
Genk Comot masih berdiri dan saling menatap seolah menyesali sikap mereka terhadap Aruna. Sedangkan Aruna nampak memecah keheningan dengan cara berjalan menuju sudut ruangan.
" Udah cukup nyeselnya. Sekarang Kita cari cara supaya bisa keluar dari sini...," kata Aruna hingga menyadarkan kelima temannya.
" Iya Run...!" sahut lima anggota Genk Comot bersamaan lalu mulai berpencar mencari jalan.
Mereka terpaksa mengabaikan para tamu yang merintih kesakitan karena mereka juga tak ingin mati konyol di tempat itu.
" Sebelah sini guys...!" kata Galang lantang hingga membuat kelima temannya menoleh dan bergegas mendekat.
Mereka mengamati lubang yang nampaknya membentuk lorong yang ujungnya terlihat sedikit cahaya.
" Itu apaan Lang, gelap banget...," kata Ria sambil bergidik.
" Kayanya bekas saluran pembuangan Ri...," sahut Galang.
" Terus Kita harus lewat situ ?. Ga mau ah, pasti kotor dan bau. Ntar kalo ada tikus gimana...?" tanya Ria cemas.
" Cuma ini jalan satu-satunya Ri. Ya udah, siapa yang duluan...?" tanya Galang.
" Lo aja Lang. Yang cewek biar di tengah aja...," sahut Kenzo.
" Tapi Yang...," Rengek Ria sambil memegang tangan Kenzo erat.
" Ga ada jalan lain Ri...," sahut Kenzo tegas hingga membuat Ria sedikit kesal.
" Ok, Gue duluan ya. Jangan lama-lama guys...," kata Galang lalu masuk ke dalam lubang seukuran setengah meter itu.
Kemudian satu per satu anggota Genk Comot mulai memasuki lubang itu. Beberapa tamu yang masih terjaga mencoba mengikuti jejak Genk Comot namun gagal karena tubuh mereka ditarik paksa oleh karyawan penginapan yang datang tiba-tiba.
" Ada yang kabur Bos...!" lapor seorang karyawan sambil mengintip ke dalam lorong.
" Biar aja. Mereka ga bakal bisa lari jauh...," sahut Yusi sambil mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan.
Para karyawan penginapan kemudian mengumpulkan para tamu di sudut ruang makan. Mereka mulai memisahkan tamu wanita dengan pria. Para wanita yang kini menjadi tawanan pun mulai siuman dan menangis.
" Tolong lepaskan Saya. Jangan sakiti Saya...," kata seorang wanita menghiba sambil memegangi kaki Zaldi.
" Berisik !. Diam dan ga usah macem-macem...!" bentak Zaldi sambil menendang tubuh wanita itu hingga terjengkang membentur dinding.
Yusi mulai mengamati para tawanan wanita satu per satu dan nampak kecewa.
__ADS_1
" Yang Saya perlukan justru ga ada di sini. Kemana mereka...?" tanya Yusi.
" Mereka kabur Bos...!" sahut salah seorang karyawan berwajah hitam.
" Mereka pikir bisa lari jauh ya. Sekarang Kalian kejar mereka dan tangkap dua wanita itu hidup-hidup...!" perintah Yusi.
" Baik Bos...!" sahut pria berwajah hitam itu sambil mengajak beberapa temannya untuk mengejar Genk Comot.
" Kalian berdua bereskan mereka. Ingat, jangan sampe ada jejak...," kata Yusi sambil menatap Zaldi dan Amar lalu segera berlalu meninggalkan ruangan itu.
" Baik Bu...," sahut Zaldi dan Amar bersamaan dengan wajah terpaksa.
Kemudian Zaldi dan Amar segera menutup pintu. Mereka mengenakan masker yang menutupi wajah mereka lalu mengeluarkan sebuah tabung berisi cairan yang siap disemprotkan kearah para tawanan.
" Hentikan, jangan lakukan itu...!" kata seorang pria tua sambil berusaha berdiri.
" Sebenernya Kami juga ga mau melakukan ini Pak. Kami tau ini tindakan kriminal. Tapi keluarga Kami perlu makan, dan Kami ga punya jalan lain selain mengikuti perintah Bos Kami...," kata Amar dengan mimik wajah sedih.
" Tolong maafkan Kami. Uang yang dijanjikan Bos Kami bisa membuat keluarga Kami hidup tenang sampe beberapa bulan ke depan...," sela Zaldi sambil mengangkat tabung itu dan bersiap menyemprotkan cairan berbahaya yang diyakini sebagai racun itu.
" Saya yang akan menanggung kehidupan Kalian dan keluarga Kalian asal Kalian janji ga akan membunuh Kami...!" kata pria tua itu dengan lantang.
" Aku pemilik perusahaan besar di kota ini. Kalian bisa ngecek ke nomor ini jika Kalian ga percaya...," kata pria itu sambil menyerahkan selembar kartu nama kepada Zaldi.
Kemudian Amar dan Zaldi membacanya dan saling menatap sejenak. Amar mengeluarkan ponsel miliknya dan mencoba menghubungi nomor telepon yang tercantum di kartu itu.
" Nyambung Zal...," bisik Amar.
" Bilang kalo Pak Mansur ada di sini dan minta tebusan uang...," kata Zaldi yang diangguki Amar.
Mansur nampak tenang saja saat Amar dan Zaldi meminta sejumlah uang kepada karyawan di kantornya.
" Baik tunggu sebentar ya. Lima belas menit lagi Kami datang dengan uang yang Kalian minta...," kata karyawan Mansur mantap.
Zaldi dan Amar saling menatap tak percaya. Namun tak sampai sepuluh menit keduanya terkejut karena nomor asing menghubungi ponsel Amar. Apalagi sang penelepon meminta sambungan video call.
Amar menerima panggilan video call itu dan terkejut saat sang penelepon minta bicara dengan Mansur.
" Saya perlu bicara dengan Pak Mansur...," kata sang penelepon tegas.
Entah mengapa Amar langsung mengarahkan layar ponselnya ke wajah Mansur. Kemudian terjadi lah komunikasi antara Mansur dan penelepon yang diketahui sebagai pengacara pribadi Mansur.
__ADS_1
" Ga perlu lapor Polisi Ben. Mereka orang-orang baik yang terjebak dalam situasi yang sulit. Tolong urus pekerjaan dan gaji yang layak untuk mereka agar setelah mereka keluar dari tempat ini mereka ga perlu bingung cari pekerjaan...," kata Mansur hingga membuat Amar dan Zaldi terharu.
" Baik Pak...," sahut Ben.
" Kamu urus semua secepatnya, kasian para tawanan itu...," pinta Mansur yang diangguki Ben.
Kemudian Amar dan Zaldi kembali bicara dengan pengacara Mansur.
" Kami ada di depan penginapan dan ini uang yang Kalian minta. Tolong jangan lukai Pak Mansur dan orang-orang itu. Kalian bisa pegang janji Saya...," kata Ben sambil memperlihatkan uang di dalam koper.
" Ok, Kami percaya. Kalian tunggu di samping pagar penginapan, ada jalan rahasia di sana. Kami akan bawa Pak Mansur dan para tawanan ke sana...," sahut Zaldi.
" Siap. Kita ketemu di sana...," kata Ben yang diangguki Zaldi dan Amar.
Kemudian Zaldi dan Amar menggiring Mansur dan para tawanan ke jalan rahasia yang berujung di balik pagar penginapan.
Saat tiba di sana Ben dan anak buah Mansur lainnya nampak sigap menyambut. Mereka telah mempersiapkan dua buah mobil untuk mengangkut para tawanan yang berjumlah sepuluh orang itu.
" Kalian ikut Kami kan...?" tanya Mansur saat akan masuk ke dalam mobil.
" Kami tetap di sini Pak. Kami berubah pikiran tentang uang itu. Kami ga menginginkan uang yang Kita sepakati tadi. Melihat Kalian keluar dengan selamat, bikin Kami terharu. Kami sadar bahwa uang bukan segalanya. Bapak ga usah khawatir, setelah ini Kami akan bertobat dan hengkang dari tempat ini...," sahut Amar hingga membuat Mansur tersenyum.
" Saya tau Kalian memang orang baik. Ikut Saya aja, jangan kembali ke dalam karena terlalu berbahaya untuk Kalian. Bisa aja Bos Kalian marah dan membunuh Kalian nanti karena Kalian udah melanggar perintahnya...," kata Mansur.
Ucapan Mansur membuat Amar dan Zaldi ragu. Keduanya saling menatap bingung dan itu dipahami Mansur. Ia melanjutkan ucapannya.
" Saya butuh karyawan yang handal seperti Kalian. Insya Allah kehidupan Kalian bisa lebih baik karena rezeqi yang Kalian peroleh dari jalan yang halal akan berkah untuk keluarga Kalian...," kata Mansur.
" Iya, Bapak betul. Kalo gitu Kami ikut Bapak sekarang...," sahut Zaldi yang diangguki Amar.
Sesaat kemudian Zaldi dan Amar nampak duduk tenang di dalam mobil Mansur.
" Apa pengkhianat kaya Kita bisa hidup lebih baik nanti Mar...?" tanya Zaldi ragu.
" Saya ga tau Zal...," sahut Amar.
" Jangan takut, keputusan Kalian sudah tepat karena Kalian berkhianat dari orang yang zholim dan hijrah ke tempat yang lebih baik...," kata Mansur sambil tersenyum.
Zaldi dan Amar nampak mengangguk lalu ikut tersenyum. Kehidupan yang lebih baik bersama keluarga mereka masing-masing kini membayang di pelupuk mata Zaldi dan Amar.
\=\=\=\=\=
__ADS_1