
Aruna, Hasby dan sang supir terdiam tanpa bisa bicara apa-apa. Buat mereka bertiga apa yang terjadi hari ini terhadap sang MC cantik itu memang tak terlalu penting tapi tetap berkesan.
" Ini udah setengah empat sore Aruna. Kamu boleh langsung pulang ke rumah dan ga usah balik ke kantor lagi. Saya juga mau langsung pulang kok...," kata Hasby sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
" Baik Pak, makasih...," sahut Aruna sambil tersenyum.
" Antar Mbak Aruna dulu ya Pri, setelah itu baru Kita pulang...!" perintah Hasby pada supir pribadinya yang bernama Supriyono.
" Siap Pak...!" sahut Supriyono dari balik kemudi tanpa menoleh.
" Eh, ga usah Pak. Saya ga mau ngerepotin..., " kata Aruna tak enak hati.
" Gapapa Aruna. Kita searah kan. Jadi ga masalah nganterin Kamu sebentar...," kata Hasby sambil tersenyum.
" Saya mohon maaf sebelumnya karena udah bersikap lancang menolak tawaran Bapak. Tapi Saya udah janjian sama Suami Saya sore ini di kafe langganan Kami Pak. Jadi Saya ga langsung pulang tapi mampir ke kafe dulu...," kata Aruna beralasan.
" Wah seru banget dong. Saya ga diajakin nih Aruna...?" gurau Hasby.
" Maaf ini acara private Pak. Mmm..., mau merayakan hari ulang tahun Suami. Saya sengaja mau kasih surprise buat dia. Dan dia juga ga tau kalo Saya udah nyiapin sesuatu di kafe...," sahut Aruna malu-malu.
" Oh gitu toh. Kalo gitu Saya ga mau ganggu dan terkesan jadi nyamuk diantara Kalian berdua nanti. Tapi boleh kan kalo Saya antar sampe depan kafe...?" tanya Hasby.
" Boleh, tentu boleh Pak. Makasih sekali lagi...," sahut Aruna antusias.
" Sama-sama. Ayo Pri Kita ke kafe nganterin Mbak Aruna...," kata Hasby sambil tertawa.
" Baik Pak...," sahut Supriyono sambil mempercepat laju mobil agar segera tiba di tempat tujuan.
Aruna nampak menghela nafas lega karena Hasby tak jadi mengantarnya pulang. Aruna.memang merasa sedikit tak nyaman saat bersama Hasby yang berstatus bosnya itu. Meski pun ia tahu Hasby adalah seorang Suami dan Ayah yang baik, namun Aruna tetap merasa harus menjaga jarak dengan Hasby. Dan ia terpaksa berbohong mengatakan ingin memberi surprise di ulang tahun Kautsar.
Mobil milik Hasby berhenti tepat di depan kafe yang Aruna maksud. Aruna bergegas turun dari mobil setelah mengucapkan terima kasih.
" Makasih Pak, selamat sore...," kata Aruna sebelum menutup pintu mobil.
" Selamat sore Aruna. Nanti tolong kirim ke Saya hasil notulen Kamu di seminar tadi ya Aruna...," kata Hasby.
" Baik Pak. Insya Allah malam ini Saya kirimkan...," janji Aruna hingga membuat Hasby tersenyum senang.
Setelah Aruna menutup pintu mobil, tak lama kemudian mobil pun melaju perlahan meninggalkan Aruna yang berdiri di depan kafe.
__ADS_1
Aruna menghela nafas panjang lalu melangkah masuk ke dalam kafe. Saat duduk di tempat favoritnya, Aruna pun mencoba menghubungi sang suami melalui sambungan video call dan memintanya untuk datang menjemput.
" Kok tumben udah nangkring di kafe. Emangnya Kamu ga kerja...?" tanya Kautsar.
Saat itu Kautsar melihat Aruna tengah duduk santai sambil menikmati secangkir kopi mochacino di kafe langganan mereka yang letaknya tak terlalu jauh dari kantornya.
" Kerja, tapi udah boleh pulang...," sahut Aruna.
" Kok bisa, ini kan baru jam empat kurang...," kata Kautsar.
" Ya bisa dong. Aku sama Bos Hasby abis hadir di sebuah seminar tadi siang. Pas keluar dari sana Bos malah nyuruh Aku pulang dan ga perlu balik lagi ke kantor...," sahut Aruna sumringah.
" Ok. Insya Allah satu jam lagi Aku sampe sana. Gapapa ya...?" tanya Kautsar.
" Lama banget sih. Ga bisa lebih cepet ya...," rengek Aruna manja hingga membuat Kautsar tertawa.
" Sayang. Aku kan cuma karyawan bukan pemilik perusahaan. Jadi ya harus ikut aturan dong...," kata Kautsar di sela tawanya.
" Terus Aku ngapain dong, kan bete nunggu Kamu kelamaan...," kata Aruna.
" Gimana kalo shoping dulu sebentar...?" saran Kautsar.
" Ya udah kalo gitu Aku bilang dulu sama Bosku ya. Jangan kemana-mana. Paling lama seperempat jam lagi Aku sampe sana...," kata Kautsar yang tak tega membiarkan Aruna terlalu lama menunggunya.
" Yes, siap Sayangku...!" sahut Aruna antusias.
Kautsar pun tersenyum lalu mengakhiri pembicaraan mereka. Tak sulit untuk Kautsar meminta ijin pulang lebih awal karena Kautsar adalah karyawan kebanggaan perusahaan.
Setelah mendapat ijin, Kautsar pun bergegas keluar dari kantor. Tak lama kemudian ia sudah terlihat melajukan motornya membelah jalan raya menuju kafe dimana Aruna sedang menunggunya.
Aruna langsung berdiri menyambut kedatangan Kautsar sambil merentangkan kedua tangannya. Kautsar yang paham jika mood sang istri sedang turun naik pun dengan senang hati menyambutnya. Keduanya berpelukan sejenak seolah melepas rindu setelah sekian lama tak bertemu, padahal mereka terakhir bertemu pagi tadi saat Kautsar mengantar Aruna ke kantor.
" Aku udah pesenin teh tarik buat Kamu lho. Nih dia. Diminum ya...," kata Aruna sambil menyodorkan gelas berisi teh tarik kearah Kautsar yang baru saja duduk di sampingnya.
Kautsar mengerutkan keningnya pertanda bingung. Ia tak mengerti mengapa Aruna memesan sesuatu yang tak ia sukai.
" Teh tarik...?" tanya Kautsar untuk memastikan pendengarannya.
" Iya...," sahut Aruna cepat.
__ADS_1
" Tapi Aku ga suka teh tarik Sayang...," protes Kautsar dengan sabar.
" Tapi Aku pengen liat Kamu minum itu Sayang...," sahut Aruna dengan mimik wajah sedih.
Kautsar pun menggaruk kepalanya yang tak gatal itu usai mendengar permintaan istrinya. Ia mencoba mengerti jika keinginan wanita hamil itu kadang di luar nalar dan biasanya harus dituruti. Tapi sayangnya ia dan Aruna masih berdebat tentang kehamilan karena Aruna menolak untuk cek mandiri atau pun cek ke Rumah Sakit.
" Ini...," ucapan Kautsar terputus karena Aruna memotong cepat.
" Pokoknya harus diminum, titik...," kata Aruna tegas hingga membuat Kautsar menghela nafas pasrah.
Perlahan Kautsar meraih cangkir di hadapannya. Mengamati sejenak isinya lalu mendekatkannya ke bibir. Dengan setengah hati Kautsar meneguk teh sedikit demi sedikit. Aruna nampak tersenyum senang melihat Kautsar mau menuruti permintaannya.
" Gimana...?" tanya Aruna.
" Not bed...," sahut Kautsar sambil tersenyum.
" Tuh kan. Aku yakin rasanya enak dan Kamu pasti suka. Habisin ya. Aku seneng ngeliatnya...," pinta Aruna.
" Ok...," sahut Kautsar cepat.
Aruna nampak bahagia mendengar jawaban sang suami. Tiba-tiba senyum di bibir Aruna memudar saat Kautsar bertanya apa yang dilihatnya di seminar tadi.
" MC yang ngawal seminar tadi mendadak jatuh pingsan. Semula dikira karena nyeri haid. Tapi ternyata dia ngalamin keguguran dan darahnya banyak banget lho Sayang. Aku sampe mual ngeliatnya...," kata Aruna sambil bergidik.
" Kecapean kali...," tebak Kautsar asal.
" Mungkin. Tapi sayangnya dia belum menikah. Jadi keguguran tadi jadi ajang gosip deh. Banyak cewek yang ngerasa kalo dia itu rival berat dalam mendapat perhatian lawan jenis pun tertawa senang mendengar apa yang terjadi sama cewek itu. Kasian ya...," kata Aruna iba.
" Ga usah dipikirin lah. Toh Kamu juga ga kenal sama cewek itu kan...," kata Kautsar mencoba menghibur Aruna.
" Kamu bener. Tapi yang Aku bingung kenapa diagnosa dokter berubah dalam waktu cepat ya...," kata Aruna.
" Maksud Kamu gimana sih...?" tanya Kautsar tak mengerti.
" Semula kan dia pingsan karena dikira mengalami nyeri dan tekanan di awal siklus bulanannya itu. Tapi ga sampe dua jam, dokter yang sama malah bilang kalo MC itu keguguran. Aneh kan...?" tanya Aruna.
" Ga aneh, biasa aja. Dokter itu kan juga manusia biasa yang bisa aja melakukan kesalahan...," sahut Kautsar santai.
Aruna nampak mengangguk walau dalam hati ia merasa ada yang mengganjal karena ia merasa ada sesuatu di balik keguguran sang MC wanita itu.
__ADS_1
\=\=\=\=\=