Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
291. Sebelas Dua belas


__ADS_3

Sore itu Kautsar dan Reyhan nampak melaju di jalan raya dengan motor masing-masing. Mereka baru saja pulang dari bekerja. Saat itu mereka berniat menjemput Aruna untuk kembali mendatangi rumah Gladys.


Tak lama kemudian Reyhan dan Kautsar pun tiba di depan rumah Kautsar. Terlihat Aruna yang tersenyum menyambut kedatangan mereka.


" Udah siap Sayang...?" sapa Kautsar saat melihat sang istri mendekat kearahnya.


" Udah dong...," sahut Aruna sambil mencium punggung tangan sang suami.


" Bagus deh kalo gitu...," puji Kautsar lalu mengecup kening sang istri.


" Mau ngopi dulu atau langsung jalan...?" tanya Aruna sambil adu toast dengan Reyhan.


" Langsung aja deh Run biar ga kemaleman. Ntar kan bisa ngopi di rumahnya Gladys...," sahut Reyhan.


" Dih, Lo ngarep baget disuguhin kopi ya sama Gladys...?" tanya Kautsar.


" Iya lah. Lagian yang bikin kopi kan adiknya, jadi gapapa dong. Gue ga perlu khawatir kalo kopi itu ada sesuatunya...," sahut Reyhan sambil nyengir.


" Emang kenapa kalo ada sesuatunya Kak...?" tanya Aruna sambil mengenakan helm.


" Bilang aja Lo takut dipelet terus jatuh cinta sama si Gladys. Iya kan...?" tebak Kautsar hingga membuat Reyhan salah tingkah.


" Eh, sembarangan aja Lo kalo ngomong. Mana mungkin Gue jatuh cinta sama Gladys. Dia tuh bukan type Gue tau. Type Gue tuh harus cantik, berpendidikan, lembut dan pengertian. Yah sebelas dua belas lah sama Aruna...," sahut Reyhan sambil tertawa.


" Sebelas dua belas sama Aruna. Maksudnya Lo naksir sama Istri Gue Rey...?!" tanya Kautsar sambil melotot.


" Apaan sih Sayang...," kata Aruna sambil menepuk punggung suaminya dengan lembut.


" Kamu denger kan apa si cecunguk ini bilang barusan Sayang. Itu artinya dia nyari pasangan yang mirip sama Kamu dong. Dan itu juga artinya secara ga langsung dia bilang kalo dia tertarik sama Kamu...!" sahut Kautsar kesal.


" Eh, monyong !. Mana mungkin Gue nyari istri yang sama persis kaya Aruna. Mustahil tau. Kan Gue cuma bilang mirip...!" kata Reyhan tak mau kalah.


" Ya ga usah mirip juga dong. Ga boleh !. Ntar bisa-bisa Lo bayangin Istri Gue pas lagi begituan sama Istri Lo...," kata Kautsar sambil berkacak pinggang.

__ADS_1


Mendengar ucapan suaminya Aruna pun terkejut. Ia mencubit pinggang Kautsar dengan gemas hingga sang suami meringis kesakitan. Reyhan yang melihat kejadian itu pun tertawa keras.


" Ish, kok Aku dicubit sih Sayang. Sakit tau...," kata Kautsar sambil mengusap pinggangnya yang terasa panas.


" Makanya kalo ngomong tuh yang bener. Masa Kamu bilang Kak Reyhan bayangin Aku pas ML sama istrinya...?!" kata Aruna sambil mendengus kesal.


" Tapi kan...," ucapan Kautsar terputus karena Aruna menyela dengan cepat.


" Ga usah dibahas lagi. Sekarang mau nganterin Aku atau ga. Kalo ga, Aku bisa jalan sendiri ke sana...!" kata Aruna sambil melepas helm yang sudah dipakainya tadi.


" Eh iya. Maaf Sayang, jangan ngambek dong. Aku anterin ya, yuk Kita jalan sekarang...," bujuk Kautsar sambil menggenggam tangan Aruna.


Aruna pun menghela nafas panjang lalu mengangguk. Kemudian ia kembali mengenakan helmnya. Setelah itu ia duduk di belakang Kautsar sambil memeluk pinggang sang suami dengan erat. Kautsar pun tersenyum dan sesaat kemudian melajukan motornya mengikuti motor Reyhan yang jalan lebih dulu.


\=\=\=\=\=


Sementara itu di rumah Dita.


Dita sedang berbincang dengan seorang pria yang merupakan kekasihnya dan diketahui berprofesi sebagai dukun. Pria itu bernama Randu, berusia sekitar tiga puluh lima tahun.


" Iya, masa Aku bohong sama Kamu. Aku emang dapet petunjuk kalo tadi malam ada beberapa orang ke rumah Mukhlis dan melakukan sesuatu di sana...," sahut Randu.


" Kalo boleh tau orangnya kaya gimana Kang...?" tanya Dita penasaran.


" Dua orang laki-laki dan satu perempuan..., " sahut Randu cepat hingga membuat Dita tersenyum.


" Oh kalo itu Aku tau Kang. Yang perempuan malah sempet ngobrol sama Aku. Dia nanya rumahnya Gladys, tapi ga ketemu. Terus Aku kasih tau kalo Gladys sekarang tinggal di rumah Mukhlis...," kata Dita.


" Kok Kamu kasih tau sih...?" tanya Randu tak suka.


" Emang salahnya dimana ?. Mereka kan cuma mau bertamu. Kasian lho mereka nyari sampe malam Kang...," sahut Dita santai.


" Ya mereka itu yang bikin makhluk kirimanku kocar kacir Dita...!" kata Randu marah sambil menggebrak meja.

__ADS_1


Dita terkejut hingga terlonjak dari duduknya. Ia tak menyangka jika tiga orang santun yang ditemuinya mempunyai kemampuan mengobrak-abrik barisan makhluk halus yang dikirim Randu untuk menerror Gladys dan adiknya.


" Kalo makhluk yang Kamu kirim kabur, terus sekarang si Gladys udah ga takut lagi tinggal di sana Kang...?" tanya Dita.


" Pastinya sih gitu. Dan itu artinya dia bakal tinggal di sana lebih lama. Padahal Aku ga sabar untuk tinggal di sana lho Dit. Tanah dimana bangunan itu berdiri punya aura mistis yang kental dan cocok untuk Aku melakukan ritual. Tapi karena kecerobohanmu bikin niatku yang hampir terwujud itu kandas di tengah jalan...," sahut Randu sambil menggeram kesal.


" Maaf Kang. Aku kan ga tau. Gini aja deh, Kamu bilang Aku harus ngelakuin apa supaya Kamu ga marah lagi...?" tanya Dita sambil mengusap lengan Randu.


" Layani Aku sampe puas dan beri Aku uang untuk membeli perlengkapan ritual...," sahut Randu sambil mencium pipi Dita dengan mesra.


" Boleh, siapa takut...," sahut Dita sambil tersenyum.


Randu pun tersenyum lalu menggendong tubuh Dita dan membawanya ke kamar. Namun tiba-tiba langkah Randu terhenti dan itu membuat Dita bingung.


" Kenapa berhenti, ga jadi...?" tanya Dita.


" Aku mau main di kamar Kakekmu Sayang. Pasti sensasinya beda. Kan Kita belum pernah mencoba bercinta di sana...," sahut Randu sambil meniup wajah Dita.


Seperti kerbau yang dicocok hidungnya, Dita pun mengangguk mengiyakan permintaan sang kekasih. Sambil tertawa puas Randu pun membawa tubuh Dita masuk ke dalam kamar almarhum kakek Dita.


Selama ini Dita selalu menolak saat Randu memintanya membuka kamar pribadi sang kakek. Dita beralasan banyak kenangan di kamar itu yang membuatnya enggan masuk ke sana. Namun kali ini Randu menggunakan cara licik untuk membujuk Dita dan berhasil.


Randu pun meletakkan tubuh Dita di atas tempat tidur sang kakek. Kemudian Randu menciumi wajah Dita hingga membuat Dita melenguh.


Keduanya saling memeluk dan mencumbu dengan penuh hasrat. Suasana romantis di dalam kamar membawa mereka pada kegiatan panas yang melelahkan.


Namun saat Randu dan Dita tengah terbuai dalam hasrat terlarang, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara warga yang memanggil nama mereka dengan lantang di depan rumah.


" Dita, Randu !. Keluar Kalian...! " kata semua orang.


" Kami tau Kalian di dalam. Keluar sekarang atau Kami akan arak Kalian keliling kampung...!" kata warga lainnya.


Dita dan Randu segera meraih pakaian yang berserakan di lantai. Namun belum sempat mereka mengenakan pakaian masing-masing, beberapa warga menerobos masuk ke dalam kamar. Kemudian warga langsung menarik Randu dan Dita keluar kamar dalam kondisi tanpa busana.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2