Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
216. Ngidam Martabak


__ADS_3

Mobil Pasko terus melaju membelah jalan dengan kecepatan tinggi. Kali ini Bianca dan Kautsar berubah posisi. Bianca duduk di samping Pasko, sedangkan Kautsar duduk di samping Aruna.


" Saya sengaja duduk di depan karena tau Kamu memerlukan Suamimu Aruna...," kata Bianca sambil tersenyum.


" Iya Bu makasih..." sahut Aruna sambil menyandarkan kepalanya di bahu Kautsar.


" Oh iya. Ngomong-ngomong dimana Kamu ngambil pecahan kaca yang tadi disebar di leher kuyang itu Aruna...?" tanya Bianca karena tak mendengar jelas saat Aruna mengatakan darimana asal pecahan kaca itu.


" Di pantry kantor Bu. Emang kenapa...?" tanya Aruna.


" Gapapa sih. Saya cuma heran kenapa pecahan kaca itu berwarna-warni ya. Emangnya OB kantor ga sengaja mecahin banyak gelas hari ini Aruna...?" tanya Bianca sambil menoleh kearah Aruna.


" Oh itu. Saya emang sengaja mecahin beberapa gelas sore ini. Saya pilih acak aja biar cepet. Terus pecahannya Saya tampung di plastik dan Saya bawa deh...," sahut Aruna santai namun mengejutkan Bianca, Pasko dan Kautsar.


Untuk sejenak ketiganya saling menatap kemudian tertawa geli.


" Kamu nih nakal banget sih Sayang. Ntar kalo ketauan pimpinan gimana...?" tanya Kautsar sambil mengusap kepala Aruna.


" Ga bakal ketauan. Kan pimpinannya udah jadi abu tadi...," sahut Aruna sambil tersenyum kecut.


Untuk sejenak suasana di dalam mobil pun menjadi sunyi. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing.


" Ehm, maaf kalo Saya lancang. Sepertinya tadi Bu Bianca agak ragu untuk menyelesaikan semuanya. Emang ada apa ya Bu...?" tanya Kautsar hati-hati.


Bianca tersentak lalu menoleh kearah Pasko seolah meminta bantuan untuk menjawab. Namun Pasko hanya mengulum senyum sambil pura-pura sibuk menatap ke jalan raya di depannya.


Sebelum menjawab pertanyaan Kautsar, Bianca nampak menghela nafas panjang. Kemudian dia pun bercerita.


" Dulu Saya dan Pak Hasby sempet punya hubungan spesial Mas. Lumayan lama. Tapi hubungan itu seolah jalan di tempat dan ga jelas kemana arahnya. Makanya Saya pilih putus daripada bertahan dalam hubungan yang ga jelas ujung pangkalnya...," kata Bianca sambil melengos hingga mengejutkan Aruna dan Kautsar.


" Ibu yang mutusin Pak Hasby...?" tanya Aruna.


" Iya. Dan setelah putus dari Saya Pak Hasby malah menikahi Amira teman Saya. Ternyata mereka memang telah menjalin hubungan diam-diam saat Pak Hasby masih jadi pacar Saya. Keliatannya mereka sengaja menunggu moment yang pas untuk menyakiti Saya...," sahut Bianca sambil tersenyum kecut.


" Tapi sekarang Mbak bersyukur kan setelah tau siapa Hasby sebenernya...?" tanya Pasko.


" Iya juga sih...," sahut Bianca malu-malu.


" Apa yang Ibu lakukan udah bener Bu. Saya juga pasti ngambil keputusan yang sama andai ada di posisi Ibu...," kata Aruna yang paham mengapa sikap Bianca jadi tak bersahabat pada lingkungan sekitarnya.

__ADS_1


" Tapi Kamu dan Mas Kautsar kan akhirnya menikah Aruna...," kata Bianca sambil menoleh.


" Itu karena Mas Kautsar ga mau punya hubungan ga jelas Mbak. Apalagi yang ngejar Aruna lumayan banyak. Biar pun awalnya ga saling cinta, tapi cinta itu bisa dipupuk pelan-pelan saat sudah terikat pernikahan kok. Iya kan Mas Kautsar...? " tanya Pasko sambil melirik Kautsar melalui pantulan kaca spion.


Kautsar dan Aruna terkejut kemudian saling menatap. Sesaat kemudian keduanya tersenyum karena teringat jika Pasko adalah paranormal yang dengan mudah membongkar masa lalu mereka.


" Iya Mas...," sahut Kautsar sambil tertawa.


" Apa Pak Hasby dan istrinya bahagia Bu...?" tanya Aruna penasaran.


" Saya ga tau Aruna. Beruntung Saya langsung ditarik ke kantor pusat dan menetap di Jakarta. Jadi Saya ga harus tau kabar apa pun tentang mereka...," sahut Bianca enggan.


" Tapi sejak saat itu Mbak menutup diri dan hati untuk cinta yang datang...," sindir Pasko.


" Bukan menutup diri Pasko. Tapi ga ketemu yang cocok...!" sangkal Bianca cepat.


" Ck, itu cuma alasan Mbak aja. Tempo hari Mbak bilang karena udah tua lah, malu lah. Padahal janda sebelah rumah yang umurnya lebih tua dari Mbak aja bisa move on dan berani nikah lagi...," kata Pasko hingga membuat Bianca terdiam.


" Harusnya Mas Pasko kenalin dong Bu Bianca sama cowok yang baik bukannya malah diledekin...," kata Aruna menengahi.


" Nah denger kan Mbak...," kata Pasko sambil tertawa.


" Ups, maaf. Apa Saya salah ngomong ya...?" tanya Aruna sambil menatap Bianca dan Pasko bergantian.


Tawa pun kembali meledak di dalam mobil. Tak lama kemudian mobil melintas di jalan tak jauh dari rumah Kautsar dan Aruna.


" Tolong stop di depan tukang martabak itu ya Mas Pasko. Saya sama Istri Saya turun di sini aja karena udah Deket dari rumah...," pinta Kautsar.


" Oh boleh. Tapi motormu gimana Mas...?" tanya Pasko.


" Insya Allah aman kok Mas. Kan tadi udah titip sama security..., " sahut Kautsar.


" Ok, kalo gitu hati-hati ya...," kata Pasko.


" Siiippp. Makasih Bu Bianca, Mas Pasko, Assalamualaikum...," kata Kautsar mewakili Aruna yang terlihat sedikit oleng.


" Sama-sama. Wa alaikumsalam...," sahut Bianca dan Pasko bersamaan.


Setelah Kautsar menutup pintu mobil, Pasko pun langsung melajukan mobilnya meninggalkan sepasang suami istri itu di dekat penjual martabak.

__ADS_1


" Lapar ga ?. Atau mau mampir buat makan dulu Sayang...?" tanya Kautsar.


" Ga lapar sih. Tapi Aku pengen beli martabak itu dong Sayang...," sahut Aruna.


" Siap Bos...!" sahut Kautsar lantang hingga membuat Aruna tersenyum.


Kemudian keduanya memutuskan mampir di penjual martabak untuk memesan beberapa jenis martabak sesuai keinginan Aruna.


" Eh, sebentar. Kok banyak banget sih pesennya. Ntar abis ga Sayang...?" tanya Kautsar yang terkejut saat mendengar Aruna memesan beberapa jenis martabak.


" Abis dong. Kamu tenang aja. Kan sekarang ada anggota baru di keluarga Kita yang siap nampung apa pun yang dimakan sama Bundanya...," sahut Aruna sambil menunjuk perutnya.


Kautsar hanya menggelengkan kepala karena yakin apa yang diucapkan istrinya tak akan terbukti. Tapi untuk menolak keinginan istrinya pun Kautsar merasa tak tega.


" Jadi gimana Mas...?" tanya penjual martabak yang mengerti jika Aruna tengah mengidam.


" Mmm..., Saya khawatir ga abis Pak. Tapi Saya juga ga tega kalo ngeliat istri Saya kecewa...," sahut Kautsar sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


" Saya punya solusinya Mas. Gimana kalo buat yang ukuran mini aja. Nah ntar Mas bisa pesen semua rasa yang tersedia tanpa takut mubazir...," kata sang penjual martabak.


" Oh boleh Pak. Emangnya ada ya martabak mini...?" tanya Kautsar sambil mengamati gerobak sang penjual martabak.


" Ada di seberang sana Mas. Kebetulan yang jual Anak Saya. Mas ga usah khawatir. Adonan dan rasanya dijamin enak karena dibuat satu pabrik Mas...!" kata sang penjual martabak berpromosi.


" Ok. Kalo gitu Saya pesen semua rasa ya Pak...," kata Kautsar antusias.


" Siap Mas. Saya telephon Anak Saya dulu biar disiapkan ya Mas...," sahut sang penjual martabak.


Kautsar mengangguk lalu kembali duduk di samping Aruna yang tengah asyik menikmati es campur.


" Masih lama ya Sayang...?" tanya Aruna.


" Ga kok. Aku pesen semua rasa martabak biar Kamu puas dan Kita ga perlu bolak-balik ke sini nanti...," sahut Kautsar.


" Emang boleh ?. Bukannya tadi Kamu protes waktu Aku pesen empat jenis martabak...?" tanya Aruna tak percaya.


" Iya maaf. Tadi Aku cuma kaget aja kok...," sahut Kautsar sambil merengkuh bahu Aruna dengan sayang.


Aruna pun tersenyum melihat sikap Kautsar yang melunak.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2