
Malam itu Kenzo sengaja membuat janji bertemu dengan Aruna untuk membahas 'temuannya' itu. Kenzo sengaja mengatur pertemuan mereka di sebuah kafe tanpa Ria karena tak ingin sang kekasih takut.
Aruna yang datang ditemani Kautsar tampak bergegas mendatangi Kenzo yang sudah datang lebih dulu. Kautsar hanya tersenyum melihat betapa antusiasnya Aruna.
" Sorry Ken, Gue nunggu Kautsar pulang dulu baru minta dianter ke sini. Gapapa kan...?" sapa Aruna.
" Gapapa Run. Pesen dulu gih, biar lebih enak ngobrolnya. Soalnya Gue yakin ini bakal butuh waktu lama...," kata Kenzo.
" Ok. Lo yang traktir kan...?" tanya Aruna sambil melihat-lihat buku menu.
" Iya lah...," sahut Kenzo sambil menjabat tangan Kautsar yang ikut bergabung beberapa saat kemudian.
Sambil menunggu pesanannya diantar, Aruna dan Kenzo memulai pembicaraan mereka. Kautsar memilih menjadi pendengar yang baik tanpa mau menyela pembicaraan Aruna dan Kenzo.
" Jadi Lo dapet info apa lagi hari ini Ken...?" tanya Aruna.
" Gue tadi ngeliat Pak Dito di halaman belakang gudang lagi nguburin sesuatu Run. Lo tau dia ngubur apaan Run...?" tanya Kenzo.
" Mana Gue tau. Emang apaan yang dia kuburin...?" tanya Aruna.
" Jasad bayi yang tadi Gue temuin dan fotonya udah Gue kirim ke Lo Run...," sahut Kenzo.
" Masa sih. Kalo gitu udah jelas kan kalo Pak Dito pelakunya. Tapi buat apaan ya...?" tanya Aruna.
" Nah itu yang mau Gue omongin Run. Pak Dito pingsan pas papasan sama Gue. Terus Gue balik sendirian ke gudang setelah nganterin dia ke klinik. Salah satu karyawan yang mampir ke gudang bilang kalo Pak Dito kecapean karena hari Minggu kemarin abis nikahin anak perempuannya. Tapi masalahnya anak perempuannya itu masih SMA. Sampe sini Lo paham kan maksud Gue...?" tanya Kenzo sambil menyeruput kopi di hadapannya.
" Mungkin jasad bayi itu anak dari anak perempuannya Pak Dito alias cucunya Pak Dito...?!" kata Aruna cepat sambil membulatkan matanya.
" Persis kaya yang ada di otak Gue...!" sahut Kenzo sambil menjentikkan jarinya.
Aruna dan Kautsar saling menatap sejenak. Kemudian Kautsar menganggukkan kepala.
" Apa Aku bilang aja soal interaksi Aku sama bayi itu tadi Tsar...?" tanya Aruna setengah berbisik.
" Iya. Biar gamblang dan cepet ketemu alurnya. Kasian juga kan ruh bayi itu kalo terus menerus tersesat tanpa tujuan...," sahut Kautsar.
" Lo berdua kenapa ngomong bisik-bisik sih. Inget ya, ada Gue di sini. Kalo mau ngebahas soal tempat tidur jangan sekarang ya. Please...," kata Kenzo sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
__ADS_1
Kautsar pun tertawa mendengar ucapan Kenzo sedangkan Aruna langsung memukul lengan Kenzo dengan keras hingga membuat Kenzo menjerit kesakitan.
" Jangan mes*m aja pikiran Lo...!" kata Aruna kesal.
" Aduuuhh..., sakit Run...!" sahut Kenzo sambil mengusap lengannya yang terasa panas akibat pukulan Aruna tadi.
" Sukurin !. Makanya jangan suudzon. Gue sama Kautsar lagi ngomongin soal penampakan bayi yang Gue liat di kantin tadi siang Ken. Soalnya...," ucapan Aruna terputus karena pelayan kafe mendatangi tempat mereka dan meletakkan pesanan Aruna di atas meja.
" Makasih ya Mas...," kata Aruna dan Kautsar bersamaan.
" Sama-sama...," sahut pelayan kafe dengan santun.
" Terus gimana Run...?" tanya Kenzo tak sabar.
Kemudian Aruna mulai menceritakan apa yang ditemuinya sore tadi saat perjalanannya menuju ke rumah.
Sore itu sebelum bel tanda jam pulang berdering Kautsar mengirim pesan kepada Aruna yang mengatakan bahwa ia tak bisa menjemput sang istri.
" Ok, gapapa. Aku naik angkutan umum aja ya...," tulis Aruna.
" Iya Sayang...," tulis Aruna cepat hingga membuat sang suami tersenyum.
" Ok. Aku juga langsung pulang kalo tamunya pulang...," tulis Kautsar.
Aruna pun tersenyum membaca pesan Kautsar. Namun senyum Aruna memudar saat ia melihat kelebatan bayangan berlarian di sekitarnya. Aruna tahu jika itu adalah ruh bayi yang jasadnya ditemukan Kenzo di gudang tadi.
" Mau bilang apa sih Sayang. Tante ga ngerti kalo Kamu terus lari-larian kaya gitu...," batin Aruna.
Seolah mengerti apa yang dikatakan Aruna, ruh bayi itu pun berhenti berlari lalu berdiri tepat di samping meja Bianca. Aruna hanya bisa melirik dengan ekor matanya karena khawatir Bianca mengetahui kelebihan yang ia miliki.
Bianca sendiri terlihat gelisah di tempat duduknya. Berkali-kali ia mengusap tengkuknya yang terasa menebal sambil melirik kearah Aruna.
" Ssshhh..., ada apa sih. Kenapa rasanya ga nyaman gini. Tapi kok Aruna keliatan nyantai aja. Apa jangan-jangan ada sesuatu di belakang Gue...," batin Bianca sambil menoleh ke belakang seolah mencari sesuatu.
Aruna yang pura-pura sibuk mengerjakan tugasnya tampak mengamati gerak gerik Bianca dalam diam. Aruna tersenyum tipis ketika Bianca berdiri lalu menghampirinya.
" Kenapa udara dalam ruangan ini terasa lebih dingin Aruna...?" tanya Bianca.
__ADS_1
" Maaf Bu. Tapi setau Saya daritadi suhunya normal aja kaya biasanya. Mungkin Ibu lagi kurang sehat, soalnya Saya ga ngerasa apa-apa kok Bu...," kata Aruna.
" Mungkin juga. Sejak sampe ke kota ini Saya emang belum pernah istirahat sehari pun. Saya langsung kerja dan ga sempet memanjakan diri sendiri...," sahut Bianca.
" Kalo gitu harusnya Ibu istirahat biar bisa rileks. Atau mau Saya antar ke Spa yang lumayan bagus di kota ini...?" tanya Aruna basa-basi.
" Ga perlu Aruna. Saya bisa urus itu nanti. Ngomong-ngomong Kamu bisa kan ngelanjutin kerjaan ini sendiri ?. Kalo bisa Saya tinggal ya...," kata Bianca sambil memijit keningnya.
" Insya Allah bisa Bu. Ntar kalo udah selesai Saya taro di meja Ibu aja ya...," sahut Aruna.
" Ok. Tolong bilang sama Pak Hasby kalo Saya kurang sehat dan pulang duluan ya Run...," pesan Bianca sambil meraih tas miliknya lalu bergegas melangkah keluar ruangan.
" Baik Bu...," sahut Aruna cepat.
Setelah kepergian Bianca, Aruna merasa lebih leluasa berinteraksi dengan ruh bayi yang terlilit tali pusat itu.
" Tunggu sebentar ya. Tante kerja dulu. Ntar kalo udah selesai Kita bisa ngobrol sampe puas...," kata Aruna sambil menatap kearah ruh bayi yang kini duduk di atas meja kerja Bianca.
Ruh bayi itu nampak mengangguk sambil tersenyum.
" Anak pinter...," puji Aruna sambil mengacungkan ibu jarinya kearah sang bayi.
Beberapa saat kemudian Aruna telah menyelesaikan pekerjaannya. Bersamaan dengan itu Hasby keluar dari dalam ruangan dan mencari Bianca.
" Bu Bianca lagi kurang sehat dan pulang lebih awal Pak. Maaf ga pamit langsung sama Bapak karena keliatannya Bapak lagi terima telephon penting tadi...," kata Aruna.
" Oh gitu ya. Gapapa deh, sebentar lagi juga Saya mau keluar nemuin teman Saya yang baru pulang dari luar negeri. Kalo kerjaanmu udah selesai, Kamu juga boleh pulang Aruna..., " kata Hasby sambil berlalu.
" Baik Pak, makasih...," sahut Aruna sambil tersenyum.
Selepas Hasby pergi Aruna menoleh kearah ruh bayi itu lalu perlahan mendekatinya. Dari jarak sedekat itu Aruna bisa melihat lebih detail bagaimana wujud ruh bayi itu.
Seluruh permukaan kulit bayi itu nampak dipenuhi luka gores. Tak berdarah tapi pasti menyakitkan. Apalagi luka gores itu juga melukai kedua mata sang bayi hingga andai bayi itu hidup pun bisa dipastikan dia akan kehilangan penglihatannya.
Hati Aruna berdesir perih melihat kondisi bayi itu. Ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh bayi itu tapi nampaknya sia-sia karena Aruna hanya menyentuh angin.
\=\=\=\=\=
__ADS_1