Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
271. Kalut


__ADS_3

Malam itu langit nampak cerah karena dihiasi bulan purnama dan bintang yang bertaburan hingga membuat suasana menjadi romantis. Namun suara lolongan serigala di kejauhan membuat suasana romantis itu berubah menjadi mencekam.


Terlihat dokter Sheina baru saja kembali dari tugas luar kota. Tubuhnya letih dan matanya juga sangat mengantuk.


Saat Taxi berhenti di depan rumah, dokter Sheina pun turun. Ia nampak mengerutkan keningnya karena melihat kondisi di dalam rumah yang gelap gulita padahal ia melihat mobil milik suaminya terparkir di depan rumah.


" Apa-apaan sih. Kenapa ga nyalain lampu. Apa segitu sulitnya nyalain lampu sampe ngebiarin rumah gelap kaya gini...," gerutu dokter Sheina sambil membuka pintu yang terkunci itu.


Saat membuka pintu rumah ia melihat beberapa helai pakaian berserakan di lantai. Dokter Sheina pun menggelengkan kepalanya lalu mulai meraih pakaian yang ia yakini milik suaminya itu.


Namun dokter Sheina terkejut saat meraih sehelai pakaian wanita yang ia tahu bukan miliknya. Ia terdiam sejenak lalu mengepalkan tangannya. Dokter Sheina pun menegakkan tubuhnya saat mendengar suara desa*an di kamarnya.


Dengan amarah yang memuncak dokter Sheina melangkah cepat menuju kamar dengan langkah yang berat karena di saat bersamaan perubahan terjadi pada tubuhnya.


Saat itu tubuh dokter Sheina mulai dipenuhi bulu kasar berwarna gelap. Nafasnya pun memburu seiring perubahan wajahnya menjadi serigala. Ketika ia berhasil mencapai pintu kamar, dirinya telah berubah menjadi sosok manusia serigala yang penuh amarah dan haus darah.


Dokter Sheina tertegun di ambang pintu saat mendapati suaminya tengah bercinta dengan wanita lain di atas tempat tidur mereka. Meski ruangan gelap karena lampu sengaja dipadamkan, namun dokter Sheina masih bisa melihat dengan jelas pergumulan liar suaminya dengan wanita itu.


Deni sontak menghentikan aksinya saat mendengar pintu kamar dibuka paksa. Ia menoleh dan terkejut mendapati seseorang tengah berdiri di ambang pintu sambil menatap lekat kearahnya. Deni tahu jika istrinya datang dan melihat apa yang tengah ia lakukan. Karenanya ia bergegas turun dari tempat tidur dan meninggalkan wanita selingkuhannya begitu saja.


Kemudian Deni melangkah mendekati sosok yang ia yakini sebagai istrinya itu. Namun langkah Deni melambat saat ia mendengar nafas memburu disertai geraman halus yang datang dari sosok di ambang pintu itu.


" Sheina, Kau kah itu...?" tanya Deni dengan suara bergetar.


Ruangan yang gelap membuat Deni harus berjalan hati-hati agar tak tersungkur jatuh ke lantai. Namun saat langkahnya makin dekat kearah sang istri, Deni terkejut karena melihat jika sosok di depannya bukan istrinya melainkan monster.

__ADS_1


Deni membeku di tempat dan ternganga saat melihat sosok monster di hadapannya itu bergerak mendekatinya. Geraman halus terdengar makin dekat disertai udara panas yang keluar dari lubang hidung sang monster.


Untuk sejenak keduanya saling menatap dalam diam. Deni merasa jantungnya tak lagi berada di tempatnya saat kepala monster itu mendekat ke wajahnya.


Di saat itu lah wanita selingkuhan Deni terdengar memanggil namanya dengan manja.


" Deeniiii..., kok lama banget sih...," panggil wanita itu sambil menggeliatkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Dokter Sheina yang saat itu telah berwujud manusia serigala pun marah mendengar panggilan manja wanita itu. Ia melesat cepat menghampiri wanita itu lalu menarik selimut yang menutupi tubuhnya.


Wanita itu menjerit saat melihat siluet monster tengah berdiri di hadapannya. Dengan kedua tangannya ia berusaha menutupi tubuh polosnya itu namun sia-sia.


Dari tempatnya berdiri Deni bisa melihat jika monster itu mengayunkan tangannya yang berkuku tajam lalu mencabik wajah wanita selingkuhannya. Suara jeritan menggema di kamar itu. Tidak hanya sekali tapi berkali-kali karena monster jelmaan dokter Sheina tak hanya mencabik wajah tapi juga seluruh tubuh wanita itu. Darah nampak muncrat membasahi dinding, selimut dan benda-benda di sekitarnya.


Lalu dengan buasnya monster itu mengirup darah dari luka-luka di tubuh wanita yang sekarat itu dengan rakus. Deni yang shock nampak merosot ke lantai dengan tubuh gemetar.


" Ampuunn.... Siapa pun Kamu, atau suruhan siapa pun Kamu, tolong lepaskan Aku...," kata Deni menghiba.


Mendengar ucapan menghiba suaminya membuat sisi manusia dalam diri dokter Sheina berontak. Namun amarah dalam diri dokter Sheina belum lagi mereda. Kemudian dokter Sheina mengulurkan tangannya yang dipenuhi darah bekas wanita selingkuhan suaminya tadi. Ia berhasil menyentuh wajah Deni dengan tangan besarnya itu.


Nafas manusia serigala itu terasa panas saat menyentuh wajah Deni. Namun saat itu Deni tak punya keberanian untuk memalingkan wajahnya. Ia hanya bisa memejamkan matanya sambil menanti keajaiban datang dan berharap manusia serigala itu mau melepaskannya.


Namun rupanya harapan Deni sia-sia. Tangan manusia serigala jelmaan dokter Sheina yang menyentuh wajahnya perlahan berhenti tepat di leher. Lalu dengan ujung kukunya yang runcing itu dokter Sheina menyayat leher sang suami. Hanya sedikit namun cukup dalam karena luka sayatan itu berhasil mengeluarkan darah yang lumayan banyak.


Melihat darah segar di depan matanya naluri pembunuh dalam diri dokter Sheina pun kembali bangkit. Ia seolah lupa jika pria di hadapannya adalah suaminya. Suami yang ia cintai tapi juga ia benci karena telah mengkhianatinya.

__ADS_1


Dokter Sheina melolong sekali lagi sebelum akhirnya taring- taringnya menembus leher Deni.


Tubuh Deni mengejang saat manusia serigala itu mulai menghirup darahnya dengan rakus. Diantara kesadarannya yang hampir hilang, sepintas Deni melihat wujud Monster di hadapannya itu berubah menjadi sosok dokter Sheina.


" Shei... Sheina...," panggil Deni lirih.


Dokter Sheina menghentikan aksinya lalu menatap wajah Deni yang pucat pasi itu sejenak. Deni memberanikan diri menyentuh kepala manusia serigala itu dengan telapak tangannya.


" Ternyata ini memang Kau Sheina...," kata Deni lirih sambil tersenyum kecut.


" Aaarrgghh...!" sahut manusia serigala jelmaan dokter Sheina.


Nafas Deni mulai terputus-putus namun ia masih mencoba bicara kepada dokter Sheina.


" Maafkan Aku Shei... na, ma... af karena telah melu... kai ha... ti dan cintamu. Aku bukan pria yang ba... ik. Maafkan Aku...," kata Deni dengan terbata-bata yang dijawab oleh dokter Sheina dengan dengusan.


Keduanya masih saling menatap sesaat. Namun detik berikutnya tangan Deni yang sedang memegang kepala dokter Sheina pun melemah lalu luruh ke lantai. Bersamaan dengan itu kedua mata Deni terpejam pertanda ruhnya telah pergi meninggalkan raganya.


Menyaksikan suaminya meregang nyawa dokter Sheina pun menjerit histeris. Jeritannya berupa lolongan serigala yang menggema memecah keheningan malam.


Dan dokter Sheina pun langsung memalingkan wajahnya kearah lain saat ingatannya berakhir. Ia mencoba mengatur nafasnya yang memburu karena mengingat peristiwa buruk belasan tahun lalu itu.


Kemudian dokter Sheina turun dari tempat tidur dan melangkah menuju jendela kamar. Ia menatap langit sore yang berwarna jingga keemasan itu dengan perasaan kalut.


" Kenapa rasa yang diberikan Rasyid sama persis seperti rasa yang Deni berikan. Apakah Aku jatuh cinta lagi kali ini...," gumam dokter Sheina sambil tersenyum kecut.

__ADS_1


Dokter Sheina terus bermonolog dalam hati sambil menikmati langit sore dari jendela kamarnya.


bersambung


__ADS_2