Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
168. Ada Apa ?


__ADS_3

Aruna segera berdiri menyambut wanita yang ia yakini sebagai sekretaris utama bernama Lian.


" Selamat pagi Bu. Perkenalkan nama Saya Aruna. Saya karyawan magang dan diperbantukan di sini...," sapa Aruna dengan ramah sambil mengulurkan tangannya.


Wanita itu mengabaikan uluran tangan Aruna. Ia melewati Aruna begitu saja lalu duduk di kursi kebesarannya dengan angkuh. Aruna nampak mengepalkan tangannya lalu menurunkan tangannya. Aruna tetap berusaha tersenyum meski pun telah dibuat kecewa akan sikap Lian.


" Siapa yang nganterin Kamu ke sini...?" tanya Lian sambil mulai membuka lap topnya.


" Bu Martha...," sahut Aruna sambil tetap berdiri di tengah ruangan menghadap Lian.


" Pantesan...," gumam Lian sambil mendelik kesal.


Aruna terdiam karena tak tahu harus berbuat apa. Ia tetap dalam posisi berdiri hingga beberapa menit kemudian. Lian yang merasa kesal pun menegur Aruna.


" Sampe kapan Kamu mau berdiri di situ...?" tanya Lian sambil menatap tajam kearah Aruna.


" Maaf, maksudnya gimana ya Bu...?" tanya Aruna pura-pura tak tahu karena ia memang sengaja menunggu perintah dari Lian.


" Di sini kantor dan bukan tempat main. Kalo Kamu emang diperbantukan di sini, ya harusnya Kamu ngerjain sesuatu dong. Ngapain Kamu berdiri di situ kaya orang bod*h. Katanya Mahasiswi tapi kok ga punya inisiatif...," kata Lian ketus.


Aruna tersentak kaget mendengar ucapan Lian. Namun Aruna berusaha tenang dan tetap tersenyum. Dan itu membuat Lian makin kesal.


" Daripada senyum-senyum ga jelas, lebih baik Kamu salin ini. Revisi beberapa bagian yang udah Saya lingkari. Ngerti ga...?" tanya Lian sambil menyodorkan map berisi berkas penting kearah Aruna.


" Baik Bu...," sahut Aruna sambil meraih map itu.


Saat meraih map tak sengaja tangan Aruna menyentuh jemari Lian yang dingin seperti es itu. Aruna tersentak lalu mengamati wajah Lian. Aruna menggelengkan kepalanya karena merasa ada sesuatu yang tengah merasuki Lian.


" Ck, baru mulai aja udah harus kaya gini...," gumam Aruna lirih namun masih bisa didengar oleh Lian.


" Kamu ngomong apa barusan...?!" tanya Lian tak suka.


" Eh, ga ada Bu. Saya cuma ngerasa kuku Ibu cantik banget warnanya...," sahut Aruna asal.


Tak disangka jawaban Aruna membuat Lian tersenyum.

__ADS_1


" Menurut Kamu kuku Saya ini cantik ya. Menurut Saya juga gitu. Kamu tau ga kalo warna kuku ini unik karena susah didapat...," kata Lian sambil mengamati sepuluh kukunya.


" Saya yakin juga gitu Bu. Wah kalo yang susah didapet artinya harganya mahal ya Bu. Dan biasanya bukan orang sembarangan yang bisa beruntung mendapatkannya...," kata Aruna basa basi.


" Betul. Saya adalah orang yang beruntung bukan...?" tanya Lian.


" Iya Bu...," sahut Aruna cepat sambil tersenyum.


" Saya suka jawaban Kamu. Selanjutnya Kamu kerjakan berkas itu dengan baik. Ga perlu buru-buru yang penting teliti. Jadi Saya ga malu karena harus bolak-balik ngadep Bos...," kata Lian sedikit lunak.


" Siap Bu...," sahut Aruna.


" Itu meja Kamu. Kalo ada yang ga ngerti Kamu bisa tanya Saya. Sekarang Saya keluar sebentar...," kata Lian.


" Baik Bu...," sahut Aruna.


Lian pun tersenyum lalu bergegas keluar dari ruangan meninggalkan Aruna seorang diri.


" Udah kaya gitu kenapa masih bisa kerja ya. Aneh...," batin Aruna sambil melirik kepergian Lian dengan ekor matanya.


\=\=\=\=\=


" Ck, ini letaknya kan jauh banget dari divisi Marketing. Gimana cara jagain Ria dari niat jahat si brengs*k itu ya...," gumam Kenzo cemas.


" Apa ada pertanyaan...?" tanya kepala gudang.


" Ga ada Pak...," sahut Kenzo cepat.


" Bagus. Sekarang tolong bantu Saya bawain ini keluar ya. Di sini tugas Kita merangkap jadi bagian angkut barang Ken. Gapapa kan...?" tanya kepala gudang bernama Dito itu sambil tersenyum kecut.


" Gapapa Pak. Saya ga keberatan kok...," sahut Kenzo sambil tersenyum.


" Syukur lah. Biasanya Mahasiswa yang magang di sini keberatan kalo disuruh angkat-angkat barang kaya gini. Mereka merasa status mereka lebih tinggi dari para pekerja di gudang ini. Padahal security yang lagi ngangkat peti itu juga Sarjana S2, tapi dia mau bantuin ngangkat barang kalo keadaan kepepet dan permintaan barang mendesak jadi Kita dituntut harus bergerak cepat...," kata Dito sambil menunjuk kearah security berbadan kekar tak jauh dari Kenzo.


Kenzo nampak menatap kagum kearah sang security yang nampak ringan tangan membantu pekerjaan 'orang gudang' itu. Tak lama kemudian bel tanda istirahat berbunyi. Kenzo nampak menghela nafas panjang karena mengira pekerjaannya berakhir sementara.

__ADS_1


Tapi Kenzo dibuat terkejut saat melihat sekelilingnya. Ternyata karyawan gudang masih melanjutkan pekerjaan mereka mengangkat barang keluar dari gudang.


Seolah mengerti apa yang ada di benak Kenzo, Dito pun menjelaskan kepada Kenzo.


" Kalo bagian gudang istirahatnya nanti Ken. Setelah penghitungan selesai dan kontainer ditutup, Kita baru bisa istirahat...," kata Dito sambil tersenyum.


" Oh gitu ya Pak...," sahut Kenzo sambil menggaruk kepalanya.


" Iya. Tapi kalo Mas Kenzo mau istirahat sekarang boleh kok...," kata Dito.


" Ga usah Pak. Saya istirahat bareng aja sama temen yang lain nanti...," sahut Kenzo cepat.


" Ok. Kalo gitu Kita selesaikan ini secepatnya biar bisa istirahat ya...," kata Dito.


" Baik Pak...," sahut Kenzo sambil masuk ke dalam gudang.


Kenzo mengangkat sebuah peti yang letaknya di pojok ruangan. Saat itu Kenzo sedikit bingung karena dari sela peti tercium aroma busuk. Kenzo bermaksud membuka peti itu tapi suara Dito menahannya.


" Jangan dibuka Ken...!" kata Dito lantang.


" Saya cuma mau ngecek isinya aja Pak. Kayanya ada bau busuk yang keluar dari peti ini. Saya khawatir kalo ini bukan barang yang seharusnya..., " sahut Kenzo.


Mendengar ucapan Kenzo membuat Dito panik. Ia mengatakan sesuatu yang justru membuat Kenzo penasaran.


" Udah ga sempet ngerapiin lagi ntar. Kan barangnya udah harus dibawa sekarang...," kata Dito sambil bergegas merebut peti kayu itu dari tangan Kenzo.


" Tapi baunya busuk banget Pak...," kata Kenzo.


" Saya bilang ga perlu itu artinya ga perlu Ken. Bisa kan Kamu hanya mengerjakan sesuatu sesuai perintah ?. Ingat, Kamu di sini hanya karyawan magang yang ga punya hak penuh atas kebijakan yang ada di perusahaan ini. Ngerti ga...?!" tanya Dito dengan nada suara yang lebih tinggi.


" Baik. Maaf kalo Saya sedikit lancang Pak. Saya janji ke depannya Saya akan berhati-hati dalam bertindak...," kata Kenzo.


" Bagus. Sekarang Kamu keluar dan jangan lupa bawa peti yang di sana keluar juga...," perintah Dito.


Kenzo mengangguk lalu bergegas mengeluarkan peti yang dimaksud Dito. Saat melintas di depan Dito, Kenzo melihat bagaimana Dito memeluk erat peti kayu itu sambil menggumamkan sesuatu. Meski tak terdengar jelas namun mampu membuat bulu kuduk Kenzo meremang karena ngeri.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2