Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
46. Ruang Misterius


__ADS_3

Aruna, Ria dan Kenzo sedang berjalan menuju kelas saat mereka berpapasan dengan Fadil dan Agung. Mereka memang berbeda fakultas. Aruna, Ria dan Kenzo di fakultas Ekonomi dan Bisnis, sedangkan Agung dan Fadil di fakultas Hukum. Meski pun begitu mereka tetap menjalin pertemanan. Kadang di sela waktu istirahat mereka bertemu untuk sekedar berbagi cerita seperti saat ini.


“ Ini masih baru beberapa minggu Kita masuk kuliah, jadi Kita masih bisa kumpul kaya gini. Apa kalo udah setahun lebih Kita masih bisa kaya gini ya...?” tanya Ria yang lebih mirip gumaman itu.


“ Kok ngomong gitu sih Ri, ada apa nih...?” tanya Fadil sambil mengunyah kacang goreng.


“ Gapapa. Gue cuma ngeliat orang-orang yang deket waktu awal Ospek tapi sekarang udah jadi orang asing yang pura-pura ga kenal...,” sahut Ria.


“ Masa sih, emang ada yang kaya gitu...?” tanya Aruna.


“ Ada. Tuh liat di sana...,” sahut Ria sambil menunjuk ke gerbang kampus.


“ Itu kan si Galang, Eri sama Dita...,” kata Kenzo.


“ Iya. Coba Kalian liat gimana sikap mereka. Galang masih nyapa, tapi Eri sama Dita malah cuek kaya ga pernah kenal. Sedih Gue ngeliatnya. Padahal waktu Ospek mereka bertiga lengket banget...,” sahut Ria.


Aruna dan keempat temannya menatap tiga mahasiswa yang berpapasan di gerbang kampus itu. Galang terlihat kecewa saat Dita dan Eri mengabaikan sapaannya. Padahal jelas jika kedua gadis itu melihat dan mendengar sapaannya tadi. Galang menatap Dita dan Eri yang terus berjalan tanpa sekali pun menoleh kearahnya. Melihat hal itu Fadil bergegas mendekati Galang dan mengajaknya bergabung.


Saat Fadil merangkul pundak Galang dan membawanya bergabung, keempat temannya nampak tersenyum menyambut kehadiran Galang.


“ Mau kemana sih Lang, kaya orang bingung gitu...,” kata Agung sambil menyodorkan segelas kopi kearah Galang.


“ Mau keluar cari makan, soalnya lebih murah...,” sahut Galang jujur.


“ Oh gitu. Kita juga baru selesai makan soto di pedagang kaki lima sana. Iya kan guys...?” tanya Kenzo sambil


melirik keempat temannya.


“ Iya...,” sahut Aruna, Agung, Ria dan Fadil bersamaan.


“ Masa sih. Emang Lo ga malu makan di kaki lima Run...?” tanya Galang tak percaya.


“ Ga lah, ngapain malu. Gue bayar kok ga ngutang...,” sahut Aruna santai.


“ Tapi Dita sama Eri malu makan di kaki lima. Katanya kaya orang susah...,” kata Galang sambil meneguk kopi di hadapannya.


“ Oh kalo itu mah selera dan kebiasaan Lang. Mungkin Dita sama Eri ga biasa makan di emperan makanya ngomong kaya gitu...,” sahut Aruna menengahi.


“ Iya Run. Susah lho ngerubah kebiasaan yang udah mendarah daging...,” kata Ria sinis.


“ Mereka ga tau aja kalo rasa masakan pinggir jalan kaya gitu juga ok kok, murah lagi. Pas banget buat mahasiswa kaya Kita...,” sahut Fadil sambil nyengir.


“ Iya. Apalagi kalo pas nanggung bulan kaya gini. Harus pinter ngatur pengeluaran supaya bisa tetap ke kampus tapi makan ga telat...,” kata Agung menambahkan.


“ Bilang aja ngirit Gung, pake kalimat njlimet kaya gitu ujung-ujungnya juga cuma mau ngomong itu kan...,” kata Ria hingga membuat teman-temannya tertawa.


“ Jangan terlalu jujur gitu dong Ri...,” kata Agung sambil merapat kearah Ria.


“ Ngapain deket-deket. Hush... hush...,” usir Ria sambil mengibaskan tangannya.


“ Kangen Ri...,” sahut Agung dengan mimik lucu hingga kelima temannya tertawa.


“ Hueeekk..., mual Gue. Udah yuk Run, Kita balik ke kelas aja...,” ajak Ria sambil menggamit tangan Aruna dan membawanya menjauh dari empat pria yang masih tertawa itu.

__ADS_1


\=====


Aruna nampak berjalan pelan sambil membawa tumpukan buku di tangannya. Di depan Aruna terlihat seorang pria yang merupakan dosen di fakultasnya tengah melangkah sambil menelephon dengan ponselnya. Aruna terus melangkah hingga tiba di depan ruangan.


“ Nah, taro di meja sana aja. Makasih ya...,” kata sang dosen sambil tersenyum.


“ Sama-sama. Saya permisi ya Pak, selamat siang...,” kata Aruna dengan santun.


“ Selamat siang. Eh, siapa namamu...?” tanya sang dosen saat Aruna hendak menutup pintu.


“ Aruna Pak...,” sahut Aruna cepat.


“ Kamu bukan dari fakultas Teknik kan...?” tanya sang dosen lagi.


“ Iya Pak. Saya dari fakultas Ekonomi...,” sahut Aruna.


“ Pantesan Saya baru kali ini ngeliat Kamu. Makasih sekali lagi ya Aruna...,” kata sang dosen hingga membuat Aruna tersenyum.


“ Saya pamit ya Pak...,” kata Aruna yang diangguki sang dosen.


Kemudian Aruna bergegas melangkah meninggalkan ruangan sang dosen. Saat itu ia melihat Kautsar tengah duduk bersama teman-temannya. Aruna membalikkan tubuhnya untuk mencari jalan lain karena tak ingin berpapasan dengan Kautsar.


Aruna bernafas lega saat berhasil menghindar dari Kautsar. Sebelumnya Aruna memang tak sengaja berpapasan dengan dosen fakultas Teknik itu. Aruna melihat sang dosen kerepotan membawa tumpukan buku. Apalagi saat itu sang dosen juga tengah menjawab telephon. Alat tulis yang tersimpan di saku bajunya pun terjatuh hingga membuat sang dosen kewalahan. Saat Aruna menawarkan bantuan sang dosen dengan senang hati menerimanya.


Dan kini Aruna sedang menyusuri ‘jalan lain’ yang dipilihnya tadi.


“ Gara-gara dia Gue harus jalan jauh banget. Eh, tapi ini dimana ya...,” gumam Aruna sambil mengedarkan pandangannya.


Di kejauhan Aruna melihat seorang wanita tengah berjalan terseok-seok sambil memegangi perutnya. Wanita itu berpakaian lusuh. Dengan kebaya dan bawahan kain batik yang terlihat usang dan sobek di beberapa bagian. Rambutnya yang putih terurai tak teratur hingga menutupi sebagian wajahnya. Rasa ingin tahu yang besar membawa Aruna mendekati wanita itu dan menyapanya. Namun sayangnya wanita itu mengabaikan Aruna dan terus berjalan menjauhinya.


Merasa usaha baiknya tak mendapat respon Aruna pun bersiap pergi namun ia urungkan karena mendengar suara rintihan. Rupanya wanita tua yang tadi disapa Aruna terjatuh di tanah.


“ Nenek kenapa, apa ada yang luka...?” tanya Aruna dengan lembut.


Wanita itu mendongakkan wajahnya untuk menatap Aruna dan membuat gadis itu terkejut. Kedua mata wanita itu hanya berupa lubang kosong. Kulit wajah wanita itu juga penuh luka sayatan yang telah mengering. Wanita itu menyeringai menampilkan giginya yang berwarna keemasan dengan lidah dan bibir berwarna merah. Dari sela bibirnya terlihat gumpalan tembakau hingga membuat Aruna mengerti darimana warna merah di lidah dan bibir wanita itu berasal.


“ Kenapa di sini...?” tanya wanita itu dengan suara serak.


“ Saya...,” ucapan Aruna terputus saat sebuah suara memanggil namanya hingga membuat Aruna menoleh.


“ Aruna, ngapain di sana...?!” kata suara itu yang tak lain adalah Kautsar.


“ Gue lagi mau nolongin...,” ucapan Aruna kembali terputus saat melihat sekelilingnya.


“ Nolongin siapa...?” tanya Kautsar sambil melangkah mendekati Aruna.


Aruna terdiam karena tak lagi melihat wanita tua yang tadi dijumpainya. Apalagi Aruna juga tak melihat deretan pohon besar yang tadi dilihatnya. Aruna sadar jika dirinya baru saja melintas dimensi.


“ Bukan siapa-siapa...,” sahut Aruna sambil berusaha menjauh dari Kautsar.


Langkah Aruna terhenti karena tangannya dicekal oleh Kautsar. Aruna menoleh sambil menatap tajam kearah Kautsar.


“ Lepasin tangan Gue...,” kata Aruna.

__ADS_1


“ Kenapa Lo benci banget sama Gue Aruna. Apa salah Gue sama Lo...?” tanya Kautsar sambil melepaskan cekalan tangannya.


“ Kenapa tanya Gue, tanya aja sama diri Lo sendiri...,” sahut Aruna ketus.


Kautsar menghela nafas panjang karena merasa kesal dengan jawaban Aruna. Masih banyak hal yang ingin Kautsar sampaikan pada Aruna sayangnya di saat bersamaan bel tanda mulai kuliah terdengar.


“ Sebaiknya Lo jangan lewat sini Run, bahaya...,” kata Kautsar sambil melangkah kearah berlawanan dengan Aruna.


“ Stop ngikutin Gue kaya waktu di SMA dulu Kautsar...!” kata Aruna lantang hingga membuat Kautsar terkejut lalu membalikkan tubuhnya menghadap Aruna.


“ Lo tau...?” tanya Kautsar tak percaya.


“ Iya dan Gue ga suka itu...,” sahut Aruna.


“ Bukan kemauan Gue ngelakuin itu Aruna. Gue cuma disuruh...,” kata Kautsar.


“ Apa pun alasannya Lo harus tau kalo itu ga perlu lagi sekarang...,” sahut Aruna.


“ Oohh, jadi itu yang bikin Lo benci sama Gue Run...?” tanya Kautsar.


“ Salah satunya iya...,” sahut Aruna hingga mengejutkan Kautsar.


“ Salah satunya, artinya banyak dong penyebab Lo ga suka sama Gue...,” kata Kautsar gusar sambil menatap punggung Aruna yang makin jauh.


Kemudian Kautsar melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu. Sedangkan Aruna terlihat berlari kecil menuju kelas. Aruna tak sengaja melewati ruangan dekat aula yang terkenal misterius itu dan menghentikan langkahnya tepat di depan pintu.


Setelah memastikan tak ada siapa pun yang melihatnya, Aruna menyelinap masuk ke dalam ruangan yang ternyata tak terkunci itu.


“ Assalamualaikum...,” sapa Aruna setengah berbisik sambil menutup pintu.


Aruna menahan nafas saat melihat ruangan yang berantakan dan kotor. Dinding ruangan terlihat penuh jejak kaki dan tangan berwarna kecoklatan yang merambat ke atas. Gorden jendela sobek di bagian bawah. Keramik yang menutupi lantai terlihat terangkat dan pecah seolah didorong oleh sebuah kekuatan dari dalam tanah. Beberapa keramik terbuka dan tak lagi menutupi lantai dengan sempurna. Plafond ruangan juga terlihat kotor dengan bercak berwarna hitam.


“ Ada apa ini sebenernya...?” tanya Aruna dalam hati.


Tiba-tiba sebuah bayangan hitam berkelebat cepat dari balik keramik yang terangkat itu. Setelah berputar sejenak di dalam ruangan, bayangan itu berhenti. Dari tempatnya berdiri Aruna melihat bayangan hitam itu perlahan menampilkan wujud nyata berbentuk mirip manusia bertubuh sangat besar.


Dari tempatnya berdiri Aruna bisa melihat perubahan sosok itu dengan jelas. Aruna mengira jika itu adalah sosok wanita karena berambut panjang hingga menjuntai ke lantai. Seolah menyadari jika dirinya sedang diamati, makhluk besar itu menoleh kearah Aruna lalu melesat cepat menyerang Aruna.


Aruna nampak bersiap menghadapi serangan makhluk itu. Namun lagi-lagi sebuah suara menyapa Aruna hingga membuat makhluk itu hilang begitu saja. Sebelum makhluk itu benar-benar lenyap, Aruna masih bisa melihat wajahnya yang menyeringai marah dengan satu tanduk berwarna


hitam  mencuat di keningnya.


“ Siapa di dalam sana...?!” tanya seorang security sambil mendorong pintu hingga terbuka sedikit.


Aruna pun bersembunyi di balik pintu berharap sang security tak melihatnya. Merasa tak nyaman dengan ruangan itu, sang security bergegas menutup pintu lalu pergi begitu saja.


“ Alhamdulillah...,” gumam Aruna sambil menghela nafas lega.


“ Jangan sebut kalimat itu di sini...!” kata sebuah suara dengan lantang bersamaan dengan hembusan angin panas dan pecahan keramik lantai yang bergerak liar kearah Aruna.


Karena tak ingin terluka, Aruna pun bergegas keluar dari ruangan itu dengan peluh yang membasahi wajah dan sekujur tubuhnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2