Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
252. Klan Yang Sama


__ADS_3

George, Matilda dan Aruna tiba di Rumah Sakit dalam waktu singkat. Untuk menghindari kecurigaan, George dan Matilda berhenti berlari ketika tiba di parkiran Rumah Sakit. Setelahnya mereka berjalan cepat menuju UGD dan disambut oleh dua orang perawat.


Aruna segera ditangani oleh dokter yang bertugas malam itu. Sedangkan Matilda dan George nampak menanti dengan tak sabar di ruang tunggu Rumah Sakit.


" Keluarga pasien Aruna...!" panggil seorang perawat melalui pengeras suara.


George dan Matilda bergegas menghampiri sang perawat.


" Ada yang perlu dibicarakan oleh dokter dengan keluarga pasien Aruna. Silakan ke ruangan ya Pak Bu...," kata sang perawat.


" Baik, makasih Suster...," sahut George dan Matilda bersamaan.


Sang perawat mengangguk sambil tersenyum lalu mengarahkan George dan Matilda ke ruangan yang dimaksud.


Seorang dokter wanita nampak menyambut kedatangan George dan Matilda dengan ramah. Namun sesaat kemudian wajah sang dokter berubah tegang. Senyum yang semula menghias wajahnya pun memudar dan kedua orang di hadapannya tahu itu.


Sang dokter terus menatap tajam kearah George dan Matilda seolah ingin menguliti mereka. Dia terus mengikuti pergerakan kedua tamunya setelah mempersilakan mereka duduk.


Suasana di dalam ruangan mendadak hening. Ketiga orang di dalam ruangan nampak terdiam dan saling menatap. Matilda dan George menatap dokter cantik di hadapan mereka dengan tatapan tenang dan menyelidik. Sedangkan sang dokter menatap kedua tamunya dengan tatapan waspada seolah sedang mengukur kemampuan lawan.


Sikap George, Matilda dan sang dokter cantik pun terlihat sama. Mereka duduk tegak dengan kedua tangan di samping dalam posisi mengepal dan kedua kaki sedikit terbuka.


Sesaat kemudian George berdehem untuk mencairkan suasana yang tegang itu.


" Ehm..., ternyata Kita berasal dari klan yang sama bukan...?" tanya George sambil tersenyum.


Ucapan George membuat ketegangan di wajah Matilda dan sang dokter mengendur. Tatapan keduanya yang menghunus pun perlahan berubah lembut disertai senyuman.


" Jadi Kalian juga...," ucapan sang dokter terputus saat Matilda berdiri lalu memeluknya erat.


" Apa kabar sister...," sapa Matilda dengan lembut.


" Aku baik sister...," sahut sang dokter cantik dengan suara bergetar sambil balas memeluk Matilda.


Sesaat kemudian sang dokter cantik pun terisak dalam pelukan Matilda. Sedangkan George hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal menyaksikan 'drama' yang mengharu biru di hadapannya.


" Aku pikir Aku sendirian di sini. Aku selalu ketakutan dan kesepian. Aku...," ucapan sang dokter pun kembali terputus karena ia kembali menangis.


" Jangan takut, Kami di sini dan akan selalu ada untukmu. Bukan begitu Sayang...?" tanya Matilda sambil menatap George dengan tatapan lembut.


" Tentu Sayang...," sahut George cepat hingga membuat Matilda tersenyum.


Tak lama kemudian Matilda mengurai pelukannya dan mengusap air mata di wajah sang dokter.


" Maaf kalo Aku jadi sedikit cengeng...," kata sang dokter cantik.


" Gapapa. Itu wajar setelah penantian yang lama...," sahut Matilda sambil mengedipkan sebelah matanya.


Sang dokter tertawa kecil lalu kembali memeluk Matilda. Sesaat kemudian ia mengurai pelukannya karena teringat akan tujuannya memanggil George dan Matilda.

__ADS_1


" Jadi Aruna juga...," ucapan sang dokter menggantung begitu saja saat George dan Matilda mengangguk mantap.


" Jadi bagaimana kondisinya dokter...?" tanya Matilda.


" Sheina. Namaku Sheina...," sahut sang dokter sambil tersenyum.


" Nama yang cantik untuk wanita yang cantik...," puji Matilda hingga membuat dokter Sheina tersipu malu.


" Terima kasih...," sahut dokter Sheina dengan wajah berbinar.


" Aku George dan ini Istriku Matilda...," kata George sambil merengkuh bahu Matilda dengan sayang.


" Baik lah. Kita bisa lanjutkan obrolan diantara Kita nanti saat Aku bebas tugas...," kata dokter Sheina.


" Setuju...," sahut George dan Matilda bersamaan hingga membuat dokter Sheina kembali tersenyum.


" Sekarang ada hal penting yang harus Aku sampaikan tentang kondisi Aruna...," kata dokter Sheina dengan mimik wajah serius.


George dan Matilda nampak saling menatap sejenak lalu menatap dokter Sheina penuh harap.


" Kondisi Aruna sangat buruk. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi nampaknya pendarahan itu terus berlangsung dan sulit dihentikan. Dengan menyesal kukatakan jika Aruna telah kehilangan bayinya...," kata dokter Sheina hati-hati.


" Ya Allah...," gumam Matilda sambil menutup mulutnya.


Mendadak tubuh Matilda lemas dan hampir terjatuh. Beruntung George sigap menahan tubuhnya lalu membawanya duduk di kursi. Kemudian dokter Sheina menyodorkan segelas air mineral kepada Matilda.


" Bagaimana ini George. Apa yang harus Kita katakan nanti saat Kautsar bertanya...?" tanya Matilda cemas.


" George betul Matilda. Tugas Kita adalah meyakinkan Aruna bahwa dia masih bisa memiliki bayi lagi di masa depan...," kata dokter Sheina.


" Tapi Aku ga bisa membayangkan wajah kecewa Aruna saat tahu ia kehilangan bayinya itu Sheina...," kata Matilda sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


" Aku justru khawatir sama Kamu Matilda. Karena saat ini Kamu yang terlihat sangat rapuh dan tak terima kepergian bayi itu...," kata dokter Sheina sambil tersenyum.


" Kamu benar Sheina. Aku memang mengharapkan bayi itu. Aku selalu mengharapkan bayi-bayi dari klan Kita lahir, tumbuh dan hidup karena Aku tak pernah bisa memiliki mereka...," sahut Matilda dengan mata berkaca-kaca.


George yang mengerti arah pembicaraan Matilda pun langsung menarik sang istri ke dalam pelukannya. Kemudian George membisikkan kalimat yang panjang di telinga Matilda hingga membuat wanita itu menangis.


Dokter Sheina nampak tertegun dan sedikit iri menyaksikan besarnya cinta George untuk Matilda. Perlahan dokter Sheina mundur untuk memberi ruang kepada pasangan suami istri itu. Ada rasa perih di sudut hatinya saat melihat kemesraan George dan Matilda.


Tiba-tiba pintu ruangan diketuk dan masuk lah seorang perawat ke dalam ruangan.


" Maaf dok. Pasien atas nama Aruna sudah siuman...," kata sang perawat dengan santun.


" Oh gitu. Makasih Sus, sebentar lagi Saya segera ke sana...," sahut dokter Sheina.


" Baik dok...," kata sang perawat sambil menutup pintu.


Dokter Sheina pun mendekati Matilda yang masih menangis lalu menyentuh bahunya dengan lembut.

__ADS_1


" Aruna sudah siuman. Apakah Kalian mau ikut Aku untuk menjenguknya...?" tanya dokter Sheina.


" Apa boleh...?" tanya Matilda.


" Tentu. Tapi dengan syarat hapus dulu air matamu itu. Dan jangan bicara sesuatu yang membuat Aruna tertekan...," kata dokter Sheina yang diangguki Matilda.


Kemudian ketiganya melangkah keluar menuju ruangan dimana Aruna dirawat.


Saat tiba di ruang rawat Aruna sang dokter langsung mengecek kondisi Aruna. Nampaknya Aruna telah menyadari jika ia kehilangan bayinya. Tak ada satu kata pun terlontar dari mulutnya dan itu membuat Matilda kembali ingin menangis.


" Apa Aku kehilangan dia dokter...?" tanya Aruna lirih.


" Maaf jika membuatmu kecewa Aruna. Tapi itu lah kenyataannya. Bersabar lah...," sahut dokter Sheina.


Aruna memejamkan matanya mendengar jawaban sang dokter. Air mata perlahan jatuh di pipinya dan itu membuat Matilda tak kuasa menahan tangis.


" Jangan khawatir Aruna. Kamu masih muda dan masih memiliki banyak kesempatan mengandung lagi. Sekarang istirahatkan tubuh dan pikiranmu. Jangan sakiti dirimu karena itu akan membuat anakmu ikut sakit melihatmu...," kata dokter Sheina dengan lembut.


Ucapan dokter Sheina seolah menyadarkan Aruna jika dia harus bangkit dan segera pulih untuk membuktikan jika dirinya baik-baik saja. Aruna pun tersenyum tipis sambil menatap sang dokter dengan tatapan lembut.


" Terima kasih dokter...," kata Aruna lirih.


" Sama-sama Aruna...," sahut dokter Sheina sambil mengusap kepala Aruna dengan. sayang.


Aruna terkejut saat merasakan usapan lembut di kepalanya. Ada rasa nyaman yang tak asing dan Aruna suka itu.


Tiba-tiba George teringat jika ia harus segera memberitahu Kautsar. Perlahan ia menyingkir keluar dari ruangan dan melesat pergi menemui Kautsar.


Saat itu Kautsar tengah duduk sambil memandang langit malam yang dihiasi ribuan bintang. Ada keresahan di wajahnya dan Kautsar berkali-kali menghela nafas panjang karenanya.


Kautsar terkejut saat melihat George hadir di hadapannya. Ia mengucek matanya untuk memastikan jika yang dilihatnya adalah nyata dan bukan ilusi.


" Om George...! " panggil Kautsar.


" Iya Nak, ini Aku. Kita harus kembali secepatnya karena Aruna membutuhkanmu Kautsar..., " kata George.


Kautsar menelan saliva nya dengan sulit karena sudah menduga apa yang terjadi pada Aruna.


" Apakah ini tentang... bayiku...?" tanya Kautsar ragu.


" Iya. Aruna sangat terpukul saat kehilangan bayi Kalian...," sahut George cepat.


" Inna Lillahi wainna ilaihi roji'uun...," gumam Kautsar sambil mengusap wajahnya.


Kautsar pun teringat Aruna dan tahu jika Aruna pasti sedang berusaha menghibur dirinya sendiri.


" Aku ikut Om pulang sekarang...," kata Kautsar dengan suara parau.


George mengangguk lalu menggenggam tangan Kautsar erat dan membawanya melesat cepat menuju ke Rumah Sakit dimana Aruna dirawat. Jika biasanya Kautsar akan menikmati pemandangan alam dari ketinggian, namun saat itu Kautsar tak lagi peduli dengan sekitarnya. Ia lebih peduli pada Aruna dan berharap bisa segera memeluknya.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2