Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
259. Kautsar Siap


__ADS_3

Kautsar pun kembali ke rumah setelah menyaksikan ijab kabul Ria dan Kenzo. Meski pun Kenzo dan teman-temannya mencoba menunda kepulangan Kautsar, tapi tampaknya pria itu tak terpengaruh.


" Kasian Aruna di rumah...," kata Kautsar sambil menstarter motornya.


" Kata Lo Aruna ditemenin sama orangtua Lo dan Mertua Lo Tsar...," kata Fadil.


" Iya. Tapi kan Gue Suaminya...," sahut Kautsar sambil melirik Kenzo seolah meminta pengertian sang pengantin pria.


" Udah guys, jangan halangin Kautsar. Ntar kalo Lo udah pada married pasti ngerti gimana rasanya ninggalin Istri yang sakit...," kata Kenzo.


" Ciee cieee, yang baru aja married udah mulai paham nih tugas Suami...," ledek Agung hingga membuat mereka tertawa.


" Iya dong...," sahut Kenzo bangga.


" Kan itu salah satu alasan kenapa Kenzo dan Ria married hari ini Gung...," kata Fadil mengingatkan.


" Oh iya, Gue lupa Dil...," sahut Agung.


" Ok, kalo gitu Gue cabut duluan ya guys. Assalamualaikum..., " kata Kautsar lalu melajukan motornya perlahan meninggalkan halaman rumah orangtua Kenzo.


" Wa alaikumsalam, hati-hati Tsar. Salam buat Aruna yaa...," sahut Kenzo dan ketiga temannya bersamaan.


Kautsar pun melambaikan tangannya sebagai jawaban. Tak lama kemudian Kenzo dan ketiga temannya kembali ke dalam rumah untuk menjamu tamu lainnya.


\=\=\=\=\=


Tibalah hari dimana Aruna harus melakukan check up ke Rumah Sakit. Aruna yang diantar Kautsar datang ke Rumah Sakit saat sore hari karena harus menunggu Kautsar pulang dari kantor.


Aruna dan Kautsar nampak melangkah perlahan memasuki loby Rumah Sakit. Hal itu karena Aruna masih merasa nyeri di perut bagian bawah. Namun Aruna menolak saat Kautsar menawarkan kursi roda untuknya.


" Ga usah, Aku pengen latihan jalan aja. Udah tiga hari lho Aku bedrest dan ga ngelakuin apa-apa di rumah. Aku khawatir malah lama sembuhnya dan jadi kebiasaan nanti. Kan ga selamanya Kamu nemenin Aku kaya gini Sayang...," kata Aruna.


" Ok, kalo itu mau Kamu. Tapi pelan-pelan aja ya, ga usah buru-buru jalannya...," sahut Kautsar sambil memapah Aruna.


" Ok...," sahut Aruna cepat.


Kautsar pun kagum menyaksikan perjuangan sang istri melewati rasa sakitnya. Sambil meringis menahan nyeri Aruna terus terus melangkah. Sesekali mereka berhenti untuk memberi kesempatan Aruna menghirup udara sebanyak-banyaknya.


" Sebenernya tadi Mama sama Ibu yang mau nganterin Aku ke Rumah Sakit lho Sayang. Tapi karena Kamu keukeh mau nganterin, mereka jadi ngalah deh...," kata Aruna.


" Bukan gitu Sayang. Aku merasa ini tanggung jawab Aku. Kan Aku Suami Kamu. Jadi Aku harus tau secara detail apa aja yang boleh dan ga boleh dilakuin supaya Kamu cepet sembuh. Lagian kan Kita yang bakal ngelewatin semuanya bareng-bareng nanti...," sahut Kautsar sambil menatap Aruna dengan lembut.


" Iya juga sih. Aku ga mikir sampe sana tadi. Makasih ya...," kata Aruna sambil menggenggam jemari Kautsar dengan erat.

__ADS_1


" Gapapa, yang penting Kamu ikutin semua anjuran dokter nanti ya...," sahut Kautsar yang diangguki Aruna.


Tak lama kemudian mereka tiba di depan ruangan dokter Sheina. Ada beberapa pasien yang duduk di kursi tunggu. Kedua mata Aruna nampak berkaca-kaca melihat pasien dokter Sheina yang sebagian besar dalam kondisi hamil besar.


Mengerti arti tatapan sang istri, Kautsar pun merengkuh bahu Aruna lalu menariknya ke dalam pelukannya.


" Aku gapapa kok Sayang...," bisik Aruna dengan suara bergetar.


" Aku percaya. Aku cuma mau peluk Kamu aja kok...," sahut Kautsar sambil mendaratkan ciuman singkat di bibir Aruna hingga membuat wajah Aruna merona karena malu.


" Ish, Kamu tuh ya...," kata Aruna sambil membenamkan wajahnya di pelukan sang suami.


Kautsar pun tersenyum sambil mengusap punggung Aruna dengan lembut. Kautsar tahu jika saat itu Aruna tengah menyembunyikan air matanya karena Kautsar merasa dadanya hangat pertanda Aruna tengah meneteskan air mata.


Setelah berhasil menguasai dirinya Aruna pun mengurai pelukannya. Kemudian Kautsar mengulurkan tangannya untuk membantu mengusap sisa air mata di wajah Aruna.


" Udah ngerasa baikan...?" tanya Kautsar dengan lembut.


" Udah...," sahut Aruna mantap sambil menyandarkan kepalanya di lengan Kautsar.


Kautsar pun menghela nafas lega. Ia meraih jemari Aruna lalu menggenggamnya dengan erat untuk memberi suport pada sang istri. Sesekali ia mengecup jemari Aruna hingga membuat Aruna tersenyum.


Namun senyum Aruna memudar saat ia melihat sosok tak kasat mata melintas di depannya. Aruna terus mengamati sosok tak kasat mata itu melayang menembus dinding dan masuk ke dalam ruangan dokter Sheina.


" Nyonya Aruna...!" panggil perawat tiba-tiba.


Aruna pun berdiri dibantu Kautsar. Lalu mereka melangkah perlahan menuju ruangan dokter Sheina. Sang perawat yang berdiri di depan pintu sigap membantu Aruna melangkah hingga duduk di hadapan dokter Sheina.


" Makasih Suster...," kata Kautsar dan Aruna bersamaan.


" Sama-sama Pak Bu...," sahut sang perawat dengan santun.


Dokter Sheina yang duduk sambil mengamati Aruna pun nampak tersenyum.


" Masih sakit Aruna...?" tanya dokter Sheina sambil mengecek denyut nadi di pergelangan tangan Aruna.


" Sedikit dok...," sahut Aruna cepat.


" Oh ya. Tapi Kamu keliatan kesulitan saat jalan tadi. Pake kursi roda aja kalo emang masih sakit Aruna...," kata dokter Sheina.


" Tapi Aku udah bedrest tiga hari dok. Ga ngapa-ngapain selain makan tidur aja. Ini kali pertama Aku jalan lumayan jauh. Jadi please jangan suruh Aku duduk di kursi roda. Aku ngerasa malah sulit sembuh nanti...," rengek Aruna.


" Bukan tanpa alasan Aku bilang kaya gini Aruna Sayang. Penyebab keguguranmu kan lumayan ekstrim dan itu ga biasa lho. Jadi Aku harus sedikit tegas dalam hal ini karena ini demi kebaikan Kamu juga...," kata dokter Sheina sambil mengusap rambut Aruna dengan sayang.

__ADS_1


" Iya iya. Aku emang ga bisa menang lawan dokter Sheina yang cantik dan galak ini...," sahut Aruna sambil mengerucutkan bibirnya hingga membuat Kautsar dan dokter Sheina tertawa.


Namun rupanya bukan hanya mereka yang tertawa. Aruna juga melihat sosok tak kasat mata yang tadi masuk ke ruangan dokter Sheina ikut tertawa mendengar ucapannya. Diam-diam Aruna tersenyum lega karena yakin jika sosok makhluk tak kasat mata itu bukan lah sosok yang membahayakan dokter Sheina.


" Sekarang berbaring di sana ya Nak, Aku harus mengecek perutmu...," kata dokter Sheina.


" Baik dok...," sahut Aruna.


Kemudian Kautsar menggendong Aruna dan meletakkannya di atas tempat tidur. Sikap Kautsar lagi-lagi membuat dokter Sheina tertegun. Ia memalingkan wajahnya kearah lain karena tak kuasa melihat kemesraan Kautsar dan Aruna.


" Ngeliat yang kaya gini udah sering. Tapi kalo bangsaku sendiri yang melakukannya kenapa Aku merasa ga nyaman ya...," batin dokter Sheina sambil meraih stetoskop dari meja kerjanya.


Sesaat kemudian dokter Sheina mulai melakukan pemeriksaan kepada Aruna. Kautsar nampak mengamati dan mendengar semua penjelasan sang dokter dengan seksama.


Sedangkan Aruna nampak mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan dan membentur sosok Alam di sudut ruangan. Aruna pun tersenyum lalu mulai melakukan komunikasi dengan makhluk tak kasat mata itu. Alam terkejut saat mengetahui Aruna bisa melihatnya bahkan menyapanya dengan ramah.


" Apa kabar, senang melihat Kamu di sini menjaga dokter Sheina...," kata Aruna dalam hati sambil tersenyum kearah Alam.


" Kamu bisa bicara denganku, apa Kamu juga bisa melihatku...? " tanya Alam takjub.


" Tentu saja. Kok Kamu bingung gitu sih...?" tanya Aruna.


" Bukan begitu. Selama ini Aku hanya bisa berkomunikasi dengan suara. Belum ada yang bisa melihat wujudku yang seperti ini. Dokter Sheina pun hanya bisa bicara denganku tanpa pernah melihat wujudku. Dia hanya pernah melihat wujudku sesaat sebelum Aku mati...," sahut Alam sedih.


" Sesaat sebelum mati...?" ulang Aruna tak mengerti.


" Iya. Dulu Aku juga pasien di Rumah Sakit ini. Aku meninggal di meja operasi dan ruhku tetap bertahan di sini. Aku juga ga tau kenapa. Aku pernah berpapasan dengan dokter Sheina di koridor Rumah Sakit saat Aku dibawa ke ruang operasi. Setelah Aku mati Aku mengikutinya karena hanya dia yang mendengar suaraku tapi ga lari ketakutan...," kata Alam.


Aruna mengangguk tanda mengerti. Lalu Aruna bangkit saat pemeriksaan usai. Kautsar kembali menggendong Aruna dan meletakkannya di kursi.


Sedangkan dokter Sheina nampak gelisah saat tahu jika Aruna tak mendengar penjelasannya dan lebih mendengarkan ucapan Alam.


" Jadi Kamu juga bisa berkomunikasi dengan makhluk halus Aruna...?" tanya dokter Sheina tak sabar hingga mengejutkan Aruna dan Kautsar.


" Iya dok...," sahut Aruna cepat dan membuat dokter Sheina tersenyum.


" Dan sejak tadi Kamu bicara sama Alam kan...?" tanya dokter Sheina lagi.


" Kalo yang dokter maksud itu laki-laki di sudut ruangan, itu betul...," sahut Aruna salah tingkah.


" Gapapa, Aku juga perlu bantuanmu supaya bisa bicara banyak hal dengan Alam. Ada kesalah pahaman antara Aku dan Alam. Apa Kamu bisa membantuku Aruna...?" tanya dokter Sheina penuh harap.


" Insya Allah bisa dok...," sahut Aruna.

__ADS_1


Jawaban Aruna membuat dokter Sheina, Alam dan Kautsar tersenyum. Meski belum tahu seperti apa sosok yang dibicarakan Aruna dan dokter Sheina, namun Kautsar tahu jika istrinya harus kembali berinteraksi dengan makhluk tak kasat mata. Dan Kautsar pun siap jika Aruna memerlukan bantuannya kelak.


bersambung


__ADS_2