Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
144. Orang Dekat


__ADS_3

Kautsar dan Aruna tiba di rumah saat jam menunjukkan pukul sembilan malam. Beruntung mereka telah menunaikan sholat Isya di masjid yang terletak di dekat Rumah Sakit tadi.


Aruna turun dari motor lalu bergegas masuk ke dalam rumah. Namun langkah Aruna terhenti saat Kautsar mencekal tangannya dengan lembut.


" Mau kemana...?" tanya Kautsar sambil menatap Aruna lekat.


" Mau ke kamar, istirahat. Kan udah malam...," sahut Aruna.


" Ck, liat Aku Aruna. Kenapa Kamu malah ngeliat kearah lain saat ngomong sama Aku...?" protes Kautsar sambil berdecak sebal.


" Aku malu Kautsar...," sahut Aruna lirih.


" Malu kenapa...?" tanya Kautsar sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Aruna.


" Aku malu karena Kamu ngeliat wujud lain Aku saat jadi manusia serigala waktu itu...," sahut Aruna sambil menundukkan wajahnya.


" Jadi itu yang bikin Kamu menghindari Aku Aruna...?" tanya Kautsar hati-hati.


" Iya...," sahut Aruna cepat.


" Kenapa, Kamu ga percaya sama Aku ?. Bukannya Aku udah bilang kalo Aku ga masalahin semuanya, Aku cinta sama Kamu tanpa syarat Aruna...!" kata Kautsar tegas hingga membuat Aruna tersentak lalu mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah Kautsar.


Tatapan keduanya bertemu untuk sesaat. Lalu Kautsar memeluk Aruna dan mencium bibirnya dengan paksa. Kautsar baru menghentikan ciumannya saat Aruna menepuk dadanya karena hampir kehabisan nafas.


Setelahnya Kautsar menggendong Aruna dan membawanya masuk ke dalam kamar. Malam itu penyatuan mereka kembali terjadi setelah melewati jeda yang panjang. Namun penyatuan kali ini terasa berbeda karena diiringi kemarahan dan kekecewaan Kautsar. Aruna hanya mengimbangi apa yang dilakukan Kautsar hingga keduanya mencapai puncak bersama.


Kautsar pun memeluk Aruna yang berbaring membelakanginya sambil mengucapkan permintaan maaf berulang kali.


" Maafin Aku Sayang. Maaf. Aku ga marah sama Kamu. Aku marah sama diriku sendiri karena Aku ga bisa bikin Kamu percaya sama Aku...," kata Kautsar sambil menciumi belakang kepala Aruna.


Aruna pun membalikkan tubuhnya hingga kini mereka saling berhadapan.


" Gapapa, Aku yang salah. Makasih Kamu tetap mencintaiku setelah tau siapa Aku sebenarnya...," sahut Aruna sambil membelai pipi Kautsar dengan lembut.


" Jangan ragukan Aku Aruna. Itu membuatku sakit...," pinta Kautsar sambil menggenggam telapak tangan Aruna yang sedang menyentuh pipinya.


" Iya...," sahut Aruna dengan mata berkaca-kaca.


Kautsar pun tersenyum lalu memeluk Aruna dengan erat. Kebahagiaan nampak terpancar di wajah keduanya. Kesalah pahaman yang mendera hubungan mereka belakangan ini telah terurai dan itu membuat keduanya tertawa.

__ADS_1


Setelah tawa mereka usai, Kautsar pun memberanikan diri membahas penyakit Kenzo.


" Ngomong-ngomong Kenzo itu sakit apa. Kok Aku ngerasa kalo sakitnya ga biasa ya...," kata Kautsar.


" Kamu juga ngerasa ada sesuatu yang aneh sama Kenzo...?" tanya Aruna.


" Iya. Tapi Aku bener kan...?" tanya Kautsar.


" Iya. Agung juga ngerasa begitu...," sahut Aruna.


" Terus...?" tanya Kautsar penasaran.


" Sebenernya belakangan ini Aku ngeliat aura hitam di sekeliling Kenzo. Awalnya Aku pikir aura gelap itu sedang mengintai Aku Kautsar. Tapi ternyata Aku salah. Aku ngeliat aura gelap itu lagi di kamar rawat inap Kenzo tadi...," sahut Aruna gusar.


" Apa Kamu tau sesuatu...?" tanya Kautsar.


" Iya. Aura itu berasal dari orang yang punya hubungan dekat sama Kenzo, bisa kerabat atau famili. Ga tau siapa. Tapi yang jelas mereka saling mengenal dan dekat...," sahut Aruna.


" Urusan keluarga tuh emang pelik Aruna. Kalo udah ada iri dan dendam di sana, jangan heran kalo keluarga bisa jadi musuh paling berbahaya...," kata Kautsar.


" Kamu betul Tsar...," sahut Aruna.


" Iya iya...," sahut Aruna sambil membenamkan diri ke dalam pelukan suaminya hingga membuat Kautsar tersenyum senang.


\=\=\=\=\=


Di sebuah rumah terlihat kekacauan. Sang pemilik rumah bernama Edi adalah adik papa Kenzo. Dia sedang marah karena kegiatannya terganggu.


Rupanya saat itu Edi sedang melakukan ritual untuk menyingkirkan lawannya. Papa Kenzo adalah musuh yang paling ia benci. Telah lama Edi berniat jahat dan ingin membunuh papa Kenzo itu.


Saat dia sedang fokus menjalani ritual, salah seorang anaknya datang mengganggu dan menumpahkan air yang telah ia bacakan mantra. Padahal sejatinya air itu mau ia masukkan ke dalam minuman milik papa Kenzo nanti.


" Sia*an. Gara-gara ulah anak bod*hmu itu bikin Aku kehilangan kesempatan menjadi pewaris utama...!" kata Edi dengan lantang.


" Jangan bilang gitu Bang. Dia itu Anakmu juga...!" sahut istri Edi yang bernama Puri itu tak terima.


" Anakku ga mungkin cacat !. Aku yakin Kamu selingkuh dariku dan tidur dengan laki-laki lain saat Aku sedang berguru dulu Puri...!" kata Edi marah sambil melempar benda-benda yang ada di dekatnya kearah Puri dan anak mereka.


" Keterlaluan !. Kau terus menuduhku selingkuh, padahal Kau yang selingkuh Bang. Kau tidur dengan siluman itu dan imbasnya Aku yang hamil anak harammu itu...!" kata Puri dengan berani.

__ADS_1


" Kau...!" ucapan Edi terputus saat anaknya yang bernama Cinta itu berdiri diantara dia dan Puri.


" Pap... Papa. Jangan pu... pukul Mam... Mama...," kata Cinta terbata-bata dengan mimik serius.


" Sia*an. Pergi sana. Jangan berani menyentuhku atau Kau akan mati anak sia*an...!" sahut Edi sambil menepis tangan Cinta lalu mendorong tubuh anak itu hingga jatuh tersungkur ke lantai.


Puri menjerit menyaksikan anaknya disakiti sedemikian rupa oleh suaminya. Ia bergegas menghampiri Cinta lalu membawanya pergi menjauhi Edi.


Kemudian Puri membawa Cinta masuk ke dalam kamar. Setelah mengunci pintu Puri meletakkan Cinta di atas tempat tidur.


Puri mengamati wajah Cinta sejenak lalu mengecek luka di tangan dan kaki Cinta. Sang anak mengarahkan tangan Puri ke keningnya untuk memberitahu jika keningnya sangat sakit dan mungkin ada luka di sana.


" Ini sakit...?" tanya Puri lembut sambil menyentuh kening Cinta.


" Iya Mam... Mama...," sahut Cinta sambil menganggukkan kepalanya.


" Maafin Papa ya Nak. Papa lagi pusing karena banyak kerjaan. Kan Mama udah bilang kalo Cinta ga boleh deketin Papa, ini lah akibatnya. Cinta ga sengaja ganggu kerjaan Papa terus Papa marah deh...," kata Puri sambil menempelkan plester luka di kening Cinta.


" Pap... Papa ben... ci sama Cin... Cinta kan...?" tanya Cinta dengan terbata-bata.


" Ga Sayang. Papa sayang sama Cinta, Mama juga...," sahut Puri sambil memeluk Cinta erat.


" Mam... Mama bo... hong...," kata Cinta lirih lalu mendorong sang mama agar menjauh.


Setelahnya Cinta membaringkan tubuhnya menghadap ke dinding. Jika Cinta sudah memasang posisi seperti itu Puri tak akan berani lagi mengusiknya. Perlahan Puri berdiri, mencium kepala Cinta lalu keluar dari kamar.


Puri mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan. Ia menghela nafas panjang saat melihat Edi yang mondar-mandir di tengah ruangan sambil memaki. Puri memilih pergi ke dapur untuk membuat sesuatu dibandingkan berdebat lagi dengan suaminya itu.


Sambil memotong sayuran Puri kembali teringat dengan masa lalunya.


Dahulu Puri dan Edi adalah pasangan yang bahagia. Mereka menikah dengan restu kedua keluarga besar. Meski pun saat itu Edi harus melangkahi kakak laki-lakinya yang belum menikah (yang merupakan papa Kenzo kelak), namun toh restu tetap mengalir untuk mereka.


Mereka adalah pasangan yang sama-sama sibuk bekerja dan materialistis. Hingga mereka rela menunda keinginan punya anak agar bisa memenuhi target yang mereka miliki.


Setelah beberapa tahun menikah mereka tak juga dikaruniai momongan. Hal itu didukung dengan kondisi Puri yang memiliki kandungan yang lemah. Ia diharuskan istirahat panjang jika ingin memiliki anak dan itu adalah hal yang mustahil untuk pasangan itu. Libur artinya pendapatan berkurang dan mereka tak mau itu.


Desakan dari kedua keluarga memaksa Puri berhenti bekerja dan mulai menjalani program kehamilan. Namun rupanya takdir baik belum berpihak kepada pasangan itu. Puri harus mengalami beberapa kali keguguran dan itu membuat Edi frustasi.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2