasa takut juga Aruna...,” kata Matilda di sela tawanya.
“ Iya Tante...,” sahut Aruna malu-malu.
“ Di dalam sana adalah tempat dikuburnya seseorang yang memiliki kekuatan gelap. Apa yang pernah ia lakukan tak akan termaafkan. Jasadnya tertolak oleh bumi dan ia akan hidup lagi dan lagi hanya untuk menebar bencana sampai ia menemukan seseorang yang bisa membantunya Aruna...,” kata George dengan mimik serius.
“ Makanya Kamu liat ruangan itu sangat berbeda dengan ruangan lain kan Aruna. Di atas tanah tepat dimana jasad itu terkubur tak akan pernah bisa ditanami tumbuhan apa pun. Semua yang berada tepat di atasnya akan hancur termasuk lantai dan dinding juga atap ruangan itu...,” kata Matilda menambahkan.
“ Orang dengan kekuatan gelap, apakah dia perempuan Om...?” tanya Aruna.
“ Iya. Dan Kamu sudah bertemu dengannya tadi Aruna...,” sahut George.
__ADS_1
“ Perempuan tua di hutan ilusi itu Om...?” tanya Aruna.
“ Betul, itu memang dia. Dulu dia adalah dukun berilmu hitam yang membantu orang-orang berbuat kejahatan Aruna...,” sahut George.
“ Terus makhluk hitam bertanduk yang Aku temui di ruangan misterius itu siapa Om...?” tanya Aruna bingung.
“ Itu adalah wujud lain dukun wanita itu setelah mati Aruna. Kan dia juga punya sesembahan yang selalu membantunya menjalankan misi. Nah, kurang lebih begitu lah wujudnya...,” sahut George.
“ Oh iya. Kan manusia yang bekerja sama dengan iblis akan memiliki wujud seperti sembahannya saat dia mati ya Om. Tapi gimana dukun wanita itu bisa mati...?” tanya Aruna.
“ Dia mati setelah dikeroyok puluhan warga bersenjata tajam yang merupakan keluarga korban kejahatannya Aruna...,” sahut Matilda.
“ Kalo dia punya ilmu yang tinggi, kenapa bisa kalah sama warga yang bersenjata Tante. Bukannya dia bisa aja menghempas warga yang mengeroyoknya itu dengan ilmu yang dia miliki...?” tanya Aruna tak mengerti.
“ Dia ga bisa melakukan itu Aruna. Andaikan bisa dia pasti belum mati kan...?” tanya Matilda.
“ Karena saat warga mengeroyoknya bertepatan dengan waktu sial wanita itu Aruna...,” kata George.
“ Waktu sial apa Om...?” tanya Aruna tak mengerti.
“ Setiap penganut ilmu hitam memiliki pantangan dan waktu sial Aruna. Saat pantangan dilanggar atau saat waktu sial itu tiba, maka semua ilmunya tak akan berarti apa-apa. Setinggi apa pun ilmu yang dimiliki wanita itu, dia kalah juga. Tubuhnya memang utuh tapi wajahnya terluka parah karena disayat dengan berbagai benda tajam yang dibawa warga saat mengepungnya. Bahkan ada seorang pria yang tega mencongkel kedua bola matanya. Pria itu marah karena anaknya meninggal mengenaskan dengan dua bola mata yang lenyap entah kemana...,” kata George.
“ Pantesan wajahnya banyak sayatan dan matanya cuma rongga hitam. Terus apa selanjutnya Om...?” tanya Aruna.
“ Tubuh wanita itu diseret dengan menggunakan kuda hingga tiba di tanah kosong yang kemudian hari dibangun ruangan itu Aruna. Dan di sana dia dikubur hidup-hidup. Beberapa orang sengaja menimbun makamnya dengan batu besar agar wanita itu ga bisa keluar dan membalas dendam nantinya...,” sahut George.
“ Mengenaskan sekali, kasia dia...,” kata Aruna lirih.
“ Kenapa Kamu kasian sama orang jahat kaya dia Aruna...?” tanya Matilda tak suka.
“ Aku kasian sama akhir hidupnya Tante. Tapi Aku tetap ga setuju dengan cara dia menjalani hidupnya karena udah menyakiti banyak orang...,” sahut Aruna cepat.
“ Setelah mendengar ini apa yang akan Kamu lakukan Aruna...?” tanya George.
“ Aku belum tau Om. Mungkin Aku hanya akan menunggu apa yang akan makhluk jelmaan dukun wanita itu lakukan. Jika dia melakukan sesuatu yang membahayakan orang lain, Aku harus bertindak...,” sahut Aruna.
“ Aku tau pasti begini endingnya...,” kata George sambil menghela nafas panjang.
“ Semua jadi istimewa kalo udah di tanga Aruna ya Sayang...,” kata Matilda sambil tersenyum.
“ Iya Sayang...,” sahut George pasrah.
“ Tapi Aku janji ga melakukan sesuatu yang membahayakan dan bikin Om cemas lagi kok...,” kata Aruna.
“ Iya iya. Om tau maksudmu...,” sahut George sambil mencibir hingga membuat Matilda dan Aruna tertawa.
George pun ikut tertawa sambil mengusak rambut Aruna dengan gemas. Meski pun Aruna berjanji tak akan membahayakan dirinya sendiri tapi George yakin itu hanya janji karena Aruna pasti melanggarnya lagi seperti biasa.
\=====
Aruna sedang duduk di kursi taman kampus sambil menunggu Ria dan Kenzo yang masih mengerjakan tugas di dalam kelas. Aruna menyandarkan tubuhnya sambil mengedarkan pandangannya ke penjuru taman. Saat itu lah tatapan Aruna membentur sosok makhluk hitam yang tengah berdiri di bawah pohon sambil menatap lekat kearahnya.
Aruna menghela nafas panjang karena tahu jika dirinya akan terlibat dengan hal besar.
__ADS_1
“ Kalo udah kaya gini gimana cara Aku menghindarinya Om...,” gumam Aruna sambil tersenyum kecut.
Bersambung