
Jun menjerit keras saat melihat potongan tangan Aldi mencekal kerah bajunya. Seolah teringat akan apa yang ia lakukan terhadap Aldi semasa hidupnya, Jun pun menangis ketakutan.
" Ampuunn Aldi. Jangan bunuh Gue. Bilang apa yang Lo mau, pasti bakal Gue lakuin...," kata Jun sambil bersimpuh di tanah.
" Kalo Gue bilang minta kepala Lo, apa Lo bakal kasih...?" tanya Aldi.
Jun terdiam sambil menundukkan kepalanya. Kemudian Aldi nampak mendekat kearah Jun lalu berjongkok tepat di hadapan Jun.
" Liat mataku Jun...!" kata Aldi.
Perlahan Jun mengangkat kepalanya dan tatapan keduanya pun bertemu. Aldi menyeringai dan itu membuat Jun gemetar ketakutan.
Perasaan Jun makin campur aduk saat merasa sebuah tangan memegang bok*ngnya. Saat Jun menoleh, ia melihat potongan tangan Aldi lah pelakunya. Jun beringsut menjauh sambil berusaha menyingkirkan potongan tangan itu namun gagal.
Potongan tangan itu seolah mencengkeram kuat bok*ngnya hingga terasa sangat menyakitkan. Jun pun menjerit saat jari-jari tangan itu menyeruak masuk ke dalam dub*rnya. Rasa sakit yang amat sangat membuat Jun menggeliat kesakitan. Apalagi selain jari-jari tangan yang masuk, kepalan tangan itu pun ikut masuk ke bagian belakang tubuh Jun.
Suara robekan kulit dan daging terdengar bersamaan dengan jerit memilukan yang keluar dari mulut Jun. Tak lama kemudian Jun pun tewas dalam kondisi dub*r jebol bersimbah darah.
\=\=\=\=\=
Aruna menyudahi penglihatannya itu sambil menghela nafas panjang. Ia mengerti mengapa Aldi melakukan itu. Dan kini ia berniat membantu Aldi keluar dari perasaan dendamnya lalu mengantarnya ke tempat yang seharusnya.
Tak lama kemudian Ambulans yang akan mengantar jasad Aldi pun melintas.
" Ambulans itu yang akan membawamu pulang Al...," kata Aruna.
" Jasadku udah berubah bentuk. Kasian sekali...," sahut Aldi dengan tatapan sedih.
" Tak apa. Yang penting ruhmu masih utuh. Sekarang masuk lah ke dalam Ambulans itu dan tunggu Aku di sana...," pinta Aruna.
" Baik...," sahut arwah Aldi lalu melesat pergi meninggalkan Aruna.
Aruna kembali menemui Kautsar yang masih setia menunggunya di kantin Rumah Sakit.
" Gimana Sayang...?" tanya Kautsar.
" Kita pergi sekarang yuk. Aku akan membantu arwah Aldi menyebrang. Tapi sebelumnya Aku harus masuk ke dalam Ambulans itu, apa Kamu bisa bantu Aku Tsar...?" tanya Aruna.
" Gampang. Ikut Aku yuk...," ajak Kautsar sambil menggamit tangan Aruna lalu membawanya melangkah dengan cepat.
Rupanya Kautsar bicara langsung pada Hafiz dan kakeknya tentang permintaan kecil Aruna itu. Keduanya nampak tak keberatan apalagi saat itu Reymond juga meminta hal yang sama.
" Aku sama Reyhan ngikutin Kamu pake mobil lain ya. Kalo ada apa-apa, Kamu bilang aja sama Reymond. Oh iya Mond, Gue titip Aruna ya.Tolong jagain Istri Gue ini sampe Kita ketemu di kota B...," kata Kautsar.
" Beres Tsar. Lo tenang aja...," sahut Reymond sambil mengacungkan jempolnya.
" Iya, Lo tenang aja. Gue sama Kakek juga bakal jagain Aruna...," kata Hafiz menambahkan.
" Ok, makasih...," sahut Kautsar sambil tersenyum.
" Sama-sama...," sahut Hafiz dan kakeknya bersamaan.
__ADS_1
Tak lama kemudian Ambulans pun melaju meninggalkan Rumah Sakit. Suara sirine Ambulans memecah kepadatan jalan raya.
Aruna duduk di samping supir Ambulans, sedangkan Reymond, Hafiz dan kakeknya memilih duduk menemani jasad Aldi yang diletakkan di dalam peti jenasah.
Hafiz menatap sedih kearah peti jenasah berisi jasad Aldi yang terbujur kaku di dalamnya. Setetes air mata jatuh di wajahnya dan bergegas diusapnya. Kemudian Hafiz melantunkan dzikir dan doa dalam hatinya. Ia berharap arwah Aldi bisa kembali ke haribaan Allah dengan tenang.
Rupanya doa dan dzikir yang dilantunkan Hafiz mempermudah pekerjaan Aruna.
Aruna nampak duduk tenang di samping supir Ambulans sambil memejamkan mata. Hal itu membuat supir Ambulans tak berani mengusiknya. Padahal yang sesungguhnya terjadi saat itu adalah Aruna sedang berkomunikasi dengan arwah Aldi.
Arwah Aldi nampak berdiri di hadapan Aruna sambil tersenyum. Ia bahagia karena akhirnya menemukan jalan pulang.
" Aku melihatnya Aruna. Aku melihatnya...!" kata arwah Aldi antusias.
" Bagus. Fokus dan datangi sumber cahaya itu. Di sana lah pintu yang Kau cari itu...," sahut Aruna dalam hati.
" Kenapa jalan menuju pintu itu sangat terang dan begitu mudah Aruna...?" tanya arwah Aldi tak mengerti.
" Semua tak lepas dari bantuan sepupumu yang bernama Hafiz itu Al. Bacaan dzikir dan doa tulusnya membantumu menemukan jalan untuk kembali Aldi...," sahut Aruna sambil tersenyum.
" Begitu ya. Aku bahagia masih memiliki sepupu yang tulus menyayangiku. Tolong sampaikan rasa terima kasihku pada Hafiz ya Run...," pinta arwah Aldi.
" Insya Allah. Sekarang pergi lah sebelum pintu cahaya itu tertutup...," kata Aruna yang diangguki arwah Aldi.
" Baik lah. Sampaikan juga salamku untuk Kakekku. Terima kasih Aruna. Semoga Allah membalas kebaikanmu...," kata arwah Aldi sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.
Sedetik kemudian arwah Aldi melesat cepat kearah pintu cahaya itu. Saat tiba di ambang pintu Aldi menoleh sekali lagi lalu tersenyum kearah Aruna. Setelahnya pintu pun tertutup.
Aruna pun membuka matanya lalu menoleh ke belakang dimana Reymond, Hafiz dan Kakeknya berada. Ia tersenyum saat mendengar ucapan Reymond.
" Eh, kok mendadak ada bau kembang ya Fiz. Lo nyium juga ga...?" tanya Reymond.
" Iya...," sahut Hafiz cepat.
" Duh jadi merinding nih Gue. Kira-kira apa artinya Fiz...?" tanya Reymond sambil mengusap tengkuknya.
" Insya Allah ini pertanda baik Reymond. Kan tadi bau busuk, tapi di tengah jalan ganti bau kembang. Mudah-mudahan bawa pertanda baik untuk semuanya...," sela Kakek Aldi.
" Aamiin...," sahut Aruna dan Hafiz bersamaan.
" Oh gitu Kek. Kalo gitu Aku lebih tenang sekarang..., " kata Reymond sambil tersenyum.
" Masih jauh ya rumahnya...?" tanya Aruna sambil menatap Reymond.
" Sebentar lagi sampe Run...," sahut Reymond.
" Sabar ya Mbak Aruna...," sela Hafiz.
" Iya Mas...," sahut Aruna sambil tersenyum.
Seperti yang diucapkan Reymond, setengah jam kemudian Ambulans pun tiba di depan sebuah rumah besar yang diyakini sebagai kediaman Kakek Aldi.
__ADS_1
Terlihat banyak pria yang sedang sibuk merapikan kursi dan tenda di luar rumah. Rupanya Hafiz telah lebih dulu mengabarkan pada keluarga dan kerabatnya tentang kepulangan jenasah Aldi. Mereka sigap membantu menurunkan jasad Aldi dari Ambulans.
Suasana menjadi gaduh saat kedua orangtua Aldi dengan pasangan masing-masing menghambur memeluk peti jenasah Aldi. Mereka menangis meratapi kepergian Aldi. Hafiz yang berdiri di samping peti jenasah Aldi nampak melengos kesal karena ia tahu betul bagaimana sikap mereka pada Aldi.
Kakek Aldi pun tampil untuk menghentikan drama keluarga itu. Kemudian ia meminta kedua orangtua Aldi diam.
" Diam atau Kalian pergi dari sini sekarang !. Aku muak melihat sandiwara Kalian...," kata Kakek Aldi ketus.
" Baik Bah...," sahut kedua orangtua Aldi bersamaan lalu segera menghentikan tangis mereka.
\=\=\=\=\=
Acara pemakaman Aldi berjalan lancar. Pihak kepolisian nampak mengawal jalannya proses pemakaman Aldi sambil mengamati para pelayat satu per satu.
Saat hendak meninggalkan pemakaman, kakek Aldi dikejutkan dengan kedatangan Jon yang merupakan anak buah kebanggaan Moa. Melihat kehadirannya sontak membuat suasana area pemakaman menjadi gaduh. Apalagi saat itu kondisi Jon tidak sedang baik-baik saja. Banyak luka lebam di wajahnya dan itu membuat orang bertanya-tanya.
" Ada apa Jon...?" tanya Hafiz mewakili sang Kakek.
" Ada hal penting yang harus Gue sampein sama Kakek...," sahut Jon.
" Kita bicara di rumah aja...," sahut Kakek Aldi saat Hafiz menoleh kearahnya.
" Baik Kek. Ayo Kita ke rumah. Dan Kalian ikut Kami pulang ya, Kita bakal gelar acara tahlilan malam ini. Gue harap Kalian bersedia untuk hadir mendoakan almarhum Aldi...," kata Hafiz sambil menatap Kautsar dan rombongan.
" Insya Allah Kami akan ikut tahlilan ntar malam...," sahut Kautsar yang diangguki Aruna, Reyhan dan Reymond.
" Alhamdulillah, makasih sebelumnya...," kata Hafiz sambil tersenyum.
Kemudian mereka meninggalkan area pemakaman dan kembali ke rumah Kakek Aldi. Para Polisi tetap mengawal hingga mereka kembali ke rumah.
Kakek Aldi dan Hafiz beserta beberapa orang keluarga nampak duduk berhadapan dengan Jon.
" Sekarang Lo mau ngomong apa Jon...?" tanya Hafiz.
" Gue mau bilang kalo Bang Moa udah meninggal dunia Fiz...," sahut Jon dengan suara bergetar.
" Berita macam apa yang Kau bawa ini Jon ?!. Kau tau Aku sedang berduka. Jangan tambah lagi dukaku ini dengan berita bohong yang Kau bawa...!" kata Kakek Aldi sambil menggebrak meja.
Jon nampak gemetar ketakutan. Sedangkan semua orang terdiam karena tak ingin menghadapi kemarahan Kakek Aldi yang merupakan kepala keluarga sekaligus jawara di lingkungan itu.
" Saya ga bohong Kek. Saya juga mau menceritakan sebuah rahasia tentang Bang Moa...," kata Jon sambil menunduk takut.
" Katakan...!" bentak Kakek Aldi.
" Di sini Kek...?" tanya Jon sambil menatap ke sekelilingnya.
" Iya. Emang mau dimana, di kuburan...?!" tanya Kakek Aldi kesal.
Namun belum lagi Jon menceritakan apa yang dilakukan Moa terhadap Aldi, tiba-tiba lampu hias yang melekat di plafond ruangan jatuh tepat di atas kepala Jon.
Seketika ruangan menjadi kacau. Lampu padam dan suara orang saling bersahutan pun terdengar memenuhi ruangan.
__ADS_1
bersambung