
Aruna ingat saat itu adalah hari ke empat mereka menginap di hotel itu. Kebetulan hari itu Aruna dan si kembar tak pergi kemana-mana. Aruna sengaja libur dari rutinitasnya berkeliling kota karena ingin memberi waktu istirahat pada dua buah hatinya.
Aruna dan si kembar menghabiskan waktu seharian sambil berbaring santai di tempat tidur. Kadang kala si kembar berlarian di kamar untuk mengusir kejenuhan.
Sore hari Kautsar menelephon dan mengatakan jika ia akan pulang sedikit telat karena masih harus meeting dengan rekan bisnisnya.
" Gapapa kan Bund...?" tanya Kautsar saat mendengar Aruna membisu di seberang telephon.
" Ya udah gapapa. Emangnya Aku bisa apa selain nerima...," sahut Aruna sedikit ketus karena rencananya untuk jalan-jalan malam hari dengan keluarga kecilnya terpaksa batal.
" Jangan gitu dong Bund. Aku janji pulang nanti Kita jalan-jalan keluar ya...," kata Kautsar mencoba merayu sang istri.
" Ga usah Yah, Aku ga mau ninggalin Anak-anak di kamar sendirian...," sahut Aruna.
" Kan bisa titip sama Tantri...," kata Kautsar.
" Aku udah bilang sama Tantri kalo hari ini libur karena Aku mau ngajak Suami dan anak-anakku jalan-jalan nanti malam. Tapi ternyata Kamu ga bisa. Ya udah rencananya dicancel dulu deh. Lain kali mungkin Kita bisa jalan berempat. Selama di sini Kita belum pernah sekali pun jalan berempat lho Yah. Kamunya sibuk banget sampe ga punya waktu buat keluarga...," kata Aruna.
" Iya iya, maaf ya Bunda. Insya Allah selesai urusan kerjaan Kita jalan-jalan berempat...," janji Kautsar.
" Ga usah janji Yah. Ntar kalo ga bisa nepatin bikin Aku kecewa lagi...," kata Aruna.
Kautsar hanya menghela nafas panjang. Ia enggan berdebat karena tak ingin Aruna marah. Kautsar memang sibuk mengerjakan tugasnya hingga tak memiliki waktu memanjakan keluarganya. Namun rupanya Aruna salah paham dengan kesibukan suaminya itu. Padahal Kautsar sengaja mengerjakan semua tugasnya lebih awal karena ingin punya waktu lebih banyak untuk memanjakan keluarga kecilnya itu.
" Ayah..., Kamu masih di sana...?" tanya Aruna saat tak mendengar suara Kautsar.
" Masih Bund. Sekali lagi maafin Aku ya Sayang...," kata Kautsar tak enak hati.
" Iya. Terus Kamu pulang jam berapa nanti...?" tanya Aruna.
" Belum tau Bund. Kalo ngantuk tidur aja duluan...," sahut Kautsar tak enak hati.
" Ok, Aku tutup ya. Anak-anak udah mulai ribut tuh. Kamu jangan lupa makan ya Yah...," pesan Aruna sebelum mengakhiri pembicaraan.
Kemudian Aruna menghampiri Khai dan Kanaya yang memperebutkan mainan. Tak ada satu pun yang mau mengalah dan Aruna harus extra sabar menghadapi kedua batita itu. Setelah lama membujuk akhirnya Khai bersedia mengalah dan memberikan mainan itu pada Kanaya.
" Anak Bunda emang pinter deh. Karena Khai udah mau ngalah sama Adiknya, sekarang Bunda kasih hadiah ya. Khai boleh nonton film robot kesukaan Khai sebelum tidur...," kata Aruna.
" Mau Ndaa...," sahut Khai dengan mimik lucu.
Aruna pun menggendong Khai dan meletakkannya di sofa.
__ADS_1
Khai nampak senang saat melihat film favoritnya itu. Sedangkan Kanaya terlihat mulai merengek karena mengantuk. Aruna pun menggendong Kanaya lalu menidurkannya di dalam pelukannya.
Setengah jam kemudian Aruna telah berada di tempat tidur bersama si kembar. Rupanya Khai dan Kanaya tertidur setelah lelah bermain seharian.
Malam pun kian larut namun Kautsar belum juga kembali. Aruna bangkit lalu merapikan selimut kedua anaknya. Saat itu lah Aruna melihat sekelebat bayangan melintas di balkon kamar.
Aruna tak khawatir karena mengira itu adalah George dan Matilda.
Setelah menunggu beberapa waktu Aruna tak melihat kehadiran George dan Matilda. Ia mengerutkan keningnya karena curiga. Kemudian Aruna bergegas melangkah menuju balkon dan terkejut melihat pasukan manusia serigala tengah berdiri berbaris di sana.
" Kalian...," ucapan Aruna terputus saat salah seorang manusia serigala menyapanya dengan takzim.
" Selamat malam Nona Aruna. Maafkan jika Kami mengganggu. Kami datang atas perintah Raja Arnold untuk menjemput si kembar...," kata manusia serigala itu.
" Khai dan Kanaya sedang tidur. Apa Kalian akan membawanya dalam keadaan tidur...? " tanya Aruna.
" Betul Nona...," sahut manusia serigala itu.
" Aku ga akan mengijinkan Kalian membawanya tanpa Aku...," kata Aruna sambil memasang sikap siaga.
" Tentu saja Kamu ikut Nak. Kita akan pergi menemui Kakekmu sekarang...," kata sebuah suara yang dikenali Aruna sebagai ayahnya.
" Ayah...!" panggil Aruna dengan mata berbinar.
" Alhamdulillah baik Yah...," sahut Aruna sambil tersenyum.
Orion menoleh kearah pasukan manusia serigala di belakangnya seolah memberi kode agar mereka segera bertindak.
Aruna pun menepi untuk memberi akses pada pasukan manusia serigala menjemput kedua anaknya. Mereka bergerak cepat dan tanpa suara hingga membuat Aruna kagum.
Khai dan Kanaya pun tampak tenang dan tak terusik dengan kehadiran pasukan manusia serigala di kamar itu. Setelah melakukan gerakan aneh, pasukan serigala pun meraih kedua bayi itu lalu meletakkan mereka ke dalam dua kotak yang berbeda.
" Kita berangkat sekarang Nak...," kata Orion sambil menutupi tubuh Aruna dengan jubah besar yang terbuat dari bulu beruang.
" Gimana dengan Suamiku Yah. Dia pasti kebingungan mencari Kami nanti...," sahut Aruna sambil menoleh kearah pintu.
" Kamu ga sedang meragukan Kami kan Nak ?. Apa Kamu pikir semua yang terjadi hari ini serba kebetulan ?. Pasukan Kita telah bekerja keras menciptakan kesempatan langka ini untuk Kita. Jangan cemaskan Kautsar, dia akan baik-baik saja. Toh Kita pergi hanya sebentar...," kata Orion hingga membuat Aruna mengangguk tanda mengerti.
Setelah mengatakan itu Orion pun menggenggam jemari Aruna. Lalu bersama-sama mereka melesat pergi. Di belakang mereka pasukan manusia serigala nampak mengikuti. Dua manusia serigala yang menggendong Khai dan Kanaya berada di barisan terdepan.
Perjalanan pasukan manusia serigala itu berjalan lancar. Tak lama kemudian mereka telah tiba di istana Arnold yang megah. Aruna dibuat takjub dengan bentuk istana yang mirip kastil bernuansa biru itu.
__ADS_1
" Selamat datang di istana Kita Aruna...!" sapa Arnold sambil merentangkan kedua tangannya.
" Kakek Arnold...," panggil Aruna lirih lalu bergegas menghambur ke pelukan sang Kakek.
Arnold tertawa menyambut Aruna. Ia pun balas memeluk Aruna dan mengecup kepalanya dengan Sayang.
" Masuk lah, Kalian pasti lelah bukan...," ajak Arnold sambil menggamit tangan Aruna lalu membawanya masuk ke dalam istana.
Saat tiba di dalam istana Aruna terkejut karena melihat George dan Matilda di sana. Aruna pun memeluk keduanya bergantian.
" Ternyata ini urusan yang Kalian bilang itu. Pantesan udah lama ga ke rumah, ternyata kabur ke sini...," sindir Aruna sambil mencibir.
George dan Matilda pun tersenyum sambil balas memeluk Aruna.
" Dimana Khai dan Kanaya...?" tanya Matilda.
" Itu mereka Tante...," sahut menunjuk dua box bayi di tengah ruangan.
" Aku mau liat sudah sebesar apa mereka sekarang..., " kata Matilda sambil mendekati si kembar.
" Sabar Matilda, sekarang adalah giliranku menyapa mereka...," sela Arnold hingga membuat semua orang tertawa.
Matilda hanya tersenyum kecut lalu membiarkan Arnold menyapa kedua cucu buyutnya itu. Dibantu dua orang pasukan manusia serigala, Arnold pun menerima si kembar yang menggeliat bangun karena suara bising di sekitar mereka.
Suasana haru pun memenuhi ruangan. Arnold nampak menitikkan air mata saat menggendong Khai dan Kanaya di kedua lengannya. Lalu dengan bangga ia mengacungkan kedua bayi itu ke atas sambil berseru.
" Khaizuran dan Kanaya adalah keturunanku. Saksikan lah oleh Kalian semua. Jaga dan lindungi mereka meski pun Kalian harus mengorbankan darah dan nyawa Kalian...!" kata Arnold lantang.
" Siap Raja...!" sahut semua manusia serigala sambil bersimpuh menundukkan kepala.
Aruna terkejut sekaligus terharu mendengar sambutan mereka untuk kedua anaknya. la tak menyadari sejak kapan para manusia serigala lainnya datang dan memadati ruangan. Mereka hadir dalam wujud manusia serigala dan serigala. Karena ruangan tak bisa menampung mereka, sebagian besar tersebar di luar dalam posisi yang sama.
Setelahnya para manusia serigala itu bangkit berdiri. Arnold pun melolong panjang diikuti semua manusia serigala. Suara lolongan serigala saling bersahutan di tempat itu. Khai dan Kanaya yang berada dalam gendongan Arnold tampak terpaku sejenak namun sedetik kemudian keduanya tertawa. Tak ada takut di wajah kedua bayi berusia dua tahun itu. Mereka justru terlihat nyaman berada di tengah ratusan manusia serigala.
Khai dan Kanaya meronta ingin turun dari gendongan Kakeknya. Dengan senang hati Arnold menurunkan si kembar dari gendongannya. Kemudian Khai dan Kanaya berlarian menghampiri para manusia serigala. Keduanya menyentuh pasukan serigala satu per satu dengan jari mungil mereka seolah sedang memperkenalkan diri. Bahkan mereka juga naik ke punggung dua serigala yang ada di luar istana.
Arnold, Orion, Aruna, Matilda dan George pun tertawa bahagia menyaksikan tingkah lucu si kembar. Para pasukan manusia serigala pun terlihat antusias menyambut si kembar.
" Mereka memang Cucuku...," kata Orion bangga sambil merengkuh bahu Aruna dan mendaratkan ciuman sayang di kepala Aruna.
" Sudah lama tak terdengar suara anak kecil di istana ini. Khai dan Kanaya benar-benar membawa kebahagiaan untuk klan Kita...," kata Arnold sambil tersenyum.
__ADS_1
Aruna pun ikut tersenyum. Dalam hati ia merasa bahagia karena kehadiran si kembar diterima dengan tangan terbuka dan itu artinya akan ada 'orang lain' yang membantunya menjaga si kembar nanti.
\=\=\=\=\=