
Setelah makan siang Kautsar dan Reyhan pun kembali ke ruangan masing-masing. Mereka langsung membuka kartu undangan pernikahan Gladys dengan pria yang katanya teman mereka itu.
Setelah membaca siapa nama pria yang menjadi pasangan Galdys, Reyhan bergegas menghampiri Kautsar.
" Tsar...!" panggil Reyhan dengan langkah tergesa-gesa.
" Iya Rey, Gue udah baca...," sahut Kautsar yang mengerti kemana arah pembicaraan Reyhan.
" Ini mustahil kan. Nama Mukhlis ini bukan berarti temen Kita yang itu kan...?" tanya Reyhan ragu.
" Gue ga tau Rey. Tapi seinget Gue yang namanya Mukhlis ya cuma dia di kantor ini...," sahut Kautsar cemas.
" Tapi ini ga mungkin Tsar. Mukhlis kan udah meninggal tiga bulan yang lalu. Lo, Gue dan temen-temen juga hadir di pemakamannya waktu itu...," kata Reyhan gusar sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
" Iya Rey. Jadi ini Mukhlis yang mana ya...?" tanya Kautsar sambil berpikir keras dan mencoba mengingat sosok lain selain Mukhlis yang telah meninggal dunia itu.
" Lo punya temen atau kenalan yang namanya Mukhlis juga ga di luar sana...?" tanya Reyhan.
" Seinget Gue sih ga ada...," sahut Kautsar cepat.
" Yakin...?" tanya Reyhan lagi.
" Insya Allah yakin. Nah Lo sendiri, apa punya temen atau kenalan yang namanya Mukhlis juga ga...?" tanya Kautsar.
" Mmm..., sebentar. Kalo temen sih kayanya ga ada...," sahut Reyhan.
" Kalo tukang jualan makanan ada ga ?. Secara Lo kan suka ngutang tuh kalo pas akhir bulan...," sindir Kautsar.
" Eh, sia*an Lo. Ga usah ngomong yang bagian itu bisa ga sih...!" kata Reyhan kesal.
" Ups, sorry kelepasan. Tapi ada ga...?!" tanya Kautsar mulai ikut kesal.
" Ga ada...!" sahut Reyhan akhirnya.
Sesaat kemudian keduanya terdiam. Kautsar nampak mengetuk meja dengan ujung jarinya. Entah mengapa saat itu ia teringat pada istri cantiknya yang kini menghilang entah kemana.
" Pergi ke undangan kaya gini tanpa Kamu Kayanya kok sulit ya...," gumam Kautsar hingga membuat Reyhan menoleh.
" Emang ada apa Lo sama Aruna ?. Lagi berantem ya...?" tanya Reyhan.
" Apaan sih ?. Gue sama Istri Gue baik-baik aja kok...," sahut Kautsar cepat.
__ADS_1
" Terus kenapa Lo bilang kaya gitu tadi...?" tanya Reyhan.
" Kaya gitu apa sih maksud Lo...?" tanya Kautsar tak mengerti.
" Kan Lo barusan bilang kalo Lo ga bisa pergi kalo ga ada Aruna. Emangnya Aruna kemana, minggat...?!" tanya Reyhan.
" Ck, bukan minggat. Dia lagi pulang ke rumah orangtuanya. Lagi ada acara katanya. Gue belum bisa nemenin karena kerjaan Kita kan lagi numpuk banget...," sahut Kautsar asal sambil menatap kearah lain.
" Oh gitu...," kata Reyhan sambil menganggukkan kepalanya.
" Iya, emang gitu. Emang Lo maunya apa ?. Jangan bilang Lo ngarepin Gue sama Aruna ribut besar, terus Kita pisah rumah, terus Kita cerai. Gitu kan yang ada di otak udang Lo itu...?!" tanya Kautsar sewot hingga mengejutkan Reyhan.
" Astaghfirullah aladziim. Nyebut Tsar !. Mana ada Gue kepikiran kaya gitu...," sahut Reyhan.
" Masa...?!" tanya Kautsar tak percaya.
" Suer Tsar. Jujur Gue tuh seneng ngeliat Lo sama Aruna hidup rukun damai. Bikin adem tau ga ?. Mulut Gue emang jahat Tsar, tapi dalam hati Gue ga pernah berharap jahat sama rumah tangga Lo. Lagian Lo sensi banget sih belakangan ini. Kalo Gue tau itu sebabnya kan Gue ga bakal ngomong macam-macam. Ada baiknya Lo susulin tuh Istri Lo biar ga uring-uringan terus. Pasti gara-gara belum dapat jatah deh dari Aruna, makanya bawaannya ngamuk mulu...," kata Reyhan kesal sambil melangkah menuju ruangannya.
Kautsar tersentak mendengar ucapan Reyhan. Ia memang merasa tak nyaman beberapa hari ini karena hanya bisa mengetahui kabar Aruna dari George.
" Reyhan bener. Kenapa ga kepikiran buat nyusulin Aruna aja ya. Pasti Om George tau dimana Aruna tinggal. Buktinya dia bisa ngasih tau Gue apa aja yang dilakuin Aruna setiap hari...," kata Kautsar dalam hati.
Kautsar tampak menyimpan kartu undangan Gladys di dalam tasnya lalu mulai fokus dengan pekerjaannya.
\=\=\=\=\=
Dokter Sheina baru saja tiba di rumah. Ia tengah membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur saat Bi Mey mengetuk pintu kamarnya.
" Kenapa Bi, masuk aja pintunya ga dikunci...," kata dokter Sheina sambil memejamkan mata.
Pintu pun di buka dan bi Mey masuk ke dalam kamar.
" Maaf ganggu. Ada tamu di luar Mbak...," kata Bi Mey sambil mengulum senyum.
" Tamu kok jam segini. Siapa sih Bi...?" tanya dokter Sheina.
" Mas Rasyid Mbak...," sahut Bi Mey hingga mengejutkan dokter Sheina.
Dokter Sheina langsung membuka matanya yang terpejam lalu bangkit dari posisi tidurnya.
" Rasyid yang polisi itu Bi...?" tanya dokter Sheina ragu.
__ADS_1
" Iya Mbak. Emangnya ada nama Rasyid lain ya selain dia yang Mbak Sheina kenal...?" tanya Bi Mey menggoda sang majikan.
" Ga ada Bi...," sahut dokter Sheina dengan wajah merona.
" Terus gimana nih...?" tanya Bi Mey tak sabar.
" Gimana apanya...?" tanya dokter Sheina tak mengerti.
" Ya tamunya dong. Mau diterima ga ?, disuruh masuk atau disuruh tunggu di luar aja...," kata Bi Mey gemas.
" Oh itu. Mmm..., menurut Bi Mey pantes ga Kita nerima tamu jam segini...?" tanya dokter Sheina.
" Pantes aja Mbak. Ini baru jam setengah tujuh kok. Belum malam banget. Kalo udah jam sembilan malam yah udah ga pantes buat nerima tamu. Apalagi kan ga ada cowok di rumah ini...," sahut Bi Mey hingga membuat dokter Sheina tersenyum.
" Ok, kalo gitu suruh masuk aja Bi. Tolong buatin minuman hangat ya Bi. Saya ganti baju dulu sebentar...," kata dokter Sheina.
" Siap Mbak. Tapi jangan kelamaan di kamar ya. Ntar Mas Rasyid keburu pulang...," kata Bi Mey.
" Iya iya. Udah sana buruan keluar...," pinta dokter Sheina sambil mendorong tubuh Bi Mey agar keluar dari kamarnya.
BI Mey tertawa kecil mendapati sikap majikannya yang terlihat bahagia itu. Ia bergegas keluar rumah untuk menemui Rasyid.
" Maaf Mas Rasyid, kata Mbak Sheina silakan tunggu di dalam aja...," kata Bi Mey dengan santun.
" Emangnya gapapa Bi...?" tanya Rasyid tak percaya.
" Iya gapapa. Mari silakan...," kata Bi Mey sambil membuka daun pintu lebar-lebar.
" Makasih Bi...," sahut Rasyid dengan senyum mengembang.
" Sama-sama. Saya tinggal sebentar buat nyiapin minuman ya Mas...," pamit Bi Mey yang diangguki Rasyid.
Setelah Bi Mey masuk ke dalam rumah, Rasyid pun menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Ia mengedarkan pandangannya ke penjuru ruang tamu. Ada lukisan besar yang tergantung di dinding dan itu membuat Rasyid penasaran.
Tak sadar Rasyid pun melangkah mendekati lukisan pemandangan alam itu. Ia menyentuh lukisan dengan ujung jarinya untuk memastikan warna merah pada lukisan itu bukan lah darah.
" Maaf membuat Kamu menunggu lama Rasyid...," kata dokter Sheina tiba-tiba hingga mengejutkan Rasyid.
Rasyid menoleh kearah dokter Sheina dan terpana untuk beberapa saat. Rasyid melihat dokter Sheina tampil sederhana dengan pakaian rumahan dan itu membuat wanita itu terlihat makin cantik dimatanya.
\=\=\=\=\=
__ADS_1