Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
107. Ada Yang Ga Beres


__ADS_3

Sore itu Aruna dan kelima temannya langsung meluncur ke Rumah Sakit Lavette. Mereka tiba persis saat jam berkunjung dimulai.


Aruna nampak mengedarkan pandangan ke penjuru tempat parkir untuk mencari suaminya. Senyum pun menghias wajah cantiknya saat ia melihat Kautsar memasuki halaman Rumah Sakit.


" Tuh Kautsar dateng Run...," kata Galang sambil menunjuk kearah Kautsar.


" Iya...," sahut Aruna sambil tersenyum.


" Kalo gitu Kita tunggu di loby ya...," kata Kenzo sambil menggamit tangan Ria dan membawanya melangkah meninggalkan Aruna.


" Ok...," sahut Aruna lalu bergegas menghampiri Kautsar.


Kautsar nampak tersenyum sambil membuka jaketnya. Kemudian Kautsar mengecup kening Aruna dengan lembut.


" Baru sampe juga...?" tanya Kautsar.


" Iya. Macet ya dari kantor...?" tanya Aruna.


" Lumayan. Mana yang lain...?" tanya Kautsar sambil merengkuh Aruna ke dalam pelukannya.


" Udah duluan. Paling lagi nunggu di loby...," sahut Aruna.


" Kita ke sana yukk...," ajak Kautsar dan diangguki Aruna.


Genk Comot nampak tersenyum melihat kehadiran Kautsar. Setelah saling menyapa, mereka memutuskan segera menuju ruangan dimana Robi dirawat.


Namun saat mereka hendak melangkah, mereka berpapasan dengan rombongan dokter dan perawat yang sedang mendorong sebuah brankar. Dan betapa terkejutnya mereka saat melihat Robi lah yang ada di atas brankar itu.


" Itu Robi kan...?" tanya Ria setengah berbisik.


" Iya...," sahut Aruna cepat.


" Kenapa ya dia. Keliatannya kritis ya Run...," kata Ria dengan iba.


" Gue ga tau Ri. Kita doain supaya Robi baik-baik aja ya...," sahut Aruna.


Ria pun mengangguk. Dalam hati ia menyesal telah menolak mengakui Robi sebagai temannya. Tepukan halus di pundaknya membuat Ria tersadar lalu menepi untuk memberi jalan pada pasien lain yang akan lewat. Setelahnya Ria terus menatap brankar tempat Robi terbaring.


Kondisi Robi saat itu sangat mengenaskan. Wajah lebam dan kepala dibalut perban. Dengan selang infus dan beberapa selang lainnya nampak memenuhi lengan dan bagian tubuhnya. Robi dinyatakan kritis hingga membuat kedua orangtuanya yang ada di sampingnya tak henti menangis.


Brankar didorong cepat menuju ruang IGD hingga membuat genk Comot menghentikan langkah mereka dan mengamati pergerakan brankar dari jauh.


" Robi sadar Nak. Jangan tinggalin Mama ya Sayang...," kata mama Robi sambil menangis.


" Maaf Bu, Kalian ga bisa masuk. Biar dokter fokus ngecek kondisi pasien, sebaiknya Ibu dan Bapak tunggu di luar ya...," kata seorang perawat dengan tegas.


" Tapi Saya mau liat Sus. Tolong ijinin Saya masuk ya. Saya janji ga akan ganggu nanti...," pinta mama Robi menghiba.


" Ga bisa Bu. Sebaiknya Ibu tunggu di luar aja ya. Maaf...," sahut sang perawat sambil menutup pintu.

__ADS_1


" Udah Ma. Jangan kaya gini dong. Percayain aja sama dokter dan perawat. Mereka pasti melakukan yang terbaik untuk anak Kita...," kata papa Robi sambil memeluk istrinya dengan erat.


Mama Robi nampak kecewa lalu menangis dalam pelukan suaminya.


Sementara itu Aruna nampak termenung saat mengingat kondisi Robi yang dilihatnya tadi.


" Kamu kenapa Sayang...?" tanya Kautsar sambil mengusap punggung Aruna dengan lembut.


" Gapapa. Cuma kasian aja sama Robi. Apalagi ngeliat orangtua nya tadi...," sahut Aruna.


" Jangan berlebihan kasiannya. Aku ga suka...," kata Kautsar sambil membuang pandangannya kearah lain.


" Kamu nih, kondisi kaya gini masih aja jelous..., " gerutu Aruna namun membuat Kautsar tersenyum karena berhasil membuat Aruna kembali pada jati dirinya semula.


" Gimana nih guys. Si Robi belum bisa dijenguk kayanya...," kata Fadil tiba-tiba.


" Ya udah Kita balik aja. Lagian juga percuma Kita di sini kalo ga boleh masuk ke dalam sana. Yang ada Kita malah ganggu pasien lain yang emang mau berobat...," sahut Agung.


" Betul. Gue setuju sama Agung...," kata Kenzo dan Galang bersamaan.


" Itu artinya Kita balik nih...?" tanya Ria.


" Iya...," sahut genk Comot dan Kautsar bersamaan.


Kemudian Genk Comot dan Kautsar nampak membalikkan tubuh lalu berjalan menuju tempat parkir.


" Iya, hati-hati...," sahut Aruna.


" Duluan ya Run, Tsar...," kata Galang, Agung, Fadil dan Kenzo bersamaan.


" Iya...," sahut Aruna dan Kautsar sambil tersenyum.


Setelah melihat kelima teman Aruna berlalu, Kautsar pun bersiap menstarter motornya namun dicegah oleh Aruna.


" Kita jangan pulang sekarang ya Tsar...," kata Aruna sambil mencekal tangan suaminya itu.


" Lho kenapa...?" tanya Kautsar tak mengerti.


" Aku mau Kita balik lagi ke dalam..., " sahut Aruna.


" Ngapain Kita di sana...? " tanya Kautsar.


" Ada yang harus Aku pastiin. Please temenin Aku yaa...," pinta Aruna.


" Ok...," sahut Kautsar mantap.


" Makasih Sayang...," kata Aruna sambil berjinjit lalu mengecup pipi Kautsar dengan cepat.


" Sama-sama Sayang...," sahut Kautsar sambil mengacak rambut Aruna dengan gemas.

__ADS_1


Kemudian keduanya melangkah menuju bagian dalam Rumah Sakit. Aruna dan Kautsar sengaja duduk di ruang tunggu sambil mengamati ruang IGD tempat Robi dirawat.


" Sampe kapan Kita di sini, ini udah hampir Maghrib lho Sayang...," kata Kautsar mengingatkan sang istri.


" Sssttt..., coba Kamu liat di sana..., " sela Aruna sambil menyilangkan telunjuknya di depan bibir.


Kautsar pun menoleh dan melihat jika dari dalam ruang IGD terlihat brankar yang didorong keluar oleh dua orang perawat.


" Kayanya itu Robi deh...," kata Kautsar.


" Iya, itu emang Robi...," sahut Aruna liar lirih.


" Dia kenapa sih Sayang...?" tanya Kautsar penasaran.


" Itu yang mau Aku cari tau...," sahut Aruna sambil mengamati pergerakan brankar yang membawa tubuh Robi.


Namun sayangnya saat itu tubuh Robi telah ditutupi selimut hingga ke wajahnya. Sedang di samping brankar sang mama nampak menjerit histeris. Ternyata Robi tak terselamatkan, ia dinyatakan meninggal dunia oleh dokter yang membantu menanganinya tadi.


" Anakku... Robi..., jangan pergi Nak. Kamu anak kebanggaan Mama. Anak sulung Mama. Tempat Mama dan Papamu menitipkan diri nanti. Robi banguunnn Naakkk...," rintih mama Robi menyayat hati.


" Inna Lillahi wainna ilaihi rojiuun..., " gumam Aruna dan Kautsar bersamaan.


Rintihan mama Robi yang terus mengikuti brankar itu membuat semua orang yang mendengarnya merasa iba termasuk Aruna dan Kautsar. Keduanya saling menatap dan tak tahu harus berbuat apa.


Kautsar merengkuh bahu Aruna sambil mengusap nya dengan lembut. Aruna nampak mengepalkan tangannya seolah marah.


" Ada yang ga beres...," kata Aruna lirih namun masih bisa didengar oleh Kautsar.


" Apanya yang ga beres...? " tanya Kautsar.


" Kematian Robi ini ga wajar. Aku harus cari tau...," sahut Aruna sambil bangkit dari duduk nya.


" Kamu mau kemana...?" tanya Kautsar sambil mencekal tangan Aruna dengan lembut.


" Aku mau liat jenasahnya dari deket. Terlalu banyak orang di sini bikin Aku kesulitan untuk melihat dia Tsar...," sahut Aruna gusar.


" Kamu ga mungkin ke sana Aruna. Ada orangtuanya Robi dan mereka pasti curiga ngeliat Kamu di sana...," kata Kautsar.


" Kan ada Kamu Tsar. Kamu yang bakal bikin alasan untuk Kita. Iya kan...?" tanya Aruna penuh harap sambil memegangi lengan Kautsar.


Kautsar nampak menghela nafas panjang sebelum menganggukkan kepalanya.


" Ok...," kata Kautsar pasrah hingga membuat Aruna tersenyum.


" Makasih...," bisik Aruna lirih dan diangguki Kautsar.


Kemudian Kautsar bangkit lalu menggandeng tangan Aruna dan membawanya melangkah mengikuti arah brankar tadi pergi.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2