Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
230. Hampir


__ADS_3

Kabar tentang digusurnya Drajat dari kursi kepala gudang oleh Kenzo mau tak mau membuat semua orang terkejut. Terutama para pemangku jabatan penting di perusahaan itu.


Meski pun Kenzo belum mengantongi ijasah Sarjana, namun posisinya sebagai cucu pemilik perusahaan sekaligus pewaris perusahaan membuat banyak pihak merasa ketar ketir. Namun itu tak berlaku untuk mereka yang memang bekerja lurus dan sesuai jalur seperti Simon.


Jika para Manager lain harus berjuang extra untuk mempertahankan posisinya, Simon justru terlihat santai. Baginya menjabat sebagai Manager Personalia adalah sebuah bonus atas loyalitasnya kepada perusahaan selama ini. Jadi ia hanya perlu melakukan tugasnya sebaik mungkin. Jika Kenzo menghendakinya turun tahta pun Simon nampaknya tak peduli.


Hal berbeda justru tengah diperlihatkan Kalisha sang Manager Marketing. Ia kini terlihat lebih sibuk dibandingkan waktu sebelumnya. Jika biasanya Kalisha masih sempat 'keliling' hanya untuk menyapa karyawan dengan tatapannya yang mengintimidasi, maka kini Kalisha lebih banyak menghabiskan waktu untuk berdiam diri di ruangannya. Hal itu tentu membuat para karyawan divisi marketing bersorak gembira termasuk Ria.


Namun tak seorang pun tahu apa sesungguhnya yang dilakukan Kalisha di dalam ruangannya itu. Diam-diam Kalisha seringkali memandangi foto-foto Kenzo yang dikirim oleh orang suruhannya. Kalisha nampak sedikit menyesali sikapnya terhadap Kenzo selama ini.


" Kenzo. Ga nyangka di umur semuda ini udah bisa ngantongin harta yang berlimpah. Ga perlu kerja keras pun udah jadi orang kaya. Tinggal nerusin usaha milik keluarga eh bisa langsung sejajar sama orang-orang terpandang di kota ini...," gumam Kalisha sambil berdecak kagum.


Kemudian Kalisha mulai melihat foto kebersamaan Kenzo dan Ria. Ia nampak mencibir tak suka melihat kebersamaan Kenzo dan sang kekasih.


" Ck, cewek ini ga pantes sama Kenzo. Daripada mengganggu pemandangan, gimana kalo Gue singkirin dia...," gumam Kalisha sambil tersenyum penuh makna.


Kemudian Kalisha mulai mencari cara untuk menghancurkan hubungan Kenzo dengan Ria. Bukan untuk memilikinya tapi hanya sekedar memisahkan Kenzo dengan Ria. Kalisha melakukan itu karena ia tak suka melihat kebahagiaan Aruna dan orang-orang terdekatnya. Jadi tujuan utamanya tetap menghancurkan Aruna bagaimana pun caranya.


Namun rupanya Aruna menyadari niat jahat Kalisha. Ia sengaja memberi celah agar Kalisha bisa masuk dengan mudah. Setelahnya Aruna berniat akan memberi pukulan telak kepada Kalisha agar wanita itu jera.


\=\=\=\=\=


Hari itu Ria sedang sibuk bersama teamnya menyelesaikan pekerjaannya. Namun Kalisha memanggil Ria dan memintanya masuk ke dalam ruangannya. Tanpa curiga Ria pun menuruti perintah Kalisha.


Tiba di dalam ruangan Kalisha meminta Ria menyelesaikan laporan penjualan yang sedang ia kerjakan. Alasan Kalisha saat itu karena ia ingin menilai kemampuan Ria secara pribadi.


" Bisa kan Ria ?. Atau Kamu ga ngerti gimana cara menyelesaikannya...?" tanya Kalisha sambil menatap Ria dengan tatapan mengejek.


" Insya Allah Saya bisa Bu...," sahut Ria mantap.


" Ok. Saya mau liat langsung cara kerja Kamu tanpa bantuan orang lain...," kata Kalisha.


" Baik Bu...," sahut Ria.


Kemudian Ria pun mulai menjalankan perintah Kalisha. Semula Ria mempelajari dulu semua dokumen penjualan yang disodorkan Kalisha.


Saking banyaknya dokumen yang harus Ria pelajari, tak terasa waktu pulang kerja pun tiba. Ria yang tak menyadari jam telah menunjukkan pukul enam sore nampak masih berkutat di depan lap top.

__ADS_1


Perlahan suasana kantor pun mulai sepi. Hanya tinggal beberapa orang saja yang bertahan termasuk Kalisha dan Ria.


Dari tempat duduknya Kalisha terus mengamati Ria yang sibuk menghitung angka-angka yang tertera pada berkas di hadapannya.


" Ria memang menarik. Cantik, putih, semampai. Orangnya pun lumayan ramah dan cara berpakaiannya pun sopan...," batin Kalisha.


Kemudian tanpa sengaja Ria nampak mengibaskan rambutnya ke belakang. Gerakan yang tak sengaja itu justru memperlihatkan leher jenjangnya yang bersih dengan urat leher yang kebiruan membayang jelas di permukaan kulitnya.


Kalisha mengerjapkan matanya beberapa kali karena membayangkan aliran darah segar berwarna merah yang mengalir di urat berwarna kebiruan di leher Ria itu.


Menyadari bayangan yang dilihatnya salah, Kalisha tersentak lalu bangkit berdiri. Gerakannya yang tiba-tiba membuat kursi yang ia duduki bergeser dan menimbulkan suara yang lumayan keras. Ria pun menoleh kearah Kalisha sambil mengerutkan keningnya.


" Kenapa Bu Kalisha...?" tanya Ria.


" Oh ga... gapapa. Saya cuma kaget ngeliat kecoa di dekat kaki meja tadi...," sahut Kalisha gugup.


" Kecoa, dimana Bu...?" tanya Ria sambil menoleh ke kanan dan ke kiri karena Ria lumayan jijik dengan serangga berwarna coklat itu.


" Udah ke sana kok. Kamu lanjutin aja pekerjaan Kamu biar Kita bisa cepet pulang Ria...," sahut Kalisha.


" Baik Bu...," kata Ria patuh lalu kembali fokus menatap angka-angka di layar lap top.


Dari tempatnya berdiri Kalisha bisa menghirup aroma harum rambut Ria dan parfum yang dipakainya. Diam-diam Kalisha nampak meresapi aroma yang menguar dari tubuh dan rambut Ria sambil memejamkan matanya.


" Apa pekerjaan Saya ada yang salah Bu...?" tanya Ria tiba-tiba sambil menoleh kearah Kalisha.


Pertanyaan Ria mengejutkan Kalisha. Ia pun berusaha bersikap senormal mungkin dan tersenyum untuk menutupi keterkejutannya.


" Sampe saat ini Saya belum menemukan kesalahan. Cepat lanjutkan pekerjaanmu Ria...," sergah Kalisha tak sabar.


" Baik Bu...," sahut Ria cepat lalu kembali mengetik beberapa angka.


Kalisha nampak memijit keningnya yang tiba-tiba berdenyut sakit. Kemudian Kalisha membalikkan tubuhnya dan bersiap kembali ke meja kerjanya. Namun gerakan Ria yang mengibas rambutnya kembali membuat aroma tubuh Ria hinggap di Indra penciuman Kalisha. Dan itu membuatnya menggeram lirih.


Kalisha pun memejamkan mata untuk mengendalikan sesuatu di dalam dirinya yang meronta ingin keluar. Dan saat Kalisha membuka mata, bola mata Kalisha yang semula berwarna hitam itu kini berubah berwarna kekuningan. Kulit wajah Kalisha pun menebal dan dari sela bibirnya pun mencuat taring panjang.


Kalisha perlahan berubah menjadi manusia serigala dengan Ria sebagai calon mangsanya yang berada tepat di depannya.

__ADS_1


Tiba-tiba Ria berdiri karena tak kuasa menahan keinginan untuk buang air kecil.


" Boleh Saya pinjam toiletnya Bu ?. Saya kebelet pipis...," kata Kalisha sambil menoleh kearah Kalisha.


Ria juga menghentakkan kakinya pertanda sudah tak mampu bertahan lebih lama. Kalisha yang sudah dalam kondisi berbeda itu pun membalikkan tubuhnya kearah dinding sambil ujung jarinya menunjuk ke toilet yang berada di sudut ruangan.


" Makasih Bu...," kata Ria sambil berlari kecil menuju toilet.


Kalisha hanya mengangguk tanpa menjawab. Saat itu Kalisha sedang berusaha menahan diri agar tak memangsa Ria. Jari jemari Kalisha pun nampak bergetar. Apalagi kuku jari tangannya perlahan mulai memanjang. Kalisha panik karena khawatir jika Ria melihat dirinya yang berbeda itu.


Dengan cepat Kalisha melompat kearah saklar lampu. Ia memadamkan lampu dalam ruangan dan sembunyi di balik sofa.


Ria yang baru saja keluar dari toilet nampak terkejut melihat seluruh ruangan yang gelap. Pantulan cahaya dari layar lap top yang menyala membantu Ria menemukan meja kerja dimana ia duduk tadi.


" Bu Kalisha..., Ibu dimana ?. Bu Kalisha...!" panggil Ria.


Tak ada sahutan. Ria pun perlahan melangkah menuju meja sambil meraba dinding. Dari tempat persembunyiannya Kalisha nampak menyeringai buas. Ia bersiap menyerang Ria dan memangsanya saat itu juga.


Namun sebelum niat Kalisha terwujud, tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan Kenzo nampak berdiri di ambang pintu.


" Ria...!" panggil Kenzo lantang.


" Kenzo...!" sahut Ria dengan wajah berbinar.


" Ternyata Kamu di sini. Ayo pulang, ini udah lewat dari jam kerja...!" kata Kenzo.


" Tapi Ken...," ucapan Ria terputus saat Kenzo masuk dan menarik tangannya lalu membawanya keluar dari ruangan itu.


" Ga ada tapi-tapian. Urusan sama Bu Kalisha biar jadi urusanku nanti...," kata Kenzo saat di luar ruangan.


" Ok. Tapi tas Aku masih di dalam Ken...," sergah Ria.


"'Tunggu di sini biar Aku yang ambil...," kata Kenzo yang diangguki Ria.


Tak lama kemudian Kenzo pun keluar sambil menenteng tas milik Ria. Setelahnya ia menggandeng tangan Ria dan membawanya pergi dari tempat itu.


Di dalam ruangan yang gelap terlihat Kalisha nampak mengepalkan tangannya sambil menggeram marah karena gagal mendapatkan darah Ria.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2